
Semua orang masih berbahagia dan bersuka cita untuk Intan dan Setya karna kehamilan Intan. Setya sendiri juga jadi lebih posesif pada sang istri. Apalagi, dia juga masih terbawa bawaan bayi yang ingin selalu menempel dan bermanja dengan Intan.
Bukan hanya itu, kini Setya juga menggantikan Intan untuk mual-mual dan tidak nafsu makan di pagi hari sebagai efek awal kehamilan. Sedangkan, Intan sendiri nafsu makannya cukup meningkat dari biasanya.
"Kak Setya, gak apa-apa? Mau cuti dulu kerjanya?" Tanya Intan yang cukup prihatin dengan keadaan Setya. Setiap pagi dia akan mual dan tak bisa mencerna makanan apapun.
"Aku gak apa-apa. Nanti kalau sudah agak siangan aku pasti sudah membaik. Haahh.. Aku sangat bersyukur, kalau aku saja yang mengalami mual-mual seperti ini. Aku gak tega bayangin kamu harus mual-mual begini, padahal sedang ada baby di perut kamu." Ucap Setya perhatian. Intan tersenyum mendengar ucapan sang suami. Dia merasa sangat dicintai oleh Setya saat ini.
"Makasih ya kak. Kamu adalah suami dan calon ayah yang terbaik!" Ucap Intan sambil berhambur ke pelukan sang suami.
"Aku juga berterima kasih, karna kamu adalah istri dan calon ibu dari anak-anakku." Ucap Setya tak kalah lembut.
Setelah itu, mereka kembali bersiap untuk segera berangkat menuju kantor masing-masing. Setya tentunya terus mengantar jemput Intan dan selalu menyempatkan waktu untuk makan siang bersama. Seakan Setya ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan Intan setiap detiknya.
Tak lupa Setya juga terus menyammpaikan nasehat pada Intan. Untuk hati-hati saat naik tangga. Jangan lari, jangan angkat berat, jangan terlalu capek, jangan sampai stress dan masih banyak pesan lagi. Intan tak mengeluh dan mendengarkan semua pesan sang suami. Karna, Intan tahu itu semua untuk kebaikannya dan calon baby mereka.
"Hati-hati ya sayang. Sampai jumpa saat jam makan siang nanti ... Anak ayah, jangan nyusahin bunda ya. Jadilah anak yang baik. Nanti ayah akan datang lagi." Ucap Setya lembut pada Intan dan baby nya.
"Iya ayah. Aku akan jadi anak baik." Jawab Intan dengan menirukan suara anak kecil.
Kemudian, Setya dengan lembut mencium perut dan kening Intan bergantian. Barulah setelah itu Setya segera menuju ke kantornya.
"Setya, gimana kabar menantu dan calon cucu papa hari ini?" Tanya papa saat melihat Setya baru datang.
"Tentu saja baik lah. Kan ada Setya." Jawab Setya membanggakan dirinya.
"Haaahh.. Dasar! Tapi, baguslah kalau begitu."
"Oh ya, apa papa dulu juga pernah gantiin mama untuk menghadapi gejala awal kehamilan seperti Setya sekarang?" Tanya Setya penasaran.
"Enggak. Mama kamu yang merasakan semuanya. Padahal, papa berharap bisa berbagi beban seperti kamu sekarang. Mangkannya, kamu harus bersyukur, kamu jadi bisa lebih menghargai istri kamu." Ucap papa bijak.
"Papa benar. Bukan hanya Intan, tapi Setya jadi lebih bisa menghargai semua wanita yang akan menjadi ibu di dunia ini. Termasuk mama dan Tasya." Jawab Setya dengan senyum di wajahnya. Papa juga ikit tersenyum bangga pada Setya.
"Kalau sekarang, kamu lagi gak mau makan sesuatu?" Tanya papa pengertian.
"Enggak sih. Kalau pagi gini, Setya masih sering mual. Jadi, gak nafsu makan. Tapi, nanti agak siangan mulai normal." Jawab Setya memberitahu sang papa.
"Baiklah. Kalau mau makan sesuatu, langsung katakan saja. Papa mau kok direpotkan, demi calon cucu papa." Ucap papa dengan senyum di wajahnya.
"Ok, nanti Setya kabari papa, kalau Setya ingin makan sesuatu." Jawab Setya dengan senyuman.
Kemudian, Setya dan papa segera menuju ke ruangannya masing-masing.
"Bay, kenapa wajahmu agak murung begitu? Lagi dijauhin Ifa lagi?" Tanya Setya saat melihat Bayu tengah termenung di mejanya.
"Enggak. Aku hanya sedikit cemas tentang Ifa dan baby twin." Jawab Bayu dengan masih terlihat murung.
"Memangnya ada apa dengan mereka?" Tanya Setya penasaran.
__ADS_1
"Kehamilan Ifa sudah mau masuk bulan ke delapan. Dan sekarang ini sangat rawan. Karna, kehamilan kembar itu lebih berpotensi besar untuk lahir prematur. Ifa saja sudah cukup sedih, karna tak bisa melahirkan secara normal karna kondisinya dan baby twin. Aku jadi ikut cemas juga menanti kelahiran baby kami." Jawab Bayu menjelaskan.
"Aku gak tahu harus berkata apa saat ini. Karna, aku belum merasakan ada di posisimu. Tapi, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Baik Ifa atau baby twin, mereka pasti akan baik-baik saja." Ucap Setya menenangkan. Dia memang belum merasakan ada diposisi Bayu, tapi melihat ekpresi dan nada bicara Bayu, Setya bisa merasakan bagaiman cemasnya Bayu saat ini.
Bayu sendiri hanya bisa tersenyum kecil. Dia tak menyalahkan, Setya yang tak bisa menghiburnya. Karna memang Setya belum merasakan ada diposisinya. Bayu hanya bisa berdo'an kalau Tuhan akan selalu melindungi istri dan anaknya.
Saat jam istirahat, Setya dan Bayu bergegas menuju ke tempat kerja istri mereka masing-masing. Sebelum itu, setiap hari bunda atau mama akan mengirimkan makanan sehat untuk Intan dan Setya. Jadi, mereka tak perlu bersusah payah masak ataupun beli dari luar. Kesehatan Intan dan baby sangat diperhatikan oleh kedua keluarga. Intan dan Setya juga tak melarang hal itu. Karna, mereka tahu itu kebahagiaan tersendiri bagi orang tua mereka.
"Kak Setya uda gak mual?" Tanya Intan saat mereka makan siang itu.
"Sudah enggak. Justru, aku sangat lapar sekarang." Jawab Setya sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya. Porsi makan Setya dan Intan cukup bertambah dari sebelumnya.
"Kak Setya, kalau Intan jadi gemuk kayak Ifa sekarang gitu gimana? Intan pasti kelihatan jelek kan? Kak Setya gak bakalan ninggalin Intan kan?" Tanya Intan panjang lebar. Dia sangat takut Setya ilfeel melihatnya yang gemuk. Dan akhirnya gak cinta lagi sama dia.
"Kamu bicara apa sih sayang?! Kamu gemuk kan juga karna sedang hamil anak kita. Lagian, bagaimanapun bentuk tubuh kamu, aku gak mempermasalahkan itu ... Kamu juga lihat kan porsi makan aku sekarang? Kamu tenang saja, karna bukan hanya kamu yang akan jadi gemuk, aku akan ikut gemuk bersama kamu." Ucap Setya lembut.
"Hmm. Makasih.. I love you. Muachh!" Ucap Intan sambil mencium pipi Setya sekilas.
"Lagi, sebelah sini belum sayang?" Goda Setya sambil.menunjuk bibirnya.
"Gak boleh! Kita masih di lingkungan sekolah sekarang." Tolak Intan tegas.
"Hahh, baiklah." Jawab Setya pasrah
...****************...
Malam harinya, setelah makan malam tiba-tiba Setya ingin makan sesuatu. Dia sangat ingin, tapi juga takut untul mengatakannya.
"Eng ... Itu ..."
"Kakak mau sesuatu?" Tebak Intan dan langsung membuat Setya terkejut, karna Intan bisa mengetahuinya.
"Aku sebenarnya, ingin makan sesuatu." Jawab Setya sambil melirik Intan.
"Makan apa?" Tanya Intan lembut.
"Aku ingin jagung bakar. Tapi ..."
"Tapi apa?" Tanya Intan penasaran.
"Aku ingin ayah yang bakarin." Jawab Setya takut-takut.
"Hahaha. Jadi, itu yang buat kak Setya jadi takut bilang?" Tanya Intan merasa geli.
"Iya. Aku gatau deh, reaksi ayah kalau aku minta dibakarin jagung. Jangan-jangan ntar aku malah yang di bakar." Ucap Setya dengan tatapan ngeri sambil membayangkan wajah mertuanya.
"Ya ampun kak, ayah gak bakal gitu lah. Ayah pasti tau keingan kakak sekarang itu karna baby kita. Calon cucunya. Aku yakin, ayah pasti akan mengabulkannya ... Sebentar ya, aku akan menghubungi ayah." Ucap Intan lembut menenangkan sang suami.
Kemudian, Intan segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor sang ayah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ayah." Ucap Intan setelah sang ayah mengangkat panggilannya.
"Wa'alaikum salam, tuan putri ayah." Jawab ayah dengan lembut.
"Ayah sedang apa sekarang?" Tanya Intan basa-basi.
"Ayah sedang santai aja bersama bunda setelah makan malam sayang. Ada apa?" Tanya ayah lembut.
"Ayah ... Ayah tahu kan kalo kak Setya itu sekarang lagi ngidam gantiin Intan."
"Ya sayang, ayah tahu. Kenapa memangnya?" Tanya ayah bingung. Kenapa tiba-tiba putrinya mengatakan hal itu.
"Nah, itu. Kak Setya ada permintaan sekarang. Kak Setya ingin makan jagung bakar ..."
"Dia nyuruh kamu beliin jagung bakarnya?" Potong ayah khawatir.
"Enggak gitu. Kak Setya ingin makan jagung bakar, tapi yang dibakarin sama ayah. Ayah mau gak bakarin jagung buat kak Setya?" Tanya Intan dengan nada manja.
"Haahh.. Ada-ada saja anak itu. Tapi, tentu saja gak apa-apa. Ayah akan ke rumah Intan sambil bawa jagung. Nanti kita bakar jagungnya di rumah Intan bareng-bareng yaa.." Ucap ayah lembut.
"Benarkah? Wahh.. Makasih ayah. Nanti, ayah sekalian menginap di rumah Intan aja yaa.." Seru Intan antusias.
"Baiklah. Tunggu ayah yaa.." Ucap ayah lembut.
"Siap ayah. Hati-hati di jalan ya. Sayang ayah."
...****************...
Tak berselang lama, ayah, bunda dan Dika pun sampai di rumah Intan. Sebelumnya, sembaru menunggu kedatangan ayah, Setya dan Intan sudah menyiapkan alat untuk membakrnya. Begitu juga dengan toping dari jagungnya nanti.
"Ayah, makasih ya uda mau repot-repot kesini dan bakarin jagung untuk Setya. Hehe." Ucap Sstya disamping mertuanya yang tengah membakar jagung untuknya.
"Aku melakukan ini bukan karnamu, tapi karna cucuku." Jawab ayah cepat dengan nada dingin.
"Terserah ayah deh, pokoknya bagi Setya ayah mau bakarin jagung untuk Setya." Ucap Setya santai. Ayah tak lagi menjawab dan membiarkan Setya meyakini pemikirannya sendiri.
Setya terus menatap jagung yang masih dalam proses dibakar oleh mertuanya dengan mata berbinar tak sabar untuk memakannya. Intan yang melihat bagaimana tingkah Setya, hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala ringan.
"Nih, makan yang banyak. Jangan sampe cucuku jadi ileran." Seru ayah sambil memberikan jagung bakar yang sudah matang pada Setya.
"Wahh. Makasih ayah." Seru Setya senang. Kemudian, Setya dengan lahap memakan jagung bakar dari mertuanya dengan lahap.
Aku jadi penasaran, baby bunda ini laki ato perempuan ya? Hmm ... Ucap hati Intan sambil mengelus perutnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..