Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Kamu yang pertama dan satu-satunya..


__ADS_3

Waktu kembali berlalu. Hari ini sudah masuk tahun ajaran baru. Saat ini Intan dan Ifa sudah naik ke kelas 2 SMA. Sedangkan Setya dan Bayu sendiri sudah kelas 3 SMA, yang pertanda Setya dan Bayu sebentar lagi akan lulus dan meninggalkan sekolah.


Seperti biasa Setya menjemput Intan dan di rumahnya.


"Selamat pagi, tuan putri." Sapa Setya dengan lembut.


"Selamat pagi juga, pangerannya Intan." Jawab Intan dengan senyum lebar diwajahnya.


"Sudah siap untuk ke sekolah?" Tanya Setya sembari membantu Intan mengenakan helmnya.


"Ehm, aku cukup gugup. Karna, hari ini akan ada angkatan baru. Mereka kan belum pernah ketemu sama kak Setya. Huh! Fans kak Setya pasti akan bertambah. Akan banyak gadis lagi yang akan mendekati kakak!" Ucap Intan dengan nada manja sambil mengerucutkan bibirnya.


"Haha. Kamu menggemaskan sekali sih, hm?.. Sebanyak apapun gadis yang berusaha mendekatiku kan cuman kamu yang ada dihatiku. Sudah tak ada tempat lagi dihatiku untuk gadis lain. Kamu yang pertama dan satu-satunya." Jawab Setya sembari menggenggam lembut kedua tangan Intan.


"Iya, aku tahu itu. Tapi, aku masih takut untuk kehilangan kakak." Ucap Intan dengan masih cemberut.


"Kalau gitu kamu harus terus ada disampingku dan menjagaku, agar aku gak diambil oleh gadis lain. Bagaimana?" Goda Setya pada Intan.


"Baiklah. Tentu saja!" Seru Intan denga mengangguk penuh keyakinan. Setya tersenyum dan mencubit lembut pipi Intan yang terlihat menggemaskan itu.


Setelah itu keduanya pun bergegas menuju sekolah. Di sekolah ternyata sudah heboh oleh para siswi yang berbisik menatap Bayu yang terlebih dulu datang bersama Ifa.


"Senior itu tampan sekali.."


"Benar! Siapa ya namanya.."


"Tapi, sepetinya itu kekasihnya deh."


Ifa yang tak terima karna Bayu ditatap oleh banyak gadis dari angkatan baru itu pun dengan posesif merangkul lengan Bayu dengan erat. Sembari menatap tajam pada gadis-gadis yang menatap Bayu. Bayu tersenyum geli melihat tingkah Ifa. Namun, dia tak menghentikan apa yang dilakukan Ifa itu.


Tatapan gadis-gadis itu sedikit berkurang saat Setya melepas helmnya. Dimata para gadis disana, itu adalah pandangan yang sangat keren. Pesona Setya seakan menghipnotis mereka.


"Wah, ada cogan lagi.!!"


"Gila! Ini lebih parah. Dia seperti keluar dari buku komik."


"Benar! Aku seperti bisa melihat bunga-bunga menjadi latar belakangnya."


Intan yang mendengar bisikan para gadis itu pun semakin cemberut. Ketakutannya menjadi kenyataan.


Huh! Memang susah ya kalau punya pacar kelewat tampan seperti ini.!!


Aku harus selalu kuat ketika banyak mata gadis lain yang menatapnya penuh minat..


Setya yang melihat Intan cemberut pun tersenyum kecil. Karna, ekspresi Intan yang seperti itu terlihat sangat menggemaskan baginya. Dia hendak mendekati Intan. Tapi ...


"Kak Setya?!" Panggil seorang gadis, sepertinya dia angkatan baru. Setya menoleh dan menatap gadis itu dengan bingung.


"Ya?" Ucap Setya dengan nada bertanya.


"Ah! Ini benar kakak! Aku sangat merindukan kakak! Ini aku, Putri kak!" Seru gadis itu sambil memeluk Setya dengan sangat erat.


Tentu saja itu membuat Setya dan yang lain merasa terkejut. Bagi yang mengetahui hubungan Setya dan Intan, mereka mulai berbisik dan menduga-duga kalau Intan sudah dicampakkan. Bayu dan Ifa juga menatap itu dengan bingung. Apalagi, Ifa dapat melihat Intan juga sangat terkejut dengan hal itu. Intan terasa terbakar api cemburu, ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan emosinya.


"Maaf kamu siapa?!" Seru Setya sembari melepaskan pelukan Putri.


"Kakak tidak mengenaliku?! Aku Putri kak! Putrinya kakak!" Seru Putri berusaha membuat Setya kembali mengingatnya.

__ADS_1


"Putri?" Gumam Setya berusaha mengingat siapa gadis itu. Sampai, sekelebat ingatannya menangkap seorang gadis kecil berusia 5 tahun yang tersenyum cerah padanya.


"Putri? Apakah kamu gadis kecil yang tinggal disebelah rumahku dulu?" Tanya Setya memastikan.


"Iya. Itu aku kak. Putri." Jawab Putri dengan senyum senang karna Setya sudah mengingatnya.


"Wah, kamu sudah tumbuh besar rupanya. Aku sampai tidak mengenalimu. Kamu sudah dewasa sekarang." Ucap Setya lembut sembari menepuk pelan puncak kepala Putri. Setya sama sekali tidak mengenali Putri karna sudah lama sekali dia bertemu dengan Putri sebelum kepindahannya dari sebelah rumah Setya dulu.


Intan semakin bingung dengan kondisi yang sedang terjadi disana. Apalagi, saat Setya malah tersenyum dan menepuk lembut kepala gadis yang tiba-tiba memeluknya. Intan terlihat semakin kesal. Lalu, sepintas ia kembali teringat dengan perkataan Setya sebelumnya, untuk terus bersamanya dan menjaganya dari gadis yang akan mendekatinya. Akhirnya, dengan langkah cepat Intan mendekati Setya. Lalu ia merangkul lengan Setya dengan erat.


"Sayang, siapa adik ini?" Tanya Intan manja pada Setya.


Seakan tersadar bahwa Intan juga dari tadi melihat kejadian itu, Setya segera menatap Intan merasa bersalah karna sudah mengabaikannya. Tapi, ia juga merasa geli saat Intan memanggilnya sayang. Karena, sebelumnya Intan tak pernah sengaja memanggilnya seperti itu. Selama ini, Intan selalu memanggilnya kakak.


"Dia teman masa kecilku. Putri." Jawab Setya dengan senyum diwajahnya.


"Oh, teman masa kecil ... Kalau, aku Pacarnya kak Setya. Intan." Ucap Intan dengan penekanan pada kata pacar.


Lalu ia menyandarkan kepalanya dengan manja dibahu Setya. Setya dengan susah payah menahan senyumnya saat melihat Intan seperti itu. Dia tahu saat ini Intan sedang cemburu pada Putri.


Putri menatap Intan dengan pandangan tak suka. Intan pun sama, dia juga menatap Putri seakan ingin menegaskan kalau Setya adalah kekasihnya.


"Kak Setya. Kakak kelas mana? ... Nanti istirahat bersama yuk!" Ajak Putri yang terang-terangan mengabaikan Intan. Intan menatap tak percaya pada Putri yang dengan sengaja mengabaikan hubungannya dengan Setya.


"Boleh saja. Nanti, aku dan teman-temanku akan menemuimu di kantin." Jawab Setya ramah. Dia tak bisa menolak, karna bagaimanapun hubungannya dengan Putri dulu cukup dekat. Dan ini kali pertama mereka bertemu lagi.


Intan menatap Setya dengan kecewa. Ia cukup terkejut, karna dengan mudahnya Setya menerima ajakan gadis lain. Yah, walaupun memang mereka teman lama. Tapi, setidaknya apakah dia tidak bisa bertanya padanya dulu? Intan juga tidak sejahat itu sampai tidak mengiyakan, bukan. Genggaman tangan Intan di lengan Setya semakin melemah.


"Apa gak bisa kak Setya sendiri saja? Aku sangat merindukan kakak. Sudah sangat lama, kita tidak bertemu." Rengek Putri dengan manja. Intan sudah pasrah akan jwaban Setya.


"Tidak bisa, Putri. Karna, aku tidak ingin melewatkan waktuku dengan kekasihku. Kalau, kamu tidak nyaman jika aku datang bersama Intan dan teman-temanku, maaf aku tak bisa menemanimu saat istirahat nanti." Ucap Setya sembari merangkul bahu Intan. Intan terkejut mendengar jawaban Setya. Ia pun menatap Setya dengan tatapan hangat dan senyum senang.


"Kalau begitu selamat bertemu nanti. Kami pergi dulu. Ayo tuan putri." Pamit Setya ramah. Kemudian, ia berjalan menuju kelas Intan untuk mengantarkannya. Diikuti Bayu dan Ifa dibelakangnya.


"Siapa sih gadis itu, sok keganjenan sekali."


"Iya, siapa dia tiba-tiba mendekati kak Setya seperti itu."


"Huh! Lihatlah dia. Belum tau saja dia kalau Setya sangat mencintai pacarnya itu."


Para siswi mulai berbisik-bisik pada Putri. Putri semakin kesal pada Intan. Ia menatap kepergian Setya dan Intan dengan tatapan tak suka.


"Aku pasti akan mendapatkan kasih sayang kak Setya lagi.!! Hanya aku yang bisa jadi putrinya kak Setya!!" Gumam Putri penuh tekad.


Sesampainya Setya di depan kelas Intan, ia menatap wajah Intan yang terlihat tak bersemangat.


"Ada apa sayang? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Setya dengan lembut. Pipi Intan bersemu merah saat Setya memanggilnya sayang.


"Tidak ada. Hanya sedikit khawatir saja." Jawab Intan sambil menundukkan kepalanya.


"Apakah karna Putri? ... Kalau memang benar karna dia, kamu tenang saja. Dia itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Karna, gak ada yang bisa gantikan posisi kau dihatiku sayang." Ucap Setya dengan lembut.


Intan mengangguk mengiyakan. Tapi, entah bagaimana dalam hati kecilnya ia masih merasa tak enak. Tapi, dia tidak ingin mencurigai Setya. Dia percaya pada Setya sepenuhnya.


"Baiklah kalau gitu, kamu masuk dulu. Nanti aku jemput yaa.." Ucap Setya lembut sambil membelai rambut Intan dengan sayang.


"Iya." Jawab Intan dengan senyum dipaksakan.

__ADS_1


Intan dan Ifa segera memasuki kelas. Setelah mereka duduk Ifa pun membuka suara.


"Siapa sih gadis kecil itu? Sok manja sekali dengan kak Setya? Tapi, kak Setya gak marah juga sama dia yang uda peluk-peluk sembarangan gitu." Seru Ifa penasaran.


"Dia teman masa kecil kak Setya. Tapi, aku gatau gimana detailnya, kak Setya masih belum menceritakan ini padaku." Jawab Intan lesu.


"Kamu gak boleh lengah Intan. Kamu harus terus waspada. Gadis-gadis seperti itu sangat berbahaya." Ucap Ifa mengingatkan. Intan pun semakin kepikiran lagi dengan hubungan Setya dan Putri. Namun, ia berusaha meyakinkan pada dirinya kalau Setya tidak akan mengkhianatinya.


Toni diam-diam mendengarkan percakapan Ifa dan Intan. Dia jadi penasaran dengan sosok gadis yang dimaksud mereka.


Kalau sampai, kakak kegantengan itu berani membuat Intan sedih. Aku gak bakal membiarkannya. Dia sudah berjanji akan melindungi dan membuat Intan bahagia. Kalau sampai dia berani mengkhianati Intan, aku tak akan segan memberikan perhitungan dengannya!! Toni.


Toni yang memang masih memiliki rasa pada Intan, tentu saja tak akan terima kalau ada orang yang menyakiti Intan.


Intan sendiri walau sudah meyakinkan dirinya seperti itu. Intan masih saja tetap kepikiran. Sampai akhirnya, waktu pelajaran dia kurang fokus.


Bagaimana sih hubungan kak Setya dan Putri dulu? Mereka terlihat sangat dekat. Dan jelas-jelas Putri sepertinya tertarik pada kak Setya.


Apa mereka sama-sama cinta pertama?!


Ahh!! Ini menyebalkan!!


Siapa sih sebenarnya Putri itu?!


"Intan?!"


"Intann?!"


Beberapa kali guru mata pelajaran memanggil nama Intan untuk bertanya. Namun, Intan yang masih melamun tak mendengarkan itu. Ifa juga berusaha membuat Intan sadar. Sampai guru mapelpun semakin mengencangkan panggilannya.


"Intannn?!"


"Siapa sih kamu, menyebalkan!!" Teriak Intan sambil berdiri dari duduknya. Seketika itu membuat guru dan semua teman-temannya menatapnya dengan bingung.


"Saya gurumu! Kalau tak suka dengan pelajaran saya, silahkan keluar saja." Seru guru mapel marah.


"Ahh!! Maaf.. Maafkan saya pak. Saya tadi sedikit kepikiran suatu masalah. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Intan sambil membungkukkan badannya untuk meminta maaf.


"Baiklah, hari ini kamu ku maafkan. Tapi, kalau saya melihatmu melamun lagi. Lebih baik kamu keluar dari kelas saya." Seru guru mapel tegas.


"Baik Pak, saya mengerti. Maaf.." Ucap Intan sambil menunduk menyesal. Dia segera duduk kembali dengan lesu. Ifa menepuk-nepuk bahu Intan untuk menenangkannya.


Aku harus fokus! Untuk apa aku membuang waktuku untuk memikirkan gadis itu?!


Aku sendiri yang akan rugi.!!


Lagian, aku sangat mempercayai kak Setya!!


.


.


.


Bersambung..


...----------------...

__ADS_1


>>Putri<<



__ADS_2