
Di sudut kafe, Akbi menatap Tara tidak percaya.
Tara baru saja ‘nembak’ untuk jadi pacarnya.
“Gue cinta banget sama lo, Bi. Lo mau kan jadi pacar gue?” Tara penuh harap sambil menggenggam tangan Akbi.
“Ini bukan waktu yang tepat, Ra.”
“Gue mohon jawab sekarang. Karena malem ini gue bakal selesaikan misi. Gue bakal tenang kalo lo udah jawab pernyataan gue. Setidaknya kalo gue udah denger jawaban lo, gue bisa tenang apapun yang terjadi.”
“Tara, lo ngomong apa sih? Gue juga nggak mau lo kenapa-napa. Tapi ini dan itu ya masalah yang beda. Masalah perasaan nggak bisa lo campur dengan misi kita.”
“Apa salahnya sih, Bi? Gue tau lo cinta sama Tari. Dan meski dia udah nggak ada, masih ada gue. Gue yang mirip sama Tari, dan gue yang jauh lebih mencintai lo. Lo pasti inget kan malam waktu anniversary kita, kita jalan berdua di pantai, lo kasih gue kejutan kembang api. Trus lo juga cium gue..”
“Tara! Stop!” Akbi mulai naik darah. “Jangan lo ungkit anniversary gue sama Tari. Karena moment itu ternyata palsu. Gue nggak peduli siapa yang gue peluk, yang gue cium. Karena di benak gue cuma Tari yang gue sayang. Meski kalian kembar, tetep aja kalian beda. Dan begitu tahu kebenaran, gue berusaha menerima kehadiran lo sebagai temen, nggak lebih. Tapi nyatanya lo malah berharap lebih sama gue.”
Tara menggeleng. “Gue nggak bermaksud nipu lo, Bi. Semua Tari yang minta.”
“Apapun itu, gue nggak bisa terima. Dan kalo lo nggak yakin, lo boleh mundur dari misi ini. Gue bisa cari cara lain.”
Akbi beranjak pergi.
Tiba-tiba Tara memeluknya dari belakang.
“Gue nggak mau lo musuhin gue. Kalo cinta yang gue punya salah, gue minta maaf. Gue cuma manusia biasa yang nggak bisa ngehindar dari perasaan itu, Bi. Tolong jangan jauhin gue.”
Akbi cuma bisa diam.
__ADS_1
Pikirannya memang terganggu semenjak bertemu Tara.
Namun sampai sekarang ia belum dapat menerjemahkan perasaan itu.
Tapi setidaknya hatinya tergerak untuk tidak menyakiti perasaan perempuan.
“Udah jangan nangis.” Akbi berbalik menghadap Tara. “Gue nggak akan jauhin lo.”
Tara menatap Akbi, dengan mata sendu. Lalu maju memeluknya erat-erat.
Akbi membalas pelukan Tara.
Meski ia merasa dibohongi, tapi bukan salah Tara sepenuhnya.
Tari juga ikut andil.
Tapi ini semua sudah berlalu.
Walau ia sendiri belum yakin jenis hubungan apa yang akan mereka jalani.
***
Di depan rumah masih ada polisi yang berjaga.
Kekira menyendiri di kamarnya sambil memandangi surat biru dari Akbi kecil.
#Kalau kita bertemu lagi, Akbi akan selalu bersama Kekira
__ADS_1
Akan menjaga Kekira
Karena Akbi suka sama Kekira#
Air matanya menetes lagi.
Dia tidak ingin terus-terusan begini.
Menangis tanpa tidak tahu apa sebabnya.
Yang pasti, hatinya sakit melihat kedekatan Akbi dengan Tara.
Buru-buru dihapus air matanya.
“Ini bukan saatnya santai! Aku harus cari tau siapa penculiknya. Kalo emang aku yang diincar, berarti dia akan datang lagi."
Lagi bingung begitu, HP-nya berbunyi. Ada pesan whatsapp masuk.
Ia kaget melihat foto Akbi dan Tara berpelukan!
Di foto Tara terlihat damai dalam pelukan Akbi.
Caption-nya:
#Kita udah jadian.. jadi lo jaga jarak dari cowok gue.#
Ia memejamkan mata perih, dan menyentuh dadanya yang terasa sakit.
__ADS_1
“Aku harus terima kenyataan kalo Akbi sudah jadi milik Tara.”
***