Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Takluknya Pria Jahil


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu Putri semakin dekat saja dengan Robby. Bahkan saat makan siang mereka terlihat sangat akrab dan saling bercanda.


"Perasaanku saja atau memang Putri dan Robby semakin dekat?" Tanya Ifa sembari memperhatikan Putri dan Robby.


"Bukan hanya perasaanmu kok, aku juga melihatnya seperti itu." Jawab Linda yang melihat hal yang sama.


Toni juga mendengarkan itu, ia melirik sekilas pada Putri yang selalu bisa tertawa lepas bersama Robby. Belakangan ini perasaan Toni terasa sangat kacau. Dia bingung dengan perasaannya sendiri.


Beberapa kali ia ingin mencoba bicara pada Putri, tapi Putri seperti dengan sengaja menghindarinya. Toni sendiri gak tau apa yang sudah terjadi, yang jelas melihat Putri menjauhinya semakin membuatnya uring-uringan. Apalagi melihat kedekatan Putri dan Robby, semakin membuatnya kesal.


"Kamu nih, makannya seperti anak kecil." Seru Toni sambil membersihkan sisa saus di sudut bibir Putri.


Melihat itu membuat Toni sudah tak bisa menahan diri lagi. Dia berdiri sembari menggebrak meja dengan keras, sampai membuat yang lainnya terkejut dan menatapnya heran.


"Hey, kau kenapa sih?! Untung ini pentol gak langsung ketelen!" Seru Ifa yang hampir tersedak pentol bakso yang ia makan.


Toni menatap Putri dan Robby dengan tajam. Kemudian, ia berjalan mendekat ke arah Putri. Lalu, tanpa basa-basi ia segera menarik Putri untuk meninggalkan kantin, sebelum yang lain memprotesnya.


"Hey, kau mau bawa anak orang kemana Ton?!" Seru Dharma bingung.


Intan hanya menatap kepergian Toni dan Putri dengan senyum kecil. Ia berharap, setelah ini ia bisa mendapat kabar yang baik.


"Akhirnya dia bergerak. Lama sekali membuatnya mengakui perasaannya." Ucap Robby santai.


"Apa maksudmu?" Tanya Ifa bingung.


"Sebentar lagi kita akan mendapatkan kabar baik kak." Seru Bunga menambahkan.


"Apa kalian merencanakan sesuatu?" Tebak Intan sambil menatap Robby dan Bunga bergantian. Robby dan Bunga saling menatap dengan senyuman.


Dilain sisi, Putri masih terkejut karna tiba-tiba Toni menarik tangannya pergi.


"Kak Toni, kakak mau membawaku kemana?" Tanya Putri sembari berusaha melepaskan tangannya.


Toni sama sekali gak menjawab dan terus menarik Putri pergi. Akhirnya, Putri hanya bisa pasrah dan memilih untuk mengikuti Toni saja. Ternyata, Toni membawa Putri ke taman belakang. Yah, hanya tempat itu di sekolah yang selalu sepi.


Sesampainya disana akhirnya, Toni melepaskan tangan Putri. Putri segera melihat tangannya yang memerah karna ganggaman Toni. Dia meringis sambil menggosok pelan tangannya. Toni yang melihat itu pun merasa bersalah, ia kembali memegang tangan Putri yang tadi ia genggam. Toni mengelusnya dengan lembut sembari sesekali meniupnya pelan. Seakan ingin menghilangkan rasa sakitnya.


Apa yang dilakukan kak Toni? Apakah hanya kemanusiaan saja?! ... Putri


Putri dengan segera kembali menarik tangannya dari Toni. Ia gak ingin berharap lebih lagi. Ia sadar bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi Toni.


"Kenapa denganmu? Kenapa belakangan ini kamu menghindariku? Bahkan, sekarang kamu menjaga jarak dariku?!" Seru Toni kesal.


Putri hanya diam dan membelakangi Toni. Dia sendiri kebingungan untuk menjawab pertanyaan Toni. Dia juga belum siap untuk mengungkapkan perasannya saat itu.


"Lihat aku Putri.!! Lihat aku saat aku mengajakmu berbicara." Seru Toni sembari membalikkan tubuh Putri agar mengnhadapnya.


"Apa yang kakak mau? Kalaupun aku menghindar dan menjaga jarak dari kakak, lalu kenapa? Apa aku gak boleh melakukan hal itu?!" Tanya Putri sambil menatap Toni tajam.


Toni kehilangan kata-katanya. Dia memang bukan siapa-siapanya Putri. Jadi, dia sendiri juga gak memiliki hak melarang Putri, jika dia memang ingin menjauhinya. Tapi, hatinya sakit melihat itu. Apalagi, Putri mengabaikannya karna Robby.


"Ya, aku gak ada hak untuk melarangmu. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau ... Tapi aku ingin tahu alasannya, apakah kamu membuangku setelah kamu sudah tidak membutuhkanku, karna di sampingmu sudah ada Robby, hm?!" Tanya Toni dengan menatap dalam mata Putri.


"Kakak bodoh! Kakak benar-benar bodoh! ... Hiks ... Aku menghindari kakak bukan karna kak Robby! Tapi karna kak Toni.!! ... Hiks ... Semua ini karna aku menyukai kak Toni.!! Hiks ... Tapi, ... Tapi aku tahu kak Toni hanya menyukai kak Intan saja! ... Hiks ... Aku ..."


Hmmmph..


Mata Putri membelalak saat tiba-tiba Toni menghentikan ucapannya dengan ciuman. Putri berusaha memberontak dengan memukuli dada bidang Toni. Tapi, Toni sama sekali tak peduli. Akhirnya, Putri mulai hanyut dalam ciuman Toni. Ia pun ikut memejamkan mata dan mencoba merasakan perasaan yang ingin disampaikan Toni.


Sebelumnya, Toni cukup terkejut melihat Putri menangis. Apalagi saat ia mendengar Putri menyukainya, entah bagaimana ia merasa senang. Tapi, saat Putri mengatakan kalau yang dicintainya adalah Intan dan sampai membuat Putri salah paham membuatnya merasa kesal.

__ADS_1


Apalagi, Putri yang semakin menangis dengan putus asa. Ia bisa meraskan ada sesuatu dihatinya yang juga ikut merasa sesak saat melihat Putri menangis seperti itu. Akhirnya, ia tak tahan lagi. Tanpa sadar ia sudah mencium Putri. Namun, ia juga tak berniat melepaskan ciumannya dari Putri walaupun sudah sadar. Rasanya ia ingin menyalurkan perasannya dan membuat Putri tenang. Yah, dia sudah mengakui kalau dia telah kalah.


Ternyata memang benar, aku menyukaimu ... Toni


Tak lama kemudian, Toni melepaskan ciumannya dan menatap Putri dengan dalam.


"Jangan menangis lagi. Kamu adalah gadis yang kuat!" Ucap Toni lembut.


"Maksud kakak apa? Kenapa kakak menciumku, lalu mengatakan itu padaku?! ... Jangan membuatku semakin bingung dan berharap lebih!" Seru Putri sambil mencengkram kuat baju Toni.


"Apa kamu gak mengerti juga? Apa dari ciuamanku masih belum menjawabmu?" Tanya Toni sedikit salah tingkah. Entah kenapa dia sangat malu untuk mengatakan perasaannya secara langsung.


Putri sebenarnya sudah tau apa maksud Toni. Tapi, dia ingin memperjelas semuanya. Dia ingin mendengar jawaban Toni langsung dari mulutnya.


"Aku gak ngerti.! Bagaimana aku bisa mengerti kalau kak Toni gak mengatakannya! Aku mau dengar langsung dari mulut kak Toni.!!" Seru Putri masih tak mau kalah.


Melihat Putri yang bersungguh-sungguh, akhirnya membuat Toni luluh. Dia memeluk Putri erat sembari mengungkapkan perasannya.


"Aku juga menyukaimu ... Entah sejak kapan perasaan ini mulai ada. Tapi, aku senang melihatmu tersenyum. Aku juga kesal saat kamu menghindariku untuk pria lain. Dan aku juga merasa sesak saat kamu menangis. Sebelumnya, aku gak pernah ikut campur dengan urusan orang lain, kalau aku gak ada perasaan dengannya ... Aku mengaku kalah olehmu Putri. Aku menyukaimu.." Ucap Toni lembut sambil memeluk erat tubuh Putri.


Toni memilih mengatakan itu dengan memeluk Putri, karna setidaknya dia tidak menatap mata Putri. Kali ini dia merasa gugup. Putri cukup terharu mendengar ucapan Toni yang terlihat begitu tulus. Apalagi, dalam pelukan Toni saat ini dia bisa mendengar jelas debaran jantung Toni. Putri juga sempat mendongak melihat Toni, ia bisa melihat telinga Toni yang memerah. Ia yakin, Toni sedang gugup saat ini.


"Berarti mulai sekarang Putri pacarnya kakak?" Tanya Putri sambil mendongak menatap Toni.


"Kamu ini kenapa masih mempertanyakannya? Bukankah itu sudah jelas?!" Jawab Toni sembari mencubit kedua pipi Putri untuk menghilangkan kegugupannya.


"Sakit!!" Rengek Putri sambil mengelus kedua pipinya pelan.


Cup ... Cup


"Masih sakit?" Tanya Toni setelah mengecup pelan kedua pipi Putri.


Dan tindakan Toni itu berhasil membuat wajah Putri bersemu merah. Bukan hanya Putri, telinga Toni juga semakin memerah.


...****************...


"Sebenarnya ..."


Flashback on


Hari itu saat Robby menghibur Putri, saat Putri bersedih setelah mencuri dengar perkataan Toni yang mengatakan kalau hanya menyukai Intan saja. Sepulang sekolah Robby mendekati Putri untuk memberi tumpangan padanya.


"Putri, ayo naik. Biarku antar pulang." Ajak Robby ramah.


"Gak usah kak. Aku bisa pulang sendiri kok." Jawab Putri dengan senyum kecil.


"Cepat naiklah. Sepertinya Toni ingin mendekatimu." Seru Robby yang melihat Toni dari kejauhan. Putri juga melirik itu sekilas. Dia merasa gugup dan masih belum siap untuk menghadapi Toni.


Akhirnya, tanpa pikir panjang lagi dia menerima tawaran Robby. Namun, Robby tak mengantarkannya pulang. Dia mengajak Putri ke sebuah kafe.


"Kenapa kita kesini kak?" Tanya Putri bingung.


"Masuk dulu saja." Ucap Robby dengan senyum penuh makna.


Akhirnya, Putri menurut dan ikut masuk ke dalam kafe. Ternyata didalam sana sudah ada Bunga. Dia melambaikan tangan agar Putri dan Robby mendekatinya.


"Yuk kesana!" Seru Robby sambil menggandeng tangan Putri mendekati Bunga.


"Ada apa ini?" Tanya Putri bingung saat sudah duduk. Dia menatap Bunga dan Robby bergantian dengan bingung.


"Kami akan membatumu agar kak Toni menyadari perasaannya." Jawab Bunga antusias.

__ADS_1


"Maksudnya? Tapi, tunggu! Darimana kamu tahu kalau aku juga ada perasaan pada kak Toni?" Tanya Putri bingung.


"Itu terlihat jelas sekali.." Jawab Robby yang kemudian diangguki oleh Bunga.


"Kak Robby juga tahu?!" Seru Putri, dia merasa malu.


"Sudahlah itu gak penting. Yang jelas kami disini akan membantumu agar Toni menyadari perasaannya. Sebagai sesama lelaki aku bisa tahu kalau dia sebenarnya ada perasaan padamu. Hanya saja dia masih belum mau mengakuinya." Ucap Robby menjelaskan.


"Benarkah? Apa benar kak Toni ada perasaan padaku?" Gumam Putri tak percaya.


"Kalau mau tau? Kita harus memaksanya untuk mengakui perasaannya itu. Apakah kamu mau?" Tanya Robby dengan senyuman diwajahnya.


"Ak-Aku..."


"Terima saja Putri. Kami ingin membantumu." Sahut Bunga dengan senyum hangat diwajahnya.


"Ehm, baiklah.." Jawab Putri pelan.


"Sip! Serahkan saja pada kami.!!" Seru Bunga dengan senyum lebar, Robby pun sama.


"Tapi, kenapa kamu bisa bekerja sama dengan kak Robby? Bukanya kalian juga baru kenal?" Tanya Putri bingung.


"Hehe. Sebenarnya, kami uda kenal lama. Dia teman kakakku. Jadi, aku mengenalnya. Hehe. Maaf yaa.." Jawab Bunga dengan cengiran diwajahnya.


Setelah itu mereka merncanakan strategi untuk membuat Toni mengakui perasaannya. Yah, dengan Putri yang berpura-pura dekat dengan Robby. Dan Bunga yang selalu menjadi sumbu untuk memanasi Toni.


Setelah beberapa hari, akhirnya misi berhasil. Toni akhirnya mengakui perasaannya. Memang lelaki macam Toni, perlu ditekan supaya mau mengakui perasaannya🤭


Flasback Off


"Oohhh.." Seru Intan dan yang lainnya kompak setelah mendengar penjelasan Robby dan Bunga.


Tak lama kemudian, Toni dan Putri datang sambil bergandengan tangan. Tapi yang lainnya tak terlihat kaget dan acuh saja.


"Hei, kalian tidak memberiku selamat?" Tanya Toni sengaja memamerkan tangannya yang sedang menggandeng Putri.


"Selamat." Ucap Intan datar dan melirik sekilas pada Toni.


"Apakah seperti itu cara kalian memberi selamat?! Kalian ini teman macam apa sih?!" Seru Toni kesal.


"Teman-teman! Untuk merayakan hari jadian Toni dan Putri. Hari dia akan mentraktir kita makan sepuasnya di kantin!" Seru Ifa dengan suara kencang.


"Yeyyy!!!" Sorak semua murid dengan senang.


"Sudah kan? Sekarang satu sekolah mengucapkan selamat padamu. Silahkan dibayar ya.." Ucap Ifa dengan senyuman tanpa merasa bersalah.


Toni masih melongo tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Ifa.


"Salah apa aku punya teman seperti kalian?!" Seru Toni kesal. Hal itu memicu tawa untuk semuanya.


.


.


.


Bersambung..


...****************...


Dan akhirnya pemenangnya adalah Toni. Wkwk😆

__ADS_1



Toni : Pesonaku memang tiada duanya😎


__ADS_2