Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Paduka raja jangan marah sama tuan putri, ya?


__ADS_3

Keesokan harinya, Intan terbangun karna silau cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah jendela kamarnya. Sedangkan yang lainnya masih tertidur pulas setelah sholat shubuh sebelumnya. Jam masih menunjukkan 06.00 pagi, Intan perlahan menuju balkon untuk menghirup udara segar pagi itu.


"Sudah bangun?" Tanya Setya yang juga berdiri di balkon kamarnya. Ia juga terbangun sama seperti Intan.


"Iya. Kak Setya juga?" Tanya Intan pelan, agar tidak membangunkan yang lain.


"Iya. Mau jalan-jalan pagi?" Tanya Setya menawarkan. Intan pun mengangguk setuju.


Akhirnya, mereka berdua perlahan meninggalkan kamar masing-masing dan pergi keluar villa.


"Kita pakai sepeda saja bagaimana?" Tanya Setya, sembari menatap sepeda kayuh yang terparkir di pekarangan rumah.


"Tapi sepedanya hanya satu?" Ucap Intan tidak melihat sepeda lain.


"Tentu saja aku akan memboncengmu." Jawab Setya dengan lembut.


"Baiklah, kalau begitu. Tapi, jangan mengeluh berat yaa.." Ucap Intan memperingatkan. Setya tersenyum menanggapi perkataan Intan.


Kemudian, Setya segera mengambil sepeda kayuh itu dan menaikinya. Setelah itu Intan dengan antusias duduk diboncengannya sambil memeluk tubuh Setya dengan erat.


"Jalan bos!!" Seru Intan semangat.


"Siap tuan putri." Jawab Setya dengan senyum diwajahnya.


Mereka pun mulai menyusuri daerah sekitar villa yang masih asri. Hamparan kebun teh dengan kabut putih yang masih menyelimuti memanjakan mata Intan disepanjang perjalanan. Walau, sinar mentari sudah mulai menampakkan diri, namun dia belum bisa sepenuhnya mengusir kabut putih.


Setya dan Intan terus mengobrol dan bercanda sepanjang perjalanan dengan senyum yang tak pernah hilang diwajah masing-masing.


Sampailah mereka dibukit yang cukup jauh dari villa keluarga Setya. Mereka memilih untuk beristirahat sejenak, duduk dibawah pohon besar dengan saling bersandar.


"Kakak lelah? Mau aku pijit?" Tanya Intan menatap Setya yang meluruskan kakinya. Peluh terlihat menetes disela keningnya. Intan dengan lembut menghapus peluh itu.


"Tidak perlu. Melihat wajahmu saja, sudah cukup mengisi kekuatanku lagi." Goda Setya dengan senyuman diwajahnya.


"Hm, kalau gitu lihat aku sepuasnya.." Ucap Intan mendekatkan wajahnya pada Setya, agar Setya bisa puas melihatnya.


Cup..


Melihat wajah Intan sedekat itu Setya tak tahan untuk tidak mencium bibir Intan. Ia mengecup bibir Intan sekilas.


"Sudah. Aku sudah mendapatkan tenagaku lagi. Kamu juga istirahatlah, sini ..." Ucap Setya lembut sambil menepuk bahunya agar Intan bersandar disana.


Intan yang masih terkejut karna ciuman dadakan dari Setya pun hanya bisa menurut. Jantungnya berdebar sangat kencang. Mungkin sekarang wajahnya juga sudah berubah merah.


Dasar kak Setya, dia selalu saja bisa menggodaku!!


Walaupun Intan menggerutu dengan sikap Setya yang selalu bisa membuatnya tersipu, namun ia tak bisa mengelak bahwa dia merasa sangat bahagia.


"Beberapa hari ini aku sangat bahagia. Seakan semua masalahku hilang. Terima kasih kak, sekali lagi kak Setya membantuku keluar dari kegelapan dalam hatiku." Ucap Intan dengan lembut.


"Kamu memang harus bahagia, karna kamu memang layak untuk bahagia. Dan aku akan memastikan bahwa kamu akan selalu bahagia." Jawab Setya lembut. Intan tersenyum senang mendengar jawaban Setya.

__ADS_1


Karna, udara yang masih dingin dan posisi nyaman yang Intan rasakan membuat matanya kembali mengantuk. Akhirnya, ia tertidur dengan bersandar pada Setya.


"Aku mencintaimu, Intan." Gumam Setya sembari mencium puncak kepala Intan yang sudah terlelap dibahunya.


...****************...


"Hmmm?" Gumam Intan, menggeliat dan mulai terbangun.


"Sudah bangun?" Tanya Setya lembut.


"Eh, aku ketiduran ya? Berapa lama?" Seru Intan terkejut. Dia segera menegakkan duduknya.


"Ehm, sekitar 1 jam mungkin?" Jawab Setya lembut.


"Wah, bahu kakak pasti capek ya? Maaf!" Seru Intan merasa bersalah, sambil memijit pelan bahu Setya.


"Aku tidak apa-apa. Oh ya, ini ... Cantik!!" Ucap Setya lembut sembari memakaikan tiara bunga di kepala Intan. Intan terlihat semakin cantik mengenakannya.


"Apa ini? " Tanya Intan mengambil tiara itu dari kepalanya.


"Wah, kakak membuat ini sendiri?" Seru Intan dengan mata berbinar.


"Iya, selagi kamu tidur aku membuatnya dari bunga-bunga kecil ini. Bagaimana, kamu suka?" Tanya Setya lembut.


"Tentu saja! Aku sangat suka! Terima kasih." Jawab Intan antusias dan kembali mengenakan tiara bunga itu. Setya tersenyum melihat Intan yang tersenyum senang.


"Ya sudah, yuk kembali ke villa. Kita tadi keluar pagi-pagi dan tidak membawa ponsel sama sekali. Kalau orang tua kita sudah bangun, mereka pasti aka kebingungan." Ucap Setya kikuk.


Benar saja di villa semuanya tengah mencari keberadaan Intan dan Setya yang menghilang. Apalagi ayah Intan, dia terlihat sangat khawatir sekaligus cemburu.


"Sudahlah kita tenang saja. Pasti mereka keluar berdua. Mungkin untuk jalan-jalan, sebentar lagi pasti mereka akan kembali." Ucap bunda lembut.


"Iya tau. Tapi, harusnya kan mereka bilang dulu." Seru ayah terlihat kesal.


"Kamu kan tadi lagi tidur Mid, mungkin mereka tidak mau menganggu waktu istirahat kita." Ucap papa Setya menambahi. Walaupun begitu, ayah masih terlihat cemberut.


"Ayahnya Intan sangat menyayangi putrinya. Dia benar-benar belum mau menyerahkan putrinya pada siapapun. Apakah, papa nanti juga akan bersikap yang sama pada Tasya?" Bisik mama pelan.


"Apa Tasya sudah punya pacar? Siapa? Anak mana? Bagaimana sifatnya?" Tanya papa bertubi-tubi.


"Seandainya pa ... Seandainya! Huh, kalian para pria memang sangat protektif ya pada putri kalian." Seru mama sambil memutar bola matanya malas.


"Tentu saja, mereka adalah permata dalam kehidupan kami." Jawab papa dengan senyum lembut.


"Intan nih pasti sedang berduaan dan bersenang-senang dengan kak Setya. Gak tau aja dia sudah buat keributan seperti ini." Seru Ifa sambil menggelengkan kepala.


"Kita lihat saja, apa yang akan dilakukan ayah Intan pada Setya nanti." Imbuh Bayu yang terlihat bersemangat.


Tak lama kemudian, Setya dan Intan pun sampai di villa. Mereka langsung masuk ke ruang keluarga dimana keluarganya berkumpul.


"Assalamu'alaikum." Ucap Setya dan Intan bersamaan.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." Jawab semua serempak.


"Dari mana kalian?" Tanya ayah tajam menatap Setya.


"Intan dan kak Setya jalan-jalan ayah. Pemandangan di luar sangat indah. Maaf ya, Intan dan kak Setya tidak izin tadi. Kami tidak ingin menganggu tidur semuanya." Ucap Intan dengan mata memohon pada ayah agar tidak marah. Ayah Intan akan goyah, melihat putrinya seperti itu. Namun, ia berusaha menahannya dan tetap ingin terlihat marah.


"Paduka raja jangan marah sama tuan putri, ya?" Tanya Intan manja pada ayah, sembari memeluk sang ayah dari belakang saat ayahnya duduk.


Semuanya yang melihat tingkah Intan yang manja pun cukup terkejut, mereka tersenyum tak menyangka kalau Intan bisa bersikap seperti itu. Tentu saja, kalau bagi keluarga Intan dan Ifa dia sudah tau itu. Namun, keluarga Setya dan Setya sendiri belum pernah melihatnya. Dan itu sangat lucu.


Dia benar-benar menggemaskan! ... Setya


"Wah, kak Setya akan selamat nih. Ayah pasti luluh dengan Intan." Bisik Ifa pada Bayu.


"Dia sangat beruntung." Jawab Bayu sambil menatap Setya.


Di lain sisi, Tasya baru terbangun dari tidurnya. Dia melihat kamarnya sudah sepi. Ia pun segera keluar kamar untuk mencari yang lainnya. Saat diluar kamar, Tasya berpapasan dengan Dika yang akan masuk ke dalam kamar, karna tak bosan melihat drama kakaknya dengan sang ayah.


"Hei, kau!" Seru Tasya kesal. Dika pun melirik sekilas pada Tasya, kemudian mengabaikannya.


Dia mengabaikanku? Aku?!


"Kau tidak punya telinga ya? Aku memanggilmu!" Seru Tasya, sambil menarik tangan Dika.


"Ada apa?" Tanya Dika datar.


"Kau harus menjalaskan padaku, apa maksudmu mengatai aku bodoh kemarin?" Tanya Tasya dengan tatapan tajam pada Dika.


"Hanya itu?" Ucap Dika sambil memecingkan matanya.


"Ya! Itu sangat mengangguku. Aku ini gadis yang pintar! Kau satu-satunya yang memanggilku bodoh!" Seru Tasya masih terlihat kesal.


Dika menghela nafas kasar. Kemudian dia melangkah mendekati Tasya. Tasya yang melihat Dika mendekat dengan menatapnya reflek berjalan mundur sampai tubuhnya membentur dinding. Dik mendekatkan wajahnya pada Tasya.


"Hari ini pun kau terlihat bodoh. Apa kau keluar tanpa mencuci muka? Air liurmu masih berbekas!" Ucap Dika ditelinga Tasya. Setelah itu ia meninggalkan Tasya lagi dan masuk ke dalam kamar.


Tasya masih mematung dengan apa yang dilakukan Dika. Namun, saat dia kembali teringat ucapan Tasya, ia segera berlari masuk kembali ke dalam kamarnya dan bercermin.


"Dia mempermainkanku lagi.!! Aku masih cantik!!" Ucap Tasya melihat pantulan wajahnya yag sama sekali tidak terlihat bekas air liur.


"Dika awas kau ya!!" Teriak Tasya dari balkon agar Dika mendengarnya.


Dika yang sedang rebahan dan bermain ponsel pun tersenyum senang, karna berhasil mengerjai Tasya.


"Kau memang gadis, bodoh!" Gumam Dika sambil mendengar teriakan-teriakan Tasya padanya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2