Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Calon suamiku


__ADS_3

Setelah pesta malam itu selesai. Semuanya pun kembali pulang membawa sejuta kebahagiaan di hati masing-masing. Terutama pasangan Setya dan Intan tentunya. Senyum lebar tak pernah hilang dari wajah mereka. Saat sudah membersihkan diri dan akan bersiap tidur, malam itu Intan menelpon Setya.


"Hallo, my hero.." Sapa Intan setelah panggilannya diangkat oleh Setya.


"Hallo tuan putri. Apa kamu sudah merindukanku?" Tanya Setya menggoda.


"Ya. Aku merindukan kakak." Jawab Intan dengan jujur. Setya tersenyum lebar mendengar jawaban Intan itu.


"Sabarlah dulu. Setelah kita menikah nanti, kita akan selalu bersama, tanpa resah menanti pagi datang." Ucap Setya dengan lembut.


"Hehehe. Ya aku tahu. Tapi, biarkan aku mendengar suara kakak lebih lama lagi. Aku masih merindukannya." Jawab Intan dengan manja dan senyum lebar.



"Apa aku perlu ke rumahmu dan menculikmu pergi?" Goda Setya.


"Apa perlu?" Tanya Intan menggoda Setya balik.


"Kamu makin nakal saja ya? Aku gak mau buat ayah kamu marah lagi. Kita harus bersabar. Besok pagi aku akan menjemput dan mengantarmu lagi seperti sebelumnya." Ucap Intan dengan lembut.


"Wah, sungguh? Aku akan menantikannya kalau begitu ... Oh, ya besok sepulang kerja kak Setya mau nemenin Intan untuk makan malam bersama rekan-rekan Intan? Sekalian, kakak tunjukin diri, supaya serangga-serangga yang ingin mendekati Intan pergi."


"Apakah ada serangga yang ingin mendekatimu?" Tanya Setya dengan alis berkerut.


"Hm, aku gatau pasti sih. Mungkin saja ada, karna ada beberapa yang gak akan percaya kalau gak ditunjukkan bukti langsung. Aku sudah mengatakan, kalau aku sudah punya tunangan. Tapi, kakak kan tak pernah muncul. Mungkin, ada yang mengira aku berbohong?" Jawab Intan sambil mengangkat bahu tak yakin.


"Baiklah, aku akan datang besok. Biar semua tahu kalau kamu punya tunangan yang sangat tampan sepertiku.." Ucap Setya membanggakan diri.


"Bukan tunangan lagi ... Tapi, calon suami. Hehe." Seru Intan menggoda Setya dengan senyum lebar. Mendengat itu, seketika wajah Setya jadi tersipu. Dia merasa panggilan itu sangat lucu.


"Katakan sekali lagi. Panggil aku sekali lagi seperti itu." Pinta Setya antusias.


"Ih, apa'an sih kak. Hahaha."


"Ayolah, sekali lagi saja." Pinta Setya yang masih bersihkeras ingin Intan memanggilnya dengan sebutan 'calon suami' lagi.


"Ehm, sudah malam aku mau tidur. Dahh ... Calon suamiku." Ucap Intan, kemudian ia langsung menutup telponnya karna malu. Setya sangat senang mendengarnya. Dia langsung merebahkan tubuh dan mengingat bagaimana Intan memanggilnya tadi.



"Imut sekali. Panggilan 'Calon suami' bagus juga. Aku menyukainya." Gumam Setya yang sangat senang dengan panggilan barunya.


...****************...


Keesokan harinya.


"Selamat pagi ayah, bunda, Dika yang tampan!" Sapa Intan pagi itu dengan ceria. Senyum lebar merakah menghiasi wajah cantiknya.


"Pagi sayang. Bahagia sekali kamu.." Seru bunda dengan senyuman juga.


"Tentu saja! Hehe. Intan bahagia sekali." Jawab Intan dengan antusias.


"Kak, kamu sangat lebay. Dari kemarin, kamu terus saja tersenyum seperti itu. Apa mulut kakak gak capek?" Tanya Dika dengan memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Gak tuh. Kenapa sirik aja sih liat aku bahagia?" Seru Intan kesal.


"Ngapain juga aku harus iri dengan kak Intan. Kurang kerjaan banget. Aku hanya mengingatkan saja. Kalau kakak ke sekolah dengan senyum seperti itu terus, murid-murid kakak nanti bisa mengira kak Intan sudah gila!" Seru Dika dengan acuh tak acuh.


"Kenapa begitu? Murid-murdiku itu sangat menyanyingku. Melihatku bahagia, tentu saja akan membuat mereka bahagia juga dong." Jawab Intan membanggakan diri.


"Sudah-sudah. Kalian ini sudah dewasa. Bahkan, kalian ini sama-sama guru. Kalau murid kalian tahu kelakukan kalian di rumah masih sering bertengkar seperti ini apa kata mereka?" Lerai bunda mengingatkan.


"Tapi, bagi ayah tuan putriku tetap masih seorang gadis kecil. Hahhh.. Aku sama sekali tak mengira, kalau gadis kecilku akan berubah jadi dewasa secepat ini. Bahkan, dia sebentar lagi akan meninggalkanku." Ucap ayah sambil menunduk sedih.


"Ayah.. Intan kan sudah bilang, Intan gak bakalan ninggalin ayah. Intan akan selalu jadi putru kecil ayah sampai kapanpun juga." Ucap Intan sambil memelul ayah dari belakang.


"Mulai lagi dramanya." Gumam Dika yang sudah lelah dengan dialog-dialog seperti itu.


Setelah drama singkat pagi hari itu, mereka kembali melanjutkan sarapan bersama dengan penuh kehangatan. Sampai suara bel rumah berbunyi.


"Oh, kak Setya sudah datang! Dika hari ini kamu berangkat sendiri. Mulai hari ini aku akan diantar kak Setya! ... Ayah-bunda, Intan berangkat ya. Assalamu'alaikum." Pamit Intan sebelum berlalu pergi. Bunda hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum diwajahnya.


"Akhirnya, kebahagiaan datang untuk putri kita." Ucap bunda dengan tatapan penuh kehangatan.


"Iya ... Walau, aku sedih akan ditinggalkan olehnya. Tapi, aku juga sangat bahagia melihatnya tersenyum seperti itu. Aku harap dia bisa bahagia dan tersenyum seperti itu selamanya." Ucap ayah dengan lembut. Bunda dan Dika yang mendengar itu juga tersenyum mengiyakan.


Di luar rumah.


"Kak Setya!" Seru Intan saat dia melihat Setya sudah menunggunya dengan bersandar di mobil. Setya langsung tersenyum saat melihat Intan memdekat ke arahnya.


"Selamat pagi, calon istriku. Hari ini kamu sangat cantik." Sapa Setya dengan senyuman manis. Intan sangat terkejut dan tak menyangka, Setya akan memanggilnya seperti itu.


"Kak Setya, apa'an sih. Kenapa menggodaku pagi-pagi?!" Seru Intan dengan menutup wajahnya dengan tangan. Karna, ia tahu pasti kalau wajahnya saat ini pasti sudah semerah tomat.


"Gatau ah. Ayo berangkat aja. Nanti kesiangan!" Seru Intan sambil berlari masuk ke dalam mobil. Setya melihat itu dengan senyum geli.


Setelah itu, Setya segera mengemudikan mobilnya untuk menuju ke sekolah tempat Intan mengajar. Di sepanjang perjalanan, Setya terus menggenggam tangan Intan dengan erat. Sesekali juga ia menciuminya. Mereka berdua sama-sama merindukan momen kebersamaan mereka itu.


Sampai saat di sekolah, Setya dengan sigapnya membukakan pintu untuk Intan. Dan seperti biasa, dimanapun Setya berada, dia tentu akan menjadi pusat perhatian. Begitu juga hari itu. Kedatangan Setya langsung menjadi pusat perhatian murid-murid dan rekan-rekan kerja Intan yang baru datang.


"Pergi kerja yang baik. Jangan lupa makan siang. Nanti, aku akan kesini lagi." Ucap Setya dengan senyum manis pada Setya. Dan itu sukses membuat para gadis menjerit iri dalam hati.


"Iya aku tahu, sudah-sudah. Kakak cepet berangkat aja, banyak yang liatin kak Setya nih." Seru Intan yang melihat banyak mata yang menatapnya.


"Baiklah, sampai jumpa nanti sayang. Aku mencintaimu." Ucap Setya lembut.


"Aku juga cinta kakak. Hati-hati di jalan yaa.." Jawab Intan sambil melambaikan tangannya pada Setya yang mulai mengemudikan mobilnya menjauh dari sekolah.


"Bu.. Bu... Siapa cowok tadi? Bukankah bu Intan pacaran sama pak Dika ya? Kok sekarang sama cowok lain?"


"Iya bu. Siapa dia? Apa ibu udah putus sama pak Dika ya?"


Tanya para siswi Intan. Mereka langsung mengerubungi Intan dengan tatapan ingin tahu. Tapi, dia sama sekali gak menyangka, kalau ada rumor bahwa dirinya dan Dika pacaran? Kenapa bisa?!


"Kalian bisa menyimpulkan ibu pacaran sama pak Dika karna apa?" Tanya Intan bingung.


"Ibu kan tiap hari diantar jemput sama pak Dika. Kalian juga terlihat dekat." Jawab salah satu siswi.

__ADS_1


"Dia bukan mengantar jemputku, tapi kami memang tinggal serumah. Jadi, sekalina sejalan ..."


"Hahh?! Ibu bahkan sudah serumah sama pak Dika? Apa ibu sudah menikah dengan pak Dika?! Tapi bukannya ibu masih tunangan ya?!" Tanya seorang murid lagi yang salah paham dengan jawaban Intan.


Ctakk!!


"Aw! Sakit bu!" Seru siswi itu sambil mengusap keningnya.


"Kenapa kalian bisa berpikiran seperti itu. Kalian sudah salah paham. Ibu dan pak Dika itu saudara. Pak Dika itu adik ibu. Adik kandung! Bukan pacar atau hubungan yang kalian kira itu." Seru Intan menjelaskan.


"Ohhh!!!!" Jawab siswi-siswi itu serempak.


"Hanya 'oh'? ... Haahh. Kalian ini ya, sebelum menyimpulkan sesuatu harusnya dicari tahu dulu dengan benar. Kalau kabarnya salah kan malah jadi berita hoax. Itu juga bisa jadi fitnahan lho. Janji sama ibu gak bakal mengulangi hal itu lagi?" Seru Intan dengan tegas.


"Baik bu. Kami berjanji." Jawab mereka serempak.


"Bagus. Sekarang ayo masuk, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." Ajak Intan pada murid-muridnya.


"Tapi bu.. Berarti cowok yang barusan itu baru tunangan ibu ya?" Tanya salah satu siswinta yang masih saja penasaran.


"Bukan tunangan ... Tapi, calon suami. Kemarin, dia sudah melamar ibu, sebentar lagi ibu akan menikah." Ucap Intan dengan senyum diwajahnya.


"Wahh... Beneran bu?!"


"Keren!"


"Selamat ya bu!"


"Undang kami dong bu di nikahan ibu nanti ya?!"


"Traktiran bu!"


Seru murid-murid Intan bergantian. Walaupun berisik tapi Intan tetap tersenyum senang, karna bisa mendapatkan do'a dari banyak orang.


Kantor guru.


"Wah, bu Intan jadi topik hangat bagi murid-murid nih. Pagi-pagi uda diantar sama cogan aja." Seru bu Lina menggoda.


"Hehe. Maaf, saya juga gak menyangka akan jadi seheboh itu." Jawab Intan merasa malu.


"Gak apa-apa bu, santai aja. Lagian, ibu gak melanggar peraturan juga ... Tapi, kami juga penasaran lho siapa cogan tadi itu." Tanya ibu Lina dan diangguki oleh rekan-reka guru yang lain.


"Oh, itu tunangan yang saya ceritakan. Akhirnya, setelah sekian lama dia bisa kembali mengantar saya lagi." Jawab Intan dengan senyum manis.


"Wahh.. Beruntung sekali bu Intan dapet cogan begitu. Mantapp.. Ajak dia makan malam bersama kita nanti bu."


"Tentu saja. Nanti, saya akan mengenalkannya pada bu Lina dan yang lainnya." Jawab Intan ramah.


Aris yang mendengarkan percakapan itu, mengerutkan dahi tak suka. Ternyata, kabar pertunangan Intan memang benar. Dia sedikit kecewa dengan itu. Tapi, yah mau gimana lagi. Dia juga tak ingin merebut sesuatu yang sudah ada pemiliknya. Apalagi, merusak hubungan orang lain.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2