Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Karna, aku ingin merasakan pahit yang sama seperti yang kamu rasakan..


__ADS_3

Sesuai perkataan mama, malam harinya Setya harus pulang ke rumah. Walaupun dengan wajah yang ditekuk, Setya pun pulang ke rumah. Sedangkan, mama Setya tetap tinggal dan menginap di rumah Intan, ia juga tidur bersama Intan dan merawat Intan seperti anaknya sendiri.


"Tante seneng deh lihat Intan yang walaupun sakit, tapi masih mau makan. Kalau anak-anak tante saat sakit mereka sulit banget buat makan. Harus dibujuk dan disuapin dulu." Cerita mama malam itu.


"Benarkah tante? Berarti kak Setya juga begitu dong?" Tanya Intan penasaran.


"Tentu saja. Setya dan Tasya tuh sama saja. Mereka akan sangat manja kalau lagi sakit. Bahkan, sampai sekarang." Jawab mama meyakinkan.


"Hehe. Aku bisa sedikit membayangkannya. Kak Setya beberapa kali sempat menunjukkan sisi manjanya pada Intan. Tapi, itu sangat jarang. Kak Setya lebih banyak bersikap dewasa dan ngelindungin Intan." Curhat Intan.


"Itu karna dia ingin jadi orang pertama yang Intan pikirkan kalau Intan dalam masalah. Dia pasti ingin jadi tempat sandaran dan penolong pertama bagi Intan." Jawab mama dengan senyuman.


"Ehm, aku rasa juga begitu. Tapi, Intan juga lebih suka kalau dalam sebuah hubungan kita bisa saling bergantung." Gumam Intan pelan.


...****************...


Pagi harinya mama Setya bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk Intan dan Dika.


"Tante, tidak perlu repot-repot. Dika bisa nyiapin sarapan seadanya saja kok. Lagian nanti sore ayah dan bunda juga akan sampai." Ucap Dika yang merasa tak enak, karna sudah merepotkan mama Setya dari kemarin.


"Tante gak merasa kerepotan kok Ka. Kamu, tak usa merasa direpotkan. Suatu hari nanti kalau posisi tante yang lagi pergi dan ada anak tante yang sakit, gantian tante yang akan minta bantuan." Jawab mama ramah.


"Kalau begitu, biarkan Dika membantu sebisanya ya tan." Ucap Dika dengan senyuman.


"Tentu saja." Jawab mama tak keberatan.


Saat keduanya sudah selesai membuat sarapan, Setya bersama papa dan Tasya sampai di rumah Intan. Dika dengan cepat membukakan pintu untuk mereka.


"Apakah Intan masih tidur?" Tanya Setya setelah memasuki rumah Intan.


"Iya kak Intan masih tidur. Ini mau aku bangunin untuk makan bubur, supaya bisa cepet sarapan." Jawab Dika memberitahu.


"Biar aku saja." Seru Setya sembari mengambil nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas air putih untuk ia bawa ke kamar Intan.


"Kak Setya, aku ikut buat nengokin kak Intan." Seru Tasya sembari mengikuti Setya dari belakang. Tasya berusaha menjauhi Dika. Karna, setelah pesta ulang tahun Setya sebelumnya, tanpa sadar ia selalu terbayang wajah Dika. Itu membuatnya gila!


"Om, maaf ya kami merepotkan. Om juga jadi ikut kesusahan, pagi-pagi sudah harus kemari." Ucap Dika merasa tak enak hati.


"Santai saja, om tidak merasa direpoti. Bagaimana keadaan kakakmu sekarang?" Tanya om pelan.


"Kak Intan sudah jauh lebih baik, karna dirawat semalaman sama tante ... Oh ya om, tante sudah menyiapkan sarapan, ayo om sarapan disini saja. Sebagai tanda terima kasih dari kami." Ucap Dika sopan.


Akirnya, papa Setya pun menerima tawaran Dika setelah beberapa kali dibujuk oleh Dika. Dilain sisi Setya diikuti Tasya menuju kamar Intan. Setya dapat melihat Intan yang masih tertidur dibalik selimut tebalnya. Dengan perlahan Setya mendekati Intan dan duduk di tepi tempat tidur. Dengan lembut dia menyentuh kening Intan. Setya merasa lega karna demam Intan sudah menurun.


"Tuan putri, ayo bangun dan makan buburnya." Ucap Setya sembari membelai pipi Intan dengan lembut. Tasya yang melihat perilakuan kakaknya pada Intanpun tersenyum kecil.

__ADS_1


Suatu hari nanti aku akan mencari pria yang sangat mencintaiku seperti kak Setya pada kak Intan ... Tasya.


Akhirnya, Intan pun mulai bangun dari tidurnya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyadarkan diri sepenuhnya. Awalnya dia kira sedang bermimpi karna pertama kali hal yang ia lihat adalah wajah Setya.


"Ehm, kak Setya kapan datang? Pagi sekali.." Gumam Intan, sambil berusaha bangkit untuk duduk. Setya dengan sigap membantunya.


"Baru saja kok. Sekarang makan ya, aku suapi. Setelah itu minum obatnya supaya cepat sembuh." Ucap Setya lembut, sembari mulai menyendokkan bubur untuk Intan. Intan pun menerimanya dengan senyuman.


"Kak Intan uda baik-baik saja?" Tanya Tasya setelah Intan menerima suapan pertamanya.


"Aku sudah merasa jauh lebih baik. Tante sudah merawatku dengan baik, seperti merawat putrinya sendiri." Jawab Intan dengan senyuman.


"Syukurlah. Kak Intan cepet sembuh ya. Jangan sakit-sakit lagi. Kak Setya bener-bener merepotkan kalau kakak sakit." Ucap Tasya mengejek sang kakak.


Bagaimana tidak merepotkan, saat mendapatkan kabar kalau Intan sakit saja kakanya sangat heboh. Belum lagi dia yang terus mengeluh sambil menunggu pagi supaya bisa menemui Intan lagi, itu sangat merepotkan.


"Haha. Baiklah. Aku tidak akan mengulanginya. Dan terima kasih ya, karna sudah datang." Ucap Intan lembut.


"Intan sayang bagaimana keadaanmu pagi ini?" Tanya mama yang berjalan masuk diikuti papa dan Dika.


"Sudah sangat baik tante. Besok Intan pasti sudah sembuh total. Terima kasih banyak tante sudah merawat Intan semalaman ... Dan om, maaf merepotkan om juga sampai harus datang kesini." Ucap Intan yang merasa tak enak pada orang tua Setya. Apalagi, papa Setya yang baru pulang dinas dari luar kota, pagi-pagi harus ke rumahnya. Hal itu semakin membuat Intan merasa tak enak hati.


"Om, tidak merasa direpotkan kok. Jangan terlalu banyak berpikir dan cepetlah sembuh." Jawab papa ramah.


"Kalau sudah makan buburnya, cepat minum obat dan kembali istirahat ya." Ucap mama lembut.


"Kalau begitu, tante pulang dulu ya sama om. Setya yang akan jagain kamu, sampai orang tua kamu pulang. Gak apa-apa kan sayang?" Tanya mama memastikan.


"Ten ..."


"Tentu saja ma. Pasti Intan tidak akan keberatan. Aku akan menjaga Intan dengan baik, agar dia cepat sembuh." Seru Setya memotong kalimat Intan. Intan yang mendengar itu pun tersengum geli.


"Dasar bucin!" Sindir Tasya sambil melirik pada Setya.


"Tasya, juga pulang dulu ya kak. Tasya ada janji untuk merayakan ulang tahun teman Tasya. Kak Intan, cepet sembuh ya." Ucap Tasya dengan senyuman.


"Iya. Sekali lagi terima kasih ya.." Ucap Intan tulus.


Setelah itu papa, mama dan Tasya pun meninggalkan rumah Intan. Sedangkan Setya masih setia menyuapi Intan dengan lembut.


"Ini akhir pekan, apakah kamu tidak ada janji keluar dengan teman-temanmu?" Tanya Intan pada Dika yang masih duduk di meja belajarnya untuk bermain ponsel.


"Tidak." Jawab Dika datar.


"Bohong! Kau kan biasanya akhir pekan selau keluar. Main saja sana, aku sudah baik-baik saja sekarang." Seru Intan yang merasa bersalah, jika Dika memilih di rumah untuk menghabiskan akhir pekannya karna dirinya.

__ADS_1


"Benar kata Intan, main saja keluar sana. Aku bisa menjaga Intan disini. Aku tidak akan meninggalkannya." Ucap Setya menyahuti.


"Tapi ..."


"Sudah, tidak pakai tapi-tapian! Cepet bersiap dan pergi sana." Seru Intan tegas.


"Huh! Baiklah. Tapi, ingat jangan merepotkan kak Setya sampai ayah dan bunda datang. Cepat minum obat dan istirahat lagi." Pesan Dika sebelum meninggalkan kamar Intan.


"Iya bawel.!!" Seru Intan sinis pada Dika yang mulai berjalan meninggalkan kamarnya.


"Terkadang aku merasa yang kakak itu dia daripada aku." Gumam Intan. Setya hanya bisa tersenyum mendengarnya.


Setya dengan lembut dan cekatan terus menyuapi bubur untuk Intan. Sampai bubur dalam mangkuk pun kandas.


"Sekarang minum obatnya ya.." Ucap Setya lembut.


"Gak mau! Aku akan langsung istirahat saja. Pasti akan lebih baik setelah istirahat kok. Jadi gak usah minum obat ya?" Pinta Intan dengan tatapan memelas.


"Tidak. Akan jauh lebih efektif kalau minum obat. Katanya besok mau ke sekolah? Kalau mau ke sekolah, harus minum obat supaya cepat sembuh." Ucap Setya berusaha membujuk Intan.


"Tapi, obat itu pahit kak. Aku gak mau minum. Aku pasti bisa sembuh tanpa obat kok. Jadi, aku gak perlu minum obat ya?" Pinta Intan masih berusaha memohon.


"Pahit? ... Ehm, sedikit sih.." Ucap Setya sembari meminum obat Intan.


"Kak Setya, kenapa minum obat Intan? Kakak kan gak sakit?" Seru Intan khawatir.


"Karna, aku ingin merasakan pahit yang sama seperti yang kamu rasakan. Jadi, kamu mau kan sekarang minum obatnya?" Ucap Setya pengertian. Melihat ketulusan Setya, akhirnya Intan setuju untuk meminum obatnya.


"Bagaimana, pahit sedikit kan?" Tanya Setya setelah Intan meninum obatnya. Setya dapat melihat ekrpresi wajah Intan yang mengernyit kepahitan.


"Pahit sekali.." keluh Intan.


Cup ...


"Sekarang, apa masih pahit?" Tanya Setya setelah mengecup pelan bibir Intan. Intan menggelengkan krpala dengan pipi yang bersemu merah karna malu, sampai ia melupakan rasa pahitnya.


Manis .. Gumam Intan dalam hati.


Tanpa mereka tahu Dika melihat itu dari luar karna sebelumnya ia ingin berpamitan. Namun, melihat yang dilakukan dua sejoli itu membuatnya enggan untuk berpamitan. Akhirnya, ia segera pergi meninggalkan rumah.


"My eyes!! ... Huh, tapi apakah ini keputusan yang benar membiarkan kak Setya dan kak Intan bersama tanpa pengawasan? ... Tapi, kalau aku kembali mereka akan megomeliku! ... Sudahlah, aku percaya dengan mereka." Gumam Dika mengingat Setya dan Intan.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2