
Flashback on
"Waah!! Aku pasti sudah gila! Tanpa sadar aku mengungkapkan perasaanku pada Dika! Aku malu sekali, apa yang dia pikirkan tentangku sekarang ya?" Gumam Tasya setelah keluar dari hall utama. Dia berlari ke arah kerumunan murid lain yang sedang menikmati acara api unggun itu.
"Tasya, kenapa lari-lari seperti ini? Wajahmu juga merah sekali. Ada sesutu yang terjadi?" Tanya Rehan yang tak sengaja melihat kedatangan Tasya.
"Hahaha. Enggak kok, cuman kepisah aja sama Tania. Aku lagi cari dia." Jawab Tasya sekenanya. Dia gak bisa mengatakan sejujurnya pada Rehan.
"Tasya! Ternyata kamu bersama Rehan disini. Kamu sudah pergi lama sekali. Ku kira terjadi sesuatu padamu." Seru Tania yang berjalan mendekat ke arahnya dan Rehan.
"Maaf-maaf." Ucap Tasya sambil tersenyum kikuk.
"Malam masih panjang, apa tak ada yang mau menyumbang penampilan lagi? Mungkin sebuah lagu cinta untuk seseorang?" Seru mc acara.
"Lagu cinta?" Gumam Tasya seakan memikirkan sesuatu. Dia tersenyum kecil sembari beranjak menuju panggung.
"Tasya, kamu mau kemana?" Tanya Tania bingung.
"Aku mau nyumbang penampilan. Lihat aku ya." Jawab Tasya setelah itu dia benar-benar pergi sebelum Tania dan Rehan bertanya hal lain lagi.
Tasya segera mendekati mc acara dan mengatakan kalau akan menyumbang sebuah lagu. Setelah diperbolehkan, Tasya segera bersiap di atas panggung. Pandangannya menatap sekeliling, banyak mata yang menatapnya. Dia cukup gugup. Sampai matanya melihat Dika yang berlari ke arah kerumunan seakan mencari dirinya.
Apa Dika sedang mencariku? ... Tasya
Dika sama sekali gak melihat ke arah panggung, padahal Tasya ingin sekali Dika bisa melihatnya disana. Akhirnya, musik mulai diputar. Tasya pun mulai bernyanyi. Di saat itulah Dika menatapnya. Kegugupan yang dirasakan Tasya sebelumnya seakan lenyap. Di matanya sekarang seperti hanya ada dirinya dan Dika saja.
Aku mencintamu Dika ... Tasya
Flashback Off
Prok ... Prok ... Prok
Para murid bertepuk tangan dengan riuh, saat Tasya menyelesaikan lagunya. Dika tersenyum ke arah Tasya dan perlahan berjalan ke arah panggung. Melihat Dika yang mendekat jantung Tasya berdegup kencang tak karuan. Dia sangat gugup sekaligus takut, apa yang akan dilakukan Dika.
Apakah dia akan menolakku didepan umum?! ... Tasya
Dika berjalan mendekat dan menunggu dibawah anak tangga panggung. Tasya berjalan mendekat ke arah tangga. Saat Tasya hendak menuruni tangga itu, Dika mengulurkan tangannya pada Tasya agar berpegangan padanya.
Walaupun sedikit ragu, akhirnya Tasya menerima uluran tangan Dika. Dika menggenggam lembut tangan Tasya. Setelah itu ia menuntun Tasya mengikuti langkahnya.
Cie ... Cie ... Cie
"Bakal ada pasangan baru nih!!"
"Jangan lupa pajak jadiannya ya!!"
Sorak-sorai para murid apalagi teman-teman sekelas Dika dan Tasya memenuhi lapangan itu. Tasya hanya bisa menundukkan kepalanya karna malu. Dia menatap tangannya yang sedang digenggam oleh Dika. Sekilas dia melirik ke arah punggung Dika yang berjalan didepannya.
__ADS_1
Dia mau membawaku kemana? Dan apa yang akan dia katakan?! ... Teriak hati Tasya takut.
Rehan dan Tania juga melihat itu. Tania merasa antusias dengan apa yang akan terjadi. Dia juga terkejut, kalau Tasya akhirnya bergerak maju untuk menghilangkan penghalang antara dirinya dan Dika. Sedangkan, Rehan hanya bisa tersenyum kecut melihat itu.
Sepertinya aku sudah kalah ... Rehan.
Tania tak sengaja melihat ekspresi Rehan yang terlihat sedih. Dia juga merasa kasihan sih pada Rehan, tapi mau bagaimana lagi orang yang disukai Tasya adalah Dika bukan Rehan. Dan Rehan juga gak bisa memaksakan perasaannya.
Disisi lain, Dika membawa Tasya ke atap hall utama. Disana sepi dan tenang. Tapi, pemandangan gemerlap kota sangat jelas terlihat indah disana.
"Waahh.. Ini sangat cantik Dika!! Ya kan?" Tanya Tasya senang saat melihat pemandangan di depannya itu.
Tasya menoleh pada Dika dibelakangnya. Senyumnya menghilang dan berganti gugup saat melihat Dika sedang menatapnya tajam dengan tangan dilipat didada. Tasya menelan salivanya dengan susah payah, dia takut dengan apa yang akan dilakukan Dika. Dika akan membuka mulutnya, tapi karna takut Tasya segera menutup mulut Dika dengan tangannya.
"Tunggu! Jangan katakan apapun dulu! Jangan jawab apapun dulu! Aku gak mau dengar!" Seru Tasya sambil menunduk ketakutan dengan tangan yang masih menutup mulut Dika.
Dika bingung menatap reaksi Tasya yang terlihat ketakutan. Seakan gadis pemberani yang sebelumnya menyatakan perasaan padanya hilang dan bukan Tasya. Dengan lembut Dika menyingkirkan tangan Tasya yang menutup mulutnya.
"Kenapa takut? ... Kalau takut kenapa tadi katakan itu padaku? Kalau takut kenapa lakukan itu padaku?" Tanya Dika sambil terus menatap lekat wajah Tasya didepannya sekarang.
"Ak-Aku ..."
"Itu sangat menyebalkan!" Seru Dika memotong ucapan Tasya. Tasya terkejut mendengar ucapan Dika. Dia mendongak menatap Dika dihadapannya. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan Dika, tanpa sadar matanya terasa mulai memanas.
"Maaf.. Maafkan aku, kalau membuatmu gak nyaman." Jawab Tasya lirih dengan kepala tertunduk. Matanya sudah berkaca-kaca dan siap untuk tumpah.
"Benar sekali. Aku sangat gak nyaman dengan pengakuanmu itu! Bagaimana kamu bisa melakukannya seperti itu?!" Tanya Dika dengan nada kesal.
"Kalau gak mau terima perasaanku, katakan saja! Gak perlu mengatakan perkataan kejam seperti itu!" Seru Tasya marah sambil menatao tajam pada Dika. Lalu ia berjalan cepat meninggalkan Dika.
Grepp..
Tiba-tiba dari belakang, Dika memeluk Tasya dengan erat. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Tasya.
"Lepaskan! Apa yang kau mau?! Lepaskan aku!" Seru Tasya sembari berusaha menyingkirkan tangan Dika yang memeluknya. Tapi, Dika gak mendengarkan dan semakin memeluk Tasya dengan erat.
"Diam dan dengarkan aku baik-baik ... Kenapa langsung menyimpulkan kalau aku menolakmu? Aku memang kesal dengan pernyataan perasaanmu ... Tapi, bukan karna aku menolakmu. Aku kesal karna, seharusnya yang melakukan itu adalah pria bukan wanita. Harusnya yang mengatakan itu duluan aku bukan kamu." Ucap Dika pelan sambil terus bersandar pada bahu Tasya. Tasya terdiam mendengar ucapan Dika. Dia pun berbalik dengan cepat menatap Dika.
"Maksudmu apa?" Tanya Tasya bingung sambil menatap lurus ke mata Dika.
"Kenapa bertanya lagi? Bukankah jawabannya sudah jelas?! ....Aku kalah darimu Tasya ... Aku juga mencintaimu ..." Ucap Dika dengan lembut dan penuh keyakinan menatap Tasya.
Tasya sampai mematung mendengar ucapan Dika. Dia masih belum percaya dengan apa yang baru saja Dika katakan.
"Apa aku bermimpi?!" Gumam Tasya bingung.
"Sakit!!" Seru Tasya saat Dika mencubit kedua pipinya cukup keras.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah tahu kalau itu bukan mimpi.!!" Ucap Dika dengan senyuman.
"Iyaya, kalau mimpi gak bakaln sakit. Jadi, kamu sungguh juga memiliki perasaan padaku?!" Tanya Tasya antusias.
"Huh?! Kenapa kamu terus menanyakannya berulang kali?!" Jawab Dika dengan memutar bola matanya malas.
"Ahh!!! Aku senang sekali. Padahal aku sangat takut, kalau kamu akan menolakku dan akan meninggalkanku! Tapi, ternyata kamu juga memiliki perasaan padaku. Aku sangat-sangat senang!" Seru Tasya sambil memeluk Dika dengan erat.
Awalnya Dika terkejut dengan pelukan Tasya yang tiba-tiba itu. Tapi, akhirnya dia membalas pelukan Tasya dengan erat juga.
"Aku gak akan meninggalkanmu.." Ucap Dika lembut.
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?" Tanya Tasya sambil menatap Dika dengan mata berbinar.
"Apa itu penting?" Tanya Dika yang seidkit gugup, karna jaraknya dengan Tasya saat ini sangat dekat. Tasya masih mengalungkan tangannya dileher Dika. Dan wajah mereka saat ini sangat dekat.
"Tentu saja. Aku ingin tahu semuanya. Tadi kan kamu sudah aku kasih tahu, sekarang aku juga ingin tahu tentang perasaanmu.." Rengek Tasya dengan masih menatap Dika penuh harap.
"Hm, aku juga gatau dengan pasti kapan aku mulai memiliki perasaan padamu. Awalnya hanya kepedulian, tapi semakin lama aku semakin ingin terlibat dengan urusanmu. Aku gak mau melihatmu sedih, aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Aku senang saat mengamatimu dan menghabiskan waktu bersamamu. Melihatmu bicara, melihatmu tertawa aku menyukai semuanya." Jawab Dika dengan tatapan lembut pada Tasya.
"Kalau begitu, kenapa kamu mengatakan kalau sikap baikmu hanya untuk balas budi padaku?" Tanya Tasya penasaran.
"Itu mungkin hanya alasan yang ku buat agar aku bisa menekan perasaanku padamu ... Di hari kamu mengajakku berteman, aku kira kamu sedang memberi batas padaku untuk gak mendekatimu. Mangkannya, aku gak mau memiliki perasaan lebih padamu. Tapi, semakin aku tahan, justru perasaanku semakin besar saja padamu ... Sampai, hari ini saat kamu bilang kamu ingin jadi temanku agar bisa lebih dwkat denganku. Itu membuatku bahagia. Perasaan yang ku tahan selama ini akhirnya bebas. Dan tanpa sadar aku berlari ke arahmu." Jawab Dika dengan senyum lembut dan tatapan penuh kehangatan pada Tasya. Tasya merasa terharu dengan jawaban Dika, matanya kembali berkaca-kaca.
"Jangan menangis. Aku gak suka melihatmu menangis. Mulai hari ini kamu gak boleh menangis tanpa izinku." Ucap Dika sambil mengusap pipi Tasya penuh sayang. Tasya pun tersenyum dan mengangguk senang.
"Hm, berarti mulai sekarang kita sudah resmi pacaran kan?" Tanya Tasya dengan menatap mata Dika dengan lekat.
"Apa dengan semua perkataanku tadi, kamu gak bisa menyimpulkannya sendiri. Memang kamu ini gadis bodoh!" Ucap Dika sambil menyentil pelan dahi Tasya.
"Aww!! Sakit tahu! Dan aku bukan gadis bodoh!" Seru Tasya sambil mengerucutkan mulutnya karna kesal.
Cup..
"Iya, mulai hari ini kita resmi pacaran. Aku mencintaimu Tasya ..." Ucap Dika lembut setelah mencium dahi Tasya sekilas. Seketika wajah Tasya bersemu merah karna malu.
"Wajahmu seperti bunga sekarang. Cantik, merah, dan lembut." Goda Dika sambil mengelus pelan pipi Tasya.
"Apa'an sih Dika, jangan menggodaku terus! Nyebelin!" Seru Tasya sambil menutupi wajahnya.
"Tapi, kamu suka kan? Hehe.."
"Dika!!"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..