
"Hmm..??" Gumam Intan yang akhirnya sadarkan diri.
"Kamu sudah sadar sayang, bagaimana keadaanmu sekarag?" Tanya ayah dengan nada lembut.
"Intan baik-baik saja ayah. Maaf, Intan sudah membuat ayah khawatir ... Hm, bagaimana dengan kak Setya?" Tanya Intan saat tak melihat Setya di ruangannya.
"Setya baik-baik saja, Intan. Dia sedang di luar bersama mamanya." Jawab papa dengan senyum kecil diwajahnya. Intanpun bisa bernafas lega.
Syukurlah, kak Setya baik-baik saja..
Tak lama kemudian, Setya dan mama kembali ke ruangan Intan. Setya segera mendekati Intan yang sudah sadar.
"Kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Apakah sakit?" Tanya Setya sambil memeriksa Intan dari atas ke bawah. Dia ingin memastikan kalau Intan memang baik-baik saja.
"Aku gak apa-apa kak. Maaf sudah membuat kakak dan yang lain khawatir." Ucap Intan sedih.
"Sssttt ... Sudah, gak apa-apa. Kamu baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup." Seru Intan sambil menggenggam tangan Intan dengan lembut.
...****************...
2 hari kemudian.
"Bunda, kenapa kak Setya gak pernah datang jenguk Intan kesini ya? Intan coba hubungi, kak Setya juga seperti menghindari Intan." Tanya Intan dengan nada sedih.
Yah, sudah 2 hari Intan di rawat di rumah sakit, tapi tak sekalipun Setya datang menjenguknya. Hanya orang tua Setya atau Tasya yang datang. Tapi, Setya sendiri tak pernah kelihatan. Lebih-lebih, setiap kali Intan berusaha menghubungi Setya, Setya seakan menghindar dengan berbagai alasan.
"Ehm, mungkin Setya sedang banyak pekerjaan di kantor sayang. Mangkannya, Intan cepet sembuh supaya bisa keluar dari rumah sakit dan ketemu lagi sama Setya." Jawab bunda lembut.
Sebenarnya, setiap hari Setya datang. Hanya saja Setya tak berani masuk dan bertemu Intan secara langsung. Dia hanya menunggu di luar kamar Intan. Dia akan masuk ketika Intan tertidur. Rasa bersalah masih menghantui Setya, sampai dia merasa tak pantas untuk bertemu Intan. Dia malu pada dirinya sendiri. Kedua orang tuanya dan bahkan orang tua Intan, sudah membujuk Setya untuk masuk dan menemui Intan. Tapi, Setya masih kokoh pada penderiannya.
Ada apa dengan kak Setya ya, kenapa dia terus menghindariku?
Apakah dia marah padaku? Tapi kenapa?!
"Hallo? Lho kenapa tiba-tiba? Aku sekarang gak di rumah, aku di rumah sakit karna anakku masuk rumah sakit ... Lain kali saja kalian ke rumah ya?"
"Bunda, siapa?" Tanya Intan yang tak sengaja mendengar bobrolan sang bunda di telepon.
"Teman-teman SMA bunda tiba-tiba datang ke rumah, tanpa kasih kabar dulu." Jawab bunda memberitahu.
"Oh kalau gitu, bunda pulang aja. Intan gak apa-apa kok. Sebentar lagi Dika dan Tasya biasanya kan akan datang. Bunda tinggal aja, kasian teman-teman bunda sudah susah payah datang."
"Tapi ..."
"Intan gak apa-apa bunda. Kan kalau dokter bilang, Intan sudah baik-baik saja. Bahkan, besok atau lusa Intan juga sudah boleh pulang kan?. Jadi, jangan terlalu khawatirkan Intan, ok?" Ucap Intan menenangkan.
"Baiklah kalau begitu. Tapi, kalau ada apa-apa, langsung kabari bunda yaa.." Ucap bunda mengingatkan.
"Iya bunda. Sekarang bunda cepet pulang."
"Iya-iya. Bunda pergi dulu ya sayang. Asaalamu'alaikum." Ucap bunda sambil mencium kening Intan sekilas sebelum pergi. Setelah itu bunda pun segera meninggalkan ruangan Intan untuk pulang ke rumah. Saat di koridor, bunda bertemu dengan Setya.
__ADS_1
"Setya, kamu sudah datang?" Tanya bunda saat melihat Setya.
"Iya tante, baru saja Setya selesai terapi. Tante sudah mau pulang, apakah Dika dan Tasya sudah datang?"
"Belum. Tapi, tante ada perlu di rumah. Dan Intan memaksa agar tante pergi saja. Untung kamu sudah datang, tante bisa lebih lega. Kalau bisa kamu masuk saja, Intan terus menanyakan kamu Setya." Seru bunda memberitahu. Setya hanya membalas ucapan bunda dengan senyuman.
Kemudian, Setya segera menggerakkan kursi rodanya menuju ke ruang rawat Intan. Namun, sepeti biasa dia hanya berhenti didepan pintu. Setya terus menatap pintu dengan tatapan sendu, membayangkan Intan di dalam sana.
"Lho, mas Setya ya? Ada apa mas kok diam di depan ruangan ini? Mas perlu bantuan untuk membuka pintunya?" Tanya suster yang dulu bertugas merawatnya.
"Ah, tidak perlu. Saya bisa sendiri, makasih suster." Jawab Setya panik. Suara suster tadi cukup kencang, ia yakin Intan bisa mendengarnya dari dalam.
Benar saja, Intan yang sedang bermain ponselnya terkejut saat mendengar suara Setya di luar ruangannya. Tapi, Setya tak kunjung memasuki ruangannya. Intan berusaha bangun dengan membawa kantung infusnya. Dia berjalan keluar tapi tak melihat Setya.
"Apa akau salah dengar. Tapi, aku yakin tadi beneran denger suara Intan." Gumam Intan bingung.
"Lho, ternyata mbak Intan yang dirawat dini toh. Pantas saja tadi mas Setya nungguin mbak Intan di luar." Ucap suster yang bertemu Setya sebelumnya.
"Kak Setya? Apa benar tadi kak Setya disini? Tapi, dimana dia sekarang?" Tanya Intan bingung pada sang suster.
"Iya tadi mas Setya disini. Seperti ragu untuk masuk. Kalau gak salah, tadi saya ngelihat mas Setya pergi ke arah taman." Jawab suster itu memberi tahu.
"Oh, begitu. Baiklah, terima kasih suster." Ucap Intan dengan senyum kecil diwajahnya.
Intan segera berjalan cepat ke arah taman yang dimaksud suster sebelumnya. Karna, jalan terburu-buru Intan merasakan nyeri pada luka di perutnya. Tapi, Intan menghiraukan itu dan terus berjalan mencari Setya. Intan ingin bertanya pada Setya, kenapa dia menghindarinya beberapa hari ini. Sampailah Intan di taman rumah sakit. Dia melihat Setya sedang termenung dengan menundukkan kepala. Intanpun berjalan mendekat ke arah Setya.
"Kak Setyaa.." Panggil Intan dengan suara lirih.
"Kenapa kamu disini?! Bagaimana dengan lukamu?!" Seru Setya khawatir.
"Justru, aku yang perlu bertanya pada kak Setya. Kenapa kakak disini? Kenapa menghindariku?! Apa aku sudah berbuat salah pada kakak?!" Tanya Intan dengan kesal.
"Maaf ... Bukannya aku ingin menghindarimu. Tapi, aku gak berani bertemu denganmu Intan." Ucap Setya lirih.
"Kenapa?!" Tanya Intan bingung.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi, sekarang kita kembali ke kamar rawatmu dulu ya. Lukamu belum sembuh." Pinta Setya yang masih khawatir melihat Intan.
"Gak mau! Kak Setya harus menjelaskannya dulu!" Bantah Intan masih keras kepala.
"Aku malu bertemu denganmu! Hari itu, padahal aku disana bersamamu, tapi aku sama sekali gak berdaya untuk melindungimu. Kamu terluka tepat di depanku, karna melindungiku. Sedangkan aku gak bisa apa-apa! Kamu tahu betapa terlukanya perasaanku?! Aku tertekan dan merasa sangat bersalah padamu! Aku hanya sampah! Aku hanya beban untukmu!" Seru Setya mengungkapkan semua perasaan di hatinya. Mendengar itu Intan juga merasa sakit. Ternyata Setya merasa begitu terluka dengan keadaannya.
"Kejadian kemarin, bukan salah kakak. Itu memang kecelakaan. Lalu, kenapa aku gak boleh melindungi kakak? Padahal aku yakin, kalau kakak gak dalam keadaan begini, kak Setya pasti juga akan melindungi Intan kan?! ... Sebelumnya, Intan pernah bilang ke kak Setya. Bagi Intan, kakak bukanlah beban. Intan sama sekali gak meraa terbebani. Bersama kakak adalah kebahagiaan bagi Intan." Ucap Intan pelan berusaha meyakinkan Setya.
"Aku tahu kamu gak menganggapku beban. Tapi, aku gak bisa melihatmu terluka karnaku Intan. Hatiku terasa sangat sakit. Bagaimana, jika hal ini terulang lagi dan lukamu lebih parah?! Aku gak mau itu terjadi ... Lebih baik, kamu cari pria lain yang lebih baik daripada aku! Aku akan sangat bahagia, saat melihatmu baik-baik saja.."
"Kak Setya bicara apa sih?! Kenapa bicara seperti itu?! Apa kakak meragukan perasaan Intan lagi?! Apakah kakak kira hanya dengan kondisi kakak sekarang, Intan akan pergi ninggalin kakak?! ... Atau jika seumpama, Intan yang ada diposisi kak Setya, kakak akan meninggalkan Intan dan mencari gadis lain yang lebih sempurna?!" Seru Intan penuh emosi. Dia sangat marah mendengar perkataan Setya yang memintanya mencari pria lain. Bagaimana mungkin?!
"Bu-Bukan begitu maksudku ..."
"Lalu apa?! ... Kakak harus tahu perasaanku pada kakak sama sekali gak berubah bagaimanapun kondisi kakak. Aku gak peduli bagaimanapun keadaan kakak! Karna, bagi Intan bersama kakaklah kebahagiaan untuk Intan ... Kakak pikir dengan Intan mencari pria lain yang lebih sempurna dari kakak Intan akan bahagia?!"
__ADS_1
"......."
"Kalau kakak berpikir begitu, aku jadi meragukan perasaan kakak padaku. Kalau kakak benar-benar mencintai Intan, maka kakak gak akan mengambil keputusan hanya dari sudut pandang kakak saja! Kakak sama sekali gak memikirkan bagaimana perasaan Intan! ... Kakak begitu mudah menyerah dengan keadaan. Padahal, kalau kita bisa memikirkannya bersama untuk melindungi kita, kita bisa saja menyewa bodyguard atau apapun itu! Akan selalu ada jalan kalau kita mau! ... Tapi, sepertinya, disini kak Setya gak mau memperjuangkan hubungan kita dan begitu mudah untuk menyerah ... Intan sangat kecewa dengan kak Setya!" Seru Intan dengan linangan air mata di kedua matanya.
Kemudian, dia berbalik dan akan pergi sampai Intan merasa sangat sakit pada luka diperutnya, hingga Intanpun jatuh pingsan.
"Intan!" Teriak Setya panik.
"Kak Intan?!" Seru Dika yang datang bersama Tasya.
Sedari tadi Dika dan Tasya mengawasi perdebatan antara Setya dan Intan dari jauh. Dia sangat terkejut saat melihat sang kakak jatuh pingsan.
"Dika, darah!" Seru Tasya yang melihat darah di luka Intan.
Dika dan Setya juga terkejut melihat itu. Kemudian, dengan cekatan Dika segera mengangkat Intan dan membawanya ke kamar, sambil berteriam meminta bantuan suster untuk memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaaan Intan. Sedangkan, Tasya membantu mendorong kursi roda sang kakak untuk mengikuti Dika dan Intan.
"Jahitannya terbuka lagi. Kalau begini pasien bisa lebih lama di rumah sakit. Jadi, tolong pihak keluarga jangan membiarkan pasien terlalu banyak bergerak atau mengalami tekanan, agar kondisi pasien tidak semakin parah!" Ucap dokter setelah memeriksa luka Intan.
"Terima kasih dokter." Ucap Tasya pelan.
"Kak Setya, maaf jika aku ikut campur. Tapi ini demi kebahagiaan kak Intan. Tolong kakak cerna perkataan kak Intan tadi. Apa yang dikatakan kak Intan tadi itu benar. Kalau kakak benar-benar mencintai kak Intan dan mau melihatnya bahagia, tolong jangan mengambil kesimpulan secara sepihak. Perhatikan juga perasaan kak Intan! ... Kakak itu seorang pria! Apakah begitu sikap seorang pria?! Dengan mudahnya menyerah?! Padahal selalu ada jalan kalau kakak mau mempertahankan hubungan kalian!" Seru Dika dengan nada tajam.
"Aku juga setuju dengan yang dikatakan kak Intan dan Dika. Tasya sudah melihatnya sendiri betapa besarnya cinta kak Intan pada kakak, saat kakak koma dulu. Kakak gatau kan, betapa banyak pria yang berusaha mendekati kak Intan karna kakak gak ada?! Tapi, semua pria itu kak Intan tolak, karna kak Intan selalu menunggu kakak ... Jadi, kak Setya, Tasya harap kakak gak menyia-nyiakan perasaan kak Intan." Ucap Tasya dengan penuh pengertian.
Setyapun termenung, memikirkan semua perkataan Intan, Dika dan Tasya. Walaupun, memang benar Setya berpikir untuk meninggalkan Intan untuk kebaikan Intan, tapi bukan berarti hal yang dia anggap baik akan memberikan kebahagiaan untuk Intan.
Setya mendekat ke arah Intan dan menggenggam tangannya dengan lembut. Tak lama kemudian, Intan tersadar. Dia melihat Setya di sebelahnya. Namun, Intan dengan sengaja memalingkan muka dan menarik tangannya dari Setya.
"Kenapa masih disini? Bukannya kak Setya ingin pergi?!" Seru Intan dengan nada dingin.
"Maafkan aku. Lagi-lagi aku egois dan menyakitimu ... Aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan. Sekarang, aku sudah sadar. Aku akan memperjuangkan hubungan kita dan aku gak akan menyerah dengan mudah. Karna, kebahagiaanmu yang paling penting." Ucap Setya sambil meraih kembali tangan Intan. Intan pun menatap Setya dan melihat kesungguhan dimatanya.
"Kak Setya janji gak bakalan menyuruh Intan pergi lagi kan?!" Tanya Intan memastikan.
"Iya, aku janji. Aku akan selalu bersamamu mulai sekarang! Kita berjuang bersama untuk hubungan kita." Jawab Setya dengan yakin. Kini, keraguan dan kekhawatiran yang sebelumnya ada dihatinya seakan menghilang. Dia gak mau melapaskan Intan lagi.
Karna, kebahagiaanku adalah bersamamu ...
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
...Udahan sedih2nya ya gaess.....
...Badai uda ber akhir, dan kini waktunya pelangi datang😁✌️...
__ADS_1
...----------------...