Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Sampah yang berpura-pura menjadi berharga..


__ADS_3

Hampir setengah semester telah berlalu. Satu bulan lagi SMA Bangsa akan mengadakan Ujian Tengah Semester yang pertama kalinya. Sejauh wajtu itu tak ada perkembangan hubungan yang berarti antara Dika dan Tasya. Dika masih belum mengakui perasaannya sendiri. Begitupun Tasya, dia juga gak ingin terlihat seperti berharap dan menantikan Dika.


Akhirnya, mereka hanya berteman seperti biasa. Rehan juga sama dia belum mengungkapkan perasaannya pada Tasya. Karna, dia tau bahwa di hati Tasya saat ini ada orang lain. Yah, Rehan tahu perasaan Tasya pada Dika. Berulangkali, Rehan menangkap basah Tasya sedang memperhatikan Dika. Bukan hanya cara menatap saja yang beda, bahkan sikap Tasya sendiri juga berbeda pada Dika.


Hanya saja Dika tak menyadari itu, atau justru dia pura-pura mengabaikan itu. Maka dari itu, Rehan gak ingin membantu Dika. Selama dia tak menyadari perasaan Tasya dan perasaannya sendiri, maka Rehan akan terus berusaha mengisi hati Tasya dengan dirinya. Sampai saat ia yakin, kalau dihati Tasya sudah terisi namanya, maka dia akan menyatakan perasaannya pada Tasya.


"Hei guys, bagaimana nanti untuk menyiapkan ujian kita adakan belajar kelompok saja?" Saran Tania dengan wajah berbinar.


"Hemm.. Boleh saja. Dulu kak Setya dan yang lain juga melakukan hal yang sama. Lalu, juga bergantian di rumah kita masing-masing gitu. Gimana?" Ucap Tasya antusias.


"Ide bagus. Aku juga tahu dulu kak Ifa juga melakukan hal yang sama. Dan aku rasa itu cukup efektif." Jawab Rehan menyepakati.


"Kalau Dika bagaimana?" Tanya Tania yang melihat Dika hanya diam. Tasya juga menatap Dika dengan sedikit berharap.


"Terserah. Aku ikut saja." Jawab Dika singkat.


"Okey, sudah diputuskan ya! Kita mulai dua minggu sebelum ujian saja bagaimana?" Ucap Tasya menyarankan dan disetujui oleh yang lainnya


"Aku juga akan mengajak Rafa!" Gumam Tania senang.


...****************...


Keesokan harinya ..


"Aduh.. Sepertinya aku gak ikut kelas ini deh. Perutku sakit sekali. Aku mau istirahat di UKS saja." Rintih Tania sambil memegangi perutnya yang sakit.


"Apa kali ini sangat sakit?" Tanya Tasya khawatir. Setiap bulannya selalu seperti ini. Ketika tamu bulanan Tania datang, di tiga hari awal dia akan selalu merasa kesakitan.


"Iyaa. Ini sangat menyiksaku. Aku ke UKS duluan yaa.." Jawab Tania sambil berdiri dari duduknya.


"Perlu ku antar?" Tanya Tasya yang masih khawatir.


"Gak perlu. Sebentar lagi guru mapel akan datang. Aku bisa sendiri kok." Jawab Tania dengan senyum lemah. Jelas sekali dari wajahnya dia sedang menahan sakit.


"Baiklah. Aku akan datang membawa sesuatu yang hangat saat istirahat nanti. Berhati-hatilah." Seru Tasaya saat Tania mulai berjalan dengan perlahan sembari memegang perutnya.


"Apa dia gak apa-apa?" Tanya Dika yang melihat Tania berjalan merambat di dinding untuk menuju UKS.


"Iya, setelah tiga hari dia akan baik-baik saja. Ini selalu terjadi setiap bulannya." Jawab Tasya sambil menagap pintu dimana Tania pergi tadi. Dika mengangguk mengerti.


Setelah perjuangan yang cukup panjang akhirnya, Tania sampai juga di UKS. Disana sudah ada dokter jaga yang akan menolongnya.


"Untung saja kamu datang sebelum saya pergi. Ini kompresan air hangat, letakkan diperutmu agar lebih nyaman. Istirahatlah disini sampai merasa baikan ... Hari ini saya ada tugas di luar. Sebentar lagi akan ada murid anggota palang merah sekolah yang akan datang menggantikan saya sejenak. Kalau air kompresannya sudah dingin, minta ganti dia saja." Ucap dokter jaga setelah memerika kondisi Tania.

__ADS_1


"Baik. Terima kasih dokter." ucap Tania dengan senyum kecil.


Setelah itu dokter jagapun pergi. Tania meringkuk dan menutup seluruh tubuhnya dengan menggunakan selimut menghadap dinding. Tirai yang menutup ranjangnya juga sudah ditutup oleh dokter jaga, agar Tania lebih tenang untuk istirahat.


Tak lama kemudian murid yang dimaksudpun datang. Dia menghampiri Tania yang masih meringkuk menahan sakit.


"Hm, permisi. Apa ada yang kamu butuhkan? Aku disini yang akan menggantikan dokter jaga untuk sementara." Ucap siswi itu.


Tania mendengar suara lembut seorang gadispun membuka matanya kembali. Tapi, dia gak ada tenaga untuk bergerak.


"Untuk saat ini gak ada. Nanti, aku akan memanggilmu jika ada yang diperlukan. Aku mau istirahat dulu sekarang.." Jawab Tania pelan nyaris tak terdengar. Siswi itupun memaklumi keadaan Tania, karna sebelumnya dia sudah diberitahu oleh dokter jaga bagaimana kondisinya.


"Baiklah kalau gitu. Istirahatlah dan panggil aku jika membutuhkan sesuatu." Ucap siswi itu ramah.


Tania berusaha memejamkan matanya lagi, disaat sakit seperti ini memang paling ampuh menghilangkannya dengan tidur. Biasanya, nanti setelah tidur, dia akan merasa baikan. Saat Tania tertidur, sayup-sayup dia mendengar suara seorang pria yang sangat akrab di telinganya.


"Hai cantik!" Sapa seorang siswa.


"Kamu kenapa disini? Gak ikut pelajaran?" Tanya siswi penjaga bingung.


"Aku mendengar kalau kamu sedang menjaga UKS. Mangkannya aku kesini untuk menemanimu."


"Gak perlu. Aku bisa sendiri. Kalau ada yang lihat bagaimana?!"


"Salah siapa kamu belum memutuskan pacarmu itu! Itu kan kesalahanmu."


"Gak bisa sekarang dong. Dia itu anaknya supel cocok banget buat bantuin aku promosi untuk jadi ketua OSIS. Nanti, kalau aku sudah jadi ketua OSIS aku janji akan putus dari dia."


"Rafa?! ... Yuni?!" ... Teriak hati Tania saat mengintip siapa yang tengah mengobrol di ruang UKS itu.


Hatinya serasa tercabik-cabik saat melihat kekasihnya Rafa disana sedang memeluk gadis lain. Apalagi, dia juga mendengar fakta kalau Rafa ternyata selingkuh dibelakangnya dan hanya memanfaatkannya saja selama ini.


Rasa sakit diperutnya seakan menghilang dan beralih ke hatinya. Dadanya terasa sesak. Tania, ingin menangis tapi gak ada air mata yang keluar. Rasa sedih, kecewa dan marah menguasai hatinya saat ini.


Rasanya, dia ingin keluar dari persembunyiannya dan menampar lelaki brengsek itu secara langsung. Tapi, itu hanya akan menguntungkan Rafa saja, dan dia sendiri yang menderita. Tania gak menginginkan itu. Dia juga ingin membuat Rafa menderita dan dibuang sepertinya!


"Jani ya? Nanti kamu akan memutuskannya dan memilihku saja?" Rengek manja Yuni pada Rafa.


"Tentu saja, cantik.." Jawab Rafa sembari mndekati Yuni dan menciumnya.


Tania yang meliha itu semakin tak kuasa. Hatinya sakit luar biasa. Dia mengingat semua momen manis yang sudah ia lewati bersama Rafa. Dia selalu membantu Rafa dan mencoba menjadi kekasih yang baik untuknya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah sebuah pengkhiantan.


Aku gak bakalan memaafkanmu Rafa! Kamu harus merasakan apa yang ku rasakan juga!!

__ADS_1


Jam istirahat..


"Kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya dokter jaga yang sudah kembali dari tugas luarnya.


"Sudah dok. Sakit diperut saya sudah berpindah." Jawab Tania dengan senyum kecut.


"Maksudnya berpindah?" Tanya dokter bingung.


"Enggak papa. Pokoknya saya sudah merasa lebih baik. Terima kasih dokter." Ucap Tania sembari melangkah pergi meniggalkan UKS.


Dengan langkah yang pasti Tania berjalan ke arah kantin. Di perjalanan ia bertemu denga. Tasya dan yang lain yang akan ke kantin juga.


"Tania?! Kenapa sudah bangun? Apa sudah gak sakit? Aku baru saja ingin membeli sesuatu yang hangat untukmu." Seru Tasya mendekati Tania. Ia Tasya melihat ada yang aneh dari Tania.


"Aku memang masih gak baik-baik saja. Tapi, ada hal yang lebih penting untuk aku selesaikan. Aku ingin membuang sampah yang selama ini berpura-pura menjadi berharga!" Jawab Tania dengan penuh penekanan.


"Apa maksudmu?! Aku gak paham apa yang kamu katakan.." Tanya Tasya bingung.


Dika dan Rehan juga hanya bisa menatap percakapan dua gadis didepan mereka itu dengan bingung juga. Tania gak menjawab pertanyaan Tasya dan meneruskan langkahnya menuju kantin.


"Bu beli kopi hitam dingin tanpa gula satu." Pesan Tania saat dia sampai di stan penjual.


"Tania, kan kamu baru saja sakit perut. Gak baik kalau minum kopi apalagi kopi hitam tanpa gula!" Seru Tasya mengingatkan. Jelas terlihat kekhawatiran dari sorot mata Tasya.


"Tenang saja Sya, aku gak bakal meminum kopi itu." Jawab Tania dengan seringai diwajahnya. Tasya semakin dibuat bingung dengan ucapan Tania.


"Mbak, ini kopinya." Ucap ibu kantin sembari memberikan pesanan Tania.


"Kamu tunggu sini dan lihatlah pertunjukan yang akan aku buat." Ucap Tania dengan tatapan dingin, ia sedang melihat ke arah Rafa yang sedang menikmati makan siangnya bersama teman-teman kelasnya, termasuk Yuni.


"Tapi ..."


"Sudahlah. Kita tunggu saja disini. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Rafa. Biarkan dia menyelesaikannya dulu. Kalau nanti dia membutuhkan bantuan, baru kita mendekatinya." Ucap Rehan menahan Tasya yang ingin mengikuti Tania. Akhirnya Tasya pun menurut dan mengamati apa yang akan dilakukan Tania dari jauh.


.


.


.


Bersambung..


(Chapter selanjutnya akan update nanti sore jam 17.00 WIB)

__ADS_1


__ADS_2