Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Kejujuran adalah hal dasar dari sebuah hubungan


__ADS_3

Sudah diputuskan, hari pertama belajar kelompok akan diadakan di rumah Intan.


"Bunda, nanti sepulang sekolah ada beberapa teman Intan yang ke rumah untuk belajar bersama." Ucap Intan memberitahu sang bunda pagi itu.


"Benarkah? Sampai makan malam disini atau tidak?" Tanya bunda memastikan.


"Sepertinya begitu bunda. Apa boleh?" Tanya Intan memastikan.


"Tentu saja boleh sayang. Nanti bunda siapkan." Ucap bunda lembut.


"Oh ya ayah-bunda, 2 minggu menjelang UTS ini Intan akan belajar kelompok saat pulang sekolah. Dan kami sepakat untuk melakukannya bergilir. Hari ini di rumah kita. Besok di rumah Ifa, dst. Jadi, Intan akan pulang telat terus. Boleh ya?" Tanya Intan penuh harap.


"Selama itu hal yang positif tentu saja ayah-bunda gak masalah." Jawab ayah lembut.


"Makasih ayah ... Oh ya, ayah dan bunda tidak perlu khawatir. Intan akan belajar dengan giat dan membuktikan pada ayah - bunda kalau pacaran sama sekali tidak mempengaruhi nilai Intan. Bahkan, kak Setya dan kak Bayu juga ikut dalam belajar kelompok nanti." Ucap Intan antusias.


"Itu sih modusnya dua bocah itu untuk mendekatimu dan Ifa, sayang." Gerutu ayah kesal. Nampak wajahnya ditekuk setelah tahu kalau Setya dan Bayu juga ikut dalam belajar kelompok.


Intan tak menjawab dia hanya menatap ayahnya dengan senyum geli. Walaupun sudah memberi izin, tapi ayahnya ini masih tetap saja iri dan belum rela kalau dirinya dibagi dengan lelaki lain. Tapi, Intan tetap mengerti kalau itu bentuk kasih sayang sang ayah.


...****************...


Sepulang sekolah ..


"Oh ya, aku lupa memberitahu kalau kak Setya dan kak Bayu juga ikut dalam belajar kelompok kita." Ucap Intan memberitahu saat mereka hendak berangkat ke rumah Intan.


"Huh?! Untuk apa dua senior itu ikut? Pelajaran kita sama mereka kan beda." Seru Toni sinis.


"Tapi, kami bisa membantu kalian kalau ada yang tidak dimengerti. Nilai kami cukup bagus dan pelajaran kalian sudah kami lewati. Apakah kami masih tidak ada alasan untuk ikut bergabung?" Tanya Setya dengan tatapan tajam pada Toni.


"Aku sih gak masalah." Jawab Linda santai.


"Aku juga." Tambah Dharma.


Toni tentu saja kalah suara dan penolakannya tak beralasan. Dia seperti dipojokkan seorang diri. Menyebalkan.


Akhirnya, mereka segera berangkat ke rumah Intan.


"Assalamu'alaikum. Bunda Intan pulang." Ucap Intan, memanggil sang bunda.


"Assalamu'alaikum." Ucap yang lain serempak.


"Wa'alaikum salam. Wah, rame sekali." Seru bunda antusias saat melihat banyak muda-mudi yang datang.


"Bunda, masak apa hari ini?" Tanya Ifa antusias tanpa malu. Dia memang sudah sangat akrab dengan orang tua Intan. Sudah dianggap anak sendiri. Mangkannya dia berani bertanya seperti itu. Dan ini pun berlaku juga untuk Intan ketika di rumahnya.

__ADS_1


"Tenang saja. Bunda sudah masak banyak buat semua nanti." Ucap bunda ramah.


"Tante gak usah repot-repot." Seru Linda yang meresa tak enak karna melihat betapa baiknya bundanya Intan. Tanpa, bundanya tahu kalau dirinya pernah mencelakai Intan. Intan melihat raut wajah Linda yang berubah.


"Tenang saja, itu sudah jadi motto keluarga kami kok. Kalau kami tak akan mebiarkan perut tamu kosong saat pulang. Tanya saja pada Ifa, kak Bayu dan kak Setya. Mereka pernah makan disini. Apalagi Ifa, dia sering menginap malah." Seru Intan menunjukkan fakta yang ia harap akan membuat Linda menjadi nyaman kembali.


"Iya benar kata Intan. Tante sama sekali tidak merasa repot. Kalian fokus belajar saja ya. Intan langsung ajak mereka ke atas saja." Ucap bunda lembut.


"Baik, bunda ... Yuk, kita langsung ke atas dan mulai belajar saja." Ajak Intan.


Akhirnya, mereka segera naik ke atas mengikuti Intan. Setelah mereka sampai di lantai dua, mereka diarahkan Intan untuk ke ruang tengah lantai tersebut. Disana ada sofa panjang, meja dan televisi, juga seperangkat DVD dan konsol game milik Dika. Di samping ruang tengah itu ada dua kamar dengan pintu yang berbeda warna. Satunya bewarna ungu muda milik Intan dan disebelahnya bewarna putih milik Dika.


"Hm, aku merasa tak nyaman jika harus mengenakan seragam. Aku akan berganti pakaian santai dulu. Kalian bisa memulainya dulu." Ucap Intan sembari berdiri di depan pintu kamarnya.


"Aku pinjam bajumu." Seru Ifa yang mengikuti Intan yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Linda, apakah kamu juga mau meminjam bajuku?" Tawar Intan pada Linda.


"Ah, tidak usah. Tapi, apakah aku juga boleh ikut ke kamar mu?" Tanya Linda malu-malu.


"Tentu. Baiklah yang cowok-cowok belajar dulu saja ya. Kami tidak akan lama." Seru Intan sebelum menutup pintu kamarnya.


"Aku tak habis pikir kenapa para wanita tuh ribet banget." Gumam Toni sambil menggelengkan kepala pelan. Dharma hanya tersenyum kecil.


Dia memang sangat suka warna ungu. Sekilas tadi aku melihat kamarnya serba ungu..


Kalau boleh rasanya ingin ikut masuk ke sana, aku ingin melihat kamar Intan.. Setya.


"Kak, kau sedang memikirkan apa? Kenapa tersenyum sambil menatap kamar Intan? Apakah kau sedang berpikiran mesum?" Seru Toni pada Setya.


"Apa? Tentu saja tidak!" Seru Setya menolak keras.


"Ada apa?" Tanya Intan yang sudah keluar dengan pakaian santainya.


"Tidak apa. Yuk kita mulai." Ajak Setya sambil menepuk tempat disampingnya sebagai isyarat agar Intan duduk disana. Dengan senang hati Intan duduk disebelah Setya. Posisi Intan berada ditengah-tengah antara Setya dan Toni.


Belajar pun segera di mulai. Mereka mengerjakan beberap soal latihan, lalu membahasnya bersama.


"Aku masih gak paham sama rumus ini deh. Ribet banget!" Gerutu Toni yang melihat salah satu pengerjaannya salah dengan rumus yang digunakan.


"Rumus mana?" Tanya Intan melihat pengerjaan Toni. Kemudian, Toni menunjukkan pengerjaannya.


"Oh rumus ini. Awalnya, aku juga bingung tapi kalau kamu sudah memahami logikanya, maka akan mudah. Biar ku buatkan analogi yang mudah untukmu." Ucap Intan mulai membantu Toni. Setya menatap Intan dan Toni dengan tatapan tak suka. Sepertinya dia cemburu melihat kedekatan mereka berdua.


"Hei, kalau kau terus menatap mereka seperti itu, mereka pasti akan terbakar!" Bisik Bayu mengejek Setya.

__ADS_1


"Janga sok senang. Kau belum merasakan ada diposisiku." Gerutu Setya kesal.


Setelah selesai membantu Toni, Intan kembali fokus ke pengerjaannya sendiri. Ia melirik sekilas pada Setya disebelahnya. Intan melihat wajah Setya yang terlihat cemberut dengan bingung.


Ada apa ya dengan kak Setya? ... Intan


...****************...


Tak terasa hari sudah berubah menjadi gelap. Belajar kelompok akhirnya juga selesai.


"Intan, makan malam sudah siap. Ajak teman-teman turun untuk makan." Panggil bunda dari lantai bawah.


"Iya, bunda." Jawab Intan.


"Yuk, kita makan malam. Setelah makan malam kalian baru boleh pulang, ok?" Seru Intan tak mau dibantah.


Semua orang mulai mengemasi barang dan bergegas turun. Intan masih membereskan buku-bukunya. Ia sengaja memperlambat aktivitasnya sampai semua sudah turun kecuali Setya yang masih menunggunya.


"Kakak kenapa wajahnya cemberut lagi?" Tanya Intan sambil memegang kedua pipi Setya.


"Apakah terlihat begitu?" Tanya Setya gugup, ia tak menyangka Intan memperhatikannya.


"Ya, sangat jelas." Ucap Intan yakin.


"Aku cemburu. Tadi, kamu dan Toni terlihat sangat dekat. Maaf aku lagi-lagi terlalu protekstif ya?" Jawab Setya jujur. Inilah salah satu sifat Setya yang disukai oleh Intan. Setya sangat terbuka dan jujur padanya. Dia sama sekali tak menyembunyikan perasaan dari dirinya.


"Hm.. Enggak kok. Terima kasih sudah mengatakan yang sejujurnya padaku. Dengan begini aku bisa tahu dan memperbaikinya nanti." Ucap Intan tulus.


"Kejujuran adalah hal dasar dari sebuah hubungan. Kalau kita gak bisa saling jujur, maka hubungan itu akan mudah digoyahkan. Aku harap, kamu juga bisa jujur padaku." Pinta Setya.


"Tentu kak ... Sekarang, kakak tak perlu khawatir, dihatiku cuman ada kakak aja. Sedekat apapun aku dengan pria lain, aku tak akan tergoyahkan." Seru Intan dengan sorot mata penuh keyakinan.


"Aku tahu itu. Aku mempercayainya. Gak akan mudah bagi laki-laki lain untuk meluluhkan tembok besimu." Ucap Setya sembari mengusap pipi Intan dengan lembut.


Aku tak tahu rintangan apalagi yang akan aku hadapi setelah ini bersama kak Setya..


Tapi, aku yakin jika kita terus menjaga kepercayaan dan kesetiaan satu sama lain, maka kita bisa melewati semua rintangan itu ...


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2