Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Kabar bahagia


__ADS_3

Setelah siap, Ifa dan mama segera menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Ifa. Di hati mereka masing-masing ada harapan dan do'a yang sama, semoga memang ada kehidupan kecil di dalam perut Ifa saat ini. Setelah sampai di rumah sakit, mama segera mendaftarkan Ifa. Kemudian, mereka menunggu di lobi bersama ibu-ibu hamil lainnya. Ifa memperhatikan itu dengan senyum diwajahnya. Tapi, dia juga merasa sangat gugup saat ini.


"Mama.. Ifa gugup. Bagaima, jika hasilnya gak sesuai yang kita harapkan? Bagaimana kalau Ifa ngecewain mama, kak Bayu dan semuanya. Ifaa.."


"Sshhttt. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Apapun hasilnya, kita harus terima nanti. Kalau memang disini sudah ada kehidupan kecil, maka Alhamdulillah ... Tapi, kalau memang belum ada, berarti saat ini belum waktunya. Kamu dan Bayu bisa berusaha lagi nanti." Jawab mama dengan lembut.


Mendengar itu, Ifa sedikit tersenyum menanggapinya. Tapi, tak dapat dipungkiri, masih tetap ada rasa takut di dalam hatinya. Sudah satu tahun ia menjadi seorang istri dan tentu saja semua sudah mengharapkan malaikat kecil untuk hadir diantara dia dan Bayu. Dan sebagai seorang wanita, Ifa ingin mewujudkan hal itu.


"Nyonya Ifa, silahkan masuk." Panggil suster pendamping.


"Ayuk sayang. Bismillah." Ajak mama pada Ifa untuk memasuki ruang periksa. Mama merangkul bahu Ifa untuk menenangkannya.


"Selamat pagi bu. Ada keluhan apa?" Tanya seorang dokter pria berumur kurang lebih sama dengan mertuanya.


"Ini dokter, menantu saya sudah telat kedatangan tamu kurang lebih 2 minggu'an. Dan hari ini dia mual-mual saat mencium aroma amis. Saya mencurigai kalau menantu saya ini sedang hamil dok. Jadi, kami ingin memastikanya." Jawab mama mewakili Ifa yang masih terlihat gugup.


"Baiklah. Silahkan berbaring disana. Saya akan periksa." Ucap dokter dengan ramah. Kemudian, dia mempersiapkan alat USG untuk mengecek kehamilan Ifa.


"Selamat bu, menantu ibu benar sedang mengandung sekarang." Jawab dokter saat melihat kehidupan di perut Ifa pada layar monitor.


"Sungguh dok?" Tanya mama memastikan.


"Iya bu. Usia kandungannya sudah berusia 6 minggu sekarang. Coba anda dengar, ini detak jantung janin." Ucap dokter ramah.


Deg.. Deg.. Deg


"Ma.. Ifa beneran hamil." Ucap Ifa dengan mata berkaca-kaca saat mendengar detak jantung janinnya.


"Iya sayang. Selamat yaa. Makasih sudah memberikan mama cucu." Ucap mama sambil mengusap lembut kepala Ifa.


"Tapi bu, kandungan menantu ibu ..."


"Ada apa dok?" Potong mama panik.


"....."


...****************...


Di kantor.


"Bay.."


"Bayu.."


"Bayuu!!"


"Ya?" Tanya Bayu yang baru tersadar dari lamunannya.


"Tolong ganti slidenya." Ucap Setya dengan penuh wibawa.


"Oh, iya. Maaf." Ucap Bayu yang merasa bersalah.


Saat ini dia dan Setya sedang melakukan rapat untuk pengajuan proyek baru. Tapi, tak disangka Bayu masih terus mengkhawatirkan Ifa. Ifa memang sangat jarang sakit. Mangkannya, sekalinya Ifa sakit Bayu selalu merasa resah, seperti sekrang ini.


"Kau kenapa sih Bay? Kenapa melamun terus dari tadi. Tadi itu rapat penting lho. Kau terlihat sangat tidak professional." Tegur Setya setelah rapat berakhir.


"Maafkan saya pak. Saya terus kepikiran istri saya di rumah. Hari ini dia sakit. Pikiran saya jadi terus tertuju padanya." Jawab Bayu sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah, karna sudah mengacaukan presentasi Setya.


"Haahhhh.. Aku mengerti. Mungkin aku juga akan seperti itu jika Intan yang sakit. Tapi, setidaknya kamu harus lebih fokus lagi. Untung saja, kali ini rapat internal untuk memilih proposal terbaik untuk proyek baru. Jika itu rapat dengan perusahaan lain, sudah pasti kita kalah tadi." Ucap Setya dengan helaan nafas panjang.


"Baik Pak, saya mengerti." Ucap Bayu tegas.


Saat jam makan siang, Bayu menyempatkan untuk menghubungi sang istri. Tapi, Ifa tak mengangkat panggilannya. Akhirnya, Bayu mencoba menelpon sang mama.


"Hallo Bay?" Sapa mama setelah melihat kalau Bayu yang menelpon.


"Ma, bagaimana keadaan Ifa? Kenapa Ifa gak mengangkat telpon dari Bayu?" Tanya Bayu khawatir.

__ADS_1


"Dia sedang tidur, setelah dari tadi mual-mual dan gak bisa tidur. Dia pasti sangat lemas, makan sedikit langsung mual. Jadi jangan ganggu dia." Seru mama memperingatkan.


"Separah itu? Bagaimana ini ma? Mama bawa ke rumah sakit aja. Apa Bayu izin dan mengantar kalian berdua?" Tanya Bayu sembari bangkit dari duduknya.


"Gak perlu. Mama tadi sudah bawa Ifa ke dokter .."


"Lalu kata dokter gimana? Kenapa gak rawat inap aja kalo parah?" Seru Bayu tak habis pikir.


"Tenanglah. Ifa hanya butuh istirahat. Lebih baik kamu fokus saja dengan pekerjaanmu agar bisa cepat pulang menemui istrimu." Ucap mama menyarankan.


"Mama benar. Baiklah. Bayu akan menyelesaikan pekerjaan Bayu dengan cepat agar bisa cepat pulang. Mama jagain Ifa sampai Bayu pulang ya.." Pesan Bayu.


"Tentu saja. Jangan lupa hati-hati saat pulang nanti." Jawab mama.


Jam pulang.


"Pak, saya sudah menyelesaikan semua tugas saya. Saya akan pulang lebih dulu sekarang." Pamit Bayu pada Setya.


"Baiklah. Terima kasih kerja kerasmu hari ini ... Oh ya Bay, kalau terjadi apa-apa dengan Ifa kabari aku atau Intan. Kami pasti akan datang membantu." Ucap Setya dengan senyuman.


"Ya. Tentu saja." Jawab Bayu dengan senyuman juga.


Setelah sampai di rumah, Bayu langsung menuju ke kamar untuk mencari istrinya. Pertama kali yang dilihat Ifa baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan jubah mandi sambil menggosok rambut basahnya dengan menggunakan handuk.


"Oh, kak Bayu uda pulang?" Tanya Ifa saat melihat suaminya sudah datang.


"Sudah. Kamu uda enakan?" Tanya Bayu mendekati istrinya. Dia melihat Ifa dari atas ke bawah untuk memastikan sendiri keadaan sang istri.


"Ifa uda gak apa-apa kak Bay." Jawab Ifa dengan senyuman.


"Syukurlah. Aku sangat mencemaskanmu daritadi." Seru Bayu sambil memeluk sang istri.


"Maaf ya uda buat kak Bayu khawatir. Sekarang, Ifa gak apa-apa kok ... Oh ya, kak Bayu ingat hari ini hari apa?" Tanya Ifa sambil menatap Bayu dengan manja.


"Tentu saja ingat dong sayang. Mana aku bisa lupa hari dimana aku mengucapkan ikrar pernikahan kita, hm? ... Awalnya aku mau ajak kamu makan di luar. Tapi, kamu sakit jadi kita makan di rumah saja ..."


"Kamu serius? Kamu uda sehat beneran?" Tanya Bayu memastikan.


"Iyaa. Ifa uda sehat kok. Kita makan di luar ya? Plisss.." Pinta Ifa dengan pandangan memohon.


"Baiklah kalau gitu. Kamu mau makan apa?" Tanya Bayu lembut.


"Hm, nanti di jalan aku kasih tau. Hehe." Jawab Ifa dengan senyum misterius.


Malam harinya, Ifa dan Bayu berpamitan kepada orang tua mereka untuk makan di luar.


"Hati-hati ya kalian. Bay, jangan ngebut. Selalu lindungi Ifa, jangan sampe menantu mama ini jatuh atau kesusahan. Dan kamu harus menuruti semua keinginannya. Paham?" Pesan mama dengan tegas.


"Ih, apa'an sih ma. Alay banget sih. Bayu tahu. Mana mungkin Bayu biarin istri Bayu kenapa-napa. Lagian, apapun yang diinginkan Ifa sudah pasti akan Bayu kabulkan."


"Bayu dengerin mamamu kalau lagi ngomong. Dengerin baik-baik!" Seru papa tegas.


"Iya pa." Jawab Bayu malas.


"Jangan pulang malam-malam. Angin malam gak baik." Seru mama lagi.


"Iya-iya ma. Bawel ih. Ayuk sayang, kita berangkat saja." Ajak Bayu pada Ifa.


"Iya ... Mama-Papa kami berangkat dulu yaa.." Pamit Ifa pada kedua mertuanya.


Ifa memang sudah berpesan pada mertuanya untuk merahasiakan kehamilan Ifa dulu. Ifa ingin menyampaikan sendiri pada Bayu tentang kehamilannya. Ifa hanya menyampaikan pada mamanya sendiri. Dan sama seperti mertuanya, mamanya juga sangat bahagia.


Setelah itu mereka segera berangkat ke tempat yang diinginkan Ifa. Dan ternyata tempat itu adalah warung sederhana yang menjual berbagai lauk pauk.


"Kamu serius mau makan disini? Kamu gak mau ke resto ato kafe gitu?" Tanya Bayu memastikan.


"Gak mau. Ifa maunya makan disini." Seru Ifa bersihkeras.

__ADS_1


"Baiklah. Ayuukk.."


Bayu dan Ifa segera memasuki warung sederhana itu. Tak lama mereka duduk ada pelayan laki-laki yang mendekati mereka untuk mencatat pesanan mereka.


"Mau pesan apa mas-mbak?" Tanya pelayan itu ramah.


"Saya mau burung dara. Utuh ya mas. Sambalnya bikin yang pedas. Kalo ada kasih sambal mangga muda ya mas." Ucap Ifa antusias.


"Kamu mau burung dara?" Tanya Bayu setelah mendengar pesanan Ifa.


"Ya. Hmm. Itu pasti enak." Seru Ifa antusias. Bayu tersenyum mendengar ucapan sang istri. Kalau Bayu sendiri lebih memilih bebek sebagai menunya.


Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Melihat burung dara dan sambal mangga di depannya, mata Ifa langsung berbinar. Dia sangat antuasias melihat itu. Seakan-akan air liur akan segera menetes dari mulutnya.


Tanpa basa-basi lagi, Ifa pun melahap pesanannya itu dengan lahap. Bayu yang melihat Ifa makan dengan lahap setelah dari pagi kata mama dia kesusahan makanpun ikut tersenyum senang.


"Pelan-pelan saja sayang. Gak bakal ada yang merebut makananmu." Ucap Bayu sambil mengelap sudut bibir Ifa yang belepotan.


"Habis ini enak sekali. Ifa boleh tambah gak?" Tanya Ifa dengan mata berbinar.


"Kamu yakin mau tambah? Ini porsinya sudah banyak lho sayang. Kamu gak kekenyangan?" Tanya Bayu khawatir.


"Ifa belum kenyang kok. Ifa mau coba bebek kayak kak Bayu. Pasti enak dengan sambal mangga. Ya?" Pinta Ifa memelas.


"Baiklah. Tapi, kalau sudah merasa kenyang berhenti ya. Aku gak mau liat kamu jadi sakit perut sayang." Ucap Bayu lembut.


"Siap bos!" Seru Ifa senang.


Akhirnya, Ifa memesan menu seperti Bayu juga setelah pesananya sendiri habis. Dan hebatnya Ifa bisa menghabiskan semua itu tanpa tersisa. Bayu sampai terkejut melihat porsi makan Ifa yang tak seperti bisanya. Walaupun, suka makan tapi Ifa gak pernah makan sebanyak itu sebelumnya.


"Perutmu gak apa-apa kan?" Tanya Bayu memastikan.


"Gak apa-apa." Jawab Ifa santai sambil meminum es jeruknya.


"Oh ya kak Bay, karna ini hari spesial kita, aku uda siapin hadiah buat kakak lho.. Taraaa.." Seru Ifa sambil mengeluarkan kotak dari dalam tasnya.


"Wah, apa ini sayang. Boleh aku buka sekarang?" Tanya Bayu penasaran.


"Tentu saja." Jawab Ifa dengan senyuman.


Bayu pun segera membuka kotak hadiah dari Ifa itu. Matanya membulat saat melihat selembar foto hitam putih yang tak terlalu jelas bentuknya.


"Apa ini sayang?" Tanya Bayu bingung.


"Itu foto yang ada disini." Jawab Ifa sambil menyentuh perutnya. Bayu terdiam beberapa saat seakan berpikir apa maksud Ifa.


"Kamu ... Hamil?" Tanya Bayu pelan dengan penuh harap.


"Ya. Ifa sedang hamil sekarang. Dan itu foto baby kita." Jawab Ifa dengan senyum di wajahnya.


"Sungguh?! Kamu gak becanda kan sayang?" Tanya Bayu antusias.


"Kenapa juga aku harus bercanda sih kak?" Jawab Ifa meyakinkan suaminya.


"Ahh!! Sayang! Terima kasih! Terima kasih! ... Aku akan jadi seorang ayah. Semuanya, aku akan jadi seorang ayah!" Teriak Bayu antusias sambil memeluk sang istri. Semua pengunjung disana pun ikut merasakan bahagia dan memberikan selamat pada Bayu. Ifa juga ikut tersenyum melihat kebahagiaan sang suami.


"Tapi, sayang. Gambar baby kita kok gini ya?" Tanya Bayu bingung sambil melihat foto USG di tangannya.


"Itu karna ...."


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2