
Waktu berputar dengan cepat, sampai tak terasa matahari mulai berjalan pulang. Melukis langit biru menjadi keemasan. Kilau cahaya senja itu menerobos masuk melewati kaca jendela dan langsung menyorot Setya. Bagaikan lampu panggung yang menyorot pemeran utamanya. Intan segera bangkit dari duduknya dan menutup jendela dengan gorden untuk menghalangi cahaya senja itu.
"Kak Intan!" Sapa Tasya yang baru saja datang bersama Dika.
"Oh kalian sudah datang, kapan pulangnya?" Tanya Intan mendekati Tasya dan Dika.
Seminggu yang lalu mereka berdua pergi ke luar kota untuk acara perpisahan sekolah. Yah, mereka sudah lulus dari bagku SMA. Dan sebentar lagi mereka akan jadi mahasiswa.
"Baru saja kak. Setelah sampai, kami langsung ke sini. Tasya sangat merindukan kak Setya." Jawab Tasya sembari menatap Setya yang masih terbaring dengan mata terpejam.
"Kak Setya pasti juga merindukanmu." Ucap Intan lembut, sembari mengusap kepala Tasya dengan sayang. Tasya tersenyum kecil mendengarnya.
"Apa kalian sudah makan? Kalau belum, aku akan membelikan kalian makan dulu. Kalian bisa tunggu disini." Tanya Intan perhatian.
"Dika saja yang cari makan kak. Kak Intan disini saja bersama Tasya." Seru Dika cepat.
"Gak perlu, kakak bisa. Kakak bukan anak kecil. Kamu pasti lelah. Istirahatlah dulu, kakak akan segera kembali." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya. Dika hanya bisa mengalah dengan keputusan kakaknya. Baru setelah itu, Intan pergi meninggalkan Tasya dan Dika bersama Setya.
"Kak Setya.. Tasya sudah pulang dari jalan-jalan lho. Lihatlah, kulit Tasya sedikit gelap karna berjemur di pantai. Oh ya, kak Setya, Tasya membelikan sesuatu untuk kakak .. Taraaa... Ini dream chather .. Ini akan menangkap mimpi buruk kakak" Ucap Tasya sembari mengikat hadiahnya di dinding tak jauh dari ranjang Setya.
"Kakak harus cepat bangun! Tidur terus itu gak baik lho. Apa kak Setya juga gak merindukan Tasya?! Hikss ... Tasya, sangat merindukan kakak! Tasya rindu diomelin kakak. Kalau kakak bangun, Tasya janji akan lebih patuh lagi. Hikss ...Tasya juga bakal dengerin semua omelan kak Setya. Tapi, cepat bangun ya kak. Hikss ... Tasya sudah mau jadi mahasiswa lho. Hikss ..."
Tasya tak lagi sanggup menahan air matanya, melihat keadaan Setya yang masih sama seperti setahun yang lalu. Dika pun mendekati Tasya dan memeluknya. Ia mengusap-usap kepala Tasya dengan sayang.
"Kak Setya pasti akan segera bangun. Semua akan baik-baik saja. Bersabarlah." Ucap Dika dengan lembut.
Pelukan Dika selalu bisa menghangatkan dan menenangkan perasaan Tasya. Selama satu tahun ini, Tasya sering kali terpuruk dan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan Setya. Di saat-saat terpuruk itu, Dika lah yang selalu dengan lembut menemaninya dan menghiburnya, hingga perlahan Tasya bisa bangkit. Walaupun, tentu saja kesedihan belum sepenuhnya hilang dari hatinya. Lebih tepatnya hati semua orang.
Langit senja sudah berubah menjadi gelap. Saat mama dan papa Setya tiba di rumah sakit.
"Tasya-Dika, kalian sudah pulang?" Tanya mama sambil mendekati sang putri.
"Iya ma, tadi sore. Lalu, Tasya langsung kesini." Jawab Tasya dengan senyum diwajahnya.
"Oh begitu ... Oh ya, Intan kamu sudah bisa pulang sekarang. Tante dan om sudah datang. Makasih juga untuk hari ini ya, sayang." Ucap mama lembut.
__ADS_1
"Sama-sama tante. Ini juga keinginan Intan sendiri ... Kak Setya, Intan pulang dulu ya. Besok Intan akan kesini lagi." Pamit Intan lembut pada Setya. Yah, walaupun tak ada respon dari Setya tentunya.
"Tasya, mau kak Intan antar pulang juga?" Tawar Intan pada Tasya.
"Enggak perlu kak. Nanti, Tasya akan pulang bersama mama saat jam malam. Makasih, tawarannya kak." Jawab Tasya dengan senyum ramah.
"Baiklah kalau begitu. Om tante, Intan pamit dulu ya. Assalamu'alaikum." Pamit Intan sembari mencium punggung tangan kedua orang tua Setya. Diikuti oleh Dika dibelakangnya.
"Wa'alaikum salam. Hati-hati ya sayang." Ucap mama lembut. Papa juga tersentum ramah pada Intan dan Dika. Intanpun membalas dengan senyuman diwajahnya.
Setelah itu, Intan dan Dika pun pergi meninggalkan ruangan Setya dan menuju ke parkiran.
"Biar Dika yang menyetir kak." Seru Dika sembari mengambil kunci mobil dari Intan.
"Gak perlu, biar aku saja. Kamu baru sampai dari perjalanan jauh. Istirahat saja, aku juga gak mau terjadi apa-apa." Seru Intan memerintah. Dika pun tak bisa lagi mengelak dan akhirnya menuruti sang kakak.
Dika sadar, justru setelah kecelakaan Setya waktu itu, sudah merubah banyak sifat kakaknya. Sekarang, Intan terlihat jauh lebih dewasa. Dia bersikap tenang dan seakan baik-baik saja. Tapi, siapapun tahu kalau sebenarnya dia sangat rapuh saat ini. Hari bahagia yang dinanti beberapa hari, berubah menjadi kesedihan sampai saat ini. Entah, kapan kesedihan ini akan berakhir.
"Assalamu'alaikum." Ucap Intan dan Dika sembari memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam. Sudah pulang? Ayo kesini makan malam." Ucap bunda dengan senyum hangat pada kedua anaknya. Di meja makan juga sudah ada ayah disana.
Setelah itu Dika mencuci tangan dan segera bergabung di meja makan. Intan hanya tersenyum melihat itu, ia juga melakukan hal yang sama dengan Dika.
"Kalau begitu, makan yang banyak. Ini.." Ucap bunda sambil meletakkan banyak luak di piring Dika.
"Tuan putri ayah gak makan?" Tanya ayah bingung saat melihat Intan hanya mengambil sebuah apel.
"Ehm, Intan masih kenyang ayah. Tadi siang, Ifa memaksa Intan untuk makan banyak sekali. Jadi, malam ini Intan makan apel saja." Jawab Intan menjelaskan.
"Banyak itu seberapa sih? Itu kan tadi siang, sekarang sudah malam. Kamu juga harus makan nak." Ucap ayah khawatir
"Benar kata ayah. Apa Intan juga gak kasihan sama bunda yang sudah memasakkan banyak makanan untuk Intan?" Imbuh bunda dengan nada sedih.
"Baiklah-baiklah. Intan akan makan sedikit." Ucap Intan pasrah. Akhirnya, dia mengambil piring dan mengisinya dengan sayur dan lauk saja.
Ayah dan bunda yang ingin kembali menegur pun tak bisa. Karna, Intan juga tak akan mau. Yang paling penting, Intan sudah mau makan walau sedikit saja sudah harus disyukuri. Ayah dan bunda masih mengingat bagaimana keadaan Intan sebulan pertama setelah Setya ditemukan.
__ADS_1
Intan sama sekali tak nafsu makan, istirahat juga berantakan. Intan sudah seperti mayat hidup waktu itu. Bahkan, dia sampai jatuh sakit sampai harus diopname di rumah sakit. Baru, setelah itu Intan perlahan mulai berubah, karna tak mau menambah kesedihan keluarga. Dia berpura-pura baik-baik saja, tapi sebenarnya dia sangat rapuh saat ini.
"Bagaimana keadaan Setya hari ini, sayang?" Tanya bunda lembut.
"Masih sama bunda." Jawab Intan dengan tatapn sendu. Bundapun hanya bisa menunduk sedih.
"Tuan putri sayang.. Ehm, kira-kira sampai kapan ya Setya seperti itu? Maksud ayah sampai kapan Intan akan menunggunya? Sudah satu tahun berlalu dan keadaan Setya masih sama saja ... Menurut ayah, apa mungkin Intan bisa mencoba untuk memulai kehidupan baru ..."
Mendengar ucapan sang ayah Intan langsung menghentikan makannya. Dia tahu kalau orang tuanya mengkhawatirkannya. Tapi, Intan sama sekali tak ada niat untuk meninggalkan Setya.
"Maaf ayah-bunda. Intan sudah selesai makannya. Intan akan ke kamar." Ucap Intan sambil bangkit dari duduknya.
"Sayang, makanannya belum habis lho!" Seru bunda khawatir. Dika juga menatap sang kakak, dia tahu kalau Intan yak nyaman dengan apa yang dikatakan sang ayah.
"Sayang, maafkan ayah kalau buat Intan gak nyaman. Intan bisa lanjutkan makannya dulu." Seru ayah sambil menahan tangan sang putri.
"Maaf ayah-bunda, Intan sudah kenyang ... Dan ayah, Intan memang merasa gak nyaman dengan perkataan ayah barusan. Tak peduli berapa tahun lagi, Intan akan terus menunggunya. Selama Kak Setya masih bernafas, maka bagi Intan keajaiban akan kesembuhan kak Setya masih ada ... Bagaimana, jika Intan meninggalkan kak Setya, lalu tiba-tiba kak Setya bangun, apa yang harus Intan katakan? ... Lagipula Intan juga percaya, kalau saja yang ada diposisi kak Setya itu adalah Intan. Kak Setya juga tak akan pernah meninggalkan Intan. Maaf ayah, untuk kali ini Intan tak bisa menuruti permintaan ayah." Ucap Intan dengan yakin, setelah itu dia benar-benar pergi meninggalkan ruang makan.
Ayah merasa sangat bersalah setelah mendengar penjelasan sang putri. Tapi, bagaimanapun ayah mana yang tak bersedih saat melihat putrinya yang tak bisa bahagia?! Dia hanya bisa berharap saat ini, bahwa keajaiban benar-benar akan datang.
Intan segera memasuki kamarnya dan merebahkan diri diatas tempat tidur, mengistirahatkan tubuh dan perasaannya yang letih. Pandangannya menerawang jauh.
Aku masih yakin dan percaya, bahwa keajaiban akan segera datang ...
Tuhan, ku mohon jangan ambil kak Setya saat ini. Aku dan semua orang yang menyayanginya, masih sangat membutuhkannya ...
Intan memejamkan matanya mengingat Setya yang tersenyum padanya. Perlahan air mata kembali menetes dari pelupuk matanya.
Kak Setya, cepatlah bangun ...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..