
SEMUA pertanyaan terjawab sudah ketika tiba-tiba sore itu Tara mendatangi Akbi di rumah.
Kekira yang baru pulang dari rumah sakit sempat terkejut. Namun akhirnya mencuri dengar pembicaraan Akbi dengan Tara.
“Udah lama juga kita nggak ketemu?” Tara menatap Akbi lekat.
Akbi melihat ke arah lain. “Gue nggak ngerti maksud lo.”
“Come on, Bi. Lo pasti ngerasain kan dua tahun lalu kita pernah jalan bareng?”
“Jadi lo nipu gue?” Akbi menatapnya tajam.
Tara menggeleng. “Gue cuma mau buka mata lo untuk terima kenyataan kalo gue ini Tara saudara kembar Tari mantan pacar lo.”
Kekira tercekat, dan mundur selangkah.
Tara?
Saudara kembar Tari?
“Tari nggak pernah cerita dia punya saudara kembar!”
“Tapi itu kenyataan, Bi. Lo inget, waktu lo tanding basket di SMA Panca? Tari lagi sakit, tapi dia udah janji mau nemenin lo. Makanya gue yang gantiin. Lo peluk gue, lo cium pipi gue, tapi lo nggak pernah tau gue ini Tara.”
Akbi menggeleng cepat. “Gue nggak percaya kalian bisa mainin gue begini. Jawab jujur, berapa kali lo gantiin posisi Tari untuk jalan sama gue?”
Tara menggigit bibir. “Waktu ulang tahun lo, sama ngerayain anniversary Tari yang pertama.”
Pikiran Akbi kembali ke saat-saat itu.
Memang ia merasa Tari berubah lebih agresif.
Tapi tidak terpikir itu bukan kekasihnya.
__ADS_1
Apa itu berarti, rasa cintanya pada Tari saat itu tidak sekuat yang dia pikirkan?
“Lo inget kan, waktu lo cium gue. Gue nggak bisa lupa hal itu, Bi. Makanya…”
“Tara, cukup!” Akbi mendengus keras. “Gue nggak habis pikir. Kenapa lo sama Tari tega mainin gue?”
“Mainin? Lo harusnya nyadar, Bi. Tari cinta banget sama lo, dia nggak mau ngecewain lo. Waktu Tari meninggal, gue milih pergi karena gue nggak kuat menerima kematian dia. Tapi alasan kedua gue, karena gue nggak mau lo tau tentang gue.”
“Dan sekarang untuk apa lo balik?”
Tara menatap Akbi serius. “Karena gue udah tau siapa pelaku yang bunuh Tari.”
Akbi menoleh tajam. “Siapa?”
“Namanya Evan. Dia mantan pacar gue.”
Tubuh Akbi menegang. “Evan?” langsung terbayang Evan, wakil ketua Tyrex, temannya.
“Sejujurnya, setelah beberapa kali gantiin posisi Tari dengan jalan sama lo, perasaan gue ke lo berubah, Bi. Gue cinta sama lo.”
“Apa ini orang yang lo maksud?” Akbi menunjukkan foto di HP-nya.
Mata Tara membulat. “Iya bener ini orangnya.”
Kekira yang menguping menajamkan penglihatan agar jelas foto yang Akbi tunjukkan.
Kok kayaknya aku pernah liat orang itu? Batinnya.
Akbi menarik nafas geram. “Berarti bener dugaan gue. Di Tyrex ada pelaku pembunuh Tari! Apa motif dia bunuh Tari?”
“Sebenernya Evan ngincer gue. Karena sejak gue ketemu lo, gue jadi nggak peduli sama Evan. Bahkan gue nggak cinta lagi dan putusin dia. Dia marah. Sayangnya dia nggak tau gue punya saudara kembar. Begitu dia liat Tari yang dia kira gue. Kelanjutannya seperti yang lo tau.”
“Apa Tari kenal sama Evan?”
__ADS_1
Tara mengangguk. “Gue pernah minta tolong sama Tari untuk gantiin gue nemuin Evan waktu gue sakit. Dia tau Evan anggota geng motor. Gue baru nyadarin ini semua, waktu denger orang rumah cerita apa yang lo omongin. Lo bilang sama nyokap, kalo Tari sempet bilang sama lo pelakunya punya bekas jahitan di bahu kanan dan anggota geng motor. Evan punya bekas luka itu waktu kecelakaan sejak dia kecil. Lalu gue inget ancaman Evan waktu gue putusin dia. Dia bilang, dia nggak akan biarin gue jadi milik orang lain. Inget itu semua bikin gue makin yakin Evan ngincer gue dan bunuh Tari yang dia kira gue.”
Akbi mengepalkan tangannya, keras. “Kalo gue nyadar lebih awal, udah gue abisin dia!”
“Lo tau di mana Evan?”
Akbi tidak menjawab, ia mengeluarkan HP dan menghubungi Hendri.
“Ndri, lo tau Evan di mana?”
Hendri menjawab. “Kita lost contact sama dia, Bi. Gue udah coba cari ke kampus sama rumahnya tapi nggak ada yang tau dia di mana.”
Akbi makin geram. “Lo semua cari info tentang dia, dan segera beritahu gue!”
“Emang ada apa, Bi?”
“Enggak usah banyak tanya, lakuin aja.”
“Siap, Bi.”
Akbi mematikan telepon dan menoleh pada Tara.
“Udah malem. Gue anter lo pulang.”
Tara terpana dan menggeleng. “Gue bawa motor kok, Bi.”
“Justru itu udah malem. Lo nggak aman sendirian. Biar gue ikutin lo dari belakang sampe rumah.”
“Tapi…” Tara masih bingung, Akbi sudah berdiri dan mengenakan jaketnya.
Tara tersenyum senang dan mengikuti Akbi.
Diam-diam Kekira memandangi kepergian mereka. Air matanya mengalir di pipinya yang bersih.
__ADS_1
“Kenapa sakit rasanya liat mereka?”
***