Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Keributan Kucing


__ADS_3

Pagi harinya, kedua pengantin baru itu mulai berkemas untuk kembali pulang. Bayu melihat sang istri yang terlihat murung duduk sendiri di sofa sambil memeluk bantal.



"Kenapa sayang?" Tanya Bayu mendekati sang istri.


"Oppa! Sebenarnya, aku belum mau pulang." Rengek Ifa dengan nada manja.


"Iya, aku tahu. Tapi kita harus pulang hari ini. Aku gak bisa terus ambil cuti dong sayang. Nanti kalo ada kesempatan kita kesini lagi yaa.." Bujuk Bayu pada sang istri.


"Hmm.. Iyaa.." Jawab Ifa yang masih terlihat lesu.


"Semangat dong sayang. Jangan cemberut gitu. Masa pulang honeymoon kamu jadi cemberut? Kalo mama liat aku dikira habis ngapain kamu nanti."


"Iya, oppa!" Seru Ifa dengan menunjukkan senyuman diwajahnya.


"Sudah yuk, kita sarapan bersama Intan dan Setya. Setelah itu kita ke bandara." Ajak Bayu sembari mengulurkan tangannya pada sang istri. Ifa pun menerima uluran tangan Bayu.


Akhirnya, mereka berempat menuju ke salah satu restoran untuk sarapan. Setelah itu mereka ke bandara, untuk pulang.


"Good Bye, Seoul ..." Gumam Ifa sambil menatap keluar jendela pesawat saat pesawat lepas landas.


...****************...


"Hufftt.. Kita pulang!" Seru Intan saat mereka sudah kembali ke Negeranya.


"Sekarang sudah hampir malam, lebih baik kita langsung pulang saja." Ucap Bayu sambil merangkul Ifa yang terlihat kelelahan.


"Ya. Itu ide yang bagus. Kita langsung pulang saja." Jawab setya menyetujui.


Akhirnya, mereka mengambil mobil mereka masing-masing yang memang mereka parkirkan di bandara. Ifa dan Bayu segera pulang menuju ke rumah Bayu. Ifa terlihat sangat kelelahan, bahkan ia tertidur sepanjang perjalanan.


"Tidur yang nyenyak sayang ... Kamu pasti sangat lelah." Ucap Bayu pelan sambil merapaikan sedikit rambut Ifa yang menutupi wajahnya.


Di mobil lain.


"Kak Setya, kita pulang kemana? Ke rumahku atau ke rumah kakak?" Tanya Intan penasaran.


"Tentu saja rumah kita sayang." Jawab Setya lembut.


"Hah? Rumah kita? Kita pindah hari ini langsung? Tapi, kita belum pindahan. Barang-barang kita kan masih di rumah masing-masing?" Tanya Intan bingung.


"Tenang saja mama dan bunda sudah membantu semua kepindahan kita. Mereka sudah menyiapkan semunya. Sekarang, aku akan membawamu ke istana kecil kita." Jawab Setya dengan senyuman di wajahnya.


"Ya!" Seru Intan antusias.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dari bandara, mereka sampai di komplek rumah mereka yang baru. Jarak komplek rumah baru mereka hanya 15 menit dari rumah orang tua Bayu. Dan 30 menit untuk ke rumah orang tua mereka.


Setya mengemudikan mobilnya hingga sampailah mereka di depan rumah dua lantai yang terlihat sangat indah dan cukup besar. Dan nuansanya sesuai sekali dengan kesukaan Intan. Di lantai dua terlihat ada mini roftoop untuk bersantai.



"Wah, ini bahkan lebih bagus daripada di foto! Makasih sayang!" Seru Intan terkagum-kagum melihat rumah barunya bersama sang suami.


"Sama-sama, sayang.. Yuk, kita lihat bagian dalamnya." Ajak Setya sembari membukakan pintu mobil untuk Intan.


Merekapun segera memasuki rumah baru mereka. Ini kali pertama Intan diajak ke rumah baru mereka. Sebelumnya Intan hanya diberikan foto oleh Setya dan itupun hanya tampak depannya saja.

__ADS_1


Intan sangat kagum dengan interior rumah baru mereka itu. Sederhana, taoi terasa hangat. Di samping rumah ada kolam renang kecil. Sedangkan di belakang rumah juga ada taman kecil dengan di sudut taman ada kursi untuk bersantai.




"Apa kamu menyukainya?" Tanya Setya sambail memeluk sang istri dari belakang.


"Ya. Intan sangat suka! Makasih ya suamiku sayang.." Ucap Intan sambil berbalik menatap Setya.


"Hanya seperti itu? Bukankah aku sudah mengajarkanmu bagaiamana cara berterima kasih yang benar, hm?" Goda Setya dengan alis terangkat.


Mau tidak mau, Intan harus mengabulkan permintaan suaminya itu. Dia berjinjit dan mulai mencium Setya. Setya tersenyum saat sang istri berusaha menciumnya seperti dia mencium Intan biasanya. Akhirnya, Setya yang mengambil alih. Mereka berdua hanyut dalam ciuaman itu sampai ...


Kring ... Kring ... Kring


"Kak ada telpon, aku angkat dulu." Ucap Intan sambil melepaskan ciumannya. Setya terlihat cemberut.


"Hallo, Asaalamu'alaikum ayah." Ucap Intan mengangkat telepon yang ternyata sang ayah.


"Wa'alaikum salam, sayang. Kamu sudah turun dari pesawat?" Tanya ayah perhatian.


"Sudah ayah. Intan juga sudah sampai di rumah dengan selamat." Jawab Intan dengan senyuman di wajahnya.


Disaat Intan menjawab panggilan sang ayah, Setya terus menggoda Intan. Dia memeluk Intan dari belakang dan menciumi tengkuk Intan sampai Intan merasa geli.


"Intan sudah sampai di rumah? Kalau begitu ayah akan segera pulang untuk menemui tuan putri ayah. Tadi ayah juga sudah minta bunda masakin banyak makanan kesukaan Intan, lho." Ucap ayah antusias.


"A-Ayah ... Intan sekarang bukan di rumah ayah. Tapi, di rumah Intan sendiri." Jawab Intan meluruskan dugaan ayah. Intan juga berusaha melepaskan pelukan Setya, karena Setya tak bisa diam.


"Bukan begitu ayah. Intan hanya ingin melihat rumah baru Intan. Hm, karna bunda sudah masak banyak, Intan dan kak Setya akan pulang ke rumah sekarang." Ucap Intan menenangkan sang ayah.


"Benarkah? Kalau begitu ayah akan segera pulang. Sampai ketemu nanti tuan putri ayah " Seri ayah senang. Intan tersenyum mendengar nada suara ayah itu.


"Kita mau pulang ke rumah kamu?" Tanya Setya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Intan.


"Iya. Ayah sangat merindukan Intan. Dan juga bunda sudah terlanjur masak banyak. Kasihan bunda kalau kita gak kesana. Bagaimana menurut kakak?" Tanya Intan pada sang suami.


"Aku sih gak masalah. Kamu juga pasti merindukan orang tuamu." Jawab Setya sembari mengusap kepala Intan dengan lembut.


"Makasih sayang." Seru Intan sambil berbalik dan mencium Setya sekilas.


"Tapi, sebelum berangkat kamu selesaikan dulu ucapan terima kasihmu dengan benar sayang." Ucap Setya dengan senyum menggoda.


...****************...


"Tuan putri ayah! Ayah sangat merindukanmu sayang!" Seru ayah saat melihat Intan sudah berada di rumah saat dia datang. Ayah langsung memeluk sang putri dengan erat seakan sudah sangat lama tak melihat putrinya itu.


"Intan juga sangat merindukan ayah." Jawab Intan sambil memeluk erat sang ayah.


"Kamu baik-baik saja kan, selama disana? Apa Setya memperlakukanmu dengan baik?" Tanya ayah lembut pada Intan, tapi dia mendelik pada Setya.


"Iya ayah. Intan baik-baik saja. Kak Setya selalu melindungi dan memperlakukan Intan seperti seorang putri. Ayah gak perlu khawatir. Kan Intan rutin kasih kabar ke ayah selama Intan pergi kemarin." Jawab Intan dengan lembut agar sang ayah yakin kalau dia baik-baik saja.


"Sudah-sudah. Ayuk makan. Kalian pasti merindukan masakan rumah setelah berlibur kemarin." Ucap bunda menengahi obrolan yang sepertinya tidak akan ada ujungnya itu.


"Wah, iyaa.. Intan sangat merindukan masakan bunda. Memang masakan bunda itu yang terbaik!" Puji Intan antusias.

__ADS_1


Kemudian, mereka pun makan malam bersama dengan sangat hangat. Intan tak lupa memberikan oleh-olehnya kepada ayah, bunda dan Dika setelah makan malam.


"Intan malam ini menginap di rumah kan?" Tanya ayah penuh harap.


Intan menatap sang suami seprti bertanya untuk meminta izin. Setya tersenyum dan mengusap kepala Intan pelan.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan sayang." Ucap Setya dengan sangat lembut. Intan tersenyum manis ke arah Setya sebagai ucapan terima kasih.


"Iya ayah, Intan akan menginap. Tapi besok setelah sarapan, Intan harus pulang ke rumah Intan sendiri ya ayah. Intan dan kak Setya baru pindah, ada beberapa hal yang perlu kami lakukan di rumah." Ucap Intan dengan lembut agar sang ayah mengerti.


"Baiklah, ayah mengerti." Jawab ayah mengerti.


"Ya sudah, sekarang kalian berdua segera istirahat. Pasti kalian sangat lelah setelah perjalanan jauh." Ucap bunda pengertian.


"Baik bunda. Terima kasih." Jawab Intan dengan senyuman di wajahnya. Kemudian, semua kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Haahh. Akhirnya, aku bisa merebahkan punggungku! Capek sekali." Seru Intan sambil menjatuhkan dirinya di kasur.


"Kamu gak mau mandi dulu sayang?" Tanya Setya sembari duduk di sebelah Intan dan mengusap kepalanya dengan lembut. Intanpun mendekat ke arah Setya dan menjadikan kaki Setya sebagai bantal.


"Mau sihh.. Tapi, aku capek banget kak.." Ucap Intan manja.


"Baiklah ... Aku akan memandikanmu." Ucap Setya sambil mengangkat tubuh sang istri untuk masuk ke kamar mandi.


"Ah.. Kak Setya! Aku capek, jangan macem-macem!" Teriak Intan dalam gendongan Setya.


"Tenang saja aku hanya akan memandikanmu." Ucap Setya dengan senyum jahil.


Setelah beberapa saat, di kamar sebelah.


"Huh, dasar! Kenapa aku harus mendengarkan sepasang kucing kawin!!" Seru Dika geram.


Tidur Dika terganggu karna kegaduhan dari kamar sang kakak. Karna tak tahan, diapun keluar kamar dan mengetuk kamar kakaknya dengan keras.


"Berisik!" Seru Dika kesal. Kemudian, dia berjalan ke lantai bawah dan tidur di kamar tamu.


Mendengar teriakan Dika dari luar kamar, membuat Setya dan Intan terlonjak kaget.


"Sepertinya kita terlalu ribut." Ucap Setya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal


"Tau ah! Semuanya gara-gara kak Setya! Hahh. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Dika besok!" Seru Intan sambil menutup wajahnya karna malu.


"Maaf-maaf ... Memang kita tadi terlalu ribut. Sekarang pelan-pelan saja." Ucap Setya dengan senyuman diwajahnya.


"Masih mau lanjut?!" Tanya Intan dengan mata membelalak.


"Iya lah sayang." Jawab Setya dan langsung mencium Intan lagi.


Kak Setya!!


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2