Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Diluar kendali..


__ADS_3

Akhir pekan itu Intan dan Ifa janjian untuk bersama-sama ke rumah Linda-Dharma untuk mengunjungi baby mereka yang baru lahir satu bulan lalu, tepat setelah acara tujuh bulanannya Ifa waktu itu. Hanya saja, Intan dan Ifa masih sama-sama sibuk, jadi belum bisa menengok keadaan Linda dan babynya secara langsung.


Intan dan Ifa sama-sama diantar oleh suami mereka, tapi Setya dan Bayu tidam bisa ikut masuk. Karna, mereka akan melakukan survey proyek baru. Setya meninggalkan mobilnya di rumah Linda dan Dharma hari itu.


"Kalian berdua tunggu saja disini. Jangan kemana-mana sampai kami datang." Perintah Bayu dengan tegas.


"Kunci mobil aku bawa saja." Imbuh Setya tak kalah tegas.


"Iyaa.." Jawab Intan dan Ifa serempak.


Setelah itu, Setya dan Bayu segera pergi. Sedangkan Intan dan Ifa juga segera masuk ke dalam rumah Linda dan Dharma.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikum salam ... Kalian sudah masuk, ayo silahkan masuk." Ucap Linda antusias.


Intan dan Ifa pun segera masuk ke dalam rumah Linda. Kebetulan Dharma juga sedang keluar hari itu. Jadi hanya ada Linda dan baby mereka di rumah.


"Mana anak kamu Lin? Aku ingin lihat!" Ucap Intan yang sudah sangat ingin melihat anak Linda.


"Dia sedang tidur di ruang tengah. Ayo kita kesana saja." Ajak Linda untuk menuju ke ruang tengah. Disana terlihat ada kasur mini yang diletakkan dilantai. Lalu diatasnya terlihat bayi mungil yang sedang terlelap.


"Waahh.. Lucunya.." Seru Ifa saat melihat baby Linda.


"Siapa namanya Lin?" Tanya Intan sambil mendekati baby Linda dan duduk disebelahnya.


"Namanya Tama, onty." Jawab Linda dengan senyuman.


"Ouh. Dia lucu sekali. Lihat dia terlihat mirip denganmu Lin." Seru Ifa antusias.


"Iya. Katanya kalau anak cowok akan mirip dengan ibunya, kalau anak cewek akan mirip dengan ayahnya." Jawab Linda menjelaskan.


"Wah, berarti nanti baby twin mirip aku ya? Hehe." Ucap Ifa sambil mengelus perutnya.


"Kalau kamu Tan? Belum keliatan ya anak kamu cewek atau cowok?" Tanya Linda pada Intan.


"Belum jelas Lin. Kan masih 3 bulan." Jawab Intan memberitahu.


"Oh iyaya. Tapi, gak masalah. Anak kita nanti bisa jadi teman kayk kita. Aahhh. Membayangkanya saja aku sudah sangat antusias. Hehe." Seru Linda dengan mata berbinar. Intan dan Ifa juga merasakan hal yang sama. Mereka, juga tak menyangka akan hamil di jarak yang berdekatan.


"Lin, kamu kemarin lahiran secara langsung kan ya? Rasanya gimana sih?" Tanya Ifa penasaran.


"Hm.. Kalau aku bilang gak sakit, maka aku bohong. Rasanya sakit sih. Tapi, rasa sakit itu seketika hilang saat aku bisa melihat Tama lahir dan menangis untuk pertama kalinya. Ada perasaan lega dan bahagia yang membanjiri diriku. Sampai aku lupa dengan sakitnya." Jawab Linda menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. Dia masih mengingat jelas momen melahirkannya waktu itu.


"Begitu ya. Sayangnya aku tak bisa merasakan lahiran lnagsung. Terlalu beresiko bagiku kalau melahirkan baby twin secara langsung. Jadi, aku harus operasi." Jawab Ifa merasa sedih.


"Sudahlah, tak apa. Lahiran normal atau tidak itu gak masalah. Yang penting ibu dan anak keduanya selamat. Itu yang paling penting." Ucap Linda bijak.


Sedangkan, Intan masih diam mendengarkan. Dia baru saja mencicipi rasanya hamil. Jadi, dia sama sekali belum kepikiran tentang melahirkan. Beda dengan Ifa tentunya. Jadi, dia masih belum ingin mengmbil pusing hal itu.


Setelahnya, mereka terus melanjutkan obrolan mereka kesana-kemari. Seakan topik tak ada habisnya. Baby Tama juga sampai terbangun. Dan itu dimanfaatkan Intan dan Ifa untuk mencoba menggendong baby Tama. Rasanya lucu, mereka cukup takut saat menggendong Tama, karna mereka bisa merasakan betapa rapuhnya baby tama di usianya saat ini.


Saat sedang asyik mengobrol dan bercanda dengan baby Tama, tiba-tiba Ifa merasakan gejolak di perutnya. Sebenarnya dari tadi pagi dia terkadang merasakan ada gejolak aneh di perutnya. Tapi, setelah itu menghilang jadi Ifa tidak membesarkan itu. Sedangkan saat ini gejolak itu lagi-lagi terasa dan semakin besar.

__ADS_1


"Lin.. Tan.. Perutku.." Ucap Ifa lirih.


"Fa, ada apa?!" Tanya Intan panik.


"Perutku ..." Ifa belum bisa meneruskan kata-katanya karna ia masih kesakitan.


"Tan, sepertinya Ifa mau melahirkan!" Seru Linda yang ikut panik.


"Apa?!" Seru Intan yang sangat terkejut. Dia juga jadi bingung harus melakukan apa.


"Kak Bayu ..." Ucap Ifa lirih.


"Benar! Kita harus menghubungi kak Setya atau kak Bayu." Seru Intan cepat.


Intan segera mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor Setya atua Bayu. Tapi, kedua pria itu sama sekali tak ada yang mengangkat telponnya. Karna, saat itu Setya dan Bayu sedang meninjau proyek baru. Dan ponsel mereka letakkan di mobil.


"Haduh. Mereka sepertinya masih sibuk. Mereka gak ada yang mengangkat telponnya. Kunci mobil juga di bawa oleh kak Setya." Seru Intan panik.


"Ehm, pakai mobilku saja. Tapi, kamu harus hati-hati. Kamu juga sedang hamil ..."


"Intan!!" Seru Ifa saat melihat ada cairan yang keluar dari tubuhnya.


"Gawat! Air ketubannya sudah pecah! Kita harus bergegas ke rumah sakit. Sebelum air ketubannya habis. Itu akan membahayakan untuk bayinya!" Seru Linda yang semakin panik.


Kemudian, dengan bergegas mereka membantu Ifa untuk masuk ke dalam mobil Linda. Linda juga memutuskan untuk ikut menemani Ifa dan Intan, tentu saja dengan mengajak baby Tama juga. Dia duduk dibelakang bersama Ifa untuk menenangkannya. Sedangkan, Intan yang mengemudi.


"Lin, tolong kamu ambil ponsel Ifa dan cari nomor mertua dan mamanya, agar membawa keperluan Ifa untuk melahirkan ke rumah sakit X." Seru Intan disela aktivitas mengemudinya. Jujur sudah lama dia tak mengemudi. Dia sedikit gugup, terlebih di belakang Ifa sedang merintih kesakitan.


"Baik, aku mengerti." Jawab Linda yang dengan segera menghubungi nomor mertua Ifa.


"Hallo sayang, ada apa?" Tanya mama Bayu setelah mengangkat panggilan dari nomor Ifa.


"Hallo tante. Ini Linda, teman Ifa. Tante bisa tolong bawakan perlengkapan melahirkannya Ifa ke rumah sakit X. Saat ini saya dan Intan sedang membawa Ifa kesana. Ifa sudah mau melahirkan dan sudah pecah ketuban juga." Ucap Linda langsung.


"Apa?! Lalu dimana Bayu?!" Tanya mama yang juga mulai panik.


"Kak Bayu dan kak Setya sedang meninjau proyek baru. Mereka, juga tak mengangkat telpon. Jadi, saya dan Intan yang menbawa ke rumah sakit." Jawab Linda menjelaskan.


"Jadi, Intan yang menyetir?!" Tanya mama khawatir.


"Iya tante. Tapi, kami berusaha sebaik mungkin untul berhati-hati. Tante, cepat datang saja yaa.. Oh ya, minta tolong kabari mama Ifa juga ya tante."


"Baik, tante mengerti. Tante titip menantu tante ya. Dan tetap hati-hati. Kesalamatan kalian semua juga sangat penting." Ucap mama Bayu mengingatkan.


"Iya tante. Kami mengerti."


Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Intan segera memanggil perawat untuk membantunya membawa Ifa.


"Tolong, teman saya dok. Dia mau melahirkan dan sudah pecah ketuban sekitar 15 menit yang lalu. Oh ya dok, teman saya hamil anak kembar." Ucap Intan menjelaskan.


"Kalau begitu, kita harus segera melakukan operasi. Apakah tidak ada wali keluarga?" Tanya Dokter sambil menatap Intan dan Linda. Yang satu ibu hamil dan yang satu membawa seorang bayi.


"Kekuarganya masih dalam perjalanan dok. Tapi, tolong selamatkan teman saya dan bayinya dulu dok ..."

__ADS_1


Kring ... Kring ... Kring


"Hallo kak Setya?! Akhirnya kakak menelpon juga." Seru Intan panik dan mulai menangis.


"Ada apa?! Kenapa kamu menelponku dan Bayu dengan sangat banyak?" Tanya Setya khawatir.


"Ifa akan melahirkan kak. Dia sudah pecah ketuban. Karna kalian tadi gak bisa dihubungi, Intan dan Linda yang membawanya ke rumah sakit." Ucap Intan menjelaskan.


"Apa?! Ifa akan melahirkan?!" Seru Setya yang sangat teekejut.


"Apa?! Istriku akan melahirkan?!" Seru Bayu yang tak kalah terkejutnya seperti Setya.


"Iya! Kak Setya, berikan ponselnya pada kak Bayu. Rumah sakit perlu meminta persetujuan keluarga untuk operasi Ifa secepatnya. Orang tua kak Bayu masih belum datang dan Ifa butuh penanganan cepat." Seru Intan memerintahkan.


"Ya, aku mengerti." Jawab Setya sambil memberikan ponselnya pada Bayu.


"Hallo, benarkah ini keluarga dari pasien?" Tanya Dokter pada Bayu.


"Ya dok. Saya suaminya." Jawab Bayu yang juga sangat panik.


"Saya butuh persetujuan anda untuk melakukan operasi pada istri anda. Karna, istri anda tak memungkinkan untuk melahirkan secara langsung." Ucap dokter menjelaskan.


"Ya saya setuju dok. Lakukan apapun untuk menyelamatkan istri dan anak-anak saya." Jawab Bayu langsung.


"Baik. Kami mengerti. Kami akan melakukan yang terbaik." Jawab dokter menenagkan.


Akhirnya, setelah mendapatkan persetujuan dari Bayu, dokter bisa segera mengurus prisedur operasi. Sebelum masuk ke dalam ruang operasi, Intan menghampiri Ifa terlebih dulu. Ifa sudah terlihat sangat pucat dan lemah.


"Kamu harus kuat ya. Kami semua menunggu kamu diluar. Kak Bayu juga akan segera datang. Kamu harus berjuang!" Ucap Intan sambil menggenggam tangan Ifa. Ifa mengangguk dab tersenyum kecil pada Intan.


"Pasien harus segera memasuki ruang operasi." Ucap perawat pada Intan.


"Ya. Tolong lakukan yang terbaik untuk teman saya." Ucap Intan sebelum Ifa benar-benar masuj ke dalam ruang operasi.


"Ifa gadis yang kuat. Dia pasti bisa. Kita do'akan saja dari sini." Ucap Linda mendekati Intan.


Tiba-tiba, Intan juga merasakan sakit di perutnya.


"Awww!!" Pekik Intan kesakitan.


"Ada apa Tan?!" Tanya Linda panik.


"Perutku ..." Ucap Intan lirih.


"Tan, darah?!" Seru Linda yang terkejut saat melihat darah mengalir di kaki Intan. Intan juga terkejut dibuatnya, sampai akhirnya dia hilang kesadaran.


"Intan, tolong!!"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2