
Keesokan paginya.
Setelah sekian lama, kini akhirnya wajah Intan terlihat kembali berseri seperti sebelumnya. Seakan kabut hitam telah pergi dari sana. Senyum manis terus tersemat di wajah cantiknya. Tentu saja, hal itu membuat orang-orang di sekitarnya yang melihat hal itu, ikut tersenyum bahagia.
"Selamat pagi ayah-bunda." Sapa Intan saat menuju ke meja makan. Dia mendekati orang tuanya dengan senyum lebar, lalu mencium sekilas pipi kedua orang tuanya dengan sayang.
"Pagi juga sayang. Tadi malam tidurnya nyenyak?" Tanya bunda yang melihat wajah sang putri yang terlihat begitu ceria.
"Sangatt nyenyak bunda. Seakan, Intan lupa sudah berapa lama Intan tak tidur senyenyak itu sebelumnya."
"Syukurlah kalau begitu." Jawab bunda dengan senyum diwajahnya.
"Tuan putri ayah terlihat sangat cantik hari ini. Memang, senyuman tuan putri ayah yang paling menawan. Jadi, ayah harap Intan terus tersenyum seperti ini, yaa.." Ucap ayah lembut.
"Siap paduka raja." Jawab Intan dengan senyum lebar. Dika yang baru saja ikut bergabung juga ikut senang melihat sang kakak.
...****************...
Di kampus juga banyak mahasiswa yang memperhatikan Intan. Karena, ini kali pertama setelah sekian lama, mereka tak melihat Intan kembali tersenyum. Aura dingin dan mengintimidasi yang biasa terlihat menyelimuti Intan, kini berubah menjadi aura positif dan kebahagiaan. Tentu itu menjadi pertanyaan bagi para mahasiswa yang melihatnya.
"Intan, kamu berbeda sekali hari ini. Apa ada hal yang membahagiakan terjadi?" Tanya Anisa yang penasaran saat melihat Intan.
"Ya. Kak Setya sudah sadar. Keadaannya terus membaik dan mungkin beberapa hari lagi dia bisa pulang." Jawab Intan dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.
"Benarkah?! Waaahhhh ... Selamat ya Tan. Semoga kak Setya cepet bisa kembali ke kampus." Seru Anisa dengan antusias.
"Terima kasih." Jawab Intan dengan senyum tulus diwajahnya.
Setelah selesai dengan urusannya di kampus, Intan segera menuju ke rumah sakit untuk menemui Setya. Tak lupa dia membelikan bunga seperti biasanya.
"Siang mbak Intan." Sapa beberapa suster yang melihat kedatangan Intan.
"Siang juga." Jawab Intan dengan ramah. Kini senyum yang diberikan Intan bukan lagi senyum sopan tapi benar-benar senyum ramah dan manis.
"Mbak Intan terlihat berbeda ya hari ini. Dia terlihat lebih cantik. Wajahnya terlihat berseri-seri."
"Tentu saja lah. Tunangannya yang koma setelah 1 tahun akhirnya bangun. Tentu saja hal itu membawa kebahagiaan seluruh keluarga, termasuk mbak Intan."
"Kamu benar. Semoga tunangannya juga bisa sembuh sepenuhnya."
Tok ... Tok ... Tok
"Assalamu'alaikum, tante. Siang my hero." Sapa Intan setelah dia memasuki ruang rawat Setya.
"Siang juga, tuan putri sayang." Jawab Setya dengan senyum lembut.
"Wa'alaikum salam sayang. Kamu sudah datang?" Jawab mama dengan lembut.
"Iya tante ... Oh, kak Setya mau makan? Aku suapin ya?" Seru Intan saat melihat tante menyiapkan meja kecil untuk makan Setya siang itu.
"Aku bisa makan sendiri kok sayang. Aku masih bisa menggerakkan tanganku." Jawab Setya menolak permintaan Intan.
"Tapi, kak Setya itu pasien. Pokoknya aku mau suapin kak Setya!" Seru Intan sembari mengambil alih sendok di tangan Setya, ia juga duduk di sisi ranjang Setya.
__ADS_1
Setya hanya bisa tersenyum pasrah melihat perhatian Intan. Tapi, tak urung dia juga tersenyum bahagia. Sudah lama sekali Setya tak melihat wajah Intan, juga perhatian dari Intan. Dia sangat merindukannya.
"Baiklah, kalau gitu tante tinggal dulu ya. Nanti sore tante akan kesini lagi." Pamit mama yang tersenyum melihat Intan dan Setya. Dia paham kalau dua sejoli itu ingin menghabiskan waktu berdua mereka.
"Hehe. Makasih tante." Ucap Intan dengan senyum malu. Seakan baru tersadar kalau di ruangan Setya masih ada mamanya.
"Santai saja. Nikmati waktu kalian bersama. Tante pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." Ucap mama, sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan Setya.
"Sekarang kak Setya makan, Aaaa.." Ucap Intan sambil menyodorkan suapan pada Setya. Setya dengan patuh menerima suapan Intan, sampai makannya habis.
"Setelah ini kak Setya minum obat dan istirahat." Ucap Intan sambil menyiapkan obat dan minum untuk Setya.
"Tapi, aku ingin mengobrol denganmu. Hanya waktu ini kita bisa bersama bukan? Aku sangat merindukanmu. Rasanya gak puas kalau aku harus menyia-nyiakan waktuku untuk tidur daripada melihat wajahmu, sayang." Ucap Setya setelah meminum obat yang diberikan Intan padanya.
"Kita bisa mengobrol sepuasnya setelah kakak keluar dari rumah sakit nanti. Sekarang yang paling penting adalah kak Setya harus sembuh dulu, supaya bisa puas mengobrol denganku nanti." Jawab Intan dengan senyum manis sambil menyentuh wajah Setya.
"Hm, baiklah ... Oh ya, kamu jangan menyentuhku. Bukankah om melarang kita untuk bersentuhan. Aku gak mau melanggar janjiku." Ucap Setya sembari melepaskan tangan Intan dari wajahnya.
"Tenang saja, kalau sebatas seperti ini, Intan sudah mendapat izin dari ayah." Jawab Intan dengan senyuman.
"Benarkah? Hm, kalau begitu aku ingin terus menggenggam tanganmu selama aku tidur." Ucap Setya dengan wajah berbinar.
"Hahaha. Baiklah, my hero. Tapi, Intan mau pindahin bunga ini ke vas dulu yaa.." Jawab Intan dengan tertawa geli melihat tingkah Setya. Setya pun mengangguk mengiyakan.
Kemudian, Intan dengan telaten mengganti bunga yang dia bawa kemarin dengan yang baru. Dan Setya terus memperhatikan Intan dengan tatapan penuh kerinduan.
"Kak Setya, kakak tahu setelah kakak koma waktu itu aku setiap hari selalu membawakan bunga krisan ini untuk kakak. Aku selalu berharap agar do'a dan harapan dari bunga ini bisa terwujud. Dan sekarang aku sangat senang, dia mewujudkan do'aku." Ucap Intan sambil menatap bunga krisan di depannya, setelah itu dia meletakkan di meja tak jauh dari Setya.
"Maafkan aku sudah membuatmu khawatir yaa.. Makasih juga, sudah setia menungguku selama satu tahun ini." Ucap Setya lembut sambil menggenggam tangan Intan dengan sayang.
"Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk terus membuatmu bahagia." Ucap Setya sambil mencium tangan Intan sekilas. Intan tersenyum manis dengan perlakuan Setya. Seakan sudah begitu lama dia tak merasakan kehangatan yang diberikan oleh Sefya.
"Ehem, sepertinya kami menganggu ya?"
Intan dan Setya langsung menoleh ke arah pintu dan terlihat ada Ifa dan Bayu disana.
"Kenapa kalian kesini?!" Tanya Intan dengan heran.
"Tentu saja ingin menjenguk kak Setya lah. Gak rela banget waktu kalian terngganggu." Sindir Ifa dengan memutar bola matanya malas.
"Bukan begitu, kak Setya baru saja minum obat dan mau tidur. Kalo kalian kesini, bagaimana kak Setya bisa istirahat?!" Seru Intan sambil mendelik menatap Ifa dan Bayu.
"Sayang, sudahlah. Aku gak apa-apa. Aku kan sudah bilang tadi, daripada tidur aku lebih ingin menatap wajahmu." Seru Setya menimpali.
"Haahh. Baiklah." Jawab Intan pasrah.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Bayu mendekati Setya.
"Sudah lebih baik. Jika, tak ada kendala aku bisa pulang besok lusa." Jawab Setya dengan senyum kecil diwajahnya.
"Syukurlah. Kau harus cepat sembuh dan kembali ke perusahaan bersamaku. Haaahhh ... Bagaimana bisa sekarang kalian masih kuliah dan aku sudah harus bekerja sendiri." Keluh Bayu lesu. Memang mulai minggu depan dia sudah harus bekerja di perusahaan papa Setya.
"Hahaha. Nikmati saja. Bukankah itu hal bagus, kau bisa mulai menabung untuk masa depanmu bersama Ifa?" Seru Setya dengan alis terangkat.
"Kau benar juga ... Sayang, tunggu aku ya, aku akan bekerja dengan keras! Setelah itu, aku akan segera melamar kamu." Ucap Bayu sambil menggenggam tangan Ifa dengan lembut. Ifa yang masih terkejut karna pengalihan topik yang tiba-tiba ini hanya bisa tersenyum malu. Ifa pun mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Dan aku akan menghabiskan waktu bersama kak Setya, sebagai teman seangkatan. Hehe " Seru Intan sambil menatap Setya dengan mata berbinar. Setya mengusap lembut kepala Intan yang duduk disebelahnya.
"Oh ya Tan. Si masa lalumu itu uda gak pernah nampakin diri didepanmu lagi kan? Tadi saat di kampus, aku gak sengaja liat dia sedang natapin kamu dari jauh." Tanya Ifa memastikan.
"Biarin aja, aku gak peduli. Kalau dia punya malu dan gak mau kalo aku semakin membencinya, maka dia gak akan pernah berani lagi muncul dihadapanku." Jawab Intan dengan acuh tak acuh.
"Memangnya, apa yang terjadi antara kamu dan dia?" Tanya Setya dengan tatapan khawatir pada Intan.
Flahsback On
1 bulan setelah kecelakaan.
"Intan, aku bawakan makanan untukmu. Kamu terlihat makin kurus setiap harinya." Ucap Bagas sembari meletakkan makanan di meja Intan.
"Bawa pergi." Ucap Intan dingin.
"Intan, tapi kamu harus makan! Kalau tidak, kamu akan jatuh sakit lagi." Seru Bagas yang masih bersikeras.
"Gak usah sok pedulikan aku!" Seru Intan dengan nada tajam.
"Aku itu khawatir denganmu! Aku gak bisa melihatmu sedih begini. Apalagi untuk orang yang gak pasti bisa bangun ato enggak!"
Plakk!!
Intan berdiri dan menampar Bagas dengan keras. Hal itu tentu saja menjadi perhatian bagi teman-teman sekelas Intan. Ada beberapa yang merekam kejadian itu.
"Intan?!"
"Jaga perkataan kakak! Selama ini aku diam saja, karna aku masih berusaha bersikap hormat sebagai junior. Tapi, tidak lagi sekarang! Jangan pernah katakan hal seperti itu lagi pada tunanganku! Dia pasti akan bangun!" Seru Intan dengan nada dingin dan penuh emosi.
"Jangan buta Intan! Orang koma itu, hanya ada dua kemungkinan bangun ato mati.! Sedangkan, melihat keadaan Setya, bukankah kemungkinan dia bisa bangun sangat kecil?!"
"Selama kak Setya masih bernafas, aku masih percaya dia pasti bisa bangun! Lebih baik kakak pergi dari hadapanku atau aku bisa semakin muak dengan kakak! ... Semua hal ini terjadi setelah kakak muncul dalam hidupku! Jika, bukan karna kakak, aku dan kak Setya pasti sedang bahagia sekarang! Jadi, sebelum kesabaranku semakin habis, pergi dari hadapanku! Karna aku sudah muak melihat wajahmu!" Seru Intan dengan tajam.
Teman-teman Intan pun mulai berbisik membicarakan Bagas. Memang benar, sebelum ada Bagas hubungan Setya dan Intan terlihat baik-baik saja. Mereka adalah pasangan yang harmonis dan selalu terlihat romantis. Tapi, setelah adanya Bagas kejadian buruk terus saja datang. Mendengar itu membuat Bagas malu. Dan akhirnya, dia memilih pergi meninggalkan kelas.
Flashback Off
"Dan setelah itu dia gak pernah muncul lagi dihadapanku." Ucap Intan setelah menceritakan apa yang pernah terjadi padanya dan Bagas saat dirinya masih koma.
"Syukurlah, kalau dia sudah sadar diri dan tak menunjukkan dirinya lagi. Semua sudah terjadi, gak ada gunanya juga menyesali semua itu. Kita ambil saja hikmah dari semua ini." Ucap Setya pengertian dengan senyum diwajahnya.
"Iya! Karena, yang paling penting bagi Intan sekarang adalah kak Setya sudah bangun dan sehat. Itu sudah cukup bagi Intan." Ucap Intan sambil meletakkan tangan Setya dipipinya.
Setya tersenyum mendengar ucapan Intan. Bayu dan Ifa juga terlihat senang melihat Setya dan Intan bisa kembali bahagia. Namun, dibalik senyum Setya, sebenarnya masih tertinggal kekhawatiran di hatinya.
Ku harap aku bisa segera sembuh, agar aku bisa berdiri di sampingmu lagi Intan ...
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1