Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Apa yang sebenarnya terjadi pada Ifa?


__ADS_3

Intan begitu cemas dengan keadaan Ifa. Dia juga masih berusah menghubungi ponsel Ifa lagi, namun tetap tak ada jawaban. Bahkan, ponselnya tidak aktif. Samar-samar Intan mengingat kejadian sebelum Ifa berteriak. Ia melihat sekilas ada seseorang dibelakang Ifa. Tapi, ia tak bisa mengenalinya karna tiba-tiba layar mati bersamaan dengan teriakan Ifa.


Intan pun langsung memilih untuk menghubungi Setya.


Tutt ... Tutt ... Tutt


Beberapa kali Intan mencoba menghubungi Setya, namun tidak berhasil. Tak ada jawaban. Akhirnya, ia mencoba untuk menghubungi Bayu. Namun, nihil tetap tak ada jawaban. Begitupun nomor lain teman-temannya.


Bukannya tidak diangkat, namun karena mereka tidak membawa ponselnya. Sebenarnya selama KTS murid tidak boleh bermain ponsel, kecuali waktu free. Tapi, pengecualian untuk Ifa yang memang sudah mendaptkan izin dari pihak sekolah.


Intan yang sangat cemas dengan keadaan Ifa pun akhirnya mengambil sebuah keputusan. Ia menepis rasa takutnya, demi Ifa. Ia segera mengemas beberapa pakaian dan barang yang ia butuhkan. Dengan cepat ia meninggalkan rumah. Kebetulan hanya dia seorang diri di rumah.


Biasanya ada sang bunda, namun hari ini bundanya juga ada keperluan di luar rumah. Untung saja setiap anggota di keluarganya memegang kunci rumah masing-masing sehingga Intan bisa keluar rumah tanpa menunggu sang bunda.


Sesampainya Intan di halte, ia segera menghentikan sebuah taxi.


"Pak, bisakah antar saya keluar kota? nanti saya bisa bayar double!" Pinta Intan pada sopir. Pak sopir terdiam beberapa saat seperti berpikir.


"Baiklah, silahkan naik mbak." putus pak sopir pada akhirnya.


"Terima kasih pak. Minta tolong untuk pergi ke tempat ini ya." Ucap Intan memberitahukan alamat tempat KTS berlangsung.


Setelah itu, Intan mencoba menghubungi orang tuanya. Karna, mereka pasti akan sangat khawatir kalau tahu dirinya tiba-tiba menghilang. Intan, menghubungi nomor sang ayah terlebih dulu.


"Hallo, tuan putri ayah. Ada apa?" Tanya ayah dengan lembut setelah melihat bahwa yang menghubunginya adalah putri kesayangannya.


"Apakah ayah sedang sibuk? Intan menganggu?" Tanya Intan, karna ia takut menganggu pekerjaan sang ayah.


"Tidak kok sayang ... Tapi, sayang kok samar-samar ayah dengar ada bunyi klakson dan suara mesin? Intan di rumah kan?" Tanya ayah memastikan.


"Ehm, sebenarnya ayah Intan di dalam taxi sekarang." Jawab Intan pelan.


"Taxi? Sama siapa? Intan mau kemana?" Tanya ayah cemas.


"Ayah, tenang dulu. Intan gak apa-apa. Maaf Intan baru mengabari ayah. Saat ini Intan sedang perjalanan ke tempat KTS Intan dan Intan sendirian ..."


"Kenapa tiba-tiba Intan mau ke tempat KTS? Itu kan jauh sayang, di luar kota. Intan berangkat sendiri kesana? Kenapa tidak bilang ayah tadi pagi, ayah kan bisa mengantar Intan kesana." Ucap ayah semakin cemas.


"Keaadannya mendadak ayah. Ifa sekarang ada masalah, sesangkan Intan tak bisa menghubungi siapapun lagi disana. Intan harus menemukan Ifa, ayah." Jawab Intan menjelaskan.


"Memang apa yang terjadi pada Ifa?" Tanya ayah bingung. Hal apa yang sudah terjadi pada Ifa sampai membuat Intan mengambil keputusan besar itu.


Akhirnya, Intan menceritakan kejadian tadi pada sang ayah. Walaupun, dengan berat hati dan masih khawatir pada Intan. Akhirnya, ayah tidak bisa menghentikan Intan. Ayah lebih memilih melakukan panggilan video dengan Intan selama Intan dalam perjalanan, ayah ingin memastikan sendiri sang putri aman sampai tujuannya.


...****************...


Di tempat KTS..


Setelah Ifa, urutan selanjutnya adalah Setya kemudian disusul oleh Bayu. Saat mereka berdua berhasil menyelesaikan misi dan beekumpul dengan anggotanya yang lain, Bayu merasa bingung karna dia tidak melihat Ifa.


"Apakah, Ifa belum sampai?" Tanya Bayu pada Linda-Dharma, dan anggota kelompoknya yang lain.


"Belum." Jawab Linda, yang lainnya pun juga ikut menggeleng.


Bayu segera melapor pada pengawas, bahwa Ifa belum kembali. Namun, pengawas mengatakan mungkin saja Ifa belum menemukan semua stempelnya. Nyatanya di kelompok lain juga ada anggotanya yang belum kembali. Jadi, Bayu diminta untuk bersabar menunggu Ifa.


"Tenanglah, mungkin Ifa sebentar lagi akan datang." Ucap Setya sembari menepuk bahu Bayu yang terlihat tegang.


"Ku harap, dia benar-benar masih belum mengumpulkan semua stempel. Bukan karna terjadi sesuatu padanya." Ucap Bayu penuh harap.

__ADS_1


Rini yang mendengar itu pun, mulai terlihat pucat. Ia meremas-remas tangannya karna merasa gugup.


Flashback On


Rini mengikuti Ifa secara diam-diam setelah dia dengan sengaja merubah track perjalanan. Ia menyeringai menatap Ifa yang terus masuk ke dalam hutan yang salah.


Sampai ketika Ifa berdiri ditepi sebuah tebing yang cukup curam, Rini dengan perlahan mendekati Ifa dan mendorongnya ..


"Ahhh!!!"


Ifa pun terjatuh berguling di tebing, hingga didasar ia tergeletak tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh luka karna berguling saat terjatuh sebelumnya. Ponselnya juga jatuh entah kemana.


"Itu adalah balasan yang tepat untukmu karna sudah merebut Bayu dariku!!" Seru Rini menatap ke arah jatuhnya Ifa dengan seringai licik. Namun, beberapa saat kemudia Rini seakan tersadar dengan perbuatannya ...


"Apa yang sudah ku lakukan? Apakah dia akan mati?!" Gumam Rini mulai ketakutan.


Awalnya dia memang ingin membuat Ifa menerima ganjaran karna sudah merebut Bayu. Tapi, dia juga sama sekali tak ada niatan untuk membunuh Ifa. Akhirnya, karna ketakutan Rini pun segara pergi meninggalkan tempat itu.


Flashbak Off


...****************...


Dua jam lebih telah berlalu, Bayu masih terlihat tak tenang, karna Ifa tak kunjung kembali. Padahal untuk menyelesaikan misi itu cukup hanya 30 menit saja. Dan menurut Bayu stempelnya jelas terlihat. Ia semakin panik.


"Apa temanmu itu belum kembali?" Tanya pengawas pada Bayu.


"Belum pak. Ada apa?" Tanya Bayu cemas.


"Sepertinya temanmu itu tersesat. Ini sudah gelombang terakhir dan hampir semua sudah kembali. Sedangkan temanmu belum." Jelas pengawas menerawang kemungkinan yang terjadi.


"Lalu bagaimana pak? Kita harus mecarinya. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya pak?!" Seru Bayu yang semakin cemas pada Ifa setelah mendengar penjelasan dari pengawas.


"Bagaimana kalau kita menelpon Ifa. Dia kan selalu membawa telponnya untuk menghubungi Intan?" Ucap Linda mengusulkan.


Akhirnya, Bayu meminta izin untuk mengambil ponselnya diikuti yang lain untuk membantu menghubungi Ifa.


"Kenapa Intan menelfonku?" Ucap Bayu yang bingung melihat jumlah panggilan tak terjawab yang cukup banyak dari Intan.


"Intan juga menghubungiku." Sahut Setya yang juga terkejut melihat panggilan tak terjawab begitu banyak dari Intan.


"Aku juga." Seru Linda, Dharma dan Toni bersamaan.


Setya segera menghubungi Intan, karna khawatir terjadi sesuatu padanya hingga menghubungi semua orang.


Tutt ... Tutt ... Tutt


Cukup lama Setya menguhubungi Intan, namun tak kunjung di angkat, karna Intan masih melakukan panggilan video dengan sang ayah.


"Intan tak mengangkat telponnya, nomornya sibuk." Ucap Setya yang masih mencoba menguhungi Intan.


"Ponsel Ifa juga gak aktif. Apa yang terjadi pada mereka?!" Seru Bayu mulai tak tenang.


Di lain sisi, Intan sudah memasuki wilayah KTS dan hendak turun. Namun, sang ayah masih tidak mau mematikan panggilan videonya.


"Sudah sampai mbak, ini tempatnya." Ucap sopir di depan tempat KTS.


Intan menatap tempat itu takjub, karna luas lahannya terlihat sangat besar, bahkan lebih besar daripada tempat KTS SMPnya dulu.


"Ini pak sesuai janji saya, saya bayar double ya. Kembaliannya untuk bapak saja. Terima kasih banyak ya pak. Hati-hati di jalan." Ucap Intan ramah.

__ADS_1


"Sama-sama mbak, saya juga terima kasih sudah dibayar lebih." Jawab sopir terlihat senang, karna kembalian Intan sebenarnya cukup banyak. Keliatannya, Intan memang sengaja untuk menambah ongksonya.


"Ayah, Intan sudah sampai dengan selamat. Intan akan masuk. Nanti, Intan akan menghubungi lagi yaa." Ucap Intan lembut pada sang ayah, agar ayah tidak lagi merasa khawatir.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati ya sayang. Kalau bisa jangan sampai sendiri. Selalu dideket Setya saja. Ayah yakin dia bisa melindungimu." Ucap ayah lembut.


Walapun, sebenarnya ayah cukup gengsi mengakui kemampuan Setya, namun keselamatan Intan yang lebih utama.


"Baik ayah." Jawab Intan dengan senyuman. Ia merasa senang, karna sang ayah mempercayai Setya.


Setelah panggilan terputus, Intan menghembuskan nafasnya panjang sebelum memasuki area KTS. Ia cukup tegang, sebelum menemui banyak orang. Tapi, ia harus segera masuk untuk menumakan Ifa. Ifa sedang membutuhkannya sekarang. Intan yang semula takut, kini mulai kembali berani. Apalagi, saat memikirkan Ifa, ia kembali merasa cemas dengan keadaannya. Akhirnya, ia segera berlari memasuki area KTS.


Saat sudah memasuki area utama, dimana banyak murid berada. Mereka menatap kedatangan Intan dengan heran. Hampir, semua menatap Intan. Melihat banyak yang menatapnya, Intan mulai merasa tak nyaman. Ia melihat berbagai arti tatapan padanya. Ada yang kebingungan, ada yang terkejut bahkan ada yang memandang dengan kasihan. Intan sama sekali tak menyukai itu.


Bertepatan dengan itu, Setya bersama yang lainnya yang akan mencari Ifa bersama pengawas, juga terkejut melihat Intan yang datang di tempat KTS. Setya dengan cepat berlari ke arah Intan diikuti yang lain.


"Intan?!"


Mendengar namanya dipanggil oleh suara yang tak asing baginya, Intan pun menoleh. Dan ia melihat Setya berlari ke arahnya bersama yang lain.


"Bagaimana kamu bisa sampai kesini? Kamu kesini dengan siapa? Naik apa? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Setya beruntun.


"Itu bisa aku jelaskan nanti saja. Karna, yang paling penting saat ini adalah menyelamatkan Ifa!" Seru Intan yang memang belum melihat Ifa diantara teman-temannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Ifa?" Tanya Bayu khawatir.


Akhirnya, Intan menceritakan apa yang terjadi tadi. Mendengar itu Bayu terlihat cukup terkejut. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Ifa saat ini. Dan waktu sudah berlalu cukup lama setelah Ifa jatuh, apakah Ifa baik-baik saja?! Itu lah yang dipikirkan Bayu saat itu.


"Aku masih mengingat bagaimana keadaan sekitar tempat Ifa lewat dan jatuh tadi. Kita harus cepat!" Seru Intan pada yang lainnya.


"Kalau begitu, ayo antarkan kami." Ucap pengawas yang akan menemani Intan dan yang lain untuk menyelamatkan Ifa. Mereka juga sudah membawa perlengkapan penyelamatan yang lengkap.


"Cukup beberapa saja yang ikut. Ini berbahaya, lebih baik yang tidak terlalu mendesak tidak perlu ikut." Saran pak Pin.


"Baiklah, kami akan tetap disini." Ucap Dharma, yang menoleh pada Linda dan Toni untuk meminta persetujuan. Akhirnya, Linda dan Toni pun mengangguk mengiyakan.


"Saya akan tetap menemani Intan, pak!" Seru Setya tegas.


"Baiklah. Ayo!" Seru pak Pin.


Akhirnya, mereka segera memasuki hutan dipandu oleh Intan. Semua murid yang melihat itu saling berbisik dan terlihat kebingungan.


"Apa yang terjadi ya?"


"Apa ada yang hilang?"


"Pacar Setya sampai datang ke sini. kelihatannya cukup serius."


Bisik-bisik para murid. Rini juga melihat itu dengan ketakutan.


Tenang saja, walaupun mereka menemukan Ifa..


Dia juga tak bisa melaporkanku, karna dia tak melihatku!! ... Gumam hati Rini meyakinkan dirinya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2