Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada putri saya..


__ADS_3

Keesokan harinya ayah yang mengantar Intan ke sekolah sekaligus untuk bertemu dengan kepala sekolah. Setya, Bayu dan Ifa sudah sampai juga di sekolah dan menunggu di tempat parkir. Setelah Intan dan ayahnya datang mereka bersama-sama menuju ke ruang kepala sekolah.


Kedatangan mereka yang biasanya memang sudah menjadi sorotan, kini semakin menjadi. Banyak yang melihat dan berbisik seakan bertanya siapa pria paruh baya yang berjalan di samping Intan.


"Siapa pria paruh baya itu ya?"


"Kenapa mereka mengarah ke ruang kepala sekolah?"


Bisik-bisik murid itu terdengar sampai ke telinga ayah Intan.


"Kalian sangat terkenal di sekolah ya?" Bisik ayah pada Intan.


"Iya ... Ini semua karna kak Setya dan kak Bayu yang sangat populer. Sehingga, aku dan Ifa jadi ikutan populer." Jawab Intan sambil tersenyum pada sang ayah.


Akhirnya mereka sampai di depan ruang kepala sekolah. Setya mengetukkan pintu untuk ayah Intan. Setelah mendapat izin mereka semua segera memasuki ruang kepala sekolah, disana juga sudah ada guru BK dan wali kelas Setya juga Intan.


"Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu sampai bapak datang ke sekolah pagi-pagi seperti ini?" Tanya kepala sekolah sopan.


"Selamat pagi juga pak. Maaf saya sudah menganggu waktu bapak pagi ini. Saya wali wurid dari Intan ingin menyampaikan keluhan saya." Jawab ayah Intan dengan tegas.


"Iya tidak masalah pak. Kalau boleh tau keluhan tentang apa ini?" Tanya kepala sekolah menatap ayah Intan dan juga muridnya disana dengan bingung.


Akhirnya, ayah Intan menceritakan semuanya pada kepala sekolah tanpa melebihkan atau mengurangi ceritanya.


"Apakah Bu Indri-Pak Say , mengetahui masalah ini?" Tanya kepala sekolah pada guru BK dan wali kelas Setya.


"Ya pak saya mengetahui bahwa murid didik saya, Irhas ini memiliki pikiran yang kotor." Jawab Pak Saya dengan menunduk.


"Irhas juga beberapa kali masuk ke ruang BK untuk masalah ini pak. Namun, karna perturan sekolah belum sampai bisa membuat Irhas dikeluarkan dari sekolah. Dia hanya beberapa kali terkena poin pinalti dan skorsing." Jawab Bu Indri selaku guru BK yang menangani kasus Irhas.


"Jadi begitu ... Mohon maaf atas ketidak nyamanannya Pak. Namun, saya masih belum bisa mengambil keputusan sekarang. Catatan masa lalu dari Irhas mungkin memang buruk, tapi untuk kasus pada putri bapak belum ada bukti yang cukup untuk menghukumnya ... Jadi, saya mohon maaf belum bisa memberikan hukuman pada Irhas untuk masalah ini." Jawab kepala sekolah menjelaskan.


"Lalu maksud bapak, anak saa harus tetap duduk dengan siswa yang memiliki perangai buruk seperti itu? Kalau terjadi sesuatu pada putri saya apakah anda bisa bertanggung jawab?!" Seru ayah dengan nada sedikit meninggi.


Kepala sekolah terdiam dan seperti menimbang-nimbang apa yang harus putuskan.


"Maaf menyela Pak. Saya memiliki saran, bagaimana jika kita ubah saja untuk tempat duduknya. Irhas bisa kita atur untuk duduk dengan sesama lelaki saja. Begitupun Intan, kita bisa mengaturnya untuk duduk dengan sesama perempuan. Bagaimana?" Usul Pak Pin, wali kelas Intan.

__ADS_1


"Begitu, hmm ... Baiklah, saya setuju dengan usul anda pak Pin. Terima kasih ... Bagaimana pak? Apakah anda bersedia? Ini untuk sementara saja, sampai terkumpul bukti yang cukup untuk lebih menindaklanjuti masalah ini. Saya juga akan meminta kepada guru pengawas untuk meningkatkan pengawasan pada Irhas. Saya akan berusaha memastikan keselamatan putri bapak di sekolah ini." Ucap kepala sekolah memberi usul.


Ayah Intan menatap Intan dan yang lainnya. Intan tersenyum pada sang ayah seakan memberikan jawaban bahwa ia juga setuju untuk usul itu sementara ini. Karna, belum ada bukti yang cukup untuk menindak Irhas.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan menerima keputusan ini. Tapi, tolong awasi murid anda Irhas itu. Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada putri saya." Seru ayah penuh penekanan.


"Baiklah pak. Kami akan berusaha sebaik mungkin. Terima kasih atas kerja sama bapak." Ucap Kepala sekolah ramah.


Setelah keputusan sudah diambil, ayah Intan undur diri dari ruang kepala sekolah.


"Sayang ayah berangkat kerja dulu ya. Kalau terjadi apa-apa, atau si Irhas itu melakukan sesuatu padamu langsung hubungi ayah, ok? ... Ini berlaku untuk Ifa juga." Seru ayah menasehati.


"Siap ayah!" Jawab Intan dan Ifa serempak.


"Om titip Intan dan Ifa pada kalian ya. Tolong jaga mereka." Ucap ayah pada Setya dan Bayu.


"Baik om." Jawab Setya dan Bayu serempak.


Setelah itu ayah benar-benar pergi untuk menuju ke kantor karna hari semakin siang. Begitu juga dengan Intan dan yang lainnya, mereka segera menuju ke kelas karna bel masuk sudah berbunyi.


"Kamu tidak ke kelasmu Setya?" Tanya pak Say, yang kebetulan menjadi pengawas ujian di kelas Intan hari itu.


"Saya akan ke kelas, setelah memastikan bahwa Intan tidak duduk lagi bersama Irhas Pak. Ini amanat dari ayah Intan pada saya." Jawab Setya sopan.


"Baiklah kalau begitu." Ucap pak Say mengerti, kemudian ia segera masuk ke dalam kelas diikuti Setya, Intan, Ifa dan Bayu.


Melihat itu teman-teman Setya dan Intan saling berbisik bingung.


"Ada apa dengan mereka?" Gumam Irhas menatap tajam pada Setya.


"Selamat pagi anak-anak. Sebelum ujian dimulai saya akan sedikit merubah tempat duduk ... Irhas kamu pindah duduk dipojok dengan Kurniawan. Lisa kamu gantikan tempat duduk Irhas." Ucap pak Say tegas, terlihat tidak mau ada bantahan.


"Cih. Ternyata mereka pengecut yang hanya bisa berlindung dibalik ketiak guru. Pecundang!!" Gumam Irhas dengan senyum miring.


Akhirnya, Irhas segera berpindah ke tempat yang sudah ditentukan. Baru setelah itu Intan dan Ifa menuju tempat duduk mereka.


"Terima kasih Pak. Kalau begitu saya akan peegi ke kelas saya. Mohon bantuan untuk mengawasi Irhas ya Pak. Saya permisi." Ucap Setya sopan.

__ADS_1


Setelah Setya pergi, Bayu juga segera menuju ke bangkunya sendiri. Walaupun sementara, tapi Setya dan Bayu cukup lega dengan keputusan itu. Setidaknya Intan dan Ifa sedikit dijauhkan dari Irhas.


"Kamu pikir dengan memindahkanku ke belakang seperti ini akan membuatku berhenti berfantasi dengan kekasihmu?! Haha.. Naif sekali. Sekarang aku semakin bersemangat untuk mengejarnya." Gumam Irhas dengan seringai diwajahnya.


Walaupun, sudah dipindahkan Irhas masih saja memperhatikan Intan dan Ifa diam-diam. Ia juga mengambil beberapa foto Intan dan Ifa yang menurutnya terlihat seksi.


Sebenarnya pergerakannya di sekolah sudah jauh lebih terbatas, karan guru-guru lebih memperhatikannya daripada dulu. Namun, namanya saja manusia, saat semua terlihat baik-baik saja kewaspadaan akan mulai menurun.


Sama dengan para guru yang mengawasinya, lambat laun mereka mulai meremehkan keadaan yang terlihat biasa saja. Irhas didepan para guru juga terlihat menjadi murid yang teladan. Padahal tanpa mereka ketahui dibaliknya ia menyimpan hasratnya yang tiap hari makin bertambah saat melihat Intan dan Ifa.


Uji coba untuk mengawasi Irhas telah berhasil. Selama 2 minggu ujian, para guru tidak menemukan keganjilan pada perilaku Irhas. Mereka tidak menemukan bukti bahwa Irhas memiliki hasrat pada Intan dan Ifa.


...****************...


"Apakah lelaki bernama Irhas itu benar-benar tidak melakukan sesuatu padamu selama 2 minggu ini sayang?" Tanya ayah yang masih khawatir akan keselamatan Intan, karna disekeliling Intan masih ada lelaki mesum seperti Irhas.


"Tidak ada ayah. Dia terlihat biasa saja. Ayah jangan khawatir ya. Setelah kejadian itu kak Setya juga berubah jauh lebih protektif untuk jagain Intan. Walau sudah 2 minggu berlalu dan guru-guru terlihat sudah menurunkan kewaspadaannya, kak Setya sama sekali tak terpengaruh. Dia sama seperti ayah masih sangat waspada untuk melindungi Intan ... Kak Bayu pun melakukan hal yang sama pada Ifa." Ucap Intan dengan senyum diwajahnya mengingat betapa Setya sangat melindunginya, begitupun Bayu yang juga sangat melindungi Ifa.


"Syukurlah kalau begitu. Kami bisa lebih tenang ... Intan juga harus tetap waspada ya." Ucap bunda mengingatkan.


"Iya bunda." Jawab Intan dengan senyuman menenangkan.


Mereka tidak tahu, bahwa angin yang berhembus dengan tenang itu bisa saja berubah menjadi badai yang mengerikan.


Di tempat lain, di sebuah kamar dengan pencahayaan yang terbatas dan berantakan. Banyak sekali foto Intan dan Ifa yang tertempel di dinding.


"Aku sudah tidak tahan. Kapan waktu yang pas untuk mendapatkan kalian berdua?!" Seru pria di kamar itu dan dia adalah Irhas. Ia menyentuh foto Intan dan Ifa dengan tatapan penuh gairah.


Hasratnya sudah berubah menjadi obsesi. Belum pernah ia merasa sangat bersemangat seperti ini. Mungkin, karna ia dihalangi dan semakin sulit menggapai mangsanya.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2