Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Aku akan menjadi kaki kakak..


__ADS_3

Putih. Itu yang dilihat oleh Intan untuk pertama kalinya, setelah dirinya sadar dari pingsan.


"Hmm, aku dimana?" Gumam Intan memperhatikan sekelilingnya.


"Kamu sudah bangun sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya ayah yang langsung berdiri disamping ranjang Intan demgan khawatir. Bunda dan Dika juga mendekati Intan.


"Ayah-bunda? Kalian juga disini? Apa yang terjadi pada Intan?! ... Ah, kak Setya?! Kak Setya, bagaimana? Dia jadi baik-baik saja kan?!" Tanya Intan dengan panik.


"Tenang dulu sayang. Setya baik-baik saja. Dia sudah sadar sepenuhnya. Dia ada di kamarnya." Jawab bunda dengan lembut, tapi senyumnya menyiratkan kesedihan.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pada kak Setya?" Tanya Intan yang menyadari ada yang aneh dari jawaban sang bunda.


"Kamu istirahat dulu ya. Ini ayah belikan bubur untuk Intan. Intan makan dulu ya?" Ucap ayah mengalihkan pembicaraan.


"Ada apa sebenarnya, ayah? Jangan sembunyikan sesuatu dari Intan." Pinta Intan penuh harap.


"Baiklah, ayah akan kasih tau. Tapi janji ya, Intan jangan terlalu terkejut. Kondisi Intan masih lemah sekarang." Ucap ayah dengan tegas. Intan mengangguk mengiyakan.


"Setya memang sudah sadar sepenuhnya. Tapi, juga ada berita buruk ..." Ucap ayah sambil menatap lekat mata sang putri. Seakan mempertimbangkan apakah dia perlu mengatakannya atau tidak. Tapi, tidak dikatakan sekarangpun, Intan pasti akan tahu pada akhirnya.


"Kecelakaan itu membuat kerusakan saraf di kaki Setya. Jadi, dokter mengatakan kalau ... Setya lumpuh." Jawab ayah pada akhirnya. Intan yang mendengar itu cukup terkejut.


Rasa terkejutnya lebih karena di mencemaskan Setya, 'Bagaimana perasaan Setya saat mengetahui itu? Bagaimana keadaan Setya saat ini? Bagaimana Setya nanti?' Pikiran-pikiran itu berkeliaran di kepala Intan. Dia merasa sedih karna mengkhawatirkan kondisi Setya.


"Intan ingin melihat kak Setya." Ucap Intan sambil bangun dari tidurnya.


"Sayang, nanti dulu ya. Kamu masih lemas, makan dulu yaa." Bujuk sang ayah yang khawatir melihat kondisi Intan.


"Intan gak apa-apa ayah. Intan mau melihat kak Setya." Jawab Intan berusaha berjalan dengan berpegangan pada penyangga infus yang menyambung pada tangannya.


"Baiklah. Biar ayah antar." Jawab sang ayah pasrah melihat kegigihan sang putri.


"Makasih ayah." Jawab Intan dengan senyuman diwajahnya.


Akhirnya, ayah membantu memapah Intan untuk menuju ke ruangan Setya yang tepat berada di sebelah kamarnya. Diikuti oleh bunda dan Dika dibelakangnya. Sebelumnya, orang tua Bayu, Bayu dan Ifa sudah pulang terlebih dulu. Karna, Intan tak sadarkan diri cukup lama. Mungkin tubuhnya menggunakan itu sekaligua sebagai istirahat.


Tok ... Tok ... Tok


Ayah mengetuk pintu kamar rawat Setya sebelum masuk ke dalam. Tak berselang lama, pintupun dibuka oleh Tasya.


"Kak Intan?! Kakak sudah bangun?! Apa kakak sudah gak apa-apa?!" Tanya Tasya terkejut saat melihat Intan yang datang bersama keluarganya.


"Iya aku sudah baik-baik saja." Jawab Intan dengan senyum kecil.


"Sayang, kamu sudah baik-baik saja?! Seharusnya kamu istirahat saja dulu." Imbuh mama yang juga mendekat ke arah Intan.


"Intan mau bertemu kak Setya tante." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo masuk saja." Ucap mama dengan ramah.


Intan dibantu sang ayah berjalan perlahan memasuki ruang rawat Setya. Intan bisa melihat Setya yang tertidur.


"Setya sedang tidur. Tapi, kalau kamu ingin menemui Setya gak masalah. Kami akan menunggu di luar." Ucap mama lembut. Dia sengaja memberi ruang pada Intan untuk bertemu dengan Setya. Intan tersenyum mendapat pengertian dari mama Setya itu.


Setelah itu, kedua keluargapun meninggalkan ruang rawat Setya dan menunggu di luar. Perlahan Intan berjalan mendekati Setya dengan bertumpu pada tiang infus. Setelah itu Intan duduk di tepi ranjang Setya. Perlahan dia mengenggam tangan Setya. Intan melihat wajah Setya yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Intan menempelkan tangan Setya di pipinya.


"Hangat.." Gumam Intan pelan. Air mata kembali membasahi kedua pipi Intan.


"Syukurlah ... Aku sempat takut, tangan kakak akan dingin. Aku takut gak bisa memegang tangan kakak lagi. Aku takut gak bisa melihat wajah kakak lagi. Hikss.." Ucap Intan dengan lirih dan mata terpejam. Setya yang merasa tangannya basah, akhirnya perlahan membuka matanya. Dia terkejut melihat Intan yang sedang menangis dihadapannya sekarang. Perlahan, Setya mengulurkan tangan satunya untuk menghapus air mata Intan.


"Jangan menangis. Aku sudah bilang bukan, aku gak suka melihatmu menangis?" Ucap Setya dengan lembut. Intanpun membuka matanya dan melihat Setya terbangun dan sedang menatap dengan penuh kehangatan. Tatapan yang sangat Intan rindukan.


"Hikss.. Kakak pikir karna siapa aku menangis seperti ini?! Kenapa kakak menakutiku?! Aku sangat takut kakak akan meninggalkanku! Hikss.." Ucap Intan sambil memeluk Setya. Dia menumpahkan seluruh kesedihannya pada Setya.


"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu menangis. Maaf yaa.." Jawab Setya sambil mengusap kepala Intan yang sedang menangis dipelukannya. Intan merasakan kehangatan langsung menjalar ketubuhnya. Dia sangat merindukan dekapan Setya seperti saat ini.


"Tapi, kakak harus janji gak bakalan ninggalin aku kayak gitu lagi?!" Seru Intan sambil menatap mata Setya.


"Baiklah, aku janji ... Tapi, kenapa kamu terlihat sangat kurus seperti ini?! Lihatlah, kamu bahkan pingsan dan sampai di infus seperti ini?! Sebenarnya, apa yang sudah kamu lakukan selama satu tahun ini?!" Tanya Setya panjang lebar. Intan justru tersenyum mendengar semua omelan Setya itu.


"Kenapa malah tersenyum?!" Tanya Setya yang bingung melihat Intan.


"Aku sangat merindukan omelan kakak. Sudah sangat lama aku gak mendengarnya. Aku sangatttt merindukannya." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.


"Biarin! Aku sengaja kayak gini. Supaya kakak cepet bangun dan omelin aku! Kakak harus lihat betapa aku sangat rapuh tanpa kakak!" Seru Intan dengan menatap dalam mata Setya.


"Jangan lakukan ini lagi ya. Kesehatanmu juga sangat penting bagiku." Ucap Setya lembut.


"Kalau begitu, mulai sekarang kita berusaha sembuh bersama saja. Aku dan kakak, kita bersama-sama berusaja menjadi lebih kuat lagi." Ucap Intan dengan senyum diwajahnya.


"Kamu sudah tahu kalau kakiku ... Lumpuh?!" Tanya Setya hati-hati dan terlihat sedih.


"Ya, aku sudah tahu. Lalu kenapa memangnya?! Melihat kakak selamat dan bangun dari koma setelah setahun lamanya saja sudah sebuah keajaiban dari Tuhan dan patut untuk disyukuri ... Bagaimanapun keadaan kakak, aku sama sekali gak mempermasalahkan itu! Lagipula, ini belum berakhir! Kita masih bisa berusaha dulu."


"Tapi, bagaimana jika aku gak bisa sembuh dan akan selalu seperti ini?!" Tanya Setya dengan tatapan sendu.


"Maka aku akan menjadi kaki kakak untuk selamanya! Bagaimanapun keadaan kakak, sama sekali gak merubah perasanku pada kakak. Aku tetap sangat mencintai kakak. Jadi, izinkan aku menjadi kaki kakak mulai sekarang ya?" Ucap Intan dengan senyum tulus diwajahnya. Setya yang mendengar itu cukup merasa terharu.


"Makasih ya sayang, sudah setia menungguku selama setahun ini. Lalu, makasih juga karna sudah menerima kekuranganku ... Tapi, aku akan terus berusaha untuk sembuh. Aku juga ingin menjadi sandaranmu.." Ucap Setya dengan lembut dan tatapan penuh kasih sayang.


"Tentu saja! Kita berusaha bersama." Jawab Intan dengan senyum lebar diwajahnya.


Ternyata orang tua mereka mendegarkan percakapan Intan dan Setya dari luar. Mereka juga merasa terharu mendengar ucapan Intan. Kini, hanya waktu dan Tuhanlah yang akan menjawab apa yang akan terjadi pada Setya. Tentu saja mereka masih menantikan sebuah keajaiban akan datang sekali lagi.


...****************...

__ADS_1


Hari yang panjang dan melelahkan sudah beranjak malam. Intan sudah diperbolehkan pulang, karna kondisinya sudah membaik. Apalagi, sekarang dia sudah mau makan. Bahkan, makan dengan sangat lahap. Setelah berpamitan pada keluarga Setya, Intan dan keluarganya segera pulang.


"Ayah-bunda untuk makan malam kita mau makan dimana?" Tanya Intan pada kedua orang tuanya di perjalanan pulang.


Ayah, bunda dan Dika juga cukup terkejut mendengar pertayaan Intan. Karena, sebelumnya Intan sudah menghabiskan semangkok bubur ayam.


"Kak Intan mau makan lagi?" Tanya Dika bingung.


"Iya. Kenapa? Lagian, kamu, ayah dan bunda kan belum makan malam. Bunda juga pasti tadi belum sempet masak makan malam. Jadi, lebih baik makan malam di luar kan?"


"Haha. Baiklah, tuan putri ayah mau makan dimana?" Tanya ayah lembut sambil melirik ke spion untuk melihat wajah sang putri. Dia merasa senang, karna akhirnya Intan ada inisiatif untuk makan tanpa paksaan.


"Hm.. Bagaimana kalau sea food? Intan mau makan ikan bakar. Hehe." Jawab Intan dengan antusias.


"Baiklah. Berangkat!" Seru ayah dengan senyum lebar di wajahnya.


Bagaimana tidak, akhirnya setelah satu tahun menghadapi kesedihan, kini Intan kembali menemukan semangat hidupnya. Bunda dan Dika juga tersenyum melihat itu.


Setelah itu, mereka akhirnya menuju ke resto yang menyediakan aneka olahan makanan laut. Intan makan dengan sangat lahap dengan porsi makan yang terbilang cukup banyak. Bahkan, lebih banyak daripada porsi makannya dulu.


"Sayang, makannya pelan-pelan saja. Dan lebih baik jangan banyak-banyak dulu. Lambungmu tadi sempat sakit, kalau makan terlalu banyak akan menyebabkan lambung Intan bekerja berat dan akan sakit lagi." Ucap bunda mengingatkan.


"Intan gak apa-apa kok bun. Intan harus makan yang banyak supaya kuat!" Jawab Intan disela aktivitas makannya.


"Kuat? Kak Intan mau jadi kuat untuk apa?" Tanya Dika bingung.


"Tentu saja untuk menjadi kaki kak Setya. Kamu kan sudah tahu bagaimana kondisi kak Setya ... Jadi, aku ingin membantu kak Setya dan membiarkan kak Setya bergantung padaku. Aku akan menemani kak Setya sampai sembuh! Mangkannya aku harus jadi kuat!" Jawab Intan dengn senyum diwajahnya.


Dika dan kedua orang tua Intan sampai terdiam mendengra penuturan Intan. Mereka tak menyangka Intan akan berpikir dan sampai bertindak seperti itu. Hal itu menunjukkan kalau Intan sangat mencintai Setya.


"Kalau gitu aku juga gak mau kalah!" Seru Dika yang ikut makan dengan lahap.


Intanpun tersenyum lembut pada Dika. Intan tahu makna sebenarnya dari ucapan Dika yang ingin ikut menjadi kuat dan membantunya. Sedangkan orang tua Intan menatap kedua anaknya dengan tatapan bangga. Tak lupa do'a mereka selipkan untuk kesembuhan Setya.


Tengah malam di rumah sakit, Setya tak bisa tertidur. Dia masih cukup terkejut dengan fakta kalau sekarang dia lumpuh. Dia ingin berusaha menggerakkan kakinya, tapi hal itu sia-sia. Bahkan, ia sama sekali tak bisa merasakan kakinya. Ia menatap langit-langit kamar rawatnya dan seperti berpikir. Setya mengerutkan alis dan terlihat jelas kalau dia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Setya menatap cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya.



Intan..


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2