Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Mawar Merah


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Tanpa terasa, hari ini adalah hari wisuda Intan. Intan sudah berdandan cantik dengan setelan kebaya putih dan rambut disanggul dengan sedikit hiasan yang menambah kecantikan dan keanggunannya. Make up yang ia kenakan juga terlihat simple memberikan kesan manis pada Intan. Tapi, semua riasan itu tak bisa menutupi ekspresi sedih diwajahnya.


Bagaimana Intan tak sedih. Saat ini ia sedang kecewa, karna Setya kemungkinan tak bisa datang ke wisudanya. Tiga hari sebelumnya, Setya dimintai ayahnya untuk menemaninya mengurus proyek yang ada di luar kota. Kata Setya waktu itu, ia sudah akan kembali tepat saat wisuda Intan. Tapi, tadi pagi Setya menghubunginya dan mengatakan kalau dia kemungkinan gak bisa datang.


Tentu saja Intan merasa sedih dan kecewa, tapi dia juga gak bisa protes. Bagaimanapun, papa Setya membutuhkannya. Intan hanya harus memendam bayangannya yang menginginkan Setya datang dengan buket mawar besar ditangannya.


"Sayang, sudah siap belum? Kita harus segera berangkat lho, nanti terlambat!" Panggil bunda dari lantai bawah.


"Iya bunda, ini Intan turun." Jawab Intan sambil berusaha membentuk senyum diwajah cantiknya. Setelah itu ia turun dan menghampiri orang tuanya yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Waaahhhh.. Tuan putri ayah sangat cantik hari ini." Puji ayah saat melihat Intan.


"Bagi ayah, Intan mah selalu keliahatan cantik." Ucap Intan dengan senyum geli.


"Tentu saja. Tuan putri ayah paling cantik sedunia." Jawab ayah dengan bangga. Intan tersenyum mendengar perkataan ayah itu.


"Sudah-sudah, berhenti saling memuji dan segera berangkat saja." Ucap bunda terlihat bosan melihat sikap ayah dan anak itu.


"Sepertinya bundamu cemburu, karna gak ayah puji." Bisik ayah ditelinga Intan.


"Ayah sih. Seharusnya ayah juga memuji bunda. Kan kecantikan Intan juga turunan dari bunda." Bisik Intan memberitahu.


"Ayah!" Seru bunda yang sudah keluar dari rumah.


Mendengar panggilan itu ayah dan Intan bergegas menyusul sang bunda. Hari itu Dika tidak bisa ikut juga ke wisuda Intan, karna ada urusan di sekolahnya sendiri. Sehingga, hanya orang tua Intan saja yang datang menemani. Mereka pun segera berangkat menuju ke tempat wisuda Intan.


Sekitar 30 menit kemudian, akhirnya mereka sampai di mall tempat wisuda Intan akan dilaksanakan. Intan melihat banyak siswi yang mengenakan kebaya putih dan siswa yang mengenakan jas.


Kebetulan saat Intan sampai, bersamaan dengan Ifa yang datang bersama mamanya, Bayu dan adiknya Rehan. Ia juga melihat ditangan Bayu sudah siap sebuket mawar merah untuk Ifa. Intan melihat itu dengan tatapan sedih. Walaupun sang ayah juga sudah menyiapkan buket bunga untuknya, tapi tentu saja beda rasanya kalau diberikan oleh pacar bukan?..


"Assalamu'alaikum, Ayah-bunda." Sapa Ifa ceria.


"Wa'alaikum salam. Kamu juga cantik sekali hari ini sayang." Ucap ayah Intan lembut, sembari menepuk-nepuk pelan puncak kepala Ifa.


"Terima kasih, ayah!" Jawab Ifa dengan senyuman.


Ia merasa bahagia, walau ia sendiri tak memiliki seorang ayah, tapi semenjak mengenal Intan dan keluarganya, ia merasa seperti memiliki seorang ayah juga.


"Wah, ini Rehan? Kamu uda besar yaa." Ucap bunda yang melihat Rehan di sebelah Ifa.


"Iya tante, lama gak bertemu. Kabar tante baik kan?" Tanya Rehan sopan.


"Kabar tante baik. Oh ya SMA kamu rencana mau masuk mana Han?"


"Ehm, Rehan ingin masuk ke sekolah kak Ifa sekarang."


"Waahh. Berarti sama dengan Dika. Semoga nanti kalian bisa satu kelas dan jadi teman baik juga seperti kakak-kakak kalian." Seru bunda antusias.

__ADS_1


"Tentu saja tante." Jawab Rehan dengan senyuman.


"Sudah yuk, kita masuk. Acara akan segera dimulai." Ajak ayah menyudahi obrolan itu.


Akhirnya, mereka semua mulai berjalan menuju hall yang sudah disewa untuk acara wisuda mereka. Intan berjalan dengan malas dan sesekali menoleh ke belakang, berharap Setya datang.


"Apa kak Setya, jadi bisa datang?" Tanya Ifa yang melihat Intan murung. Intan menganggukkan kepala dengan lemah sebagai jawaban.


Ifa tak mengatakan apapun lagi, dia tahu kalau Intan saat ini sedih. Dia hanya memberikan isyarat pada Bayu untuk berjalan lebih dulu bersama yang lain dan menyembunyikan buket bunganya, agar Intan tak semakin sedih.


Sesampainya di hall itu, Intan dan Ifa harus berpisah dengan yang lainnya. Karena, ruang tunggu mahasiswa berbeda dengan tempat tamu undangan. Nanti saat acara barulah para siswa dipanggil memasuki hall utama.


Tanpa Intan sadari ternyata Setya bisa datang ke wisuda Intan walau sedikit terlambat, tepat sebelum para siswa dipanggil memasuki hall utama. Saat Intan dan yang lain berbaris dan berjalan memasuki hall utama, Intan kembali mengedarkan pandangannya mencari Setya. Dan dapat dia lihat walau samar, diantara banyaknya tamu undangan, ia melihat Setya datang dan tersenyum padanya. Intan sangat senang melihatnya. Ia pun juga tersenyum ke arah Setya.



Intanku memang yang paling cantik..


Acar wisudapun dimulai dan berjalan lancar. Setelah selesai sekarang waktunya untuk berfoto dengan keluarga dan teman-teman sebagai kenangan. Para tamu undangan dan wisdawan berbaur menjadi satu. Intan kesulitan menemukan Setya. Ia tak lagi bisa melihat Setya diantara kerumunan tamu undangan yang lain.


"Siapa yang kamu cari, sayang?" Tanya ayah bingung.


"Kak Setya, ayah! Tadi Intan melihat kak Setya datang. Tapi, sekarang kenapa Intan gak melihatnya.


"Ayah gak melihatnya dari tadi. Mungkin kamu salah lihat sayang." Jawab ayah menenangkan.


"Sayang, kamu kan bilang kalau Setya membantu pekerjaan ayahnya kan? Jadi, kamu gak boleh bersedih. Lebih baik kamu berfoto dengan teman-temanmu." Ucap bunda lembut.


"Iya bunda." Jawab Intan lesu. Dia berjalan mendekati yang lain untuk berfoto bersama. Intan terus memaksakan senyum diwajahnya.


"Intan cantik. Yuk berfoto denganku. Mumpung pawangmu gak ada. Hehe." Ajak Robby sembari merangkul bahu Intan. Intan baru akan menyingkirkan tangan Robby dari bahunya, tapi ..


"Dimana tanganmu ini kamu letakkan, huh?!" Seru Setya yang tiba-tiba muncul sembari menghempaskan tangan Robby dari bahu Intan. Intan masih terkejut saat melihat Setya di depan matanya saat ini.


"Maaf aku datang terlambat, sayang. Kamu sangat cantik hari ini." Ucap Setya lembut.


"Kak Setya! Aku kira kakak gak akan datang!" Seru Intan sembari memeluk Setya dengan erat.


"Tentu saja aku datang. Kan aku sudah berjanji padamu." Jawab Setya sembari menepuk-nepuk punggung Intan lembut.


"Ehem-ehem."


Setya terperanjat mendengar deheman ayah Intan, apalagi tatapan tajam dari matanya sudah seperti ingin **********.


"Intan sayang, kalau kamu terus memelukku seperti ini. Ayahmu akan mencincangku sebelum aku pulang nanti." Bisik Setya pelan. Intan tersadar dan langsung melepaskan pelukannya. Benar saja, ayahnya sedang menatap tajam pada Setya.


"Hehe. Maaf , habisnya aku terlalu senang." Ucap Intan salah tingkah. Setya begitu gemas melihat tingkah Intan itu. Ia pun mencubit pelan pipi Intan.

__ADS_1


"Huh! Pawangmu sudah datang ... Tunggu! Apa kakak hanya membawa setangkai mawar untuk Intan? Haha. Masih bagus buket bunga dari ayanya Intan tuh." Ejek Robby pada Setya.


Intan melihat ke tangan Setya. Benar saja Setya hanya membawa setangkai bunga mawar merah ditangannya.


"Ini..."


"Sangat cantik. Terima kasih." Jawab Intan memotong ucapan Setya dan mengambil setangkai mawar itu dari tangan Setya.


Robby memutar bola matanya malas mencibir Intan. Setya, hanya tersenyum dan mengelus pelan pipi Intan. Kemudian mereka semua kembali berfoto sebagai kenang-kenangan. Setelah puas berfoto mereka semua bersiap untuk pulang. Saat di parkiran Setya mengajak Intan untuk menuju ke mobilnya.


"Mau kamu bawa kemana putriku?!" Seru ayah Intan geram.


"Sebentar om, ada yang ingin aku berikan untuk Intan." Jawab Setya dengam senyum penuh misteri.


"Kakak punya kejuatan untukku?" Tanya Intan antusias. Setya mengangguk dan menggandeng tangan Intan mendekati mobilnya. Karena, yang lain juga penasaran, mereka pun mengikuti Intam dan Setya dari belakang.


"Maaf sebelumnya aku terlambat. Aku gak sempat membuat buket bunga untukmu. Tapi ..."


"Gak apa-apa kok kak, ini sudah cukup. Lagian yang terpenting adalah kedatangan kak Setya." Ucap Intan lembut sambil menunjukkan setangkai mawar merah dari Setya sebelumnya.


"Dengarkan aku dulu. Dari tadi, kamu terus memotang ucapanku.." Ucap Setya sembari mencubit gemas pipi Intan.


"Hehe. Maaf.." Ucap Intan merasa bersalah.


"Aku memang gak sempat membuat buket bunga untukmu. Tapi, aku langsung memasukkan semuanya kesini." Ucap Setya sembari membuka pintu belakang mobilnya.


Intan membulatkan matanya karna terkejut. Ia melihat jok belakang mobil Setya penuh dengan mawar merah. Bahkan jika semua itu dijadikan buket bunga, bisa lebih dari 2 buket bunga. Yang lain juga terkejut melihat kejutan dari Setya itu. Apalagi Robby, karena sebelumnya ia sudah mengejek Setya. Ayah juga terkejut dan merasa kalah lagi dari Setya.


"Ini ....?"


"Karna aku terburu-buru tadi dan gak mau terlambat ke wisudamu. Aku membeli semua mawar merah di toko bunga dan langsung memasukkannya ke mobil ... Maaf ya.."


"Kenapa kakak minta maaf? Ini lebih bagus dari buket bunga! Aku sangat senang!" Seru Intan dengan senyum lebar diwajahnya.


"Syukurlah, kalau kamu senang." Ucap Setya sembari membelai pipi Intan dengan sayang.


Teruslah tersenyum Intan ...


Karna aku ingin terus melihat senyuman cantikmu ini ...


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2