Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Hukuman


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Intan menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum kecil.


"Huff.. Aku sangat tegang. Apakah penampilanku berlebihan ya? ... Hm, bagaimana reaksi kak Setya juga saat melihatku datang?" Gumam Intan bingung.


"Huh, ya sudahlah. Hadapi saja. Aku harus bergegas ke taman belakang, karna acara akan segera dimulai." Seru Intan sembari berjalan menuju taman belakang.


Saat dia baru melangkahkan kakinya memasuki taman belakang, semua tamu undangan menatapnya dengan kagum, iri, tak percaya, dan masih beraneka ekspresi lain yang ia tangkap. Intan segera mengedarkan pandangannya mencari sosok yag sangat ia rindukan, yang beberapa hari ini sudah sengaja ia jauhi.


Sampai akhirnya mata Intan dan Setya saling bertemu. Intan menatap Setya dalam, seakan ingin mennyampaikan kalau dia sangat merindukan Setya. Intan juga cukup terpesona dengan tampilan Setya malam itu. Begitupun juga dengan Setya. Dia sangat terkejut melihat kedatangan Intan. Sebelumnya ia sudah menyerah kalau Intan akan datang. Namun, melihat Intan datang dengan sangat cantik dan senyum manis diwajahnya, membuat Setya semakin terpesona.


Dengan langkah perlahan Setya berjalan mendekati Intan. Mata keduanya terus saling menatap memancarkan kerinduan. Semakin dekat jarak keduanya, maka Setya semakin mempercepat langkahnya dan tanpa basa-basi Setya langsung memeluk Intan dengan erat. Ia menyadarkan kepalanya dibahu Intan.


"Aku merindukanmu ... Sangat merindukanmu" Ucap Setya lembut ditelinga Intan.


Intan yang awalnya terkejut karna tiba-tiba Setya memeluknya di depan semua orang yang sedang melihatnya saat ini. Namun, setelah mendengar ucapan lembut dari Setya membuat hatinya luluh. Ia membalas pelukan Setya dengan erat pula.


"Aku juga sangat merindukan kakak.." Ucap Intan lembut.


Pemandangan itu bagi tamu undangan terlihat sangat romantis dan membuat mereka iri. Tapi, juga sakit untuk Toni yang juga datang dipesta itu. Bagi keluarga tentu saja pemandangan itu mengharukan, karna mereka tahu seberapa frustasinya Setya selama seminggu ini. Tapi, berbeda dengan ayah Intan, ia terbakar cemburu melihat putri cantiknya dipeluk pria lain. Tau kalau suaminya merasa cemburu, bunda segera mengenggam tangan sang suami dengan lembut, agar meredakan cemburunya.


"Setya-Intan segera kesini. Acara akan segera dimulai.!!" Panggil Bayu yang sudah merasa suasana mulai menegang karna rasa cemburu ayah Intan.


Seakan tersadar, kalau mereka kini tidak sedang berdua saja, Setya segera melepas pelukannya dari Intan. Ia menoleh dan menatap ayah Intan yang menatapnya dengan tajam. Intan yang juga melihat itu pun tersenyum geli, karna Setya terlihat salah tingkah.


"Ayo.." Ajak Intan sembari memegang lengan Setya. Setya pun tersenyum manis pada Intan, akhirnya keduanya melangkah bersama menuju keluarga mereka.


"Maaf om, saya terlalu merindukan Intan." Ucap Setya pada ayah Intan. Namun, karna masih kesal, ayah hanya memalingkan wajahnya. Semua yang melihat itu hanya bisa menahan tawa dibuatnya.


"Ehm, lebih baik kita mulai acaranya sebelum semakin larut." Ucap Bayu mengusulkan.


Akhirnya, semua menyetujui saran Bayu. Mereka segera menuju tempat yang sudah disediakan untuk acara utama. Disana sudah ada kue tart besar dengan puncaknya angka 17 sebagai pertanda umur Setya yang kini sudah menginjak 17 tahun.


Setya berdiri diantara orang tuanya dengan Tasya disebalah sang mama. Sebelum Setya meniup lilin semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada Setya. Baru setelah lagu selesai dan Setya juga sudah mengucapkan doanya, barulah dia meniup lilin itu sampai padam. Semuanya bertepuk tangan dengan meriah. Setelah itu dilanjutkan dengan potong kue. Tentu saja potongan pertama untuk orang tuanya. Lalu potongan kedua untuk Tasya dan potongan terakhir jelas untuk Intan.


"Selamat ulang tahun kak. Ini untuk kakak." Ucap Intan pelan sambil memberikan kado ulang tahunnya pada Setya.


"Terima kasih." Ucap Setya lembut, ia mendekatkan dirinya akan mencum kening Intan, namun tatapan tajam ayah Intan menyadarkannya. Intan tersenyum geli melihat Setya yang terlihat salah tingkah.


"Semuanya terima kasih sudah datang di pesta ulang tahunku. Silahkan menikmati hidangan dan pengisi acara yang sudah kami siapkan." Ucap Setya dengan senyum lembut. Dan akhirnya yang lain membubarkan diri untuk menikmati pesta malam itu. Orang tua mereka juga memilih duduk di sofa tak jauh dari band yang tampil untuk bercengkrama bersama.


"Apa yang kamu bawa ini?" Tanya Setya mengangkat paper bag kecil berisikan hadiah dari Intan.


"Kalau penasaran buka saja." Jawab Intan lembut.


Akhirnya, Setya pun membuka hadiah dari Intan itu. Dia melihat jam tangan pasangan disana.

__ADS_1



"Aku sempat bingung mau memberikan kakak apa, tapi saat aku melihat jam tangan itu aku teringat hubungan kita. Aku harap, hubungan kita bisa seperti waktu yang berputar dijam ini. Tidak pernah berkurang atau berhenti. Selamanya sampai kapanpun.." Ucap Intan lembut.


Setya cukup terharu mendengarnya. Akhirnya, dia mengambil jam tangan yang berukuran lebih kecil dan ia kenakan pada tangan Intan. Setelah itu Intan juga memakaikan jam tangan yang lebih besar pada Setya.


"Baiklah, kita akan selalu bersama sampai kapanpun seperti waktu yang mengikat kita." Ucap Setya lembut sambil menggenggam tangan Intan. Intan tersenyum manis mendengar ucapan Setya itu.


"Aku seperti melihat adegan tukar cincin tadi." Goda Tasya dengan ceria. Intan pun tersenyum malu.


"Oh ya, Intan.. Kamu sudah tidak marah padaku?" Tanya Setya memastikan.


"Ehm, sebenarnya ..."


"Sebenarnya, itu semua cuma acting." Ucap Ifa santai mewakili Intan yang terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Setya.


"Acting?" Seru Setya tak percaya. Dia menatap Intan tajam untuk mencari jawaban.


"Enggak juga. Aku beneran kesel sama kak Setya yang hanya memikirkan kebahagiaan ku tanpa memikirkan diri kakak sendiri ... Tapi, sebenarnya hari itu juga aku sudah maafin kak Setya sih, cuman aku mau ngerjain kak Setya aja, biar jadi kejutan." Jawab Intan tegas diawal namun nada bicaranya semakin melemah diakhir, karna ia melihat wajah terkejut Setya. Intan pun merasa bersalah karnanya.


"Jadi selama satu minggu ini kamu ngejauhin aku, cuman pura-pura?" Tanya Setya memastikan lagi.


"I-Iya ... Maaf." Jawab Intan dengan kepala tertunduk. Dia merasa bersalah, karna Setya terlihat kecewa.


"Kamu tahu betapa frustasinya aku saat kamu menjauhi aku seperti itu? Ahh... Sepertinya, kamu harus dapat hukuman." Ucap Setya tegas dengan tangan dilipat didada.


"Tidak bisa. Kali ini kamu harus benar-benar mendapatkan hukuman." Jawab Setya tegas. Intan pun hanya bisa menghela nafas panjang dan menunduk sedih.


"Kak Setya, jahat banget sih. Kenapa harus hukum kak Intan?!" Seru Tasya membela Intan.


"Kak Setya, apa gak berlebihan untuk menghukum Intan?" Tanya Ifa berusaha membela Intan juga.


"Sudah kalian gak perlu menyelamatkannya. Hari ini Intan harus mendapatkan hukuman." Seru Setya tegas.


Setya mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari hukuman apa yang sesuai untuk Intan. Sampai akhirnya, ia melihat tumpukan bingkisan kado ulang tahun di salah satu meja. Setya pun seperti mendapatkan ide.


"Bawakan kado-kado itu masuk ke dalam rumah." Perintah Setya pada Intan.


"Kak Setya, masukin kado tuh bisa nanti. Tega banget sih, buat nyuruh kak Intan angkat-angkat gitu. Gak lihat kak Intan uda dandan cantik buat kak Setya hari ini?!" Seru Tasya emosi. Sedangkan Bayu dan Dika hanya melihat itu dengan santai. Sepertinya mereka memahami maksud Setya.


"Uda Tasya, aku gak apa-apa kok. Aku akan melakukan hukumannya. Kamu tunggu disini dan nikmati pestanya dulu saja ya." Ucap Intan menenangkan. Kemudian, ia mengambil beberapa paper bag berisi kado untuk Setya. Setelah itu ia berjalan perlahan ke dalam rumah.


"Kamu tenang sekali Ka? Apa kamu membiarkan kakak mu disuruh-suruh seperti itu?" Bisik Bayu pada Dika disampingnya.


"Huh, itu hanya sandiwara. Terlihat jelas kak Setya hanya ingin berduaan dengan kak Intan." Jawab Dika acuh.

__ADS_1


Bayu tersenyum mendengar jawaban Dika yang sama dengan pemikirannya. Benar saja, sekarang mereka melihat Setya dengan senyum lebar mengikuti Intan dari belakang. Bayu dan Dika hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Setya. Sedangkan Ifa dan Tasya saling tatap melihat Bayu dan Dika yang menghembuska nafas bersamaan itu.


"Ini mau diletakkan dimana?" Tanya Intan saat mereka sudah di dalam rumah.


"Ehm, di kamar aku aja. Supaya nanti aku tidak mondar-mandir memindahkannya lagi." Jawab Setya sembari melangkah lebih dulu menuju tangga.


Intanpun mengikuti dari belakang. Namun, ia cukup kesusahan menaiki tangga dengan gaun panjang yang ia kenakan. Apalagi tangannya kini penuh dengan paper bag kado milik Setya.


Setya menoleh dan tersenyum geli melihat Intan yang kesusahan. Akhirnya, dia mengambil paper bag disalah satu tangan Intan, agar tangan itu bisa ia gunakan untuk memegangi gaunnya. Intan bingung dengan sikap Setya, dia gak tahu apakah Setya benar marah atau pura-pura.


Setelah berhasil naik ke lantai dua. Setya kembali memberikan paper bag itu pada Intan dan berjalan lebih dulu menuju kamarnya. Intan dengan patuh mengikuti Setya dari belakang.


"Taruh dimana ini?" Tanya Intan saat sudah di dalam kamar Setya.


"Taruh saja di atas tempat tidur." Jawab Setya acuh sambil bersandar pada lemari.


"Sudah. Sekarang kakak sudah tidak marah kan?" Tanya Intan dengan tatapan memohon.


"Kata siapa? Aku masih marah." Jawab Setya datar.


"Huh, kakak tega sekali. Aku sudah berdandan dari sore demi malam ini. Aku ingin terlihat cantik supaya bisa bangga berdiri disebelah kak Setya. Tapi, kak Setya sama sekali belum memujiku, bahkan kakak menyuruhku membawakan kado-kado ini." Seru Intan terlihat kesal.


"Justru itu yang membuatku lebih marah." Ucap Setya sembari mendekati Intan.


"Terserh deh. Aku akan mengambil kado-kado itu lagi." Seru Intan kesal dan berbalik hendak keluar dari kamar Setya.


Namun, dengan langkah cepat Setya menyusul Intan. Ia menarik tangan Intan hingga Intan berbalik menghadapanya. Intan cukup terkejut melihat tindakan Setya.


"Kamu mau kemana? Aku kan belum selesai menghukummu." Ucap Setya lembut dengan menatap mata Intan dalam.


"Te-Tentu untuk mengambil kado-kado itu." Jawab Intan gugup, karna jaraknya dan Setya kini sangat dekat.


"Aku ada hukuman lain untukmu." Ucap Setya dengan senyum diwajahnya.


Kemudian dia berjalan mendekati Intan dengan perlahan. Intan yang bingung reflek berjalan mundur setiap Setya mendekatinya. Intan hendak menabrak pintu yang setengah terbuka, akhirnya Setya memegangi pintu itu dan mendorong tubuh Intan hingga pintu tertutup.


"Ka-Kak Setya... Mmmm."


Ucapan Intan terpotong, karna dengan gerakan cepat Setya menutup bibir Intan dengan ciumannya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2