Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Ospek


__ADS_3

Hasil tak akan mengkhianati proses memanglah benar. Setelah beberapa bulan menyiapkan untuk ujian masuk universitas. Akhirnya membuahkan hasil. Intan dan Ifa berhasil diterima di universitas Gading dengan jurusan yang mereka inginkan. Dan hari ini dimulailah ospek mereka sebagai mahasiswi baru.


Intan dan Ifa sangat antusias menyambut datangnya hari ini. Walaupun, mereka tahu saat ospek adalah saat mereka akan dikerjai oleh senior. Tapi, justru momen itu yang gak akan pernah terlupa nantinya.


"Kepada seluruh peserta ospek, silahkan berkumpul dengan teman-teman dari jurusan masing-masing." Seru seorang senior menggunakan pengeras suara.


"Yah.. Kita harus pisah dong.." Ucap Intan sedih.


"Memang mulai saat ini kita gak akan sekelas lagi. Huhu." Seru Ifa sedih sembari memeluk Intan.


Mereka seakan baru tersadar kalau mulai sekarang mereka harus lebih mandiri. Langkah menuju impian mereka melewati jalan yang berbeda. Intan dan Ifa pasti merasa sedih, karna sudah 6 tahun mereka selalu bersama. Tapi, tentu saja mereka tak bisa menghindari perubahan. Ini adalah awal bagi mereka untuk berubah menjadi lebih dewasa.


"Jam makan siang pokoknya kita harus bersama!" Seru Ifa mengingatkan.


"Tentu saja."


Setelah perpisahan penuh haru itu. Intan dan Ifa menuju ke barisan jurusan mereka masing-masing. Intan menatap sekitarnya, dan gak ada yang ia kenal disana. Intanpun menunduk lesu.


"Kita bertemu lagi.." Sapa seorang pria yang terlihat tak asing bagi Intan.


"Kamu tak mengingatku?" Tanya pria itu karna melihat Intan yang diam saja.


"Apa aku harus mengingatmu?" Tanya Intan acuh.


"Bukan begitu, ku rasa wajahku bukan tipe yang mudah dilupakan. Tapi kamu bisa dengan mudah melupakanku."


Intan akan pergi meninggalkan pria sok akrab itu. Ia merasa risih dan gak nyaman dengan pria itu. Merusak suasana hatinya saja.


"Aku mantan pacar dari teman kamu, Nurul." Seru Alex sebelum Intan beranjak pergi.


Intan menoleh dan mencoba mengingat kembali acara reuni setahun yang lalu. Dan akhirnya ia mengingat wajah pria itu.


"Lalu?" Tanya Intan dingin.


"Kita sekarang teman satu jurusan. Kemungkinan kita akan satu kelas, jadi ku harap kita bisa berteman?" Ucap Alex dengan mengulurkan tangannya.


"Jangan berharap banyak dariku. Cari saja teman lain." Jawab Intan acuh sembari berlalu meninggalkan Alex. Alex menarik kembali tangannya yang dianggurkan oleh Intan.


"Sudah satu tahun, tapi pesonamu gak berkurang sama sekali. Justru, semakin membuatku penasaran terhadapmu." Gumam Alex menatap Intan yang sudah bergabung dengan mahasiswi di jurusannya.


Kenapa, dari banyaknya universitas dan jurusan, aku bisa samaan dengan dia?! Huh! Ini benar-benar menyebalkan! ... Gerutu Intan dalam hati.


"Kamu pacarnya Setya ya?" Tanya seorang senior yang mendekati Intan.


"Benar. Tapi, kenapa kakak bisa tahu?" Tanya Intan bingung.


"Tentu saja hampir semua mahasiswa di kampus ini mengenalmu. Majalah kampus waktu itu menjad tranding topic disetiap jurusan." Seru kakak itu antusias.


"Oh, begitu. Hehe." Jawab Intan kikuk, ia baru teringat akan majalah yang terdapat fotonya dan Setya.


"Kamu sangat beruntung bisa memiliki pacar seperti Setya. Kalian sudah pacaran berapa lama? Kenal dimana?"


"Eeh....???"


Intan begitu kewalahan meladeni satu persatu senior perempuan yang bertanya padanya. Intan bisa melihat begitu banyak motif dari pertanyaan mereka. Ada yang murni terlihat kagum, tapi ada juga yang terlihat seperti mencari celah akan hubungannya dengan Setya. Bahkan ada yang terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya pada Intan.


Sebenarnya, Intan ingin mengusir para mahasiswi itu, tapi dia teringat saat ini dia masih ospek. Jika dia sudah bersikap acuh dan dingin, maka siap-siap saja dia akan menderita selama ospek. Dia hanya bisa menjerit dalam hati dan menjawab sekenanya saja. Hal yang sama juga dialami oleh Ifa, walaupun fotonya tak menjadi sampul majalah, tapi kehebohan yang dibuat kapan hari saat melabrak Novi sudah tersebar di seluruh kampus. Memang ya gosip menyebar lebih cepat daripada cahaya.

__ADS_1


...****************...


Di tempat lain dengan acara yang sama, Dika juga sedang menjalani orientasi sekolahnya. Dia berhasil masuk ke sekolah SMA Bangsa tempat Intan dan yang lainny bersekolah dulu. Pagi itu saat Dika mencari namanya di papan pengumuman pembagian kelas, ia tak sengaja menyenggol seorang gadis yang berdiri di sampingnya.


"Maaf" Ucap Dika sambil memegangi lengan gadis itu agar tak jatuh tersungkur.


"Dika?" Seru gadis itu yang tak lain adalah Tasya.


"Tasya? Kau juga masuk kesini?" Tanya Dika yang sama terkejutnya dengan Tasya.


"Iyaa. Gak terduga sekali, aku bisa satu sekolah denganmu."


"Sepertinya bukan hanya satu sekolah." Jawab Dika sembari melihat papan pengumuman. Ia melihat ada nama Tasya disana.


"Wow! Kita satu kelas juga?!" Seru Tasya yang ikut melihat arah pandang Dika.


Bagaimana ini? Kenapa aku merasa senang bisa satu kelas dengan Dika?!


Sebelumnya, karna Tasya memang jarang bertemu dengan Dika dan hanya bertemu disaat-saat tertentu saja. Membuat Tasya tak terlalu memikirkan perasaannya. Tapi, entah bagaimana saat mengetahui ia satu sekolah dan bahkan satu kelas dengan Dika membuatnya senang.


Aku sekelas dengan gadis bodoh ini? Berarti aku akan melihatnya setiap hari?


Dikapun merasa hal yang sama dengan Tasya. Dia juga merasa senang saat membayangkan setiap hari bisa bertemu Tasya. Sebelumnya, setiap kali ada acara diantara keluarga mereka, entah bagaimana Dika selalu merasa senang karna akan bertemu dengan Tasya. Apalagi sekarang saat dia tahu dia akan bertemu Tasya setiap hari.


"Yuk, kita ke kelas." Ajak Dika pada Tasya. Tasya pun mengangguk dan berjalan di samping Dika.


Tak lama kemudian, mereka sampai di kelas mereka. Sudah ada beberapa murid lain yang tiba lebih dulu dibandingkan mereka. Dika dan Tasya melihat ke seluruh kelas dan menimbang untuk duduk dimana.


"Dika?!" Seru seorang siswa dan berjalan mendekati Dika.


"Rehan?!" Seru Dika yang mencoba mengingat siswa yang menyapanya itu.


"Rehan, kamu adiknya kak Ifa?" Tanya Tasya antusias.


"Ya. Dari mana kamu kakakku?" Tanya Rehan bingung.


"Tentu saja. Aku adik kak Setya pacarnya kak Intan, kakaknya Dika." Jawab Tasya senang. Memang dunia itu sempit.


"Kalian saling kenal?" Tanya Dika bingung melihat interaksi antara Rehan dan Tasya yang terlihat dekat.


"Oh iya. Kami dulu satu SMP dan juga satu kelas. Walau gak akrab banget, tapi kami berteman cukup baik." Jawab Tasya dengan senyuman.


"Oohh.."


"Kau mau duduk denganku?" Tanya Rehan pada Dika.


"Boleh." Jawab Dika tanpa pikir panjang.


Tapi, setelah itu dia melirik pada Tasya. Rehan pun mengikuti arah pandang Dika dan melihat Tasya.


"Kenapa? Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa duduk dimana saja." Jawab Tasya yang paham dengan pandangan Dika dan Rehan.


"Tasya!!"


"Tania?! Kamu juga kelas ini?" Tanya Tasya antusias.


"Ya! Aku sangat senang bisa satu kelas lagi denganmu." Seru Tania senang.

__ADS_1


"Aku juga!"


"Hai, Rehan. Kita sekelas lagi ... Dan, Oh?! Pria misterius?!" Seru Tania melihat Dika disebelah Rehan.


"Pria misterius? Aku?" Tanya Dika menunjuk dirinya sendiri.


"Ya. Aku mengingatmu. Kamu yang menolong Tasya di mall waktu itu. Aku gak mengenalmu dan juga gak mengetahuimu. Tapi aku masih mengingatmu, kau benar-benar keren saat itu." Ucap Tania mengingat kejadian waktu Dika menolong Tasya yang dituduh oleh Tika dulu.


"Ah, begitu. Salam kenal. Aku Dika, sekarang kita teman satu kelas." Ucap Dika ramah.


"Ya, salam kenal juga. Aku Tania, sahabatnya Tasya." Jawab Tania dengan senyuman diwajahnya.


Mereka segara memilih bangku untuk duduk. Dika dan Rehan duduk tepat dibelakang Tasya dan Tania.


"Rafa gak sekelas dengan kita?" tanya Tasya pada Tania. Rafa adalah pacar Tania dari SMP.


"Enggak. Hm, aku memang gak pernah beruntung bisa satu kelas dengannya." Jawab Tania lesu.


"Bersyukur saja, toh kamu masih satu sekolah dengannya."


"Kamu benar."


Tasya dan Tania terus mengobrol dengan bersenda gurau. Dika diam-diam memperhatikan itu, karna dia duduk tepat dibelakang Tasya. Saat Tasya tertawa begitu lepas, Dika merasa ada sesuatu yang berdesir dihatinya. Bahkan, tanpa sadar ia ikut tersenyum melihat tawa Tasya itu. Tapi, tentu saja Dika segera memalingkan wajahnya.


Apa aku sudah gila?! Kenapa aku ikut tersenyum melihat gadis bodoh itu tertawa?! ... Teriak Dika dalam hati.


Dia akan mengajak bicara Rehan untuk mengalihkan pikirannya. Tapi, saat ia menoleh pada Rehan, ternyata diam-diam Rehan juga tersenyum menatap Tasya. Melihat itu, tiba-tiba Dika merasa kesal.


Apa dia menyukai Tasya?


Lalu kenapa aku merasa kesal?!


Kebetulan Rehan menoleh pada Dika. Dia cukup bingung melihat Dika yang menatapnya dengan tatapan seperti tak suka.


.


.


.


Bersambung..


...****************...


Bonus visual😆


>>Dika<<



>>Rehan<<



>>Tasya<<


__ADS_1


>>Tania<<



__ADS_2