Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Pasar malam


__ADS_3

Suasana masih terasa tegang setelah Ifa dan Intan meninggalkan kafe. Bayu terlihat frustasi, ia mengacak rambutnya dengan kesal.


"Hey, apa sih yang kau pikirkan?! Kenapa bisa berdebat seperti itu dengan Ifa?!" Seru Setya tak habis pikir.


"Huh! Aku terbawa perasaanku. Aku cemburu melihat Ifa dekat dengan pria lain. Aku takut kehilangannya." Jawab Bayu pelan.


"Cemburu boleh saja. Aku pun pasti juga merasa cemburu kalau ada diposisi yang sama. Tapi, kau bisa menyampaikan rasa cemburumu dengan baik-baik dan coba mempercayai Ifa. Ifa sudah bilang bukan, kalau dia hanya berhubungan dengan adik kelas itu untuk membahas pelajaran. Lagian, kau sendiri juga tahu kalau dihati Ifa juga hanya ada dirimu." Ucap Setya menasehati.


"Hmm, kau benar.." Jawab Bayu lesu, ia mulai merasa bersalah.


"Kalau kau ingin memiliki hubungan yang langgeng, coba saling percaya satu sama lain dan terbuka untuk menyampaikan perasaan masing-masing. Bicara baik-baik, aku yakin pasanganmu akan mengerti ... Lagian, selain jadi pacar kamu, Ifa juga seorang manusia bukan? Dia juga butuh berinteraksi dengan orang lain. Baik, pria dan wanita. Apa kamu mau mengekang Ifa hanya untukmu? Dia tidak akan nyaman."


"Aku mengerti ... Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Bayu meminta pendapat.


"Apalagi? Ya tentu saja meminta maaf untuk perkataanmu barusan dan berbicaralah baik-baik dengan Ifa. Sampaikan saja perasaanmu dan dengarkan juga perasaannya." Jawab Setya sambil menepuk bahu Bayu pelan. Bayu mengangguk mengerti sebagi jawaban.


Di dalam taxi.


"Kak Bayu kenapa makin aneh aja sih?! Aku tahu dia cemburu, tapi perkataannya tadi sudah seperti mencurigaiku dan seakan-akan menuduhku mengkhinatinya ... Padahal, perasaanku pada kak Bayu gak pernah berubah." Seru Ifa menggebu, namun diakhir ucapannya tanpa sadar ia meneteskan air mata.


Intan yang melihat itu pun bingung harus merespon bagaimana, dia sendiri kalau dicurigai oleh Setya juga akan merasa sedih seperti Ifa. Untung saja selama ini Setya selalu mempercayainya, walaupun dia cemburu.


"Hm, Fa ... Jujur, sebenarnya aku bingung harus berbicara seperti apa sekarang ... Tapi, kalau melihat bagaimana kak Bayu selama ini bersikap padamu, ku rasa sebenarnya dia tidak mencurigaimu. Tapi, dia hanya takut kehilanganmu. Mungkin saja cara penyampaiannya yang salah. Kamu harus coba bicara baik-baik dulu dengan kak Bayu. Sampaikan perasaanmu dan dengarkan juga perasaannya. Aku tahu pasti kalian akan saling mengerti." Ucap Intan lembut. Ifa mengangguk mengerti dan bersandar di bahu Intan.


Intan ikut mengantar Ifa ke rumahnya dan pulang dengan meminta ayah menjemputnya, sekalian waktu pulang kerja. Awalnya Setya bersikeras mau menjemputnya, tapi Intan menolaknya karna akan merepotkan Setya yang harus mondar-mandir. Sebagai gantinya, Intan mengajak mereka nanti malam untuk bertemu di pasar malam saja. Tentu saja mereka mengajak Ifa dan Bayu agar keduanya saling berbaikan.


...****************...


Pasar malam.


"Wah, sudah lama sekali aku gak ke pasar malam!" Seru Ifa saat mereka sampai di pasar malam saat itu.


"Benar. Aku juga sudah lupa kapan terakhir kali kesini." Jawab Intan dengan memperhatikan keramaian sekitarnya.


"Kamu sudah datang?" Seru Setya yang berjalan mendekati Intan dan Ifa bersama Bayu.


Pandangan Ifa dan Bayu bertemu. Namun, Ifa yang masih sakit hati dan merasa sedih segera memalingkan wajahnya.


"Iyaa.." Jawab Intan dengan senyuman.


Tapi, dia melihat suasana canggung antara Ifa dan Bayu. Intan dengan segera memberikan kode mata pada Bayu agar mendekati Ifa. Bayu mengangguk mengerti.


"Ifa ..."

__ADS_1


"Tan, ayo kita coba semua permainan disini.!!" Seru Ifa sambil menarik tangan Intan memasuki keramaian pasar malam.


"Intan!! ... Bay, cepet selesaikan masalahmu dan Ifa. Aku juga ingin menghabiskan waktuku dengan Intan!" Gerutu Setya kesal, karna pertengkaran Bayu dan Ifa, ia sendiri juga harus berjauhan dengan Intan.


"Iya-iya, aku mengerti.!! Aku juga gak mau terus perang dingin begini dengan Ifa." Jawab Bayu sambil menatap punggung Ifa yang semakin menjauh.


"Sudahlah, yuk ikuti saja mereka." Ajak Setya sambil berjalan mengikuti Intan dan Ifa.


"Kamu gak ingin berbaikan dengan kak Bayu?" Tanya Intan saat mereka berjalan untuk memilih permainan yang akan mereka coba.


"Tentu saja mau. Tapi, saat melihat wajah kak Bayu rasanya aku masih ingin menangis. Aku gak mau menangis di depannya." Jawab Ifa dengan menundukkan kepala.


"Hey, mana nih Ifa yang aku kenal pergi? Ifa yang ku kenal itu adalah gadis yang kuat dan penuh semangat!" Seru Intan sembari memegang kedua bahu Ifa.


"Iya, aku mengerti. Tapi, nanti saja! Aku mau menikmati malamku tanpa kak Bayu dulu hari ini." Seru Ifa sambil berjalan menuju ke salah satu stan permainan.


Permainan itu adalah lempar kaleng. Jadi, kita akan diberi pistol mainan untuk menembak kaleng-kaleng yang ada disana. Jika, semua kaleng bisa jatuh maka akan mendapatkan hadiah.


"Mau aku yang memainkannya untukmu?" Tanya Bayu yang mendekati Ifa. Ifa menatap Bayu sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Tidak perlu. Aku juga mampu tanpa kak Bayu!" Seru Ifa dan mulai menembak kaleng-kaleng itu dengan cepat, sampai semua berjatuhan. Intan dan Setya sampai tercengang melihatnya.


"Sepertinya Ifa masih marah. Dia terlihat begitu galak saat ini." Bisik Setya pada Intan. Intan mengagguk sebagai jawaban dan masih menatap Ifa. Sedangkan Bayu menelan salivanya dengan gugup.


"Selamat mbak, ini hadiah sebagai pemenangnya." Ucap pemilik permainan. Ia menyerahkan sepasang gantungan kunci pada Ifa. Itu terlihat sebagai gantungan untuk pasangan.


Ifa menatap gantungan itu dan diam beberapa saat. Bayu sudah tersenyum senang membayangkan kalau Ifa akan memberikan gantungan itu padanya. Tapi, ternyata Ifa malah memasukkan gantungan itu ke dalam sakunya dengan cuek. Bayu merasa kecewa, sedangkan Intan dan Setya menahan tawa melihat itu.


"Yuk Tan, kita keliling lagi.!" Seru Ifa sambil kembali menggandeng Intan.


Intan menoleh menatap Setya seakan gak mau berpisah darinya, Setya pun sama. Tapi, Intan juga gak mungkin membiarkan Ifa seorang diri. Akhirnya, Ifa dan Intan terus berkeliling menikmati banyak permainan malam itu. Sedangkan, Setya dan Bayu dengan setia mengikuti dari belakang.


"Fa, beli arum manis yuk! Ke pasar malam kurang lengkap kalo gak beli arum manis nih." Ajak Intan yang melihat penjual arum manis tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ifa mengangguk setuju.


Keduanya pun segera menuju ke penjual arum manis itu, tapi langkah mereka dihentikan oleh dua pemuda asing yang tak mereka kenal.


"Hai cantik. Berdua aja nih? Mau main bareng sama kita?" Ucap salah satu pemuda dengan nada menggodan.


"Tidak, terima kasih!" Seru Ifa ketus sambil menarik tangan Intan untuk pergi.


"Hei-hei, tunggu sebentar dong. Kenapa buru-buru? lebih enak kan kalo bisa main bersama?" Ucap pemuda itu lagi, sambil menarik tangan Ifa. Lalu, pemuda yang satunya juga hendak mendekati Intan. Intan sudah menutup matanya rapat dan ketakutan, tubuhnya seakan terkunci.


Kak Setya!!!

__ADS_1


"Mau kemana tanganmu itu?!" Seru Setya tajam sambil mencengkram kuat tangan pemuda yang akan menyentuh Intan. Intan yang mendengar suara Setya pun membuka matanya dan mihat Setya di depannya. Ia bisa bernafas lega.


"Siapa kau?! Tak perlu ikut campur!!" Tanya pemuda itu marah.


"Dia pacarku. Mau apa kau menyentuhnya?!" Jawab Setya dengan penuh penekanan dan tatapan tajam sarat akan kemarahan.


Setya menghempaskan tangan pemuda itu dengan kasar, sebelah tangan lainnya meraih tangan Intan dibelakangnya, untuk memastikan bahwa Intan baik-baik saja. Intan membalas genggaman tangan Setya dengan erat juga.


Di sisi lain, Bayu juga mencengkram kuat tangan pemuda yang sudah menyentuh Ifa.


"Mau apa kau dengan pacarku, huh?!" Seru Bayu marah. Sorot matanya jelas sekali terpancar emosi yang besar, sejalan dengan cengkraman tangannya pada pemuda itu sampai ia meringia kesakitan.


"Aku tidak tahu kalau dipacarmu! Lepaskan! Ini sakit brengsek!" Seru pemuda itu kesakitan.


Akhirnya, Bayu melepaskan cengkramannya dengan sedikit mendorong tubuh pemuda itu. Kedua pemuda itu pun memutuskan untuk pergi, karna mereka melihat Setya dan Bayu yang terlihat penuh emosi. Mereka tidak ingin membesarkan masalah. Setya segera menghadap Intan dan memastikan keadaannya.


"Kamu gak apa-apa?" Seru Setya khawatir.


Intan mengangguk dan menghambur kepelukan Setya untuk mencari ketenangan. Ia selalu merasa aman dan terlindungi di dalam pelukan Setya. Setya tak bertanya lagi dan membalas pelukan Intan dengan erat.


"Kamu gak apa-apa? Apa ada yang terluka? Apa dia menyakitimu? Apa ini sakit?" Seru Bayu yang juga khawatir. Ia menyentuh tangan Ifa yang sebelumnya dicengkram oleh pemuda tadi dengan lembut.


"Sakit?" Tanya Bayu sekali lagi saat melihat tangan Ifa memerah. Ifa menatap Bayu yang begitu mengkhawatirkan keadaannya. Dia pun menunduk dan mulai menangis.


"Ifa ada apa? Apakah sangat sakit?" Seru Bayu semakin bingung melihat Ifa yang menangis.


"Kak Bayu bodoh!! ... Kak Bayu benar-benar bodoh! Hiks... Aku membenci kakak! Hikss.." Seru Ifa sambil memukul pelan dada Bayu. Bayu pun tersadar apa yang membuat Ifa menangis seperti itu. Bukan karna tangannya yang sakit, tapi karna pertengkaran mereka sebelumnya.


Akhirnya, Bayu menarik tubuh Ifa dalam pelukannya. Agar Ifa bisa lebih tenang. Bayu membelai kepala Ifa dengan sayang.


"Maaf.. Maafkan aku.." Ucap Bayu lembut berusaha menenangkan Ifa.


Intan dan Setya juga melihat itu dari jauh dan tersenyum senang. Karna, mereka tahu Bayu dan Ifa pasti akan segera berbaikan.


.


.


.


Bersambung..


(Chapter selanjutnya, rilis lagi nanti sore jam 17.00 WIB ya🤗)

__ADS_1


__ADS_2