
Setya dan Intan segera melaju menuju hutan bambu, sesuai keinginan Intan. Sesampainya disana, Intan merasa sangat senang, karna rasanya seperti bebas. Rasa marah dan kesal yang sebelumnya ia rasakan seperti terbang dibawa angin yang berhembus disana. Setya tersenyum memperhatikan Intan.
Kemudian, keduanya berjalan bersama dengan bergandeng tangan menyusuri hutan bambu sampai di menara bambu tempat favorit mereka berdua.
"Huh, disini sejuk sekali. Pikiran dan perasaanku langsung tenang. Dari sini semua terlihat jelas." Ucap Intan sambil menatap pemandangan didepannya. Sekeliling hutan bambu ini masih terlihat asri dan hijau, namun tak jauh disana banyak sekali gedung-gedung tinggi menjulang.
Intan menatap Setya yang berdiri disebelahnya yang juga tengah menatapnya. Intan mendekat ke arah Setya dan masuk ke dalam pelukannya. Setya membalas pelukan Intan.
"Terima kasih. Terima kasih banyak karna telah mempercayaiku. Aku tadi mendengar semua obrolan kak Setya dengan Putri. Aku sempat takut kakak tidak akan mempercayaiku, tapi aku sangat senang karna kakak sudah mempercayaiku. Aku tidak akan merusak kepercayaan kakak. Mulai saat ini aku akan selalu ada disisi kakak dan menjaga kakak juga. Karna aku gak mau kehilangan kakak." Ucap Intan dalam pelukan Setya.
"Aku menantikannya." Jawab Setya lembut.
Awalnya Setya terkejut karna Intan ternyata mendengar obrolannya bersama Putri, tapi dia masih bisa bersikap tenang dan baik pada Putri. Dilain sisi Setya juga merasa senang karna tekad Intan. Sebelumnya dia memang juga merasa ada yang aneh dengan tindakan Putri, apalagi saat dia menjelek-jelekkan Intan. Tapi, kini Setya tak perlu takut lagi karna intan juga tidak akan tinggal diam.
"Tapi, ngomong-ngomong kenapa kakak begitu mempercayaiku? Mungkin saja kan aku melakukan hal itu, karna cemburu mungkin?" Tanya Intan sambil mendongak menatap Setya.
"Kamu tidak akan melakukannya walaupun kamu cemburu. Ketika kamu marah atau kesal kamu lebih sering memendamnya sendiri. Kalaupun kamu ingin membalas, kamu tidak akan menggunakan trik kotor dan mengatakannya dengan langsung. Aku sangat mengenalmu, sayang. Kamu tahu kan berapa lama aku menyukaimu diam-diam?" Jawab Setya dengan senyuman.
Intan diam dan memikirkan perkataan Setya. Bahkan, dirinya sendiri tak menyadari bagaimana perilakunya selama ini. Dan Setya bisa mengetahui itu. Intan tersenyum dan kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Setya. Ia semakin memiliki keberanian untuk berdiri disamping Setya dan membalas cinta Setya yang begitu besar padanya selama ini.
...****************...
Setelah kejadian itu, membuat Intan tak lagi sama melihat Putri. Semakin hari tindakan Putri semakin menjadi. Berbagai macam cara ia lakukan untuk menjatuhkan penilaian Setya pada Intan. Namun, semua itu tak ada yang berhasil.
Seperti saat ini, kebetulan kelas Intan dan Putri digabung saat pelajaran olah raga. Dan hari itu permainnya bola tangan. Dengan sengaja Putri berpura-pura terjatuh dan menyalahkan Intan agar Intan terlihat buruk oleh semua orang.
"Aww!!" Pekik Putri saat tubuhnya tersungkur.
Putri pura-pura meringis memegang pergelangan kakinya. Guru olah ragapun segera mendekati Putri yang terlihat kesakitan.
"Kenapa?" Tanya guru olah raga.
"Kaki saya sepertinya terkilir Pak. Kak Intan tadi menabrak tubuh saya sangat kencang." Jawab Putri terlihat kesakitan. Tapi, sorot matanya menatap Intan dan meremehkan.
Murid-murid yang lain pun sudah mulai berbisik-bisik. Mereka sudah tau memang kalau Putri selama ini terlihat mendekati Setya. Mendengar perkataan Putri, mereka mulai mencemooh Intan karna terlalu agresif dan cemburuan. Bahkan Ifa sudah hendak mendekati Putri untuk memberinya pelajaran, tapi ditahan oleh Intan.
"Oh, maafkan aku kalau aku terlalu keras menabrakmu. Tapi, permainan ini memang kan seperti itu. Pak, apakah saya tadi melakukan pelanggaran? Saya rasa penilaian bapak tidak akan salah. Bapak kan seorang guru." Ucap Intan tenang.
"Benar. Saya tadi tidak melihat adanya pelanggaran. Mungkin saja tubuh Putri yang terlalu lemah." Ucap guru olah raga menerawang.
__ADS_1
"Kali begitu, bukannya Putri harus segera dibawa ke UKS ya Pak?" Tanya Intan dengan nada khawatir.
"Benar. Teman-teman Putri bantu Putri ke UKS." Perintah guru olah raga. Dengan malas dua teman Putri mendekati Putri untuk membantunya.
"Saya bisa ke UKS sendiri Pak." Seru Putri berusaha bangkit sendiri.
Tentu saja tidak susah, karna dia hanya berpura-pura. Putri berpura-pura pincang saat berjalan untuk keluar dari gedung olah raga.
"Ouh, apa itu dibawah kaki Putri? Apakah kecoak?" Seru Ifa saat melihat benda hitam dibawah kaki Putri.
"Kecoak? Mana? Ahh!!" Teriak Putri sambil berusaha menghindari kecoak itu dengan melompat dan berlari.
Tentu saja hal itu menjadi tontonan. Karna, sebelumnya Putri berjalan pincang karna kakinya yang terluka.
"Oh maaf. Mainanku jatuh. Hehe." Seru Toni yang mengambil kecoak mainan itu dengan cengiran tak bersalah diwajahnya. Ifa tersenyum puas melihat itu.
"Wah, hebat. Kaki Putri bisa langsung sembuh karna terkejut. Syukurlah." Ucap Intan mendekati Putri. Semua mata juga menatap Putri dengan heran, mereka mulai berbisik-bisik lagi. Kali ini mereka mencemooh Putri, karna sudah berbohong dan menuduh Intan.
"Lain kali, kalau mau acting lebih totalitas ya." Bisik Intan pelan ditelinga Putri.
Bertepatan saat itu bel istirahat pun berbunyi. Guru olah raga pun membubarkan kelas siang itu. Ifa menggandeng lengan Intan untuk pergi meninggalkan gedung olah raga, begitu juga yang lainnya. Tersisa Putri yang masih mematung karna malu juga kesal karna rencannya gagal lagi.
"Kakak menyukai kak Intan kan? Lalu kenapa kakak tidak bekerja sam saja denganku untuk memisahkan Kak Intan dan Kak Setya? Nantinya kakak bisa bersama dengan kak Intan dan aku bisa bersama kak Setya." Seru Putri tak habis pikir pada Toni.
Terlihat jelas kalau Toni menyukai Intan, mangakannya dia membantu Intan sampai seperti itu. Padahal, Intan tak mengetahui itu dan malah bersama pria lain.
"Karna aku berbeda denganmu. Aku tidak akan memaksa orang yang aku sukai untuk menyukaiku. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Walaupun, kau berhasil memisahka Intan dan kak Setya, bukan berarti kak Setya akan menerimamu ... Dan kau tak perlu mencemaskan perasaanku. Sudah cukup bagiku melihatnya bahagia seperti ini, walaupun itu bukan denganku." Jawab Toni penuh dengan penekanan.
"Apa sih bagusnya kak Intan itu? Kenapa kakak dan kak Setya begitu tergila-gila padanya?! Bukankah dia hanyalah gadis kotor yang sempat akan dilecehkan oleh pria lain?!" Seru Putri emosi.
"Kau!!!" Seru Toni geram, dia reflek mengangkat tangannya hendak memukul Putri, kalu dia tak sadar bahwa Putri seorang wanita. Putri sendiri sudah reflek memejamkan mata dan melindungi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kalau kau berani-berani mengatakan hal itu lagi, aku benar-benar tidak akan menahan diriku lagi. Dibandingkan denganmu, Intan jauh lebih baik. Karna, hatinya tidak sebusuk dirimu." Ucap Toni dengan tatapan tajam penuh kemarahan. Putri sampai bergetar ketakutan melihat amarah Toni kali ini. Itu terlihat sangat menyeramkan.
Kemudian, Toni meninggalkan Putri sebelum dia semakin emosi. Setelah kepergian Toni, Putri terduduk dengan lemas. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dengan tangan yang gemetar.
"Di-Dia serius ingin memukulku tadi? ... Huh! Menyebalkan sekali. Lelucon macam itu hatiku lebih busuk daripada kak Intan?! Hahaha. Tau apa dia tentangku?! ... Tidak! Aku tidak boleh takut! Kak Setya adalah pangeranku! Aku harus mendapatkan kak Setya bagaimanapun caranya!!" Tekad Putri lagi.
Sesampainya, Toni di kelas dia disambut oleh Ifa dan yang lain dengan senang.
__ADS_1
"Wow! Kejahilanmu berguna sekali hari ini. Berkat kecoak mainanmu itu topen si Putri abal-abal itu akhirnya terbuka. Puas sekali melihatnya." Seru Ifa antusias.
"Kau keren, kawan!" Puji Dharma sembari menepuk pelan bahu Toni. Linda juga mengacungkan ibu jarinya pada Toni.
"Terima kasih." Ucap Intan tulus dengan senyum diwajahnya. Toni menatap Intan dalam. Hal itu membuat Intan dan yang lainnya bingung. Kemudian, perlahan Toni berjalan mendekati Intan.
"Ada apa?" Tanya Intan bingung.
"Kamu harus lebih berhati-hati padanya. Hatinya lebih busuk dari dugaanmu." Ucap Toni serius.
"Bu-Busuk? Apa yang kau katakan. Walaupun dia terang-terangan ingin mencelakaiku. Tapi, kata busuk terlalu kasar." Ucap Intan merasa tak nyaman juga dengan panggilan itu.
"Jangan begitu lugu dalam menghadapinya. Kamu akan terluka nanti. Berjanjilah padaku, apapun yang dia lakukan kamu harus menguatkan hatimu. Jangan terpengaruh olehnya." Seru Toni sambil memegang kedua bahu Intan dengan kuat.
Intan cukup bingung dengan perkataan Toni, tapi melihat sorot mata Toni yang terlihat serius membuat Intan mengangguk mengiyakan. Toni takut, Putri akan memanfaatkan trauma Intan untuk menyerangnya. Sudah susah payah, Intan keluar dari trauma itu. Toni tak akan membiarkan Putri membuat Intan terpuruk lagi.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Setya yang tiba-tiba muncul disana. Dia mencengkram kuat lengan Toni yang memegang bahu Intan.
"Jangan menyentuhku sembarangan! Ini menjijikkan!" Seru Toni yang berubah kembali menjadi dirinya yang terlihat acuh dan konyol.
"Aku juga tak ingin menyentuhmu! Aku bertanya kenapa kau menyentuh pacarku?!" Tanya Setya menatap Toni tajam. Bayu, Ifa dan yang lain hanya bisa memutar bola matanya malas melihat tingkah kekanakan Setya kalau sudah cemburu.
"Kenapa, tidak boleh? Dia temanku. Aku juga sering menyentuhnya kok, seperti ini." Jawab Toni dengan menarik tangan Intan. Ia menatap Setya dengan tatapan mengejek.
"Jangan menyentuhnya sembarangan!" Seru Setya kesal. Dia mendekap tubuh Intan dari belakang dengan posesif.
Tentu hal itu membuat penggemar Setya menjadi histeris. Walaupun, mereka tau kalau Intan adalah pacanya, tetap saja mereka merasa iri kalau Setya menunjukkan kemesraannya di depan umum seperti itu.
"Baiklah tuan posesif. Jaga pacarmu baik-baik, jangan sampai kau membiarkan serangga luar masuk menganggu kalian. Kau tidak akan tahu, seberapa beracunnya serangga itu akan menggigitnya." Ucap Toni dengan sorot mata serius pada Setya. Kali ini Setya paham apa yang dikatakan Toni. Ia pun mengangguk sebagai jawaban.
Apa yang baru saja terjadi, kenapa bocah itu terlihat serius sekali? Apa ada yang berniat buruk pada Intan? Tapi siapa? Apakah Putri? Tapi, bagaimana?..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1