
Hari terus berganti. Akhir pekan itu, Ifa dan Bayu berencana untuk membelikan perlengkapan untuk baby twin. Dapat dilihat kalau Ifa terlihat sangat bersemangat hari itu.
"Ma-Pa, kami berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." Pamit Ifa pada kedua mertuanya sebelum berangkat ke mall yang menjual keperluan bayi.
"Iya sayang. Hati-hati yaa.." Jawab mama lembut dan senyuman diwajahnya, diikuti sang papa.
Kemudian, Ifa dan Bayu segera menuju ke mall tempat mereka akan membeli perlengkapan bayi yang mereka butuhkan. Sepanjang perjalanan, Bayu tak pernah sekalipun melepaskan tangan Ifa. Bayu juga rela berjalan perlahan untuk menyamakan langkahnya dengan sang istri, karna Ifa sudah mulai susah berjalan dengan perutnya yang sudah sangat besar, karna ada baby twin disana.
Saat mereka tiba di baby shop. Mata Ifa langsung berninar melihat berbagai perlengkapan bayi yang lucu-lucu. Dia segera masuk dan mulai memilih untuk keperluan baby twin. Bukan hanya Ifa, Bayu sendiri juga sama antusiasnya. Dia mengambil beberapa keperluan sambil berkhayal saat baby twin menggunakannya. Begitu banyak yang mereka beli, mulai dari baju, bedong, tempat tidur, dan masih banyak lainnya.
"Sayang, kita beli ini yuk. Ini sangat lucu. Baby twin pasti sangat tampan saat mengenakannya nanti." Ucap Bayu antusias sambil menunjukkan dua buah baju Bayi pada Ifa.
"Iya itu sangat lucu. Tapi, toko ini harganya cukup mahal ya kak?" Tanya Ifa saat melihat harga-harga barang di toko itu.
"Tak masalah. Demi kamu atau baby twin, aku pasti akan mengusahakan akan selalu sanggup memenuhinya." Jawan Bayu dengan senyuman diwajahnya.
Melihat senyum itu, beberapa ibu hamil yang juga sedang mencari perlengkapan untuk calon baby mereka, menjadi histeris. Mereka, terpesona dengan senyum Bayu.
"Lihatlat pria itu, dia sangat tampan. Kalau anak mereka laki-laki, pasti juga sangat tampan."
"Wanita itu sangat beruntung mempunyai suami setampan dan sepengertian itu."
Bisik-bisik bumil yang melihat Ifa dan Bayu. Bayu melirik sang istri dan melihat bagaimana reaksinya. Dan sudah seperti yang dia duga, kalau Ifa cuek dengan bisikan itu. Memang, selama kehamilan Ifa, Ifa tak lagi suka cemburu pada wanita lain yang mendekati Bayu. Ifa malah bersikap bodo amat dan acuh seperti sekarang.
"Anu, permisi mas ganteng .." Panggil seorang wanita hamil pada Bayu. Bayu dan Ifa secara serentak menoleh padanya.
"Ya, ada apa?" Tanya Bayu sambil menatap wanita hamil itu dengan heran.
"Maaf sebelumnya. Semenjak saya liat mas ganteng dari tadi, saya rasa ingin sekali berfoto dengan masnya. Sepertinya saya ngidam. Boleh minta foto bareng ya mas ganteng?" Tanya wanita itu dengan pandangan memelas sambil mengusap perut buncitnya.
"Sayang, jangan gitu. Dia itu suami orang!" Seru seorang pria yang sepertinya suami wanita itu.
"Tapi aku ingin foto sama mas ganteng. Kalau anak kita sampe ileran gimana?!" Seru wanita itu bersih keras.
"Duh, kamu ini yaa ... Maaf ya mas-mbak merepotkan." Ucap pria itu tak enak hati.
"Gak apa-apa kok mas. Kalau mau foto, silahka foto saja. Saya pinjamka suami saya." Ucap Ifa ramah.
"Wah. Beneran mbak? Makasih ya!! ... Sayang, ayo fotokan aku sama mas ganteng!" Seru wanita itu sambil merangkul lengan Bayu bersiap untuk berfoto.
Bayu cukup risih sebenarnya, dia menatap sang istri seakan meminta pertolongan. Tapi, Ifa malah cuek dan memilih melanjutkan berbelanja. Penderitaan Bayu tak berhenti dari situ saja. Setelah wanita itu, ada lagi beberapa wanita lain yang meminta foto bersama juga. Dan mau tak mau Bayu menerima permintaan itu.
"Hahhh.. Sayang, kamu kok cuek banget gitu sih liat aku ditempelin banyak wanita lain. Kamu gak cemburu? Padahal dulu, kamu bakal langsung kasih pelototan pada wanita-wanita yang mendekati aku. Tapi semenjak hamil, kamu jadi cuek gini ke aku." Keluh Bayu setelah sesi foto berakhir.
"Karna Ifa tahu, mereka hanya ingin berfoto. Lagian, suami wanita-wanita itu ada bersama mereka. Ifa juga tau rasanya keinginan gak terpenuhi saay hamil tuh gimana ... Lagian, kalau kak Bayu berani selingkuh, liat saja kak Bayu gak bakal pernah bisa ketemu Ifa atau baby twin lagi." Jawab Ifa dengan nada tegas.
"Ahaha. Mana Mungkin aku berani sayang. Punya kamu saja uda lebih dari cukup. Apalagi, sebentar lagi juga ada baby twin. Aku uda gak mikir yang lain lagi." Ucap Bayu sambil mencubit pelan pipi cabi sang istri.
...****************...
__ADS_1
Malam harinya, Setya yang sedang tidur tiba-tiba terbangun dan ingin makan sesuatu. Dia melihat sang istri yang masih tidur dengan pulas disebelahnya, Setyapun tak mau membangunkan Intan dan memilih keluar kamar. Lagian, Setya sedang ingin makan makanan buatan orang lain. Setya, segera menghubungi nomor orang itu agar segera membuatkannya makanan yang dia inginkan.
"Hallo?" Sapa Bayu dengan suara serak khas orang bangung tidur. Yah, orang yang diinginkan Setya untuk membuatkannya makanan adalah Bayu.
"Hallo Bay, cepet bangun dan buatkan aku rujak buah. Aku ingin makan itu sekarang." Ucap Setya dengan nada memerintah.
"Apa?! Kau gila ya?! Ini tengah malam dan kau ingin aku membuatkanmu rujak?!" Seru Bayu tak habis pikir dengan permintaan Setya. Rasa kantuk dimatanya seketika menghilang dan berganti rasa kesal.
"Iya. Aku mau sekarang. Pokoknya kau yang harus buatin!" Seru Setya tanpa mau bantahan.
"Kenapa aku harus mengikuti permintaanmu?!" Tanya Bayu malas.
"Hei Bay, apa kau lupa dengan hutangmu untuk menuruti permintaan Intan kalau dia hamil?! Karna aku yang menggantikannya mengidam, kau harus menurutinya. Kalau enggak, anaku akan ileran." Seru Setya mengingatkan.
"Haaahh.. Baiklah, iya-iya. Aku akan buatin." Jawab Bayu malas.
"Oke. Kamu cepet ke supermarket belikan buah semangka, melon, pepaya, bengkoang, belimbing, nanas, kedondong dan mangga muda untuk isi rujaknya. Harus lengkap! Aku tunggu di rumahku. Kau harus membuatkannya tepat dihadapanku." Seru Setya santai.
"Hei, buah-buah itu gak semuanya ada di supermarket!" Seru Bayu tak terima.
"Bodo amat. Pokoknya kau harus mencarikannya. Aku tunggu. Jangan lama-lama." Seru Setya sebelum ia menutup panggilan teleponnya.
"Haahhh.. Dasar, sahabat gak ada akhlak!" Gerutu Bayu kesan dengan permintaan Setya.
"Ada apa kak?" Tanya Ifa yang terbangun dari tidurnya, karna mendengar suara Bayu.
"Uda jangan mengeluh. Kak Bayu berangkat aja, kasian ntar kalo anak Intan ileran. Hati-hati di jalan ya.." Ucap Ifa sebelum kembali memejamkan mata. Bayu sampai membelalak tak percaya, bahkan Ifa sangat acuh padanya.
Akhirnya, dengan langkah berat dan malas Bayu berangkat menuju ke supermarket untuk membeli bahan-bahan untuk membuat rujak buah. Dan sesuai dengan prediksinya ada beberapa buah yang gak ada.
"Mas, di supermarket ini memang gak ada buah bengkoang dan kedondong ya?" Tanya Bayu pada pegawai di kasir.
"Maaf kak, gak ada. Coba kakak cari di pasar tradisional." Jawab kasir menyarankan.
"Oh begitu. Okey, makasih mas." Jawab Bayu sebelum pergi.
Bayu pun segera ke pasar tradisional yang memang sudah beraktivitas di jam dini hari untuk mencari buah yang diinginkan oleh Setya. Naasnya, ternyata penjual buah belum buka, jadi Bayu harus menunggu sampai pukul 3 pagi untuk mendapatkan buah itu.
Baru, setelah itu dia segera ke rumah Setya. Setya sendiri sebelumnya kembali tidur sambil menunggu Bayu. Saat dia mendengar bel rumah berbunyi dia segera membukakan pintu.
"Jam berapa ini?! Kenapa baru datang sekarang. Aku mintanya dari beberapa jam yang lalu lho." Seru Setya sambil tangan di lipat didada.
"Hei, kau pikir mudah mencari buah yang kau inginkan, hah?! Aku harus menunggu lama untuk mendapatkannya." Jawab Bayu dengab wajah kusut karna mengantuk.
"Oohh.. Sudahlah masuk saja dan langsung buatkan aku!" Seru Setya tak memperdulikan cerita Bayu. Bayu pun hanya bisa mengumpati sahabatnya itu dalam hati.
Kemudian, Bayu segera masuk menuju dapur untuk membuatkan Setya rujaknya. Dia mengupas dan memotong-motong buah dan meletakkanya ke dalam wadah besar. Kemudian, dia mulai menyiapkan bumbunya dan membiarkannya meletakkan diatas cobek.
"Kak Bayu ada disini? Ngapain? Apa itu?!" Tanya Intan yang terbangun dari tidurnya karna mendegarkan keributan dari arah dapur. Intan juga bertanya pada Bayu saat melihat meja dapurnya sangat berantakan.
__ADS_1
"Ininih suamimu, bisa-bisanya tengah malam memintaku untuk membuatkannya rujak manis." Gerutu Bayu pada Intan.
"Benarkah?! Wahh. Kak Setya beneran deh. Tau aja buat nyiksa kak Bayu. Hahaha. Udahlah, lanjutin aja, Intan mau lanjut tidur. Jangan lupa bereskan semua kekacauan itu."Seru Intan sebelum kembali berjalan masuk ke kamar. Setya tersenyum lembut pada Intan, sedangkan Bayu hanya bisa melongo mendengar perkataan Intan itu.
"Jangan ngelamun terus. Cepetan!" Seru Setya pada Bayu yang terlihat melamun.
"Cih.."
Beberapa saat kemudian, rujakpun jadi. Setya segera memakannya dengan lahap, tanpa memperdulikam Bayu lagi.
"Aku pulang dulu. Bereskan sendiri dapurmu. Dan hari ini aku minta cuti kerja!" Seru Bayu yang mulai beranjak meninggalkan Setya.
"Apa'an, gak pakek cuti-cuti. Kau harus tetap masuk." Ucap Setya tegas.
"Bodo amat. Aku akan langsung bilang pada papamu. Dia pasti akan memberiku cuti. Aku pergi dulu. Bye! ... Ingat, aku mau tidur. Jangan hubungi aku lagi." Seru Bayu sebelum berjalan pergi.
"Tunggu!" Tahan Setya menahan Bayu.
"Apa lagi?!" Gerutu Bayu yang mulai lelah.
"Bantu aku makan rujak ini. Kau membuatnya terlalu banyak."
"Simpan saja sisanya untuk nanti pagi ..."
"Gak mau! Aku pengennya makan bareng kau Bayu!" Rengek Setya tak mau penolakan. Akhirnya, mau tidak mau Bayu hanya bisa mengiyakan.
Setelah semua habis, barulah Bayu pulang. Di sepanjang jalan, Bayu masih terus menggerutu karna kesal. Bagaimana tidak, seharian ini dia merasa sangat apes. Bayu sampe rumah sudah menjelang shubuh. Dia merasa sangat lelah.
"Kak Bayu uda pulang?" Tanya Ifa yang sudah bangun untuk menunaikan sholat shubuh.
"Iya ..." Jawab Bayu sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Rujaknya gak ada sisa tadi?" Tanya Ifa penasaran.
"Sudah habis aku makan dengan Setya tadi. Kenapa sayang?" Tanya Bayu dengan mata terpejam.
"Aku juga mau rujaknya. Kak Bayu buatin untuk Ifa juga yaa.." Pinta Ifa dengan nada penuh harap.
Bayu langsung membuka matanya lebar-lebar mendengar permintaan Ifa. Tahu gitu, rujaknya tadi gak dia habiskan dan dia bawa pulang. Gagal sudah rencananya untuk istirahat.
"Haahhh...."
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1