
Setelah film selesai, mereka melanjutkan kencan dengan berkeliling mall untuk membeli beberapa pakaian hangat yang akan mereka kenakan saat di puncak.
"Kak Bayu, ayo beli sweater ini? Bukankah ini lucu?" Seru Ifa menawarkan sweater pasangan bewarna putih pada Bayu.
"Kamu mau ini?" Tanya Bayu.
Ia melihat sweater yang dtunjukkan Ifa, dimana bagian dadanya bertuliskan 'I ❤️' dan 'You' pada masing-masingnya. Ifa mengangguk mengiyakan dengan senyum lebar.
"Baiklah, kita ambil yang ini." Jawab Bayu menyetujui.
"Yey, terima kasih!" Seru Ifa sembari merangkul lengan Bayu dengan senang. Intan dan Setya tersenyum melihat interaksi mereka.
"Kamu juga mau kita beli sweater pasangan seperti mereka?" Tanya Setya menawarkan.
"Sepertinya tidak usah kak. Kita tetap bisa terlihat seperti pasangan dengan mengenakan baju dengan warna senada saja ... Aku tidak tau bagaimana reaksi ayah nanti? Mungkin ayah akan cemburu pada kakak. Kalau ayah sudah cemburu, aku gak tau lagi apa yang akan dilakukan ayah." Ucap Intan sambil membayangkan sang ayah yang sekarang mudah cemburu pada Setya.
"Kamu benar. Lagian, apapun yang kita pakai gak bakal mengubah kenyataan kalau kamu adalah pacarku." Seru Setya dengan bangga. Intan tersenyum geli dibuatnya.
"Wah, liatlah pemuda itu sangat tampan ya."
"Benar, tapi yang disebelahnya itu siapa ya?"
Intan mendengar beberapa gadis yang juga ada di toko itu sedang menatap dan membicarakan Setya, padahal jelas-jelas disebelah Setya saat ini ada dirinya. Intan pun sedikit cemberut dibuatnya.
"Kenapa?" Tanya Setya yang melihat Intan yang terlihat kesal.
"Kenapa kakak terlalu tampan sih? Rasanya aku ingin menutupi wajah kakak terus." Ucap Intan kesal.
"Kamu cemburu? Ouh, manisnya." Seru Setya sembari mencubit pelan kedua pipi Intan.
"Hm, sepertinya aku harus mencari cara lain supaya orang-orang tau kalau kakak pacar aku." Seru Intan sembari mengedarkan pandangan ke sekitar toko. Setya menatap Intan dengan bingung.
Akhirnya, Intan melihat toko aksesoris yang terletak di depan toko baju yang sedang ia datangi saat itu, ia seperti mendapatkan ide. Dengan segera ia merangkul lengan Setya dengan manja dan mengajak Setya untuk menuju toko aksesoris itu.
"Intan-kak Setya kalian mau kemana?" Seru Ifa memanggil.
"Aku dan pacarku akan ke toko aksesoris itu. Kalian lanjutkan saja memilih pakaian." Jawab Intan dengan suara keras sembari menunjuk toko aksesoris yang ia maksud.
Intan sengaja menjawab dengan keras, agar para gadis yang terus menatap Setya mengetahui posisinya. Sedangkan Setya tersenyum senang mendengar perkataan Intan. Kemudian, keduanya segera menuju ke toko aksesoris itu.
"Pacar? Tumben sekali Intan agresif seperti itu?" Gumam Ifa bingung.
"Ternyata dia pacarnya."
"Benar. Sayang sekali, pria tampan seperti dia sudah punya kekasih."
"Eh, pemuda itu juga gak kalah tampan."
"Benar-benar. Beruntung sekali kita bisa melihat pemandangan langka seperti ini."
Ifa yang mendengar bisik-bisik para gadis dengan tatapan yang mengarah pada Bayu pun merasa geram. Akhirnya, ia tahu apa alasan yang membuat Intan mendadak jadi agresif.
__ADS_1
"Apa kalian tidak memiliki mata?! Pemuda yang kalian bicarakan adalah pacarku! Jadi, tolong jaga mata kalian, kalau tidak aku akan mengeluarkannya!" Ancam Ifa dengan sorot mata sangat tajam.
Bayu tersenyum geli dibuatnya. Sedangkan para gadis itu pun ketakutan mendengar ancaman Ifa. Mereka, segera bergegas meninggalkan toko tersebut.
"Pacarku galak banget sih kalau lagi cemburu, hmm?" Ucap Bayu sambil memeluk Ifa dari belakang.
"Aku juga bisa lebih menyeramkan, kalau aku sampai tau kak Bayu main mata dengan gadis-gadis keganjenan seperti mereka!" Seru Ifa dengan nada tajam.
"Baik-baik. Aku tidak akan berani." Jawab Bayu menenangkan Ifa. Walau, ia tak akan pernah melakukan hal itu, namun ia tetap takut mendengar ancaman Ifa yang terdengar sangat mengerikan.
Di lain sisi, Intan sedang menyusuri toko aksesoris bersama Setya. Intan tak pernah melepas tangannya yang merangkul lengan Setya. Sedangkan, Setya tentu saja merasa sangat senang dibuatnya. Dia terus tersenyum.
"Wah, lucunya!" Seru Intan saat melihat gantungan ponsel berbentuk boneka beruang dari rajutan.
"Kamu mau ini?" Tanya Setya memastikan.
"Ya! Kak Setya juga pakai, jadi kita bisa terlihat seperti pasangan. Kalau ada yang menatap dan berbisik-bisik tentang kakak lagi, kita tinggal menunjukkan gantungan ponsel kita. Maka mereka pasti akan tahu kalau kita pasangan." Seru Intan antusias.
"Baiklah ... Walaupun, sebenarnya tanpa ini pun aku bisa dengan langsung mengatakan pada semua orang kalau kita pasangan." Jawab Setya lembut.
"Bagaimana caranya?" Tanya Intan penasaran. Setya tersenyum misterius menatap Intan.
"Hai semua, perkenalkan dia adalah pacarku! Kami adalah pasangan." Teriak Setya dalam toko itu, sampai semua pengunjung dan pegawai toko menatap ke arah mereka.
"Kak Setya, apa-apa'an itu?! Hentikan, kita dilihati oleh semua orang." Seru Intan dengan wajah yang sudah semerah tomat. Ia tak menyangka Setya akan melakukan hal tersebut.
"Kenapa memangnya, aku tidak malu sama sekali. Justru, aku merasa senang bisa mengatakan pada semua orang kalau kamu adalah pacarku. Jadi, gak bakal ada pria lain yang berani melirikmu." Jawab Setya santai dengan senyuman diwajahnya.
"Baiklah. Kita ambil gantungan ini. Kamu pakai yang beruang cowok ya. Aku yang cewek." Ucap Setya sambil memasangkan gantungan itu di ponsel milik Intan.
"Kenapa aku yang cowok? Bukankah itu terlihat aneh kalau kakak pakek yang cewek?" Tanya Intan bingung.
"Tidak. Ini justru akan semakin menunjukkan kita sebagai pasangan. Beruang kecil ini ibarat kamu. Dia akan menjauhkanku dari tatapan genit gadis-gadis lain yang menatapku. Dan beruang cowok ini ibarat aku, dia juga akan menjaga kamu dari pria-pria yang ingin mendekatimu." Jawab Setya sambil menyatukan kedua boneka mereka.
"Baiklah. Mulai sekarang Setya kecil akan menjagaku." Ucap Intan sambil menatap boneka beruang kecil digantungan ponselnya.
Setelah membayar barang mereka masing-masing. Ifa-Bayu dan Intan-Setya kembali bertemu di depan toko.
"Kalian beli apa?" Tanya Ifa penasaran. Intan dan Setya saling tatap, sebelum menunjukkan gantungan ponsel mereka.
"Waah. Lucunya!" Seru Ifa antusias.
"Kalian romantis sekali." Goda Bayu pada Setya. Dia tak menyangka sahabatnya itu juga melakukan hal seperti itu untuk Intan.
"Apa kalian sudah selesai berbelanjanya? Kalau sudah kita harus pulang. Hari mulai gelap." Ucap Setya.
"Kami sudah selesai. Kalau begitu kita pulang sekarang." Jawab Bayu sambil menggandeng tangan Ifa. Begitupun juga dengan Setya.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang dan mengakhiri kencan mereka. Setya mengantarkan Intan, sekaligus akan menyampaikan undangan orang tuanya pada orang tua Intan. Setelah sampai di rumah Intan. Setya ikut masuk dan menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
"Asaalamu'alaikum, Ayah-Bunda ... Intan pulang!" Seru Intan setelah memasuki rumah. Ia segera masuk ke dalam untuk mencari keberadaan orang tuanya.
"Wa'alaikum salam. Sudah pulang sayang?" Tanya bunda lembut yang menyadari kedatangan Intan lebih dulu.
"Iya bunda. Oh iya, ayah-bunda ... Kak Setya menunggu ayah-bunda di ruang tamu. Ada yang ingin disampaikan oleh kak Setya pada ayah dan bunda." Ucap Intan memberitahu.
"Apa yang ingin disampaikan olehnya?" Tanya ayah dengan dahi berkerut.
"Lebih baik ayah temui kak Setya langsung saja. Kak Setya sudah menunggu di ruang tamu. Ayuk ayah!" Seru Intan sambil menarik tangan sang ayah agar mengikutinya untuk menemui Setya. Bunda mengikuti dari belakang.
"Om-tante.." Sapa Setya saat melihat kedatangan orang tua Intan.
"Kata Intan ada yang mau kamu sampaikan ya nak Setya. Apa itu?" Tanya bunda lembut. Sedangkan ayah Intan terlihat acuh tak acuh.
"Hm, Jadi begini om-tante. Saya ingin menyampaikan undangan dari orang tua saya. Rencananya tahun baru nanti orang tua saya ingin mengundang om sekeluarga untuk ikut bergabung merayakan tahun baru di villa keluarga saya di puncak ... Setiap tahun kami selalu kesana, namun karna tahun ini berbeda, ada Intan bersama saya, jadi orang tua saya bermaksud mengundang om sekeluarga juga." Jelas Setya dengan sopan dan senyum diwajahnya.
"Om merasa tersanjung dan berterima kasih pada orang tuamu, karna sudah mengundang keluarga om juga ... Tapi, ini secara tidak langsung berarti akan jadi pertemuan keluarga. Om rasa ini terlalu cepat dan masih belum saatnya." Ucap ayah Intan menimbang-nimbang.
Intan terlihat sedih mendengarnya. Dia sebelumnya juga sangat bersemangat untuk ikut ke villa keluarga Setya. Membayangkan bisa menghabiskan waktu pergantian tahun dengan Setya membuatnya antusias. Tapi, mendengar jawaban dari sang ayah membuatnya cukup kecewa. Setya melihat Intan yang terlihat sedih.
"Om, cepat atau lambat nanti om dan tante pasti akan bertemu orang tua saya. Kenapa harus menundanya, jika ada waktu? Lagipula pertemuan keluarga ini hanya untuk liburan bersama, tidak ada niat lain." Ucap Setya berusaha meyakinkan ayah Intan.
"Iya, om tau. Tapi, om masih merasa kalau ini belum tepat." Jawab ayah Intan lagi.
"Kalau begitu, apa boleh hanya Intan yang ikut? Dia sangat bersemangat untuk ikut sebelumnya om. Ifa dan Bayu juga ikut. Jadi, apakah boleh Intan ikut sendiri?" Tanya Setya mencoba strategi lain.
Ayah melihat Intan yang menatapnya dengan mata penuh harap. Ia memang masih merasa kalau pertemuan ini terlalu cepat. Tapi, ia lebih tidak rela kalau putrinya harus pergi jauh darinya bersama pria lain. Apalagi ini untuk menghabiskan waktu malam tahun baru bersama.
"Bagaimana ayah? Boleh ya?" Pinta Intan penuh harap.
"Ayah tidak bisa membiarkan putri ayah keluar dengan pria lain untuk menghabiskan sisa waktu pergantian tahun bersama ... Tapi, kalau itu bersama ayah tentu saja boleh." Ucap ayah dengan senyuman.
Awalnya Intan menunduk sedih saat sang ayah seperti mengatakan tidak boleh. Namun, setelah mendengar kalimat lanjutannya Intan pun kembali tersenyum ceria.
"Jadi, ayah setuju untuk menerima undangan orang tua kak Setya?" Tanya Intan dengan mata berbinar.
"Iya. Ayah gak mau membiarkan putri ayah keluar sendiri meninggalkan ayah dengan pria lain" Jawab ayah sambil menatap Setya.
"Terima kasih ayah!!" Seru Intan antusias dan langsung memeluk sang ayah.
"Terima kasih om. Saya akan menyampaikannya pada orang tua saya." Ucap Setya dengan senyuman.
"Setya, makan malam dulu ya sebelum pulang." Ucap bunda lembut.
"Baik tante. Terima kasih." Jawab Setya sopan.
Aku sudah tidak sabar menghabiskan waktu bersama kak Setya ...
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..