
Beberapa hari setelahnya, Setya juga masih begitu manja pada Intan. Setya terus mengikuti kemanapun gerak istrinya. Seakan dia tak ingin jauh dari Intan. Sebenarnya, Intan tak mempermasalahkan jika Setya ingin bermanja dengannya. Tapi, jika sudah kelewatan dia juga akan jadi kesal. Seperti belakangan ini, Setya terus mengikutinya kemanpaun dia pergi. Sudah seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
"Kak Setya, ayuk buruan mandi. Kakak gak lupa kalau hari ini ada acara syukuran tujuh bulanan si twin kan?" Ucap Intan pada sang suami.
"Kita vidcall aja ya sayang. Aku mau berduaan aja sama kamu di rumah akhir pekan ini." Jawab Setya yang masih bermanja tidur berbantal kaki Intan.
"Ih, kok gitu sih kak. Gak boleh dong! Ayuk, semua pasti sudah nungguin." Ucap Intan tegas.
"Kamu kan uda bantu persipannya dari kemarin-kemarin sayang. Kamu kan juga perlu istirahat ..."
"Yasudah, aku berangkat sendiri aja." Seru Intan sambil bangkit menuju kamar mandi untuk bersiap.
"Sayang!" Panggil Setya, tapi diabaikan oleh Intan.
Setelah Intan selesai mandi, dia masih melihat sang suami yang masih duduk bersantai di atas tempat tidur dengan wajah ditekuk.
"Kak Setya beneran gak mau berangkat? Mau biarin Intan pergi sendiri?" Tanya Intan dengan tangan dilipat didada.
"Bantuin!!" Seru Setya sambil mengulurkan tangannya pada Intan.
Intan sampai membulatkan matanya tak percaya dengan permintaan sang suami. Setya sangat manja padanya. Bukan, hanya itu dia seakan tak sadar dengan ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar dari Intan. Bagaimana, Intan kuat?!
"Haaahh. Aku mana kuat kak Setya?! Permintaan kak Setya makin hari makin aneh tau gak?!" Seru Intan sambil berusaha menarik sang suami.
Setya sendiri menyeringai saat melihat sang istri berusaha menarik tubuhnya yang sama sekali belum berubah posisi. Akhirnya, dengan iseng Setya yang malah menarik Intan dalam ke dalam pelukannya.
"Aahh.. Kak Setya!!" Seru Intan kesal.
"Aku mau berduaan aja sama kamu." Ucap Setya dengan wajah memelas.
"Enggak! Kalau kakak mau di rumah, biar Intan pergi sendiri. Biar nanti kalau ayah tanya kemana kak Setya, Intan akan bilang kalo ..."
"Ya-Ya ... Aku siap-siap!" Seru Setya sambil bangkit dari tidurnya dengan malas menuju kamar mandi.
"Haahh. Ada apa sih dengan suamiku itu?!" Gerutu Intan kesal sembari bangkit hendak menuju meja rias. Tapi, tiba-tiba pandangannya mendadak menghitam sekilas.
"Aw!! Kepalaku!! Aku kenapa ya?" Gumam Intan saat merasa kepalanya pusing sesaat tadi.
"Ahh, sepertinya aku terlaku kecapekan dari kemarin aku terlalu antusias untuk menyambut acara tujuh bulanannya twin." Gumam Intan lagi, menebak penyebab sakit kepalanya tadi.
Di lain sisi, Setya yang sudah masuk ke kamar mandi, masih saja memasang wajah cemberut.
"Istriku sudah gak sayang sama aku. Bahkan dia gak mau berduaan denganku!" Gumam Setya kesal sambil menyikat giginya.
__ADS_1
Acara syukuran untuk tujuh bulanan baby twin, akhirnya tiba. Semua menyambut dengan suka cita. Walaupun ini acara untuk Ifa, Intan sendiri juga ikut sibuk menpersiapkan acara bersama keluarganya. Dia juga terlihat sangat antusias dengan acara tujuh bulanan Ifa ini.
Tapi, Intan sama sekali masih tak habis pikir. Bisa-bisanya Setya malah ingin di rumah saja. Intan semakin dibuat bingung dengan permintaan Setya yang makin hari makin aneh saja. Dia benar-benar seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya kesana-kemari.
...----------------...
Setelah selesai bersiap, Intan dan Setya segera berangkat menuju rumah Bayu. Tempat acara akan diadakan. Intan masih bisa melihat wajah cemberut sang suami. Tapi, Intan berusaha mengabaikan itu.
"Kamu baru datang, sayang?" Tanya ayah yang baru melihat sang putri.
"Iya ayah. Intan harus ngurus bayi besar yang lagi mager banget tadi." Jawab Intan sambil melirik sang suami di sebelahnya. Ayah Intan juga mendelik ke arah Setya.
"Apa dia menyusahkan tuan putri ayah?" Tanya ayah dengan mata yang masih mendelik ke arah Setya.
"Yaahhh..."
"Enggak kok ayah. Setya hanya ingin berduaan dengan istri Setya. Apa itu salah?" Tanya Setya dengan wajah memelas.
"Oh, karna itu maumu. Maka sehari ini, tuan putriku akan menghabiskan waktunya denganku." Seru ayah sambil merangkul bahu Intan menjauh.
"Ayah! Ayah jangan bawa istriku pergi." Seru Setya sambil berlari mengejar ayah dan Intan. Orang tua Setya yang melihat hal itu ikut merasa heran, sejak kapan putra mereka jadi seperti itu.
Beralih dari perdebatan itu. Acara syukuran berjalan dengan lancar. Bisa dilihat wajah Ifa dan Bayu sangat cerah hari itu. Wajah orang yang akan segera menjadi orang tua baru. Di acara itu juga datang teman-teman dekat mereka.
Terlihat pasangan Dharma-Linda yang sebenatr lagi juga akan punya momongan. Linda saat ini juga sedang hamil dan tinggal menunggu hari kelahiran. Selain itu, ada pasangan Alex-Anisa. Pasangan yang menikah setelah Intan dan Setya waktu itu, juga telah diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk langsung mendapatkan momongan. Anisa saat ini sudah hamil 5 bulan.
"Ayah, Intan mau kamar mandi sebentar." Pamit Intan pada sang ayah.
"Baiklah. Perlu ayah antar?" Tanya ayah perhatian.
"Haha, ayah gak usah. Intan kan bukan anak kecil lagi. Intan uda usia 25 tahun lho." Ucap Intan yag merasa geli dengan perhatian sang ayah.
"Memangnya kenapa? Bagi ayah, Intan masih tetap putri kecil ayah." Jawab ayah santai.
"Kalau gitu, aku aja yang temenin kamu ya sayang?" Tanya Setya tak mah kalah dengan sang mertua.
"Enggak perlu. Intan bisa sendiri kok. Intan akan segera kembali." Ucap Intan sambil beranjak pergi meninggalkan Setya dan sang ayah.
"Haahh.. Bukan hanya kak Setya, tapi ayah juga. Aku selalu diperlakukan seperti anak kecil." Gerutu Intan sepanjang perjalanan.
Setelah selesai dengan keperluannya di kamar mandi, Intan akan menuju ke tempat acara lagi. Tapi, mendadak kepalanya kembali pusing seperti sebelumnya. Dan kali ini lebih parah, sampai akhirnya dia jatuh pingsan.
"Kak Setya ..." Gumam Intan sebelum dia jatuh tak sadarkan diri di depan kamar mandi.
Karna, kamar mandi terletak di dekat dapur dan agak jauh dari tempat acara belum ada yang sadar kalau Intan pingsan.
__ADS_1
"Intan lama banget ya di kamar mandinya?" Gumam Setya saat sang istri tak kunjung kembali.
"Kak Setya!! Tolong!! Kak Intan!!" Seru Tasya panik. Tanpa bertanya apapun lagi, Setya langsung berlari ke arah kamar mandi diikuti yang lain. Matanya membulat saat melihat sang istri tergeletak tak berdaya di lantai.
"Intan? Sayang? Kamu kenapa?!" Seru Setya sambil mendekap Intan dalam pelukannya.
"Intan?!" Seru ayah yang juga terlihat panik. Bunda, orang tua Setya dan yang lain juga terlihat sama paniknya.
"Setya, angkat dulu Intan dan tidurkan di sofa. Tante akan ambilkan minyak angin." Ucap mama Bayu cepat.
Setya pun mengangguk mengerti dan langsung mengangkat sang istri. Dengan perlahan dia menidurkan Intan di sofa. Setelah itu, mama Bayu kembali dengan membawa minyak angin. Bunda langsung mengambil alih untuk menyadarkan Intan.
"Intan sayang, bangun nak." Ucap bunda pelan.
Perlahan, Intan mulai mengerjap bangun. Dia melihat wajah keluarganya yang panik mengelilinginya.
"Kamu uda bangun sayang? Kamu kenapa? Ada yang sakit? Dimana?" Tanya Setya beruntun. Jelas sekali kalau dia khawatir.
"Intan gak apa-apa kok kak. Intan cuman kecapekan. Maaf ya buat semua khawatir." Ucap Intan lirih pada suami dan keluarganya.
"Tuan putri ayah beneran gak apa-apa?" Tanya ayah lembut.
"Iya ayah, Intan gak apa-apa." Jawab Intan yakin.
"Gak! Kita tetap harus ke rumah sakit. Aku akan lebih tenang, kalau dokter yang mengatakannya." Seru Setya tegas.
"Haduh, gak perlu kak ..."
"Ayah, Setya antar Intan ke rumah sakit dulu." Pinta Setya pada sang mertua.
"Baiklah. Hati-hati saat di jalan. Dan langsung kabari ayah apa kata dokter." Jawab ayah memberikan izin.
"Tapi ..."
"Sudah gak pakai tapi-tapi'an. Kita berangkat!" Seru Setya yang langsung menggendong tubuh Intan menuju mobil. Intan hanya bisa pasrah, jika suami dan ayahnya sudah bekerja sama. Karna sudah dipastikan, Intan tak akan bisa menang.
"Maaf ya ayah. Intan sepertinya sangat antusias menyambut acara tujuh bulanannya twin, sampai kecapekan." Ucap Ifa lirih.
"Gak apa-apa sayang. Karna, itu bisa buat Intan bahagia. Jadi, itu gak masalah. Lagipula, sekarang suaminya sudah mengantarnya ke rumah sakit." Ucap ayah dengan lembut menenangkan Ifa.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..