Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Manis sebelum pahit


__ADS_3

Rumah Intan


"Kamu sedang buat apa sayang?" Tanya bunda yang melihat sang putri dari tadi sedang sibuk di dapur.


"Oh, Intan buatin makan siang untuk kak Setya. Intan bosen di rumah terus bun, gak ngapa-ngapain juga. Tahun ajaran baru masih kurang beberapa bulan lagi. Jadi, Intan mau ketemu kak Setya aja, sekalian mau nemenin kak Setya terapi." Jawab Intan menjelaskan.


"Ouh begitu. Tapi, kok ada 3 kotak bekal?" Tanya bunda bingung.


"2 ini untuk Intan dan kak Setya, kalau yang satu ini untuk ayah. Nanti, Intan akan antarkan ke kantor ayah dulu." Jawab Intan dengan senyuman diwajahnya.


"Ayah pasti sangat senang, dapet bekal dari Intan." Ucap bunda yang merasa bangga pada sang putri. Walaupun, sudah memiliki Setya, tapi perhatian pada sang ayah masih tetap sama.


"Tentu saja, siapa dulu yang buatin dong. Hehe.. Bunda juga gak perlu masak untuk makan siang. Intan juga buatin untuk bunda."


"Wah, makasih sayang." Seru bunda sambil mencium sekilas pipi Intan.


"Sama-sama bunda ... Nah, sudah siap. Intan siap-siap dulu terus bernagkat ya bun." Ucap Intan sebelum berlalu pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


30 menit kemudian, Intan sudah bersiap. Ia segera memasukkan kotak bekal ke dalam paper bag. Tak lupa sebelum berangkat, tentunya ia berpamitan dulu pada bunda. Hari itu Intan menaiki taxi, karna mobilnya dibawa Dika ke kampus.


"Hati-hati di jalan ya.." Ucap bunda sebelum Intan berangkat. Intanpun mengangguk dan mencium pipi sang bunda sekilas.


Kemudian, Intan segera menuju ke kantor sang ayah terlebih dulu. Saat jaraknya dengan kantor sang ayah sudah semakin dekat, Intan menghubungi sang ayah dulu, agar sang ayah tidak pergi untuk membeli makanan.


"Assalamu'alaikum ayah. Ayah sudah makan?" Tanya Intan setelah sang ayah mengangkat panggilan telponnya.


"Wa'alaikum salam sayang. Ayah belum makan, Kan masih sisa 30 menit lagi sebelum jam makan siang." Jawab ayah lembut.


"Syukurlah kalu gitu. Sebentar lagi, Intan sampai ke kantor ayah. Bisakah ayah turun sebentar?"


"Intan mau ke kantor ayah? Kenapa mendadakb sekali? Apa terjadi sesuatu?!" Tanya Ayah khawatir.


"Gak ada yang terjadi ayah. Tapi, Intan membawakan sesuatu untuk ayah ... Ah, Intan sudah sampai. Ayah cepat turun saja." Ucap Intan saat taxi berhenti di depan gedung tempat sang ayah bekerja.


"Baiklah. Tunggu ayah di loby saja. Ayah, akan kesana sekarang." Ucap ayah, kemudian menutup panggilannya untuk segera turun menemui sang putri.


"Pak, tunggu sebentar ya. Saya mau memberikan ini pada ayah saya sebentar." Ucap Intan pada sopir taxi. Sopir taxipun mengangguk sebagai jawaban.


Intan berjalan memasuki kantor sang ayah dan menunggu di loby seperti perintah sang ayah. Tak lama kemudian, ayah datang dengan tergesa-gesa.


"Ayah kenapa buru-buru begini. Kan Intan sudah bilang gak terjadi apapun."


"Ayah gak bakal tenang, kalau gak memastikannya sendiri ... Ngomong-ngomong ada apa, Intan sampai datang ke kantor ayah?" Tanya ayah penasaran.


"Taraa.. Intan buatin makan siang untuk ayah. Jadi, ayah gak perlu makan diluar hari ini." Ucap Intan sambil memberikan paper bag yang berisikan bekal makan siangnya pada sang ayah. Seketika, wajah panik ayah berubah menjadi berseri. Dia sangat senang mendapatkan bekal dari sang putri.


"Wah, tuan putri susah payah kesini buat ngaterin bekal untuk ayah? Ini buatan tuan putri sendiri?" Tanya ayah dengan mata berbinar sambil menerima bekal makanan dari Intan.


"Tentu saja Intan buat sendiri dong. Bekal makan siang dengan ekstra kasih sayang. Hehe.." Jawab Intan dengan senyum manis.


"Makasih ya tuan putri ayah. Ayah pasti akan menghabiskan bekal buatan tuan putri ayah sampai tak tersisa."

__ADS_1


"Iya dong, harus. Hehe.. Besok-besok Intan akan sering-sering buatin ayah bekal, selama Intan belum mulai mengajar."


"Baiklah, akan ayah tunggu." Ucap ayah sambil mengusap lembut kepala Intan dengan sayang.


"Kalau begitu, Intan pergi dulu ya ayah. Intan juga mau ke kantor kak Setya, setelah itu mengantar kak Setya terapi juga." Pamit Intan.


"Intan juga buatin bekal untuk Setya?" Tanya ayah penasaran.


"Iya" Jawab Intan tanpa merasa bersalah.


"Yah, padahal ayah kira hanya ayah seorang yang dapat bekal dari Intan. Ternyata, ayah bukan satu-satunya." Ucap ayah dengan wajah dibuat sedih.


"Ayah kok ngomong gitu. Kan Intan sudah bilang baik ayah atau kak Setya, kalian berdua adalah orang yang Intan sayang. Ayah dan kak Setya punya tempat sendiri di hati Intan. Jadi, ayah jangan cemburu pada kak Setya gitu dong." Ucap Intan berusaha menenangkan sang ayah.


"Hm baiklah, ayah mengerti. Sekarang Intan segera berangkat, sebentar lagi jam makan siang." Ucap ayah mencoba mengerti.


"Baiklah kalu begitu, Intan berangkat. Sayang ayah." Pamit Intan sambil memeluk sang ayah sekilas.


"Hati-hati di jalan ya, tuan putri ayah." Ucap ayah lembut, sembari membalas pelukan sang putri.


...****************...


Di kantor Setya, Setya juga baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Hari pertama Setya berjalan dengan lancar. Tak ada hambatan atau masalah yang berarti. Dia bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik. Saat jam istirahat, Setya bersama Bayu akan segera pergi ke rumah sakit untuk terapi.


Saat mereka akan meninggalkan kantor, Setya melihat Intan sedang duduk manis di loby sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Senyum lebar langsung terukir di wajah Intan, saat melihat Setya dan Bayu.


"Kak Setya!!" Seru Intan sambil berjalan mendekati Setya.


Setya tersenyum melihat Intan. Entah, berapa kalipun Setya melihat Intan, Setya tak pernah merasa puas. Perasaannya juga selalu jadi lebih baik saat melihat Intan, apalagi dengan senyuman seperti saat ini.


"Aku mau nemenin kak Setya terapi dong. Dan taraaa.. Intan juga buatin bekal makan siang untuk kak Setya." Jawab Intan dengan antusias.


"Seharusnya, kamu gak perlu repot-repot begini sayang. Aku bisa sendiri dengan ditemani Bayu kok."


"Aku gak merasa repot kok. Kan ini maunya Intan. Kak Setya gak seneng nih, Intan datang?" Tanya Intan dengan wajah sedih.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu, itu saja. Mana mungkin sih aku gak senang kalau diperhatiin sama kamu." Ucap Setya sambil meraih tangan Intan dan mengusapnya pelan utuk menghibur Intan. Intanpun luluh dan kembali tersenyum.


"Ehem, bisakah kalian menghentikan keromantisan kalian itu?! Aku gak mau jadi nyamuk!" Seru Bayu yang merasa kesal.


"Hahaha. Maaf-maaf kak Bay." Ucap Intan yang merasa tak enak hati.


"Yasudah gak apa-apa. Tapi, kamu bawain akh makan siang juga kan?" Tanya Bayu penuh harap. Ya itung-itung kalau bisa dapat makan, kalau dia gak bakal keluar uang.


"Enggaklah. Kenapa aku harus buatin makan siang untuk kak Bayu? Kak Bayu keluar makan aja sama Ifa ... Nanti setelah mengantarku dan kak Setya ke rumah sakit, kak Bayu bisa tinggalin aja. Nanti kak Bayu bisa menyusul di taman seberang rumah sakit kalau sudah selesai makan siang. Aku dan kak Setya nanti akan makan siang disana setelah terapi kak Setya selesai." Ucap Intan menjelaskan rencananya.


"Ok, tentu saja." Jawab Bayu dengan senyum lebar. Walaupun, gak dapat gratisan bisa makan bersama Ifa saja sudah membuat Bayu kembali bersemangat.


Setelah itu, mereka segera menuju ke rumah sakit. Seperti kesepakatan sebelumnya, Bayu langsung pergi menemui Ifa setelah mengantar Setya dan Intan. Selama Setya terapi, Intan menunggu di taman rumah sakit sambil bermain dengan anak-anak yang dirawat di rumah sakit itu.


Kebetulan setiap jam makan siang, di rumah sakit itu selalu mengajak bermain anak-anak khusus yang dirawat disana, agar mereka tetap merasa bahagia. Karna, dengan bahagia dorongan untuk sembuh akan semakin besar bagi anak-anak.

__ADS_1


Tak terasa satu jam telah berlalu. Setya sudah menyelesaikan terapinya. Dia menggerakkan kursi rodanya sendiri menuju ke taman rumah sakit. Karna dia tahu Intan akan menunggunya disana.


Setya tersenyum saat melihat Intan tertawa dan bermain dengan anak-anak disana. Sampai, ketika Intan melihatnya. Senyumnya semakin mengembang lebar. Kemudian, Intanpun mendekati Setya.


"Sudah selesai?" Tanya Intan setelah didepan Setya.


"Sudah. Yuk, sekarang kita pergi makan. Setelah itu aku harus kembali lagi ke kantor." Ucap Setya lembut. Intanpun mengangguk setuju.


Kemudian, Intan mendorong Setya untuk menuju taman tepat diseberang rumah sakit. Intan menggunakan jembatan penyebrangan yang sudah dilengkapi lift untuk orang-orang yang memang tak bisa menggunakan tangga.


"Haahhh.. Udara di taman memang selalu paling bagus! Wahh .. Lihatlah bunga ini cantik sekali, ya kan kak?" Seru Intan setelah mereka sampai taman itu.


Intan menatap bunga liar yang ia petik disekitaran taman itu. Setya terus memperhatikan Intan, diam-diam Setya mengambil foto Intan yang terlihat sangat cantik.



"Iya sangat cantik." Sahut Setya, menjawab pertanyaan Intan.


Tapi, yang dilihat Setya bukanlah bunga, tapi tentu saja Intan sendiri. Apalagi, di taman siang itu tak terlalu ramai, hanya beberapa orang saja yang ada disana.


"Sudah sini, kita makan." Panggil Setya pada Intan agar mendekat.


Walaupun, Setya sudah mendapat kompensasi dari sang ayah bisa istirahat 1 jam lebih lama dari karyawan lain, Setya tetap ingin sebisa mungkin tepat waktu. Intanpun menurut dan mendekati Setya. Kemudian, dengan telaten Intan mengambilkan kotak bekal dan memberikan pada Setya dan dirinya sendiri.


Semua berjalan lancar, sampai tiba-tiba terdengat teriakan dari jauh orang berteriak 'copet!' ... Intan dan Setya juga reflek menoleh, sampai seorang laki-laki paruh baya yang berlari ke arah mereka dengan membawa tas seorang wanita. Di belakangnya, sudah ada beberapa orang yang mengejar pencopet itu.


"Ahhh!! Kak Setya!"


"Jangan mendekat, atau aku tusuk wanita ini.!!" Ancam pencopet itu sambil menodongkan pisau ke leher Intan.


Intan sangat terkejut dibuatnya. Dia sangat ketakutan. Apalagi, Setya dia juga terlihat terkejut, namun dia tak bisa melakukan apapun.


"Jangan sentuh dia! Lepaskan!" Seru Setya dengan nada tajam. Dia berusaha bangkit dari kursi roda untuk menolong Intan tapi, sayangnya kakinya belum kuat dan akhirnya, Setya malah jatuh tersungkur.


Bugh!!


"Berisik! Lihatlah keadaanmu dulu, baru mengancam orang lain!" Ejek pencopet itu sembari menendang tubuh Setya.


"Kak Setya!! ... Lepaskan aku! Tolong!!" Teriak Intan berusaha meminta bantuan.


Tapi, orang-orang di depan Intan tak bisa berbuat banyak, karna setiap mereka mendekat pencopet itu mengarahkan pisau ke leher Intan.


"Lepaskan dia!!" Seru Setya sambil memukul kaki pencopet itu sampai pencopet itu kesakitan dan tak sengaja melepaskan Intan. Intan segera menjauh.


"Sialan kau!" Umpat pencopet itu marah. Dia mengarahkan pisaunya dan akan menyerang Setya.


"Tidakk!!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2