
Setelah beberapa saat, akhirnya Ifa mulai tenang dan menghentikan tangisnya. Ia melapaskan pelukannya dari Bayu.
"Maafkan aku ... Aku tahu salah, seharusnya aku gak mengatakan hal buruk itu padamu. Maaf aku terlalu mengekangmu. Maafkan aku ... Aku mengatakan semua itu karna cemburu. Aku takut kehilanganmu Ifa ... Aku gak mau kehilanganmu. Tapi, maaf kalau sikap cemburuku justru melukaimu." Ucap Bayu sungguh-sungguh sambil menggenggam kedua tangan Ifa dengan lembut.
"Aku juga salah, karna tak mengikuti permintaan kakak. Tapi, aku sungguh hanya berhubungan dengan adik itu untuk keperluan belajar saja ... Aku merasa sedih saat kakak tidak mempercayaiku, bahkan dari kata-kata kakak seakan menuduhku sudah mengkhianati kakak. Aku sangat sedih ... Kakak sama sekali tidak mempercayai perasaanku. Kakak meragukan perasaanku. Padahal aku ... Aku ..." Ucapan Ifa terhenti dan ia kembali menangis.
"Maafkan aku. Sungguh aku gak maksud untuk mencurigai perasaanmu! ... Ini memang kesalahanku, aku terlalu terbawa ketakutan dan rasa cemburu, sampai tanpa sadar aku menyakitimu. Kamu mau maafkan aku kan?" Pinta Bayu yang benar-benar sudah menyesali perbuatannya.
Ifa menatap ke dalam mata Bayu, mencari kesungguhan dari perkataannya. Ifa tak menemukan kebohongan dari sorot mata Bayu. Ia memang berkata jujur. Akhirnya, Ifa mengangguk sebagai jawaban.
"Sungguh?!" Seru Bayu senang.
"Iya. Aku memaafkan kakak. Tapi, ku harap mulai sekarang kakak bisa lebih percaya padaku. Seperti kak Setya dan Intan, hubungan itu harus dilandasi kepercayaan. Aku percaya dengan kakak, jadi aku harap kakak juga mempercayaiku." Ucap Ifa dengan mata penuh harap.
"Tentu! Tentu saja. Mulai saat ini kalau aku merasa cemburu atau apapun yang aku rasakan aku juga akan menyampaikannya padamu dengan baik-baik. Kita jaga kepercayaan dan hubungan kita seterusnya." Seru Bayu sambil mengenggam tangan Ifa dengan erat. Ifa tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya mendengar ketulusan Bayu.
"Syukurlah, kalian sudah baikan. Kami ikut senang." Ucap Setya mendekati Bayu dan Ifa bersama Intan disebelahnya.
"Terima kasih. Ini juga karna saran dari kalian. Hubungan kalian adalah contoh untuk kami." Ucap Bayu sambil merangkul bahu Ifa.
"Intan, kamu gak apa-apa kan tadi? Kamu merasa sesak atau lemas kan?" Tanya Ifa yang teringat Intan tadi yang terlihat ketakutan saat pemuda asing tadi ingin menyentuhnya.
"Aku gak apa-apa. Tadi memang aku sangat ketakutan dan tubuhku seperti terkunci. Tapi, setelah aku melihat kak Setya, semua ketakutanku rasanya menghilang." Jawab Intan dengan senyuman.
"Hm, ini sudah malam. Kita pulang sekarang?" Tanya Setya dengan lembut pada Intan.
"Huh, sebentar lagi saja ya. Kalau ke pasar malam pokoknya harus naik bianglala. Kita kan belum menaikinya." Pinta Intan dengan memohon.
"Benar! Aku juga mau naik bianglala sebelum pulang." Seru Ifa mendukung permintaan Intan.
"Baiklah, kita niak itu sebelum pulang. Tapi janji setelah naik bianglala kita pulang ya? Kalau tidak, aku tidak yakin akan bisa pulnag dengan selamat dari ayahmu." Ucap Setya mengingatkan.
"Haha. Baik bos!" Seru Intan senang. Kemudian, ia berjalan bergandengan dengan Ifa menuju ke bianglala.
"Masuknya dua-dua ya mbak." Ucap petugas jaga. Intan dan Ifa mengangguk mengerti.
Intan dan Ifa akan naik bersama, tapi terhenti saat Setya menarik tangan Intan.
"Kenapa?" Tanya Intan bingung.
"Sudah cukup malam ini kamu menghabiskan waktu bersama Ifa. Untuk yang terakhir ini kau ingin menghabiskan waktuku bersamamu." Ucap Setya memelas.
"Haha. Kak Setya gemesin banget sih." Ucap Intan sembari mencubit gemas kedua pipi Setya.
Akhirnya Bayu yang masuk terlebih dulu bersama Ifa. Baru di ruang selanjutnya Intan dan Setya. Bayu memilih duduk disamping Ifa agar Ifa bisa bersandar padanya. Sedangkan, Intan duduk dihadapan Setya.
"Wah, cantiknya!" Seru Ifa melihat pemandangan dari bianglala.
Bayu mengikuti apa yang dilihat oleh Ifa. Ia dapat melihat begitu banyak lampu dari perumahan dan gedung yang berkelap-kelip dari kejauhan.
__ADS_1
"Oppa lihat juga kan, bukankah itu sangat cantik?!" Seru Ifa sambil menoleh pada Bayu disebelahnya.
"Ada apa?" Tanya Ifa heran saat melihat Bayu yang tersenyum senang.
"Enggak apa-apa. Hanya saja, setelah dari tadi kita berdebat kamu akhirnya memanggilku Oppa lagi saat kita bersama. Aku hanya senang. cabiku sayang" Jawab Bayu sambil mengelus pelan pipi Ifa.
"Oppa! Oppa! ... Hehe, kalau itu membuat Oppa senang, maka aku akan mengatakannya terus ... Oppa! Oppa!" Seru Ifa dengan senyum lebar.
"Ah! Bagaimana ini kamu terlihat sangat menggemaskan. Aku ingin menciummu. Boleh ya?" Ucap Bayu sambil menatap Ifa dalam
Ia bertanya dulu pada Ifa, karna sebelumnya mereka baru saja berbaikan, ia takut Ifa masih belum mau. Ifa terkejut mendengar permintaan Bayu, padahal biasanya Bayu langsung saja menciumnya. Ia sadar bahwa Bayu masih berhati-hatu setelah perdebatan mereka sebelumnya.
Cup!!
"Aku sudah melakukannya!" Ucap Ifa setelah mencium bibir Bayu sekilas.
Bayu cukup terkejut dengan ciuman itu, namun akhirnya ia tersenyum senang dan kembali menarik tengkuk Ifa untuk menciumya.
"Aku mencintaimu, Cabiku.." Ucap Bayu lembut.
"Aku juga mencintaimu, Oppa!" Ucap Ifa dengan senyum lembut diwajahnya.
Dilain sisi, pasangan Setya dan Intan juga sedang menikmati pemandangan yang sama diatas bianglala.
"Pemandangan disini gak kalah cantik, seperti di hutan bambu ya kak." Ucap Intan dengan mata berbinar senang.
"Hm, kamu benar. Tapi, dimanapun itu, bagiku masih cantik kamu." Ucap Setya dengan tatapan menggoda.
"Aku gak gombal sayang, aku berkata apa adanya kok. Dimataku, kamu yang paling cantik." Ucap Setya dengan senyum mempesona.
"Baiklah, aku terima pujiannya sayang." Jawab Intan dengan senyum menggoda.
"Kamu tahu kalau di film-film banyak yang mengatakan kalau pasangan yang berciuman tepat saat bianglala berada di atas, katanya mereka tak kan terpisah dan akan terus bersama selamanya." Ucap Setya dengan salah satu tangan menyanggah dagunya, hingga tubuhnya lebih condong ke arah Intan.
"Oh ya, aku juga pernah mendengarnya." Jawab Intan tanpa menoleh pada Setya. Dia masih menikmati pemandangan di depannya. Setya terlihat gemas dengan sikap Intan saat ini, Intan gak paham kode yang dia maksudkan.
"Menurut kamu gimana?" Tanya Setya berusaha memancing perhatian Intan lagi.
"Hm, aku gak terlalu percaya dengan hal seperti itu. Lagian aku yakin tanpa melakukan itu kalau kita bisa tetap menjaga cinta dan kepercayaan dalam hubungan kita, aku yakin kita bisa bersama selamanya." Jawab Intan yakin, ia tersenyum cerah diakhir ucapannya.
"Haih kamu ini ..." Seru Setya sembari menarik tubuh Intan mendekat padanya, hingga Intan terduduk disebelahnya.
"Aku juga percaya kalau kita bisa menjaga hubungan kita. Tapi, tak ada salahnya untuk mencoba bukan?" Tanya Setya dengan senyum menggoda sambil memegang dagu Intan.
"Dasar! Ini sih maunya kakak aja!" Seru Intan dengan wajah memerah karna malu.
"Tentu saja ... Aku mencintaimu, Intanku." Ucap Setya sebelum ia mendaratkan bibirnya dibibir Intan. Mereka berciuman tepat saat bianglala yang mereka naiki berada diatas.
"Aku juga mencintai kamu, my hero." Ucap Intan saat Setya melepaskan ciumannya.
__ADS_1
Setelah itu mereka menghabiskan waktu bersama melihat pemandangan dengan saling bersandar sampai putaran mereka habis dan harus turun. Kedua pasangan itu terlihat senang dengan wajah berbinar setelah turun dari bianglala.
"Yuk, sekarang pulang!" Ajak Setya sembari menggnggam lembut tangan Intan. Intan mengangguk sebagai jawaban.
"Aku juga akan mengantarmu." Ucap Bayu lembut pada Ifa.
"Tentu saja harus." Jawab Ifa dengan bergelayut manja di lengan Bayu.
Akhirnya, mereka pun berpisah untuk mengantarkan pasangan mereka masing-masing.
Malam itu menjadi malam terakhir mereka bisa bersenang-senang dalam waktu yang cukup lama. Karna, setelah ini Setya dan Bayu akan kembali di sibukkan dengan berbagai ujian dan persiapan menjelang ujian kelulusan.
...****************...
Tambahan🤭
"Kamu tahu ini jam berapa?! Kenapa baru mengantar pulang putriku jam segini?!" Seru ayah Intan pada Setya, sesudah ia mengantar Intan.
"Maaf om, tadi kami sebelum pulang naik bianglala dulu." Jawab Setya menjelaskan.
"Iya ayah, Intan yang meminta kak Setya untuk telat pulang sedikit, supaya bisa naik bianglala. Sebentar lagi, kak Setya sibuk persiapan ujian, jadi Intan ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan kak Setya." Ucap Intan berusaha membantu Setya dari amukan ayahnya.
"Bianglala? Hm.. Kamu gak macam-macam sama putriku disana kan?" Tanya ayah dengan tatapan tajam. Setya yang melihat itu langsung menelan salivanya dengan susah payah.
Kalau om sampai tahu, aku mencium putri kesayangannya.. Bisa-bisa aku pulang dari sini tinggal nama saja ... Ucap hati Setya ketakutan.
Intan juga terlihat gugup dan kembali mengingta ciumannya dengan Setya sebelumnya. Dia menatap Setya yang juga terlihat gugup untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
Kak Setya akan menjawab apa? Kalau kak Setya mengatakan yang sebenarnya, ayah pasti tidak akan membiarkan kak Setya pulang!! ... Intan.
Kring ... Kring ... Kring
Intan terkejut saat ponselnya berbunyi dengan nyaring dan mengalihkan perhatian sang ayah.
"Hallo tante, Assalamu'alaikum? ... Iya, kak Setya masih di rumah Intan ... Oh, sebentar lagi mau pulang kok. Tente tenang saja ... Malam tante, Wa'alaikum salam." Ucap Intan sebelum mengakhiri panggilan telponnya.
"Ayah, mama kak Setya baru saja menelponku. Dia khawatir, kenapa kak Setya belum pulang juga. Biarkan kak Setya pulang ya ayah. Ini sudah malam, kasian kak Setya. Lagian kan Intan uda pulang dengan selamat ... Jangan sampai tante mengira Intan dengan sengaja menculik putranya." Seru Intan membuat sang ayah terlihat berpikir.
"Baiklah, kau bisa pulang. Tapi, sebagai hukuman selama satu minggu ini tidak perlu mengantar Intan. Aku yang akan mengantar putriku ke sekolah." Seru ayah dengan senyum kemenangan diwajahnya.
Intan dan Setya tersenyum lega, karna ayahnga tidak mempermasalahkan masalah itu lagi. Hukuman ayah untuk mereka tidak terlalu buruk. Setidaknya Setya masih bisa pulang tanpa kurang apapun.
Di lain sisi, Ifa terlihat heran dengan ucapan Intan tadi saat ia menelponnya. Karna sama sekali tidak nyambung dengan perkataan yang ia ucapkan. Tapi, tak lama setelah itu ia sadar apa yang terjadi.
"Haha. Sepetinya kak Setya ditahan oleh ayah!" Gumam Ifa dengan menahan tawa.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..