Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Salah paham?!


__ADS_3

Satu semester sudah berlalu, dan kini Intan sudah menginjak semester baru. Di semester ini juga Intan masih harus satu kelas dengan Bagas di beberapa kelas. Dan seperti janji yang dikatakan Bagas sebulumnya, kalau dia sama sekali belum menyerah untuk mengejar Intan. Sama dengan Bagas, Intanpun juga menepati janjinya yang gak akan peduli sama sekali dengan apapun yang dilakukan Bagas. Dia menganggap itu sebagai hal sambil lalu saja.


Setya juga sudah tahu kalau Bagas belum menyerah untuk mendekati Intan. Walaupun, dia sudah tahu kalau apapun yang dilakukan Bagas gak akan membuat Intan berpaling darinya, Setya tentu saja masih merasa khawatir. Dia juga gak suka saat melihat Bagas terus menempel dan mendekati Intan selagi ada kesempatan.


Tapi, Setya gak ingin membuat Intan merasa khawatir, jadi dia menyembunyikan kekhawatirannya itu dari Intan. Setya takut, Intan akan merasa sedih karna dia gak mempercayainya. Tanpa Setya tahu dengan dia menahan perasannya, maka perasaan itu akan terus menumpuk dan bisa saja meledak kapan saja.


"Kak Setya?! Kak!!" Seru Intan memanggil Setya yang melamun.


"Eh, ya? Ada apa sayang?" Tanya Setya bingung setelah sadar dari lamunannya.


"Kak Setya kenapa? Kenapa akhir-akhir ini kakak jadi sering ngelamun gitu sih? Kak Setya bosen ya didekatku?" Tanya Intan dengan nada sedih.


"Tentu saja enggak sayang. Bagaimana bisa aku bosan padamu?! Maafkan aku, aku gak bakal ngulangin lagi yaa.." Ucap Setya sambil menarik kepala Intan untuk bersandar di dadanya.


Kak Setya kenapa ya? Kenapa kak Setya akhir-akhir ini terlihat berbeda?!


Mungkinkah kak Setya ada masalah?


Tapi, apa ya? Kenapa kak Setya gak mau mengatakannya padaku?!


Tanpa Setya katakan, sebenarnya Intan sudah menyadari ada yang aneh dengan Setya. Tapi, Intan memilih untuk diam dan menunggu sampai Setya sendiri yang menceritakannya. Intan percaya kalau Setya pasti punya alasannya sendiri kenapa belum menceritakan padanya saat ini.


"Kamu tadi mengatakan apa padaku? Maaf aku gak mendengarnya dengan benar.." Tanya Setya sambil menatap wajah Intan dalam pelukannya.


"Aku besok ada survey lapangan dengannya. Aku sedang melaporkan pada kak Setya. Kak Setya tahu kan, lagi-lagi aku harus satu kelompok dengannya." Jawab Intan menjelaskan.


Mendengar itu, Setya merasa sangat tak suka. Dia bingung, kenapa dari sekian banyak mahasiswa, kenapa harus dengan pria itu?! Setya curiga jangan-jangan semua ini sudah diatur.


"Dimana? Berapa lama? Naik apa?" Tanya Setya beruntun.


"Satu-satu dong tanyanya sayang ... Aku akan survey ke sanggar baca. Kami berangkat setelah makan siang, mungkin sampai sore. Aku berangkat naik taxi, aku gak bakalan terima tawaran untuk dibonceng olehnya kok.." Jawab Intan panjang lebar.


"Kalau gitu, aku anterin kamu besok. Dan setelah selesai aku akan langsung menjemput kamu." Ucap Setya dengan nada yang menunjukkan tak mau ada penolakan. Akhirnya, Intan hanya bisa mengangguk mengiyakan.


...****************...


Keesokan harinya.


"Setelah selesai langsung kabari aku yaa.." Ucap Setya saat sampai di sanggar baca tempat Intan akan melakukan survey.

__ADS_1


"Iyaa.. Kalau begitu, Intan pergi dulu. Sampai jumpa nanti kak.."


"Tunggu! Apa kamu gak melupakan sesuatu?" Tanya Setya sembari mendekatkan pipinya pada Intan. Intan tersenyum kecil melihat tingkah Setya itu.


Cup..


Akhirnya, Intan mencium sekilas pipi Setya. Setya tersenyum senang dibuatnya. Hal itu dilihat oleh Bagas dari jauh. Dia juga sudah datang dan menunggu Intan di depan gerbang sanggar baca itu. Setya tahu hal itu, mangkannya dengan sengaja dia meminta Intan untuk menciumnya.


"Makasih sayang. Cepat selesaikan yaa.. Aku menunggungumu.." Ucap Setya sebelum Intan pergi.


"Sudah datang? Yuk, masuk.." Ajak Bagas saat Intan berjalan mendekat ke arahnya.


Intan diam saja dan berjalan mendahului Bagas. Bagas menyusul langkah Intan, tapi sebelum itu dia dengan sengaja menatap Setya dengan senyum sinis dan merendahkan. Setya pun mencengkram kuat kemudinya saat melihat itu.


"Apa yang direncanakannya kali ini?!" Seru Setya geram.


Intan dan Bagas langsung memasuki sanggar baca dan menemui ketua disana. Sebelumnya, Bagas sudah menghubungi lebih dulu, tapi mereka tetap harus menemui ketuanya untuk meminta izin sekali lagi sebelum melakukan pengamatan. Baru, setelah mendapatkan izin Intan Bagas memulai surveynya.


Sanggar baca itu adalah sanggar baca yang dulu pernah didatangi oleh Intan dan Bagas, sewaktu mereka selesai membeli novel. Di lantai dua bangunan ini mereka mengobrol dan membaca novel untuk kali pertama dan terakhir kalinya.


"Aku menepati janjiku untuk membawamu kesini lagi, walaupun harus dengan cara seperti ini." Ucap Bagas pada Intan.


Langit yang semula memang berawan, kita semakin terlihat gelap. Angin juga mulai berhembus dengan kencang. Aroma tanah, khas hujan sudah menyeruak. Intan menengadah ke langit melihat awan kelabu yang bergerak beriringan. Tak berselang lama, rintik-rintik air hujan mulai jatuh membasahi bumi.


Setetes demi setetes hingga menjadi hujan yang deras. Intan mengulurkan tangannya, merasakan dingin hujan yang menyentuh telapak tangannya. Bulir-bulir hujan juga angin dingin menyapu tubuhnya. Intan merasa tenang, nampak senyum kecil menghiasi wajahnya. Bagas terus mengamati apa yang dilakukan Intan itu.


"Kamu masih sama seperti dulu ya? Sangat menyukai hujan.." Ucap Bagas yang berdiri di samping Intan dan ikut menjulurkan tangannya, membiarkan hujan membasahinya.


Intan menoleh pada Bagas disebelahnya. Lagi-lagi ia teringat kenangannya bersama Bagas, sewaktu di koridor sekolah waktu itu. Mereka juga sama seperti sekarang, menengadah membiarkan hujan membawa semua perasaan yang ada dihati mereka. Saat itu untuk pertama kalinya Bagas memeluknya. Intan tersenyum kecut mengingat itu.


"Kakak tahu, setelah kakak pergi meninggalkanku waktu itu. Hal yang paling aku benci adalah hujan. Aku muak pada hujan, karna itu selalu mengingatkanku pada kakak ... Tapi, suatu hari kak Setya datang dan mengatakan padaku kalau aku gak bisa membenci hujan hanya karna satu orang. Padahal, begitu banyak kenangan indah lain yang aku miliki bersama hujan ... Hari itu, untuk pertama kalinya kak Setya memberikanku kehangatan, seakan dia mengulurkan tangannya untuk mengeluarkanku dari kegelapan. Dan sampai sekarang, dia lah cahaya dalam hidupku.." Ucap Intan dengan senyum lembut menghiasi bibirnya.


Bagas sampai tertegun mendengar penjelasan Intan itu. Dia seakan tersadar, kalau luka yang dia berikan sebelumnya sangat dalam. Sampai, mungkin harapan agar luka itu menghilang sangatlah tidak mungkin. Karna, sudah ada orang lain yang mengobati luka itu. Dan itu bukanlah dirinya, melainkan Setya.


"Untunglah kalian masih ada disini. Bisakah kalian menolong kami? Di ruangan sebalah sana ada atap yang jatuh, akhirnya air hujan mengakir deras ke dalam. Kita harus segera menyelamatkan buku-buku disana!" Seru salah satu pengurus dengan tergesa-gesa.


"Tentu saja!" Jawab Intan dengan yakin.


Akhirnya, Intan dan Bagas pun bergegas menuju ruangan yang dimaksud. Benar saja, disana sudah sangat basah, karna air hujan begitu deras mula memenuhi ruangan. Intan dan Bagas juga beberapa pengurus lain segera memindahkan buku-buku dari ruangan itu. Karena, banyaknya tenaga yang membantu akhirnya, mereka bisa menyelematkan buku-buku disana.

__ADS_1


"Terima kasih, atas bantuan kalian yaa. Kalian jadi basah kuyup begitu. Saya, akan membuatkan sesuatu yang hangat untuk kalian." Ucap ketua merasa bersalah.


"Tidak masalah kok, kami senang bisa membantu." Jawab Bagas dengan senyuman, diikuti oleh Intan disampingnya. Setelah itu ketua sanggar segera berlalu untuk menyiapkan sesuatu yang hangat untuk Intan dan Bagas.


"Apa kamu kedinginan? Kamu bisa memakai jaketku?" Tawar Bagas sembari mengulurkan jaketnya pada Intan.


"Gak perlu. Aku masih bisa menahannya." Jawab Intan sembari memalingkan wajahnya. Walau dia merasa kedinginan dia gak akan menerima bantuan dari Bagas.


"Jangan keras kepala. Jika kamu sakit, tugas kita juga gak bakalan selesai-selesai." Seru Bagas sembari memakaikan jaketnya di bahu Intan. Intan akhirnya, mau gak mau harus menerimanya.


Intan kembali menatap hujan sambil memeluk tubuhnya yang mulai menggiggil kedinginan. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang jatuh dibahunya..


"Kyaaaa!!!!" Teriak Intan histeris dan tanpa sadar dia memeluk leher Bagas dengar erat.


"Ada apa?!" Tanya Bagas bingung.


"Ada cicak dibahuku! Singkirkan! Singkirkan! Huhuhuhu.." Teriak Intan dengan semakin mengeratkan pelukannya. Tubuhnya gemetar karenanya, dia juga sudah hampir menangis dibuatnya. Bagaspun segera menyingkirkan cicak yang dimaksud Intan itu.


"Apa sudah pergi?! Sudah dibuang kan?!" Tanya Intan yang masih ketakutan.


"Tunggu sebentar, dia bergerak terus!" Bohong Bagas. Dia masih ingin merasakan pelukan Intan yang terasa hangat ditubuhnya.


"Kyaa!! Cepat singkirkan! Buang!" Seru Intan yang merasa jijik membayangkan ada cicak yang merayap ditubuhnya. Padahal, itu hanya kebohongan Bagas yang ingin Intan terus memeluknya. Bagas tersenyum senang.


"Apa yang kalian lakukan?!"


Intan menoleh ke suara yang familiar ditelinganya itu. Ia pun menoleh dan melihat Setya ada disana. Tampak wajahnya menunjukkan ketidak sukaan. Intan baru tersadar posisinya saat ini yang sedang memeluk Bagas. Iapun segera melepas pelukannya dari Bagas.


"Ka-Kak Setya.. Ini bukan seperti yang kakak kira!" Ucap Intan merasa bersalah, dia berusaha menjelaskan pada Setya. Tapi, jelas sekali sorot mata Setya saat ini terlihat penuh kemarahan.


Bagaimana ini?! Apa kak Setya salah paham?!


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2