Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Tekad Widia


__ADS_3

Seorang gadis cantik terlihat tengah merias diri di depan cermin dalam kamarnya. Dia memoleskan lipstik bewarna merah ke atas bibir pucatnya. Style yang dia gunakan memang terlihat dewasa.


Kring ... Kring ... Kring


"Hallo?" Sapa gadis itu.


"Hallo Wid. Uda siap belum? Kita uda di depan rumah mu nih." Ucap seseorang dari seberang telpon.


"Baiklah, aku akan turun sekarang." Jawab gadia itu yang tak lain adalah Widia.


Sebelum turun dia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Lalu, dia mengambil tas tangannya dan segera dia mulai berlenggok untuk turun menemui teman-temannya. Malam itu dia ada janji makan malam dengan teman-teman sosialitanya.


"Pa, Widia pergi makan malam bersama teman-teman dulu ya. Sampai jumpa lagi nanti." Pamit Widia pada sang papa yang sedang bersantai di ruang tengah.


"Ya. Hati-hati dan jangan terlalu malam kalau pulang." Seru sang papa pada Widia yang hampir menghilang dari pintu.


Widia memang sudah terbiasa pulang larut malam atau bahkan dini hari saat keluar dengan teman-temannya. Dan sang papa paling-paling hanya menegurnya saja.


"Sorry lama. Yuk, kita berangkat." Seru Widia setelah memasuki mobil teman-temannya. Di dalam mobil sudah ada tiga gadis lain yang merupakan teman Widia.


"Okey, kita berangkat!" Seru Agnes yang kebagian memegang kemudi hari itu.



Tak lama kemudian, mereka berampat sampai di sebuah restoran mewah. Mereka segera berlenggok untuk memasuki restoran dan memilih tempat duduk. Widia mengedarkan pandangannya ke arah isi restoran. Pandangannya terkunci pada sosok tampan yang dia temui tadi pagi.


Senyum kecil muncul dibibirnya. Namun, saat Setya berdiri dan berpindah duduk di sebelah Intan, kemudian menghujani seluruh wajah Intan dengan ciuman, Widia merasa tak suka. Dia mencengkram taplak meja dengan kuat. Ia juga menggertakkan gigi dan mendelik tak suka melihat perlakuan manis Setya pada Intan.


"Siapa wanita itu?! Apa dia kekasihnya?!" Gerutu wanita itu yang tak lain adalah Widia.


"Wid? Kau kenapa?!" Tanya Agnes yang melihat ekpresi kesal di wajah Widia.


"Apakah kau melihat pasangan disana?" Tanya Syifa sambil melihat Setya dan Intan yang terlihat sangat bahagia.


"Apakah mereka terlihat seperti pasangan?! Apakah wanita disebelahnya itu tak terlalu kumuh untuk bersama pemuda tampan itu?!" Cibir Widia dengan sombongnya.


"Hmm. Wanita itu memang terlihat sederhana. Tapi, ku rasa dia juga cukup cantik." Timpal Della sambil memperhatikan Intan.


"Huh?! Tapi dibandingkan denganku, apa dia selevel?!" Seru Widia dengan seringai diwajahnya.


"Ya, beda sih memang. Tapi, kenapa kau sangat memperdulikan siapa gadis itu. Apakah kau mengenal mereka?" Tanya Agnes bingung.

__ADS_1


"Aku baru bertemu dengan pemuda itu tadi pagi. Dia baru saja menandatangi kontrak kerja sama dengan papaku. Dia sangat tampan dan benar-benar tipeku. Aku sudah bertekad untuk mengejarnya. Tak ku sangka ternyata dia sudah punya kekasih." Jawab Widia dengan pandangan yang masih melekat pada Setya.


"Kau benar, pemuda itu memang sangat tampan." Puji Della yang juga terpesona dengan ketampanan Setya.


"Ku rasa, kau masih bisa mengejar pemuda itu jika kau mau. Dengan kecantikan dan kekuasaanmu ku rasa gak ada yang gak mungkin. Lagian, sepasang kekasih juga bisa berpisah suatu saat nanti." Usul Syifa dengan senyuman diwajahnya.


"Hmm. Kau benar juga. Baiklah, akan ku lihat. Apakah dia bisa menolak pesonaku." Seru Widia menyombongkan diri.


Di lain sisi, baik Setya atau Intan tak menyadari kalau mereka akan menghadapi ujian baru lagi di hubungan mereka.


"Kamu uda kenyang atau mau pesan sesuatu lagi?" Tanya Setya lembut. Dia menyandarkan kepala Intan di bahunya.


"Sudah sih kak. Tapi, gatau lagi nanti. Hehe."


"Yasudah, kalau gitu kita langsung ke mall saja untuk beli baju. Nanti keburu malem. Angin malem gak baik buat kamu dan baby kita." Ucap Setya sembari membelai lembut perut Intan.


Widia tak bisa melihat apa yang dilakukan dan katakan Setya dari tempatnya. Karna, posisi Setya membelakanginya dan jaraknya cukup juah.


"Baiklah. Kakak bayar dulu makannya. Aku mau ke toilet sebentar." Ucap Intan sembari bangkit dari duduknya.


"Baiklah. Hati-hati yaa.." Pesan Setya perhatian. Intan membalas dengan anggukan diwajahnya.


Kemudian, Intan segera ke kamar mandi. Widia sengaja mengikuti Intan ke kamar mandi. Setelah Intan selesai dengan urusannya, dia mencuci tangan dan sedikit merapikan riasanya. Di sana juga ada Widia yang melakukan hal yang sama. Widia memperhatikan style pakaian dan produk kecantikan yang dimiliki oleh Intan. Semua tidaklah selevel dengannya.


"Nilai dari seorang wanita bukan dilihat dari seberapa mahal produk yang ia kenakan. Tapi, bagaimana sikap dan lisannya. Lagian, harga tak menentukan kebahagiaan seseorang." Seru Intan tepat di samping Widia sebelum dia pergi.


"Wanita sialan! Lihat saja, akan aku pastikan kau menangis karna kekasihmu akan memilihku!" Seru Widia setelah Intan keluar dari kamar mandi.


Setya sudah selesai melakukan pembayaran. Dia menunggu Intan di dekat pintu masuk. Ia mengerutkan dahinya, saat ia melihat Intan datang dengan ekpresi kesal.


"Kamu kenapa sayang? Kenapa ekspresimu begitu?" Tanya Setya bingung.


"Gak ada apa-apa. Hanya bertemu dengan orang aneh." Jawab Intan yang masih terlihat kesal.


"Orang aneh? Pria atau wanita? Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Setya khawatir.


"Aku gak apa-apa kok kak. Akan aku ceritakan di jalan nanti. Aku uda gak mood disini." Ajak Intan dengan nada manja. Akhirnya, Setya mengikuti permintaan sang istri. Saat si jalan, Intan menceritkan kejadian di kamar mandi tadi Setya.


"Perangai wanita itu buruk sekali. Sepertinya dia gak sepenuhnya bahagia dengan kehidupan mewahnya." Ucap Intan yang sudah tak sekesal tadi.


"Apa kamu mau beli produk mahal seperti dia sayang? Aku sanggup membelikan apa yang dia punya untuk kamu ..."

__ADS_1


"Kak Setya apa'an sih. Kak Setya ikut aneh deh. Aku gak butuh barang mahal seperti itu. Kalau yang sederhana saja sudah bagus kenapa harus beli yang mahal?! Lebih baik uangnya ditabung untuk masa depan atau kita sedekahkan ke orang yang lebih membutuhkan." Ucap Intan memotong ucapan Setya.


Setya sebenarnya tau, kalau sang suami juga bisa memberikan seauatu yang mahal untuknya. Tapi, dia yang gak mau. Menurutnya itu sia-sia, kalau secara manfaat dan kegunaan sama saja.


"Iya maaf. Aku terbawa emosi tadi. Aku hanya gak suka kalau istriku dihina seperti itu. Aku ingin menunjukkan pada semua orang kalau kebahagiaan kamu adalah yang utama bagiku, sayang." Ucap Setya merasa bersalah.


"Gak apa-apa kok kak. Intan memang senang jika kak Setya ingin menunjukkan betapa kak Setya mencintai Intan pada semua orang ... Tapi bagi Intan, kalaupun hanya Intan yang tahu. Itu sama sekali gak mengurangi kebahagiaan Intan. Karna, yang paling tahu seberapa besar cinta kita hanyalah Intan dan kak Setya." Ucap Intan dengan lembut.


"Kamu benar. Haahhh.. Aku beruntung sekali dapat istri yang baik hati dan sangat mencintaiku begini. Perasaanku pada kamu tiap hari makin besar aja rasanya." Ucap Setya sambil mencium tangan kanan Intan yang sedang ia genggam.


"Aku juga sangat beruntung bisa dapat suami yang sangat perhatian dan mencintai Intan dengan sangat banyak!! Intan juga semakin dan semakin mencintai kakak." Ucap Intan dengan senyum manis.


...****************...


Tak berselang lama akhirnya mereka sampai di mall. Kebetulan yang menjual perlengkapan ibu hamil ada di lantai atas. Sehingga, Setya dan Intan harus meniaki eskalator. Dengan perhatian, Setya terus menggenggam tangan Intan. Dia membiarkan Intan melangkah lebih dulu. Sehingga, Setya melindungi Intan dari belakang.


"Kenapa kamu senyum-senyum lihatin aku begitu?" Tanya Setya pada Intan.



"Sumaiku sangatt tampan!" Puji Intan dengan senyum lebar.


"Hahaha. Kelihatannya kamu masih belum terbiasa dengan ketampanan suamimu ini ya?" Ucap Setya yang merasa geli dengan ucapan Intan.


"Sepertinya, sampai kapanpun aku akan terus terpesona pada kakak deh."


Setelah itu mereka berdua terus menggoda, sembari memilih beberapa baju hamil untuk Intan. Intan terlihat sangat antusias menunggu perutnya benar-benar membesar nanti. Termasuk pergerakan dari sang baby.


"Kak, aku gak sabar ngerasain tendangan-tendangan baby kita nanti." Ucap Setya sambil memegang perutnya.


"Aku juga masih penasaran, baby kita ini seorang pangeran atau tuan putri?" Ucap Setya dengan ikut menyentuh perut Intan.


"Nanti, kita cek lagi kalau usia kandungan Intan uda lebih besar kak." Jawab Intan dengan senyum kecil. Setya mengangguk dan ikut tersenyum.


Kemudian, setelah puas berbelanja. Apalagi Intan sudah terlihat mulai lelah. Mereka pun memutuskan untuk pulang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2