
Beberapa saat sebelmunya.
"Hallo sayang, hari ini kamu makan siang sama Dika ya. Pekerjaan ku masih banyak." Ucap Setya pada Intan.
"Hm, baiklah kalau begitu. Tapi, kak Setya jangan lupa makan yaa." Ucap Intan penuh perhatian.
"Siap sayang.." Jawab Setya dengan senyuman diwajahnya, mendengar perhatian dari sang istri.
"Dika, aku makan siang bersamamu ya. Kak Setya, gak bisa makan siang denganku hari ini." Ucap Intan pada sang adik.
"Hm, boleh. Hari ini aku mau makan dengan Tasya. Sekalian saja gak apa-apa." Jawab Dika santai.
"Lho, kamu uda ada janjian dengan Tasya toh. Kalau begitu aku gak akan mengganggumu. Aku tahu, kalian butuh waktu berdua ..."
"Gak apa-apa. Kami bisa makan berdua kapanpun itu ..."
"Enggak. Aku gak mau ganggu. Gini aja, antarkan aku ke perusahaan kak Setya. Aku akan membawakan makan siang untuknya. Nanti, kalau kamu sudah selesai makan dengan Tasya, kamu bisa menjemputku." Ucap Intan menyarankan.
"Baiklah."Jawab Dika menyetujui.
Setelah itu, Dika segera mengantar sang kakak ke perusahaan Setya. Saat Intan sampai di kantor, dia melihat ayah mertuanya baru saja keluar kantor untuk makan siang.
"Papa?" Sapa Intan pada mertuanya dengan sopan.
"Oh Intan, kamu disini nak? Ada apa?" Tanya papa perhatian.
"Intan bawakan makan siang untuk kak Setya pa. Kak Setya bilang kalo dia masih sibuk. Mangkannya Intan yang kesini. Sekalian, Dika mau makan siang bersama Tasya diluar tadi.." Jawab Intan menjelaskan.
"Oh begitu. Baiklah, ayo papa antar kamu ke ruangannya Setya ..."
"Intan gak apa-apa kok Pa. Intan bisa sendiri. Kan papa juga mau makan siang." Seru Intan tan enak hati.
"Ehm, gak apa-apa. Papa akan merasa tenang jika sudah mengantar kamu ..."
Papa gak tahu apa yang sedang terjadi di ruangan Setya. Untuk berjaga-jaga saja, papa akan menemanimu Intan ...
"Baiklah kalau begitu pa. Makasih.." Ucap Intan dengan sopan.
Setelah itu, papa dan Intan segera menuju ke ruangan Setya. Saat mereka sudah di depan ruangan kerja Setya, papa dan Intan samar-samar mendengar suara Setya dan seorang perempuan. Intan mengerutkan dahinya bingung dan berusaha menebak, Setya sedang berbicara dengan siapa. Akhirnya, papa pun memutuskan untuk langsung membuka pintu ruangan Setya tanpa mengetuknya lebih dulu.
"Setya!!" Seru papa saat melihat posisi Setya dan Widia yang sangat dekat. Widia terlihat menekannya ke dinding dengan pakaian yang sangat minim dan ketat.
"Papa-Intan?!" Seru Setya menatap papa dan istrinya yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.
Setya bisa melihat tatapan tajam dari sang papa. Sedangkan, Intan terlihat masih terkejut dengan apa yang dilihatnya. Yah, memang posisi Setya dan Widia sangat mudah untuk disalah pahami.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan?!" Tanya papa dengan nada tajam.
Widia segera menjauh dari Setya dan menatap papa Setya dengan takut-takut. Dia gak ingin kesan pertamanya buruk di depan orang tua Setya.
"Maaf om, ini semua salah paham. Saya hanya ingin membantu pak Setya. Pekerjaannya terlihat banyak, dia pasti kelelahan. Saya hanya ingin membantu memijit bahunya." Jawab Widia menjelaskan terlebih dulu daripada Setya. Intan yang juga mendengar hal itu pun tersenyum sinis.
"Tapi, saya juga sudah mengatakan pada anda jika saya tidak butuh bantuan anda. Tapi, anda terus mendekat ke arah saya." Seru Setya sambil menatap Widia yang berlagak tidak bersalah di depan papanya.
"Maafkan saya jika membuat anda tidak nyaman. Saya hanya khawatir pada kesehatan anda ..."
"Hahaha. Khawatir?! Memang apa hak anda untuk merasa khawatir?" Seru Intam yang aidah tak tahan lagi berdiam diri melihat sandiwara Widia.
"Saya memiliki hak untuk mengkhawtirkan pak Setya. Dia rekan bisnis saya. Jika, dia sakit maka akan berpengaruh pada pekerjaan ..."
"Oh begitu ... Baiklah, terima kasih atas perhatian anda. Tapi, cara yang anda lakukan itu sangat tidak sopan! ... Lagipula, tanpa anda saya sudah cukup untuk menjaga kesehatannya ..." Ucap Intan sembari mendekat ke arah Setya. Kemudian, Intan dengan sengaja membenarkan dasi dan jas Setya dengan mesra di depan Widia.
"Huh?! Bagaimana kau menjaga kesehatannya kalau kau hanya mengganggunya setiap malam?! Wanita rendahan yang hanya bisa melemparkan dirinya pada seorang pria?!" Sindir Widia dengan senyum sinis.
"Jaga mulut anda! Jangan pernah memanggilnya seperti itu! Dia berhak untuk mengganggu saya setiap malam. Karna itu sudah menjadi kewajibannya sebagai istri saya!" Seru Setya dengan nada tegas dan tatapan tajam pada Widia.
"I-Istri?!" Seru Widia yang terlihat snagat terkejut mendengar ucapan Setya itu.
"Ups! Sepertinya anda belum tahu ya?! ... Jika, belum tahu perkenalkan saya Intan, istri sah dari lelaki yang ingin anda dekati tadi." Ucap Intan sembari merangkul lengan Setya dengan manja.
"Ap-Apa?!"
Widia masih diam dan menatap ketiga orang di hadapannya itu. Dia melihat jemari Intan dan Setya yang sama-sama menggunakan cincin. Dan disanalah dia baru tersadar kalau mereka memang sepasang suami istri.
"Jadi bu Widia, anda tak perlu mengkhawatirkan kesehatan suami saya. Saya sebagai istrinya, akan bertanggung jawab penuh untuk menjaganya ... Sekarang, apakah masih ada yang ingin anda sampaikan pada suami saya?!" Tanya Intan dengan senyum diwajahnya. Senyum yang menunjukkan kemenangan mutlak.
"Ahh.. Baiklah kalau begitu. Sudahb tidak ada lagi yang ingin saya katakan. Kalau begitu, saya pamit pergi. Sampai jumpa." Pamit Widia sambil berlalu meninggalkan ruangan Sety dengan kepla tertunduk. Dia merasa sangat malu saat itu. Dia juga merasa sidah dikalahkan oleh Intan.
"Okey. Papa rasa masalah sudah berakhir. Papa tinggalkan kalian berdua dulu ya." Ucap papa sebelum berpamitan untuk ikut meninggalkan ruangan Setya.
"Baik pa. Makasih uda anterin Intan tadi." Ucap Intan dengan senyum lembut.
"Sama-sama sayang." Ucap papa sambil mengusap pelan puncak kepala Intan.
Setelah papa keluar. Intan berbalik dan menatap Setya dengan tajam dengan tangan terlipat di dada.
"Sayang ... Kenapa kamu menatapku begitu?" Tanya Setya bingung. Dia juga merasa cukup ngeri saat melihat aura istrinya saat itu.
"Kenapa?! Apa kak Setya berpikir semuanya sudah berakhir begitu saja?!" Tanya Intan dengan nada tajam.
"Sayang ... Aku gatau apa maksud kamu. Bukankah semua sudah beres? Dia sudah tahu kalau kita bukan hanya pasangan kekasih tapi suami istri. Apalagi dengan kamu yang sedang hamil." Ucap Setya berusaha membujuk sang istri. Jujur, dia sendiri masih gatau kesalahannya ada dimana.
__ADS_1
"Bukan itu kak Setya! ... Aku tanya pada kakak, kenapa kakak membiarkan wanita itu masuk ke ruangan kakak?! Mana kak Bayu?! Andai aja aku dan papa gak dateng disaat yang tepat tadi, apa yang akan terjadi pada kakak?!" Seru Intan dengan menatap tajam mata Setya.
"Ak-Aku ..."
"Huh! Sudahlah. Ini Intan bawakan makan siang. Kakak makan dulu. Aku akan kembali ke sekolah. Aku sudah cukup kenyang melihat drama siang tadi." Seru Intan sambil meletakkan bungkusan di meja Setya.
"Ahh!!" Pekik Intan saat Setya menarikknya hinga Intan terduduk di pangkuan Setya.
"Kak Setya ngapain sih?! Lepasin! Aku mau kembali ke sekolah!" Seru Intan berusaha bangkit dari pangkuan Setya. Namun, Setya memeluknya dengan erat sehingga Intan tam dapat bergerak.
"Aku gak bakalan lepasin kamu, kalau kamu gak maafin aku. Maaf ... Aku salah perhitungan. Aku menyuruhnya masuk karna aku masih banyak pekerjaan. Dan aku ingin menemuinya secara langsung untuk segera mempertegas padanya kalau dia gak bakalan pernah ada kesempatan mendekatiku, karna aku sudah punya kamu ... Tapi gak aku sangka sama sekali, dia jadi begitu berani tadi. Maaf yaa.." Ucap Setya menjelaskan dengan pandangan memelas pada Intan. Intan menatap mata Setya dan mencari kesungguhan di sana.
"Kak Setya tahu tadi sangat bahaya kan?! Kalau aku telay datang gimana?! Kak Setya akan ..."
"Sttt!! ... Kamu mikirin apa sih?! Walaupun kamu gak dateng kalo dia bertindak lebih lagi. Aku pasti akan mendorongnya. Aku gak akan peduli sopan santun dan tata krama lagi." Ucap Setya dengan tegas.
"Serius?!" Tanya Intan dengan menatap Setya lekat.
"Tentu saja sayang. Karna, aku gak bakalan khianati cinta kita. Apalagi disini ada malaikat kecil kita." Jawab Setya dengan mengusap lembut perut Intan.
"Hmm.. Lain kali, jangan sembarangan masukin wanita lain masuk ruangan kakak, ok?! Kalau terpaksa, kakak gak boleh sendirian. Setidkanya harus ada kak Bayu!" Seru Intan dengan penuh penekanan.
"Baik-baik. Aku akan patuh ... Sekarang kita makan ya. Kamu dan baby kita pasti udah lapar." Ucap Setya sembari membuka bungkusan yang dibawa Intan.
"Iya. Tapi, turunin Intan dulu ..."
"Gak perlu. Aku sudah nyaman dengan posisi ini. Kamu juga bisa bersandar padaku." Ucap Setya dengan senyum menggoda.
"Ish! Dasar!" Seru Intan sembari memukul dada Setya. Tapi, setelah itu sesuai dengan perkataan Setya, Intan pun bersandar di dada Setya. Namun, Intan masih terlihat berpikir saat itu.
Apakah wanita itu sudah jerah dan benar-benar gak akan deketin kak Setya lagi?!
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
Maaf ya semua. Baru bisa update sekarang. Tangan author baru enakan. Dan nulisnya juga nyicil pelan-pelan.
Nanti setelah berbuka akan ada update lagi..
__ADS_1
Makasih untuk temen-temen yang masih mau menunggu🤗🙏
...----------------...