Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
43. Cinta Terbaik untuk Kekira (tamat)


__ADS_3

RUMAH sakit begitu ramai.


Sambil mengedarkan pandangan, Kekira menemukan nomor kamar yang dicarinya.


Sempat menghindar dari orang-orang yang berusaha menarik-narik tangannya.


“Kondisinya belum mengalami perubahan selama sebulan ini.” Dokter menerangkan.


Kekira melihat melalui celah pintu.


Riga!


Riga duduk di kasur sambil memainkan pistol mainan, dan mengacungkannya ke segala arah sambil tertawa-tawa.


Sejak kejadian di apartemen Tara, Riga mengalami gangguan jiwa hebat karena tidak sengaja membunuh adiknya sendiri, dan dirawat di rumah sakit jiwa.


Evan alias Andra tewas seketika begitu peluru nyasar menembus jantungnya.


Kejiwaan Riga makin parah sehingga pihak kepolisian menangguhkan proses hukum.


Melihatnya membuat Kekira kasihan.


Walau membencinya, namun ia berharap Riga cepat pulih dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Lebih karena kasihan melihat Pak Reza yang terpukul kehilangan dua anaknya.


“Dok, jika ada perkembangan tolong beritahu saya. Bagaimana pun juga, dia itu mantan tunangan saya.”


“Baik.”


Dengan langkah lunglai, ia meninggalkan rumah sakit.


***


Sebulan berlalu sejak tewasnya putra bungsunya.


Pak Reza shock mengalami stroke.


Apalagi begitu tahu yang membunuh adalah kakaknya Evandra sendiri, yaitu anak sulungnya, Riga.


Tara menjalani pengobatan patah tulang ke luar negeri. Dia juga lega pembunuh adiknya sudah mendapat ganjaran setimpal.


Keluarga Veni ingin mengajukan tuntutan pada Riga, namun polisi menangguhkan laporannya melihat kondisi kejiwaan Riga.


Seluruh warga bisa bernafas lega begitu diturunkan berita pelaku penculikan sudah tertangkap.


Kekira sering mengunjungi Pak Reza untuk melihat kondisinya.


Pak Reza sudah tidak bisa bicara, hanya memberi isyarat mata dan tangan. Meski begitu ia suka mengajaknya bicara, terutama tentang kondisi Riga.


Ia meyakinkan bahwa Om Randy akan mengupayakan pengobatan terbaik untuk Pak Reza dan Riga.


Keluarga Riga meminta maaf padanya sudah berlaku buruk, karena mempunyai trauma yang sama sejak kematian kakak mereka yaitu ibunya Riga.


Mereka menyadari apa yang dilakukan keponakan mereka sudah kriminal.


Entah Riga bisa mendapat keringanan hukuman.


Ia hanya berharap yang terbaik agar Pak Reza bisa pulih.


Kabar baiknya, Bunda akan meresmikan toko kue yang menjadi impiannya.


Kini Ayah pun membuka usaha toko barang elektronik, dari uang pesangon yang didapat dari Pak Reza.


Hidup mereka sudah membaik dan lebih tenang.


Meski begitu, ia tidak dapat memungkiri perasaannya.


Perasaan yang belum sempat ia ungkapkan pada seseorang.


***


Begitu gunting pita berakhir, Kekira berpelukan dengan Bunda.


“Semoga toko kita sukses ya, Bunda.”


“Aamiin. Bantu Bunda bawa kue dari dapur ya, Nak.”


“Iya, Bunda.”


Para pengunjung berdatangan memasuki toko berinterior unik dan ber-AC.


“Perlu bantuan, Ki?” tawar Cinay.


“Udah beres kok. Sama siapa ke sini, Nay?”


“Sendiri. Ntar Mas Reno nyusul bareng yang lain.” Cinay celingukan. “Kak Bira mana?”


Kekira mengerutkan dahi. “Dia nggak ada di sini.”


“Lho? Kamu emang nggak undang dia ke sini?”


“Nomornya nggak aktif. Aku juga udah jarang ketemu dia sejak kejadian itu.”


“Kok bisa? Padahal kalian tuh lengket banget, kalah deh permen karet.”


“Apaan sih, kami sahabat.” Kekira menyodorkan piring kue. “Nih cobain kuenya. Gratis tuk hari ini. Kalau mau beli untuk dibawa pulang diskon 20%.”


Cinay mencibir. “Ngalihin topik deh. Masa’ Kak Bira belum nembak kamu? Padahal dia cerita sama Mas Reno kalo dia suka banget sama kamu.”


Kekira cemberut. “Palingan dia nggak serius.”


“Ya ampun, Ki… kalian berdua udah kebaca banget. Udah jelas kalian tuh saling suka. Saran aku sih ya, jangan bohongin perasaan kamu sendiri, ntar nyesel lho.”


Perkataan Cinay membuat Kekira tercenung.


***

__ADS_1


ANGIN pantai yang kencang menyambut Kekira yang langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Tatapannya tertuju pada sosok yang berjalan di atas hamparan pasir putih dengan kepala tertunduk.


Akbi!


Cowok itu terlihat galau. Entah apa yang dipikirkannya.


Sejak tadi Kekira sudah mencarinya, ke rumah, ke teman-teman geng-nya, tapi tidak ada.


Hingga ia mencari ke sini. Ke tempat favorit Akbi.


Ia terus menatapnya sambil menyandar pada pagar pembatas laut. Di tangannya ada kotak kue yang ingin diberikan pada Akbi.


Ketika pandangan mereka beradu, waktu terasa berhenti. Mereka terpaku di tempat masing-masing.


Angin mengibarkan jilbab pink yang dikenakan Kekira membuat Akbi terpana. Jelas ia ingat karena jilbab itu hadiah darinya.


Tanpa pikir panjang, Akbi menghampirinya dan mereka duduk di atas batu karang.


“Kamu kok bisa ke sini?” tanya Akbi lebih dulu.


“Mau ketemu kamu.” Kekira menatapnya sambil tersenyum. “Kamu ke mana aja sebulan ini?”


Akbi menatap lautan luas di hadapan mereka.


“Maaf nggak ngabarin kamu. Aku pergi ke Pekanbaru, ke makamnya Tari. Setelah itu aku nyusul Tara ke Singapore nemenin dia pengobatan.”


Hati Kekira nggak karuan. Antara cemburu dan takut kalo ternyata Akbi melanjutkan hubungan dengan Tara.


“Dia titip salam buat kamu.” Akbi menoleh heran. “Kamu nggak suka?”


Kekira tertawa pelan. “Kenapa mesti nggak suka?”


“Kayaknya kamu cemburu?”


“Ihh siapa juga yang cemburu.”


Untuk beberapa saat mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Bi, apa kamu udah lega dengan kematian Evan?” tanya Kekira akhirnya.


Akbi memaksakan tersenyum. “Jujur, aku lega karena misiku bertahun-tahun akhirnya tercapai. Tapi entah kenapa, aku kasihan. Karena dia mati di tangan kakaknya sendiri. Walau sebenernya sasaran Riga itu aku. Tapi karena kamu bantu, aku bisa terhindar dari tembakannya.”


“Aku juga jadi merasa bersalah. Kalo aja waktu itu aku gigit tangannya supaya dia lepasin pistolnya….”


“Kamu lakuin itu kan untuk nyelametin aku.”


“Bukan itu yang aku pikirin, Bi. Aku kasihan sama Pak Reza. Setelah Evan meninggal, Mas Riga masuk rumah sakit jiwa. Gimana pun juga, aku nggak tega liat kondisinya. Tapi yah aku lega ini semua udah selesai.”


Akbi mendengus pelan dan memalingkan wajah.


“Kenapa kamu nggak peka juga sama perasaan aku?”


Kekira menoleh heran. “Maksud kamu?”


“Bi, aku nggak bermaksud begitu.”


“Trus apa? Aku sayang banget sama kamu, tapi kamu nggak peduli. Mungkin kamu cuma ingin kita jadi sahabat.”


Kekira bingung menjawab.


“Tapi aku nggak bisa, Ki. Kamu nggak tau perasaanku ini dari kecil, yang selalu berharap bisa ketemu…”


“Ini jawaban aku.” Kekira memberikan kotak kue.


Meski bingung, Akbi menerima dan membukanya. Ia kaget. Kue tart berukuran sedang dengan hiasan strawberry yang disusun membentuk tanda hati.


“Itu aku buat sendiri. Hari ini opening toko kue Bunda. Karena kamu nggak dateng, aku buatin khusus buat kamu.”


“Ini maksudnya apa?”


“Kekira nggak mau pisah dari Akbi. Akbi kan lucu. Gendut kayak bola. Kekira sayang kok sama Akbi.” Kekira menatapnya sambil tersenyum.


Akbi kaget. “Itu…?”


“Isi surat yang aku tulis 10 tahun lalu. Bahkan sampai sekarang, di mataku kamu tuh masih gendut kayak bola.”


“Kamu masih inget?”


“Sebenernya, aku diam karena aku pikir kamu mau kembali sama Tara. Aku jaga jarak supaya nggak terlalu sakit hati. Dan selama sebulan ini aku selalu inget kamu. Kamu yang lucu, perhatian, dan suka isengin aku, buat aku sadar selama ini udah bohongin perasaan aku sendiri, bikin kamu gelisah, galau, cemas. Meski aku selalu disakitin, aku selalu belain Mas Riga, bikin kamu marah. Tapi kamu cuma ingin aku bahagia. Kan?”


Akbi lega Kekira sudah mengerti perasaannya.


Ia meraih tangan Kekira. “Kalau kita bertemu lagi, Akbi akan selalu bersama Kekira. Akan menjaga Kekira. Karena Akbi suka sama Kekira.”


Kekira terharu. “Kamu masih inget?”


Akbi tersenyum jahil. “Sebenernya, aku baca lagi waktu numpang mandi di kamar mandi kamu.”


Kekira merengut. “Iiiih kirain masih inget.” Ia tersenyum tak kalah jahil. “Aku juga sebenernya baca lagi waktu ke kamar kamu.”


“Lho? Kapan?”


“Waktu aku mau minjem charger laptop. Tapi kamu lagi keluar. Sekalian aja kepoin kamar kamu. Suratku sampe dibingkai pake gambar love segala.”


Mereka tertawa bersama.


“Dipikir-pikir, lucu juga ya. Kita sahabatan dari kecil, trus kita pisah. Jalanin hidup masing-masing. Tiba-tiba ketemu lagi, dan…”


“Akbiiiiii… bisa nggak jangan bikin aku malu….”


“Lho kenapa mesti malu? Aku aja udah jujur.”


“Emang kamu nggak ada hati lagi sama Tara?”


“Ya ampun.. perlu bukti apa lagi? Mau coba belah dada? Biar kamu liat cuma ada nama Adinda Kekira di hati aku.”

__ADS_1


“Deuuuu ngerayunya…”


“Bukan ngerayu.” Akbi meletakkan tangan Kekira di dadanya. “Kerasa nggak nih? Udah kayak getaran bajaj.”


Kekira tertawa geli dan mengacak-acak rambut Akbi gemas.


Hari makin sore.


Mereka masih bercengkerama sambil makan kue strawberry buatan Kekira.


Yang ada malah main krim sampe pada belepotan.


“Aku cuma temenan sama Tara. Jadi, jangan jealous lagi sama dia. Cuma kamu yang aku sayang.”


Kekira tersenyum. “Iya aku percaya. Aku juga sama.”


“Sama gimana?”


“Ya sama lah kayak kamu.”


“Sama gimana? Aku nggak ngerti. Jelasin dong.”


Kekira tertawa, Akbi jelas lagi menggodanya.


“Aku juga sayang kamu..”


Akbi mendekatkan kepalanya. “Apaan? Kok pelan banget? Nggak kedengeran, coba sekali lagi.”


“Aku sayang kamu.”


“Lebih keras lagi dong, aku nggak denger…”


“Iiihhhh….” Kekira memukul-mukul Akbi sebel.


Akbi tertawa dan menangkap tangannya, sambil berdiri berhadapan.


“Tau nggak, sejak kecil aku selalu berdoa bisa berjodoh sama kamu."


Kekira menaikkan alisnya. "Masa'?"


"Iya. Tapi kan dulu kita masih kecil. Aku nggak pernah lupa sama kamu. Dan sekarang kita dipertemukan lagi, aku akan berikan cinta terbaik untuk kamu."


Kekira tersenyum. "Makasih ya. Walau aku pernah kecewa, tapi kamu udah menyadarkan aku kalau cinta itu nggak bisa dipaksa. Dan aku pantas dapatkan yang terbaik."


Akbi mengeratkan genggamanya dan menatapnya lekat. "Mulai sekarang, lupain semua kejadian buruk. Aku janji, akan selalu jagain kamu. Dalam kondisi apapun.”


“Yakin?” goda Kekira.


Akbi jadi gemas dan mencubit pipi Kekira. “Emang deh ni cewek perlu bukti terus.”


Kekira menghindar geli. “Tapi aku nggak mau pacaran.”


“Dih ge-er, siapa juga yang ngajakin pacaran?”


“Lho trus?”


Tiba-tiba Akbi melepas gelang persahabatan, dan melilitkannya di jari manis Kekira.


“Will you marry me?”


Kekira cemberut. “Dih nggak romantis banget sih. Masa’ pake gelang?”


“Ini kan emergency. Ntar aku beliin cincin berlian kalo udah diterima.”


“Iiihh nggak mau rugi.”


“Jadi gimana? Duuhh geregetan lama-lama sama kamu, tinggal jawab ‘ya’ aja susah banget.”


“Hmm… nggak segampang itu dong. Kamu masih punya janji sama aku.”


“Janji apa?”


“Tuh kan lupa. Aku nggak mau jawab kalo kamu nggak inget.”


“Duuuhh Kekira manissss, aku mana bisa mikir kalo kamu terus ada di pikiran aku.”


“Ahhh Akbi mah ngerayu lagi!” Kekira buang muka. “Kamu kan janji mau ajak aku main ke Dufan?”


“Hah? Kamu serius mau ke sana? Aku kira waktu itu bercanda doang.”


“Jadi mau nggak nih?”


“Duuhh gimana ya, Ki?”


“Nggak mau? Ya udah, kalo gitu aku nggak mau jawab lamaran kamu. Aku bakal jawab kalo kamu berani naik wahana Tornado, Kora Kora, sama Histeria.”


“Ampun, Ki… nggak ada yang lebih sadis, apa?” Akbi memelas.


“Katanya mau berkorban buat aku, gimana sih?”


Akbi gemas dan memegang kepala Kekira. “Oke, I will do it. Tapi setelah itu, kita langsung nikah ya. Aku bakal ajak penghulu sekalian naik Tornado.”


Kekira tertawa. “Sekalian aja ajak Ayah Bunda.”


“Eh boleh tuh, ntar gini nih, ehm.. ‘Saya terima nikahnya Adinda Kekira Kurniawan binti Kurniawan dengan mas kawin…’ mas kawinnya apa ya? Eh kamu maunya apa?”


“Iiihh Akbi jangan bikin aku malu dooonggg…”


Akbi tertawa dan merangkul bahunya.


Mereka berjalan menyusuri hamparan pasir putih, di bawah langit sore yang mendung, meninggalkan semua hal buruk yang terjadi, tanpa keraguan.


Finally, persahabatan pun berganti menjadi cinta.


Cinta terbaik dengan rasa yang hadir antara mereka.


How sweet…

__ADS_1


Hppy End


__ADS_2