
Setelah makan siang dengan Intan, Setya segera menuju ke perusahaan X untuk membicarakan kerjasama. Bayu sudah sampai lebih dulu disana daripada Setya. Dia sudah menunggu Setya di loby dengan membawa beberapa berkas yang dibutuhkan.
Tak berselang lama Setya juga sampai di perusahaan itu. Dia segera memarkirkan mobilnya di basemant. Kemudian, dia bergegas menuju loby untuk menemui Bayu. Saat dia sampai di loby dan akan mendekati Bayu, perhatian Setya teralihkan pada seorang wanita yang sedang memarahi seorang cleaning service dengan sombongnya.
"Yaa!! Kau bisa bekerja dengan benar gak sih?! Lihat karna perbuatanmu sepatuku jadi kotor! Kau tahu harga sepatu ini sangat mahal. Apa kau pikir kau bisa menggantinya dengan gajimu itu?!" Seru wanita itu dengan suara lantang. Beberapa karyawan yang ada disana juga jadi memperhatikan keributan itu.
"Ma-Maafkan saya nona. Saya tak sengaja. Hari ini saya kurang enak badan ..."
"Itu bukan urusanku! ... Huh, kenapa perusahaan mengerjakan karyawan sepertimu! Sangat tak berguna!" Seru wanita itu yang masih emosi.
"Permisi nona, maafkan kelancangan saya karna ikut campur. Tapi, bapak ini memang terlihat sedang sakit. Dan saya rasa sepatu anda baik-baik saja." Ucap Setya menengahi. Dia tak bisa berdiam diri saat melihat hal itu. Apalagi, saat melihat wajah cleaning service yang begitu pucat saat itu.
Bukannya memberikan respon. Wanita itu malah diam mematung karna terpana melihat ketampanan Setya.
Wow! ... Pria ini sangat tampan. Siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya?!
"Nona Widia, ada apa ini?" Tanya seorang karyawan yang sepertinya kepala bagian cleaning service.
"Oh ... Gak ada apa-apa. Hanya saja ada karyawan yang bekerja dengan tak becus dan menjadikan kondisi tubuhnya sebagai alasan." Jawab Widia sambil mendelik ke arah cleaning service itu. Setya yang melihat itu semakin tak suka dengan sikap wanita yang berdiri di depanya itu.
"Maafkan kelalaian saya nona. Saya akan menyingkirkannya dengan segera." Jawab kepala CS dengan sopan.
"Ap-Apa?! Tolong jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi keluarga saya. Tolong berikan saya kesempatan." Pinta cleaning service sambil bersimpuh di kaki Widia.
"Aku tak pernah memberikan kesempatan kedua pada orang yang gak berguna sepertimu. Pergi dari sini dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi." Seru Widia dengan nada sombong.
Kemudian, Widia segera pergi meninggalkan loby. Sebelum itu dia menatap Setya sekali lagi. Seperti ingin menunjukkan pada Setya bahwa dia bukanlah wanita biasa. Tetapi wanita yang berkuasa. Setya sendiri bukannya kagum, dia malah merasa sangat muak melihat wanita itu.
"Pak, jangan seperti ini. Bangunlah." Ucap Setya sambil membantu cleaning service itu berdiri.
"Terima kasih tuan ..." Ucap pria itu sambil menunduk sedih. Dia baru saja kehilangan pekerjaan yang ia jadikan sebagai sandaran untuk menghidupi keluarganya.
"Bapak lebih baik pulang dan istirahat. Bapak terlihat sangat pucat sekarang. Nanti, setelah sembuh bapak bisa pergi ke perusahaan saya. Kebetulan staf CS juga sedang kekurangan orang." Ucap Setya dengan ramah sembari memberikan kartu namanya.
"Su-sungguh tuan?! ... Anda mau menerima saya?" Tanya bapak itu dengan mata berbinar.
"Iya. Bapak datang saja nanti. Tapi, saya harap bapak bisa bijak dan menghargai diri bapak sendiri. Jika sakit, bapak harus istirahat." Ucap Setya dengan senyum kecil diwajahnya.
"Baik tuan. Saya mengerti. Terima kasih banyak." Jawab bapak itu sembari membungkuk pada Setya.
"Setya, kita harus pergi sekarang." Ucap Bayu yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu.
"Ya. Pak, saya permisi dulu. Semoga bapak cepay sembuh dan bisa kembali bekerja." Ucap Setya sebelum berlalu pergi.
__ADS_1
Sebelumnya, Bayu sudah bertanya pada resepsionis dimana dia bisa bertemu dengan manager perusahaan. Dia juga mengatakan kalau dia sudah memiliki janji sebelumnya. Akhirnya, resepsionis mempersilahkan Bayu dan Setya langsung naik ke lantai teratas ke ruangan manager langsung.
"Bay, apakah keputusan kita untuk kerjasama dengan perusahaan ini benar? Belum kerjasama saja, tadi kita sudah melihat kejadian yang membuatku muak." Gerutu Setya yang mengingat sikap sombong Widia tadi.
"Aku gatau sih siapa gadis tadi. Tapi, bukannya kita tak bisa menilai perusahaan dari satu orang itu saja? Kita sendiri juga gak tau dia siapa." Jawab Bayu menenangkan Setya.
"Kau benar juga. Hahhh.. Semoga saja, manager perusahaan ini gak seperti itu."
Ting ...
Akhirnya, mereka sampai di lantai atas gedunag perusahaan itu. Di lantai itu hanya ada satu ruangan yaitu ruangan manager perusahaan itu. Di depan ruangan ada meja untuk sekretaris dan asisten pribadi manager.
"Apakah anda pak Setya dari perusahaan X?" Tanya sekretaris dengan ramah.
"Iya benar."
"Baik. Silahkan masuk, pak Malik sudah menunggu di dalam." Ucap sekretaris sambil mengantarkan Setya dan Bayu ke ruangan Malik, manager perusahaan itu.
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!"
"Maaf pak permisi. Pak Setya dari perusahaan X sudah tiba." Ucap sekretaris memberitahu pak Malik dengan sopan.
"Silahkan masuk, pak Malik sudah menunggu di dalam." Ucap sekretaris mempersilahkan Setya dan Bayu untuk memasuki ruangan Malik.
"Silahkan duduk." Ucap pak Malik ramah.
"Terima kasih." Jawab Setya dengan senyum kecil.
"Ternyata anda masih sangat muda. Kalau boleh tau berapa usia anda?" Tanya pak Malik yang penasaran dengan Setya.
"Sebentar lagi akan menginjak 27 tahun." Jawab Setya ramah.
"Wah, diusia 27 tahun anda sudah bisa mengembangkan usaha ayah anda dengan baik. Saya cukup kagum." Puji pak Malik dengan senyum lebar.
"Maaf?" Tanya Setya yang merasa aneh. Dia belum menjelaskan bagaimana profilnya tapi pak Malik sudah mengetahuinya.
"Haha. Maafkan saya. Saya sedikit mencari tahu tentang perusahaan anda. Saya tidak bisa main-main untuk menginvestasikan dana bukan?" Ucap pak Malik dengan senyum kecil.
"Oh, jadi begitu. Saya cukup kagum dengan cara anda. Anda benar-benar memiliki jiwa bisnis." Puji Setya dengan senyum di wajahnya.
"Hahaha. Anda cukup pandai bersilat lidah ... Kita langsung saja. Bantuan apa yang anda perlukan dari perusahaan saya? Dan coba yakinkan saya kalau membantu anda akan menguntungkan untuk perusahaan saya." Tantang pak Malik dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
"Baiklah. Jadi begini ..."
Setelah itu Setya menjelaskan latar belakang dan tujuan ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan pak Malik. Tak lupa Setya juga menunjukkan secara konkrit anggaran dana yang dia butuhkan dan bagaimana prospek secara keuntungan yang akan diterima waktu jangka panjang.
Setya menjelaskan dengan sangat tenang dan penuh percaya diri. Itu menjadi nilai tambah sendiri bagi pak Malik. Itu menunjukkan bahwa Setya memang serius dan yakin dengna proyek yang digagasnya.
"Saya sangat terkesan dengan proposal dan penjelasan anda. Saya sepakat untuk bekerjasama dengan perusahaan anda. Saya siap menginvestasikan dana yang anda butuhkan." Ucap pak Malik yang merasa puas.
"Terima kasih banyak. Kami akan berusaha keras dan melakukan yang terbaik agar proyek ini bisa berjalan dengan lancar." Ucap Setya dengan senyuman diwajahnya.
"Hm, bagus sekali. Saya menunggu keuntungan besar dari anda." Ucap pak Malik sambil berjabat tangan dengan Setya.
Setelah menandatangani kontrak perjanjian kerja sama serta berdiskusi tentang pembagian hasil, Setya dan Bayu segera berpamitan untuk undur diri. Setelah kepergian Setya dan Bayu, Widia memasuki ruangan pak Malik tanpa mengetuk pintu sebelumnya.
"Papa!" Panggil Widia dengan manja.
"Ada apa?! Sudah papa bilang, ketuk pintu dulu sebelum masuk. Dan sudah berapa kali papa mengatakan padamu, untuk bersikap professional saat di kantor." Seru pak Malik yang terlihat lelah dengan sikap Widia.
"Iya-iya maaf. Tapi pa, siapa pemuda tampan yang baru saja keluar dari ruangan papa tadi?!" Tanya Widia penasaran.
"Dia rekan bisnis baru papa. Ada apa memangnya?!" Tanya pak Malik dengan menatap curiga pada putrinya itu.
"Dia sangat tampan dan benar-benar tipe Widia ... Pa, bisakah papa membiarkan Widia yang menangani kerja sama dengan pemuda itu?!" Seru Widia antusias.
"Apakah kamu bisa?! Kamu belum pernah menangani proyek seperti ini sebelumnya." Tanya pak Malik ragu.
"Belum pernah bukan berarti tak bisa. Papa kan tahu, kalo putri papa ini sangat pintar. Widia pasti bisa cepat paham. Widia, juga bisa tanya pada pemuda tadi." Jawab Widia dengan senyum lebar.
"Haahh.. Kamu ini. Baiklah, papa akan percayakan proyek ini padamu. Papa akan kirimkan kontak Setya padamu nanti. Tapi, ingat bersikaplah professional. Jangan permalukan papa dan perusahaan. Jangan bawa-bawa urusan pribadi dengan pekerjaan." Seru papa mengingatkan.
"Baik pa, aku mengerti. Kalau gitu Widia pergi dulu. Jangan lupa kirimkan kontaknya pada Widia nanti." Seru Widia sembari berlalu pergi.
Setya ... Namanya juga sangat sesuai dengan paras tampannya.
Aku sama sekali tak menyangka, pemuda yang ku temui tadi pagi adalah rekan kerja papa.
Bukankah ini seperti takdir? Hehe..
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..