Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Perasaan Toni


__ADS_3

Setelah memperkenalkan dirinya, Robby segera berjalan untuk menuju bangkunya. Untuk menuju bangkunya Robby harus melewati Intan dan Ifa, dan yang lain karna bangkunya ada dibelakang sendiri.


Robby terus berjalan sambil menebar senyum menggodanya. Ia membalasi semua senyum dan sapaan teman-teman wanita di kelas barunya itu. Tapi, pandangannya langsung terhenti saat melihat ada tiga gadis yang mengacuhkannya, bahkan tidak menatapnya sama sekali. Mereka adalah Linda, Intan dan Ifa.


Linda yang duduk bersama Dharma pacarnya, tentu saja tak akan melirik pria lain. Dia tetap asyik mengobrol dengan Dharma. Sedangkan Intan dan Ifa memilih bermain ponsel dan berkirim pesan dengan pacar mereka masing-masing.


"Hm, menarik!" Gumam Robby melihat mereka.


...****************...


Jam Istirahat


Para gadis langsung berkerumun untuk berkenalan dengan Robby. Dengan senyuman, Robby menerimanya satu persatu dengan sesekali menggoda para gadis itu yang mendadak jadi idolanya. Tentu saja Intan, dkk tidak termasuk kesana.


"Sepertinya dia sangat populer." Ucap Linda yang mendekati Intan dan Ifa untuk mengajak mereka ke kantin dengan sesekali melirik pada kerumunan gadis yang mengerubungi Robby.


Ifa melirik sekilas, kemudian mengangkat bahu bersamaan dengan acuh. Sedangkan, Intan sama sekali tidak tertarik. Dia sangat membenci pria hidung belang macam kucing garong seperti itu.


"Berisik sekali di kelas. Yuk, ke kantin sekarang saja!" Seru Intan sambil beranjak dari bangkunya.


"Haii..." Seru Robby yang tiba-tiba berjalan dengan cepat dan menghalangi langkah Intan dan yang lainnya untuk ke kantin.


Intan mengangguk sekilas dan akan berjalan pergi lagi, bersama yang lainnya.


"Kalian mau ke kantin kan? Aku bergabung dengan kalian boleh?" Tanya Robby dengan senyuman penuh percaya diri.


"Kenapa tidak pergi saja dengan teman-teman yang lain? Ku yakin mereka sama sekali gak keberatan kalau kau bergabung." Jawab Ifa acuh, sambil melirik ke teman-teman wanita kelasnya yang menatap Robby penuh minat.


"Ehm, untuk itu lain kali saja bisa. Aku inginnya bersama kalian hari ini. Oh ya, kita belum berkenalan ... Aku Robby, kalian?"


"Intan"


"Ifa"


Jawab Intan dan Ifa bergantian dengan datar. Mereka mau gak mau harus memberitahu nama mereka, karna bagaimanapun Robby adalah teman baru mereka di kelas.


"Jangan macam-macam dengan mereka. Mereka punya pawang yang posesifnya bukan main. Kalau mereka tahu, kau sengaja mendekati mereka. Habis kau.." Seru Toni acuh dari bangkunya.


Toni sudah cukup mendengarkan dan akhirnya mulai membuka suaranya. Bukan hanya untuk membantu Intan dan Ifa. Mungkin dia juga tak rela ada pria lain yang mendekati Intan? Hanya Toni yang tahu bagaimana perasannya.


"Oh, benarkah? Sayang sekali. Padahal, aku ingin mengenal kalian lebih dalam lagi.." Ucap Robby dengan wajah dibuat sedih.


Makasih Toni ... Intan-Ifa


Intan dan Ifa cukup senang mendengar ucapan Toni yang membantu mereka terbebas dari godaan Robby.


"Kalau nama kamu siapa?" Tanya Robby pada Linda yang masih belum menyampaikan namanya.


"Namanya Linda, pacarku! Aku Dharma ketua kelas ini." Seru Dharma sambil merangkul bahu Linda dengan posesif.


"Kenapa semua gadis cantik sudah mempunyai pacar! Huh!" Gerutu Robby kesal.


"Kalau sudah tahu, bisakah kau tinggalkan kami? Kami ingin ke kantin." seru Ifa mulai kesal.


"Ok, ayo!" Jawab Robby yang mulai melangkah.


"Kau tetap ikut dengan kami?" Tanya Intan heran.


"Tentu saja. Kita tetap teman sekelas bukan? Wajar kan jika makan bersama ... Tenang saja, aku gak minat dengan gadis yang sudah punya pacar." Ucap Robby santai.


"Hei bro! Namamu siapa? Oh, Toni.. Kita jadi teman akrab mulai sekarang ya!" Seru Robby antusias sambil merangkul bahu Toni. Dia mengetahui nama Toni dari name tagnya..


"Lepaskan! Atau ku tendang kau?!" Seru Toni yang merasa jijik dengan sikap Robby.

__ADS_1


"Aish, sabar bro! Kita kan teman." Ucap Robby dengan senyuman diwajahnya.


"Najis!" Seru Toni sambil berjalan lebih cepat. Robby dengan antusiasnya, tetap mengikuti Toni, walaupun ia sudah diancam seperti itu oleh Toni.


"Entah kenapa, sifatnya terlihat sedikit mirip dengn Toni." Ucap Linda setelah Robby berjalan terlebih dulu bersama Toni. Dia menempel pada Toni, sampai membuat Toni risih.


"Kamu benar. Mereka sama-sama jahil." Ucap Intan menyetujui ucapan Linda.


"Dan menyebalkan." Imbuh Ifa mengiyakan.


Di sepanjang perjalanan dan kantin, Robby terus menebar pesonanya dengan sengaja. Akhirmya, Toni yang berada disebelahnya juga terkena imbas. Ia juga jadi diperhatikan oleh gadis-gadis yang sebelumnya memang sudah terpesona dengannya.


Saat sampai di kantin dan selesai membeli makanan yang mereka inginkan, mereka mencari bangku kosong. Di sana Sudah ada Putri dan Bunga. Putri pun melambaikan tangannya agar mereka mendekat. Mata Robby berbinar saat melihat Putri dan Bunga. Dengan langkah cepat dia mendekati Putri dan Bunga. Toni yang melihat itupun mengerutkan dahinya, entah bagaimana dia tak menyukai itu.


"Wah, kalian mencarikan tempat untukku? Terima kasih cantik." Ucap Robby dengan nada menggoda.


Putri dan Bunga terkejut saat yang datang mendekati mereka adalah pria yang gak mereka kenal. Putri tak menyukai itu, sedangkan Bunga berbinar senang.


"Kamu jangan macam-macam dengan mereka. Kalau kamu hanya ingin mempermainkan perasaan mereka, lebih baik pergi." Seru Intan tajam, ia berjalan mendekat dengan yang lain.


"Apa kalian juga sudah punya pacar?" Tanya Robby yang terlihat sudah putus asa.


"Belum!" Jawab Bunga antusias.


"Walaupun, mereka belum punya pacar. Kalau kamu berani-berani mempermainkan mereka, kamu berhadapan denganku." Seru Intan penuh penekanan.


"Eits, sabar. Aku gak ada niatan mempermainkan mereka. Jika, kita memang cocok gak ada salahnya kan kalau bersama? ... Tapi, kenapa kamu sangat posesif dengan mereka sih? Atau jangan-jangan kamu belok?" Tanya Robby dengan wajah terkejut.


"Kak Intan gak belok! Dia sudah menganggap kami seperti adik sendiri. Wajar saja, dia melindungi kami dari pria seperti kakak." Jawab Putri mewakili Intan.


"Ohh ... Tenang saja, aku gak ada niatan untuk mempermainkan kalian kok. Aku hanya ingin mencoba dekat dengan kalian saja. Gak ada yang keberatankan?" Tanya Robby dengan senyuman.


"Tentu saja gak ada." Jawab Bunga senang.


Putri masih terdiam dan sekilas melirik ke arah Toni yang terlihat acuh sembari memakan makanannya. Putri menunduk sedih melihat itu. Padahal, ia berharap Toni akan berkata keberatan. Tapi, kelihatannya dihati Toni memang gak ada dirinya sama sekali.


"Enggak ada." Jawab Putri dengan lesu.


"Yess! Terima kasih cantik." Ucap Robby dengan senyum menggoda.


Toni yang mendengar jawaban itu melirik sekilas pada Putri. Entah, kenapa mendengar jawaban itu membuatnya kesal. Dia mengaduk-aduk makanany dengan geram. Robby seebelumnya memperhatikan Putri yang melirik pada Toni seakan berharap kalau Toni akan mengatakan keberatan. Sekarang, dia melihat Toni yang terlihat kesal. Robby pun tersenyum penuh misteri.


"Huh.. Jadi begitu, menarik!" Gumamnya dengan senyuman diwajahnya.


Sebelumnya Intan juga memperhatikan itu. Ia juga kesal saat Toni mengabaikan Putri. Padahal jelas sekali Putri sangat berharap kalau Toni akan keberatan.


Apa benar dihati Toni gak ada Putri sama sekali? Kalau tidak ada kenapa sekarang dia terlihat kesal?! ... Intan


Karena, sudah mendapatkan jawaban. Robby gak segan-segan untuk mencoba mendekati bunga dan Putri. Tapi, tentu saja dia masih lebih memfokuskan pada Putri. Tujuannya tentu ingin melihat kekesalan Toni. Selama diajak mengobrol oleh Robby, Putri hanya menjawab sekedarnya saja. berbeda dengan Bunga yang terus terlihat antusias.


Saat selesai makan, Intan sengaja mengajak Toni untuk mengobrol di taman belakang denganya. Dia gak bisa menahan diri lagi untuk menanyakan perasaan Toni.


"Ada apa sih, kenapa pakai mengajakku kesini kalau hanya ingin bertanya?!" Seru Toni acuh.


"Yah, disini lebih tenang bukan? Gak ada orang lain lagi yang mengganggu. Bukannya kamu juga capek dilitin gadis-gadis terus?" Tebak Intan.


"Itu sih aku sama sekali gak peduli. Urusan mereka kalau ingin menatapku. Memang pesonaku luar biasa sih." Jawab Toni dengan percaya dirinya.


"Terserahmu saja deh." Seru Intan sambil memutar bola matanya malas.


"Diam sebentar.." Perintah Toni.


"Ada apa?" Tanya Intan terkejut.

__ADS_1


"Ada ulat dibahumu." Jawab Toni yang berusaha mengambil ulat itu.


"Benarkah?! Ahh.. Cepat ambil.!!" Teriak Intan geli sambil memejamkan matanya. Dengan cepat Toni mengambil ulat itu dan melemparnya jauh.


"Apa belum selesai?" Tanya Intan yang masih ketakutan dengan mata terpejam.


"Belum. Jangan banyak gerak!" Seru Toni berbohong. Dia lebih tertarik memandangi wajah Intan saat itu.


"Kenapa lama sekali sih?!" Teriak Intan sudah gak sabar.


Cekrik!!


Intan mendegar suara kamera, dengan segera ia membuka matanya. Dan pertama kali dia lihat adalah Toni yang sedang tertawa puas.


"Hahaha. Wajahmu sangat aneh!" Seru Toni sambil melihat foto Intan.


"Kau! Hapus gak?!" Teriak Intan geram.


"Haha. Ini ponselku, suka-suka aku lah." Jawab Toni acuh.


"Kau mau ku adukan kak Setya?!" Seru Intan mengancam dengan tangan dilipat didada.


"Haih! Dasar tukang adu!" Seru Toni kesal. Bukannya dia takut dengan Setya, tapi dia memang gak mau memperpanjang masalah dengan Setya.


"Biarin. Bwekk!" Ucap Intan sambil menjulurkan lidahnya mengejek Toni.


"Nih, sudah!" Seru Toni sambil menunjukkan foto Intan yang sudah ia hapus.


Tanpa sengaja, Intan melihat foto Putri yang sedang memeluk kucing di galeri Toni. Mata Intan berbinar melihat itu.


"Kenapa ada foto Putri diponselmu? Kau menyukai Putri kan?!" Seru Intan antusias.


"Apa'an sih, tentu saja tidak! Aku hanya membantunya mengambil foto waktu itu, karna ponselnya mati. Setelah ku kirim, lupa gak ku hapus." Jawab Toni sambil menghapusi foto Putri.


"kau benar-benar menghapusnya sekarang?" Tanya Intan yang terkejut.


"Tentu saja. Untuk apa juga aku menyimpannya." Jawab Toni acuh.


"Ton, aku ingin bertanya. Tolong kali ini seriuslah ... Apakah sungguh kau gak ada perasaan sama sekali dengan Putri?" Tanya Intan penuh harap.


"Huh! Kau yakin ingin mendengar jawaban jujur dariku?" Tanya Toni memastikan. Intan mengangguk dengan pasti.


"Tidak. Aku sama sekali gak memiliki perasaan padanya. Aku hanya murni membantunya sebagai sesama manusia. Gak lebih dari itu." Jawab Toni serius.


"Sungguh?! Apa kau yakin?!" Tanya Intan masih tak percaya.


"Ya." Jawab Toni cepat.


Tanpa mereka tahu ternyata Putri ada disana dan mendengarkan perkataan Toni. Walaupun ia sudah tahu, tapi mendengarnya langsung dari mulut Toni, entah rasanya lebih menyakitkan. Ia pun berlari meninggalkan tempat itu dan tak sengaja berpapasan dengan Robby. Robby pun mencari tahu apa yang membuat Putri menangis seperti itu. Dan dia melihat Toni bersama Intan.


"Lalu kenapa?" Tanya Intan masih gak terima kalau Toni sama sekali gak memiliki perasaan pada Putri.


"Karna aku menyukaimu! Gadis yang aku suka dari awal itu adalah kamu, Intan." Jawab Toni dengan pandangan mata penuh keseriusan.


Intan sangat terkejut mendengar itu. Ia sampai menutup mulutnya saking terkejutnya. Robby yang juga mendengar itupun tersenyum penuh makna. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


Ja-Jadi, selama ini Toni menyukaiku?! Kenapa?!


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2