
Tak berselang lama, akhirnya Setya dan yang lain sampai juga di kampus. Dengan telaten Dika membantu Setya sekali lagi. Tentu saja hal itu menjadi pusat perhatian oleh mahasiwa dan mahasiswi disana.
Mereka terkejut karna melihat Setya yang kabarnya sebelumnya koma dan kemungkinan bangun juga sedikit, sekarang bisa ke kampus lagi. Bukan hanya itu, mereka juga sangat tertarik dengan Setya yang menggunakan kursi roda.
"Itu bukannya kak Setya ya? Dia sudah keluar dari rumah sakit?"
"Wah, apa kak Setya lumpuh?!"
" Kak Setya tetep ganteng sih, tapi kalo gak bisa apa-apa, hanya bisa duduk di kursi roda dan terus bergantung pada orang lain. Bukankah sama aja seperti parasit?!"
"Benar juga, kak Intan pasti lama-kelamaan akan merasa jenuh dan berpikir kalau kak Setya menyusahkan. Sebentar lagi, dia pasti juga akan meninggalkan kak Setya."
"Kalau kalian punya sesuatu yang ingin dibicarakan, katakan didepanku saja! Aku paling benci dengan orang-orang yang hanya berani berbicara dari belakang!" Seru Intan dengan nada tajam, saat dia tak sengaja mendengar perbincangan dua orang mahasiswi.
Intan tak bisa menahan dirinya, akhirnya Intan menghampirinya dan memberikan peringatan pada mereka. Para mahasiswi itupun jadi salah tingkah dan memilih pergi.
"Kak Setya, gak perlu dengerin omongan mereka yaa.. Intan gak bakalan ninggalin kak Setya. Kak Setya sudah tahu kan kalo bersama kak Setya adalah kebahagiaan bagi Intan." Ucap Intan sambil menatap Setya yang sedikit terlihat murung.
"Iya, aku tahu. Terima kasih, sayang." Ucap Setya dengan senyum lembut.
Setelah itu, Intan mengantarkan Setya ke kelasnya. Lagi-lagi pandangan menghina terus saja mengarah pada Intan dan Setya. Intan berulang kali ingin menegur mereka, tapi Setya menghentikannya.
"Biarkan saja mereka, itu hak mereka untuk menghinaku. Dengan begini, aku tahu siapa orang-orang yang tulus disisiku dan tidak." Ucap Setya menenangkan Intan.
"Huh! Tapi, aku gak suka melihat tatapan dan perkataan mereka! Rasanya aku ingin membungkam mulut mereka!" Seru Intan yang masih emosi.
"Sudah-sudah, sekarang kamu segera ke kelasmu sendiri saja. Jarak gedung kita cukup jauh, nanti kamu terlambat."
"Baiklah, kalau sudah selesai nanti aku akan langsung kesini lagi. Kakak tunggu aku yaa.." Ucap Intan sambil tersenyum manis pada Setya. Setya mengangguk sebagai jawaban.
Bohong memang jika dia mengatakan sama sekali tak sakit hati melihat tatapan dan mendengar hinaan padanya. Hal itu membuat Setya merasa rendah diri. Dia merasa tak pantas untuk bersanding dengan Intan. Setya merasa, dirinya hanyalah beban untuk Intan. Tapi, setiap kali dia merasa begitu, perkataan Intan yang menenangkannya membuat Setya mencoba bertahan.
Aku akan berusaha keras untuk sembuh! Aku ingin berdiri disamping Intan! Aku ingin menjadi pantas untuknya!
...****************...
Siang harinya setelah kelas selesai, Setya dengan patuh menunggu Intan di depan kelas. Setya memilih bermain ponsel untuk mengalihkan perhatian dari para mahasiswa yang masih menatapnya dengan tatapan menghinanya itu.
Tiba-tiba tak sengaja ada yang menyenggolnya, hingga ponselnya terjatuh agak jauh darinya. Setya berusaha meraih ponselnta tapi tak bisa. Sampai akhirnya, ada orang yang membantu mengambilkan ponselnya. Orang itu adalah Bagas.
"Ternyata berita kelumpuhanmu itu benar. Sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa gak bergunanya dirimu." Ucap Bagas sambil menatap Setya dengan pandangan merendahkan.
"Apa lumpuhnya kakiku, ada urusannya denganmu?!" Tanya Setya dengan nada dingin.
"Hahaha. Jangan sok lagi Setya! Dirimu itu sekarang gak lebih dari parasit! Kamu hanya bisa menyusahkan orang lain. Ku yakin, Intan sangat kesusahan karnamu!"
"Lalu?!" Tanya Setya masih dengan sikap acuh tak acuhnya.
"Jadi, aku sarankan padamu untuk meninggalkan Intan kalau kau masih mencintainya. Apakah kau tega melihatnya kesusahan karna mengurusmu terus?!" Ucap Bagas dengan nada tajam.
"Kau menyarankan agar aku meninggalkan Intan agar kau bisa mendekatinya, bukan?! Apakah kau mengira dengan mengusirku, Intan akan mau kembali padamu?! ... Intan saja sudah menungguku selama setahun ini, bahkan tanpa kepastian kapan aku akan sadar. Bagaimana, dia bisa mau meninggalkanku sekarang?! Jadi, jangan bermimpi.!!" Seru Setya dengan nada dingin dan tatapan tajam pada Bagas.
__ADS_1
"Kau ..?!"
"Ada perlu apa kau ada disini?!" Seru Intan yang baru saja tiba. Tatapan dan nada bicaranya begitu tajam.
Intan sudah tak lagi menjaga perkataannya di depan Bagas. Intan sangat tak suka melihat Bagas mendekati Setya. Intan tahu, kalau Bagas pasti hanya memiliki niat buruk pada Setya.
"Intan?!" Seru Bagas yang terkejut melihat kedatangan Intan.
"Aku bertanya padamu, ada perlu apa kau kesini?!" Seru Intan dengan nada tinggi.
"Aku hanya menyapa Setya saja. Aku dengar-dengar dia sudah kembali kuliah. Jadi, aku hanya ingin menyapanya saja." Ucap Bagas sedikit salah tingkah.
"Aku gak peduli apa niat dan tujuanmu! Tapi, aku sama sekali tak suka melihatmu muncul didepanku lagi. Pergi dari sini, sebelum kesabaranku benar-benar habis." Seru Intan dengan nada dingin mencekam.
"Baik, aku akan pergi. Tapi, aku masih belum menyerah." Ucap Bagas sebelum berlalu pergi.
"Kak Setya, apa yang dia katakan pada kakak? Apa dia mengganggu kak Setya? Kakak gak apa-apa kan?!" Tanya Intan khawatir, sambil berlutut di depan Setya, hingga pandangan mereka sejajar.
"Aku gak apa-apa sayang. Dia hanya mengatakan hal-hal konyol. Sudahlah, abaikan saja dia. Kamu, pasti belum makan siang kan? Sekarang kita pergi makan saja yaa.." Ucap Setya menenangkan Intan.
"Apapun yang dikatakannya, aku harap kakak benar-benar gak memperdulikannya. Kakak harus ingat, hal terpenting bagi Intan adalah bersama kakak. Aku gak peduli lagi pada hal lain, seperti kondisi kakak." Seru Intan sambil memeluk Setya.
Intan merasa takut, kalau saja Bagas sudah membuat Setya semakin ingin menjauhinya. Setyapun membalas pelukan Intan dengan erat. Setya juga tak ingin berpisah dari Intan. Jadi, dia akan berusaha sebaik mungkin, agar bisa sembuh. Sehingga, dia bisa membungkam orang-orang yang ingin memisahkannya dari Intan.
Setelah itu mereka segera ke kantin untuk makan siang. Di kantin sudah ada Dika, Tasya, Ifa, Rehan dan Tania. Intan dan Setya pun segera menghampiri mereka.
"Kak Setya sudah selesai kelas? Kakak mau makan apa, biar Tasya yang belikan." Ucap Tasya dengan senyum diwajahnya.
"Kak Intan juga mau makan apa? Biar Dika yang belikan sekalian sama Tasya. Kak Ifa juga kalau mau titip gak masalah." Tawar Dika.
"Aku pesan siomay dan ice coklat yaa.."
"Kalau aku kwetiaw ekstra pedas sama jus sirsak."
Ucap Intan dan Ifa bergantian menyebutkan makanan yang ingin mereka makan.
"Bagaimana denganku Ka? Kau tak menanyakan pesananku juga?" Seru Rehan dengan alis terangkat.
"Aku juga?" Imbuh Tania.
"Beli sendiri." Jawab Dika dan Tasya bersamaan.
"Dasar pasangan nyebelin!" Seru Rehan terlihat kesal. Dan hal itu memicu gelak tawa mereka semua.
Setelah itu, Dika, Tasya, Rehan dan Tania segera pergi untuk membeli makanan itu.
Kring ... Kring ... Kring
Ponsel Ifa berbunyi begitu nyaring. Ia segera mengambilnya dan melihat ada panggilan video dari Bayu.
"Hallo, cabiku sayang. Sudah makan?" Sapa Bayu setelah melihat wajah Ifa di layar ponselnya.
__ADS_1
"Ini masih pesan makanan, kakak sendiri juga sudah makan?" Tanya Ifa dengan perhatian.
"Huh! Mana bisa aku makan, pekerjaanku belum selesai. Aku masih berusaha beradaptasi di perusahaan ini." Keluh Bayu dengan frustasi.
"Apa yang membuatmu mengeluh seperti itu?" Tanya Setya yang penasaran setelah mendengar keluahan dari Bayu. Ifa segera memberikan ponselnya pada Setya.
"Setya! Temanku yang paling baik. Tolong bantu aku!" Seru Bayu yang terlihat senang saat melihat Setya. Kemudian, Bayu segera menjelaskan masalahnya, akhirnya Setya membantu Bayu dan pennelasannya juga terlihat sangat professional.
"Kenapa kamu terlihat kesal, Tan?" Tanya Ifa yang melihat ekspresi kesal diwajah Intan.
"Huh, orang gak tahu malu itu tadi menemui kak Setya. Entah, apa yang dia katakan. Aku hanya takut, kak Setya akan semakin rendah diri." Jawab Intan dengan nada sedih.
"Orang itu memang benar-benar gak tahu malu! Haahh.. Semoga semua ini segera berlalu. Kamu yang kuat yaa.. Kekuatanmu pasti akan menular pada kak Setya." Ucap Ifa mengingatkan.
"Hm, aku tahu."
...****************...
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Dika, Tasya, Intan dan Setya segera menuju ke rumah sakit. Karna, hari itu adalah hari terapi Setya.
"Apakah anda sudah siap, saudara Setya?" Tanya dokter yang akan membantu terapi Setya.
"Saya sudah siap dokter. Saya ingin sembuh!" Jawab Setya dengan sorot mata yang penuh memancarkan keseriusan.
"Bagus. Anda memiliki dorongan yang kuat untuk sembuh. Kita akan berusah semaksimal mungkin ... Tapi sebelumnya saya sampaikan dulu, kemungkinan berhasil dari terapi ini mengingat kondisi anda sebelumnya, kita masih belum bisa memastikan hasilnya." Ucap dokter mengingatkan.
"Saya tahu. Tapi, kemungkinan sekecil apapun, saya tetap ingin mencobanya!" Jawab Setya sekali lagi.
"Kak Setya pasti bisa." Seru Intan yang menunggu di tepi ruangan bersama Dika dan Tasya.
"Kak Setya, semangatt!!" Seru Tasya dengan senyum lebar.
Kemudian Setya, memulai terapinya. Namun, karna masih terapi pertama semua yang dilakukan dokter masih belum menunjukkan perubahan apapun. Setya sama sekali belum bisa merasakan kakinya. Dia cukup terpuruk, dengan hasil itu.
"Ini baru hari pertama. Kita masih punya banyak waktu. Kita coba pelan-pelan sampai kak Setya sembuh yaa.." Ucap Intan menenangkan Setya yang terlihat murung. Setya tersenyum kecil menanggapi ucapan Intan. Setelah itu mereka pun segera pulang ke rumah.
"Kedepannya saat aku terapi, bisakah kalian menunggu di luar ruangan saja?" Ucap Setya saat diperjalanan pulang.
"Kenapa?" Tanya Intan bingung.
"Aku gak bisa fokus kalo diliatin kalian. Jadi, gak apa-apa ya, kalau kalian menunggu di depan saja?"
"Ehm, baiklah.." Jawab Intan pasrah.
Sebenarnya, aku gak mau menunjukkan sisi lemahku pada kalian, terutama kamu Intan ...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..