
"Karna aku menyukaimu! Gadis yang aku suka dari awal itu adalah kamu, Intan."
Intan masih belum percaya dengan apa yang ia dengar dari Toni itu. Ia sama sekali gak menyangka kalau Toni selama ini menyukainya.
"Tenang saja, aku memang menyukaimu. Tapi, aku juga sudah menyerah sejak lama semenjak kamu berpacaran dengan Kak Setya." Ucap Toni datar. Ia tak suka melihat Intan yang tertunduk dan terdiam seperti itu.
"Ta-Tapi ..."
"Huh! Aku sungguh gak ada niatan untuk mengejarmu atau merebutmu dari pacarmu. Kalau memang aku menginginkannya, aku sudah melakukan itu dari dulu ... Aku mengungkapkan perasaanku hanya untuk membebaskan perasaanku saja. Sekarang aku sudah lega. Berhentilah terbebani seperti itu. Membuatku gak nyaman saja." Seru Toni memperingatkan.
"Bagaimana aku bisa gak terbebani setelah kau mengatakan hal itu padaku?!" Seru Intan kesal.
"Baiklah, silahkan saja terbebani. Dengan begitu, setidaknya jangan pamerkan keromantisanmu dengan pacarmu itu. Membuatku mual saja." Ucap Toni santai.
Entah mengapa mendengar perkataan Toni itu sedikit membuat perasaan Intan membaik. Toni mungkin berbeda darinya dulu. Ketika tahu orang yang disukai gak memiliki perasaan yang sama, Toni gak bakal hancur semudah itu. Tapi, Intan juga masih mengetahui perasaan Toni. Setidaknya, Intan tahu apa batasan yang perlu ia lakukan pada Toni.
"Maaf aku gak mengetahui perasaanmu sebelumnya. Habisnya kau, tidak seperti menyukaiku. Sikapmu itu sangat menyebalkan!" Seru Intan mengingat sikap Toni padanya.
"Gak semua bentuk cinta seperti yang ditunjukkan pacarmu. Itu caraku membuatmu tersenyum. Tapi, sepertinya memang gak cocok untukmu." Jawab Toni sembari mengangkat kedua bahunya acuh.
"Hm, tapi aku sungguh sempat mengira kalau kamu menyukai Putri. Sikapmu yang gak mau Putri ditindas, sehingga kamu membantunya. Lalu juga perkataanmu padanya kalau dia berharga. Bahkan tadi, aku juga melihatmu kesal saat Putri mengatakan pada Robby kalau gak ada yang keberatan kalau Robby mendekatinya ... Aku mengira semua itu karna kamu menyukainya. Karna, sebelumnya aku belum pernah melihatmu seperti itu pada gadis lain." Ucap Intan mengingat semua sikap Toni.
Toni terdiam mendengar itu. Sebelumnya dia merasa biasa saja saat melakukan semua itu. Tapi, ketika mendengar dari orang lain. Ia memang baru tersadar, sebelumnya dia belum pernah ikut campur dengan urusan hidup orang lain selain Intan sebelumnya.
"Toni, mungkin aku gak pantas mengatakan ini padamu. Tapi seperti yang kamu tahu Ton, orang yang aku cinta hanyalah kak Setya dan bersamanyalah aku bisa bahagia ... Aku juga berharap kamu bisa mulai melangkah lagi dan melupakanku. Cari juga kebahagiaan untuk dirimu. Dan cobalah membuka hatimu untuk gadis lain ... Mungkin saja, sebenarnya hatimu sudah menemukan penggantiku, tapi kamu masih tidak mengakuinya. Jadi, aku ingin mulai sekarang kamu lepaskan aku dan genggam gadis lain yang sudah ada dihatimu..." Ucap Intan dengan senyum lembut diwajahnya.
Toni mendengarkan itu dengan seksama. Kali ini dia terlihat serius, tidak seperti Toni seperti biasanya yang terlihat acuh.
...****************...
Di kantin yang mulai sepi, Putri duduk seorang diri disudut kantin. Dia membenamkan wajahnya dilipatan tangannya. Ia menangis, mengingat perkataan Toni sebelumnya. Hatinya terasa sakit.
"Hai cantik, kenapa duduk disini sendiri?" Tanya Robby yang duduk didepan Putri. Putri perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Robby.
"Lho, kenapa Putri cantik ini menangis? Siapa orang jahat yang membuat Putri ini menangis? Biar pangeran yang membalasnya!" Seru Robby sambil beracting menjadi pangeran. Dengan menjadikan sumpit layaknya pedang. Melihat itu, Putri sedikit tersenyum geli.
"Wow! Tuan Putri tersenyum! Cantiknya ... Karna, Putri cantik ini tersenyum, aku hadiah untukmu.. Ta-ra.." Seru Robby sambil mengeluarkan permen susu dari dalam kantongnya. Dan itu sangat banyak. Dikantong baju, celana, semua sudah diisi penuh dengan permen susu.
"Bagaimana kakak tahu, aku suka permen susu?" Tanya Putri bingung.
"Apa sih yang gak pengeran tahu dari tuan putri?" Ucap Robby dengan pecaya diri.
Robby mengetahui itu karna tadi saat istirahat, setelah menghabiskan makanannya Putri memakan permen susu. Ia hanya menebak kesukaan Putri. Tak di sangka ternyata tebakannya benar.
"Terima kasih." Ucap Putri tulus.
Perasaannya cukup membaik setelah kemunculan Robby. Walau, sebelumnya ia gak menyukai Robby, tapi kali ini Robby berhasil menghiburnya. Sepertinya Robby bukan orang jahat.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi. Tuan Putri itu cocoknya tersenyum dan bahagia. Kalau tidak, nanti kamu berubah jadi nenek lampir lho!" Seru Robby sambil meniru wajah nenek-nenek.
"Hahaha. Kak Robby apa'an sih!" Seru Putri tertawa lepas. Robby terus menggoda Putri agar tak kembali menangis.
Dari pintu masuk kantin, ternyata Toni memperhatikan itu. Sebelumnya dia ingin membeli minum, tapi langkahnya langsung berhenti saat melihat Putri dan Robby. Apalagi, Putri yang tertawa begitu lepas bersama Robby. Tanpa sadar, Toni mengepalkan tangannya kuat seakan menahan emosi.
...****************...
Pulang sekolah
Di parkiran Toni melihat Putri yang akan pulang. Ia ingin mendekat pada Putri dan memperingatinya untuk berhati-hati dengan Robby. Karna, sifat Robby belum terlihat jelas. Tapi, saat ia hendak mendekati Putri. Robby datang lebih dulu dan menawarkan Putri tumpangan.
Putri sempat melihat Toni yang akan mendekatinya, namun karna ia masih belum sanggup berhadapan dengan Toni, akhirnya dia memutuskan menerima tawara Robby tanpa banyak berpikir lagi. Toni yang melihat Putri menaiki sepeda motor Robbypun mengerutkan keningnya, seakan tidak suka.
Hari itu, entah kenapa Intan ingin ke hutan bambu. Walaupun, Toni sudah mengatakan tidak apa-apa. Perasaannya tetap kurang baik setelah ia mengetahui perasaan Toni padanya. Tapi, hari itu Setya ada kelas sampai sore. Akhirnya, Intan memutuskan untuk ke hutan bambu seorang diri.
"Huh.. Perasaanku jauh lebih baik setelah kesini. Udara diatas menara ini membuatku lebih segar." Ucap Intan sembari memejamkan mata dan membiarkan angin menerpa wajahnya .
Kring ... Kring ... Kring
Intan tersentak saat mendengar suara dering ponselnya yang begitu nyaring. Ia segera mengambil benda persegi itu dan melihat nama orang yang memanggil. Senyum seketika terbit diwajahnya saat melihat naman Setya yang ada di layar ponselnya.
"Hallo?" Tanya Intan setelah mengangkat panggilan itu.
"Hallo sayang, kamu sudah sampai rumah dengan selamat kan?" Tanya Setya langsung. Dia baru saja selesai dengan kelasnya. Dan orang pertama yang dia hubungi adalah Intan.
"Kenapa belum? Apa terjebak macet? Atau masih di sekolah?" Tanya Setya bingung, ada sedikit kecemasan dari nada bicaranya.
"Aku di hutan bambu sekarang. Sebentar lagi aku akan pulang." Jawab Intan lembut.
"Apa? Hutan bambu? Kenapa kesana sendirian?" Tanya Setya terkejut.
"Aku hanya ...."
"Sudahlah, tunggu disana. Aku akan segera menjemputmu." Seru Setya memotong ucapan Intan.
Kemudian, Setya menutup panggilan telponnya dan bergegas menuju ke hutan bambu untuk menemui Intan.
"Haih! Kak Setya selalu saja khawatir." Gumam Intan sambil menatap layar ponselnya.
Tak berselang lama, Setya sampai di hutan bambu. Ia bergegas menuju menara pengawas.
"Intan!" Panggil Setya saat ia sudah diatas dan melihat Intan seorang diri sedang menatap pemandangan didepannya.
Intan yang mendengar namanya dipanggil pun langsung menoleh. Ia melihat Setya yang sudah datang dengan nafas yang naik turun karna berlari.
"Kenapa kakak lari-lari? Aku gak bakal kemana-mana." Seru Intan sambil mengelap keringat diwajah Setya.
__ADS_1
"Aku mengkhawatirkanmu. Kenapa kesini sendiri? Apa ada masalah?" Tanya Setya khawatir. Intan menatap Setya yang terlihat mengkhawatirkannya, kemudian Intan memeluk Setya dengan erat.
"Ada apa?" Tanya Setya sambil mengelus lembut rambut Intan dengan sayang.
"Biarkan aku seperti ini sebentar. Aku ingin mengisi daya." Ucap Intan sembari lebih membenamkan wajahnya didada bidang Setya.
Setelah Intan lebih tenang, akhirnya ia menceritakan semua yang terjadi hari itu pada Setya. Setya semula terkejut saat tahu kalau Toni berani mengatakan perasaannya pada Intan. Tapi, setelah mendengar keseluruhan cerita Intan, ia bisa mengerti dan tersenyum kecil.
"Akhirnya, bocah itu mengatakan perasaannya padamu." Ucap Setya setelah Intan mengakhiri ceritanya.
"Kak Setya sudah tau dari awal kalau Toni menyukaiku." Tanya Intan penasaran.
"Ya. Bahkan, sebelum aku mulai mendekatimu. Itu terlihat jelas sekali." Ucap Setya mengingat bagaimana sikap Toni sebelumnya.
"Huh! Berarti memang aku yang gak peka ya?! Hm.." Seru Intan sedih.
"Sudahlah, semua itu sudah berlalu ... Ku lihat dari ceritamu, sebenarnya dia sedikit ada rasa dengan Putri. Tapi, biarkan dia menyadarinya sendiri. Kamu, gak perlu merasa terbebani lagi." Ucap Setya lembut, menenangkan Intan. Akhirnya, Intan hanya bisa mengangguk mengerti.
Malam harinya, di rumah Toni. Dia sedang memainkan ponselnya. Ia membuka galeri dan melihat ke berkas yang dihapus. Entah, kenapa ia mengunduh kembali foto-foto Putri yang sudah ia hapus sebelumnya.
Kenapa denganku?
Kenapa aku melakukan ini?
Apakah aku benar menyukainya?
.
.
.
Bersambung..
Bonus Visual
Sebelumnya yang sudah lupa wajah Toni aku ingatkan lagi nih.. Hehe..
Lalu untuk pendatang baru kita yang penuh pesona, Robby..
Hayukk. Mana yang mau dipilih?
Toni ato Robby🤭
__ADS_1