
Setelah hari itu, setiap belajar kelompok Intan sengaja untuk tidak duduk didekat Toni. Ia ingin menjaga perasaan Setya dan tidak membuat Setya merasa cemburu.
Walaupun, Setya tidak memaksa agar Intan menjauhi Toni karna bagaimanapun Setya tidak ingin terlalu mengekang Intan tapi Intan tahu bahwa Setya akan jauh lebih bahagia kalau dirinya bisa mejaga jarak dari Toni. Lagian, memang ada yang lain yang bisa mengajari Toni selain dirinya.
2 minggu telah berlalu dan tak terasa sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian tengah semester. Mereka masih khawatir tentu saja, namun kini mereka sudah jauh lebih siap dari sebelumnya.
...****************...
"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?" Tanya Bayu yang melihat Ifa memanyunkan bibirnya.
"Kenapa aku apes banget harus duduk bersama kak Indah coba?! Hufftt ... Membayangkan 2 minggu aku harus duduk bersebelahan dengan kak Indah membuatku kesal.!!" Keluh Ifa manja, dia menyandarkan kepalanya dibahu Bayu. Bayu dengan lembut merapikan rambut Ifa yang menutupi wajahnya.
"Aahh ... Seberapa kalipun aku berusaha beradaptasi dengan pemandangan romantis itu , tapi tetap gak bisa. Aku sangat iri dengan mereka bisa mendapatkan kak Bayu dan kak Setya."
"Sama! Aku juga ingin merasakan bersandar dibahu kak Bayu!"
Suara bisik-bisik gadis tak dihiraukan oleh Ifa. Jelas mereka dijadikan tontonan karna saat ini mereka ada di kantin.
"Berhenti merengek dan bersikap manja seperti itu. Kasihan para gadis yang harus terus melihat keromantisan kalian berdua ini." Seru Intan mengingatkan.
"Tidak kah kau mengaca? Dari tadi yang saling suap-suapan siapa?!" Seru Ifa sambil memutar bola matanya malas.
Intan sakan tersadar atas kelakuannya sendiri. Ia sama sekali tak merasakan kalau dirinya juga dijadikan tontonan, karna yang ia rasakan hanyalah rasa bahagia. Di matanya juga hanya terlihat Setya saja.
"Hehe. Maaf." Ucap Intan malu.
"Ngomong-ngomong saat ujian nanti kita akan sekelas semua kecuali kau Setya." Ucap Bayu seakan teringat hal itu.
"Benarkah?!" Seru Intan yang seketika menatap Setya disampingnya.
"Iya. Absen kita terlalu jauh." Jawab Setya juga terlihat kecewa.
"Padahal pasti lebih menyenangkan kalau bisa duduk disebelah kakak." Ucap Intan sedih. Kali ini ia yang bersandar dibahu Setya. Setya pun membelai pipi Intan dengan sayang.
"Hmm ... Aku juga ingin seperti itu. Tapi, tidak bisa. Kamu akan duduk dengan Irhas teman sekalasku yang waktu itu menjadi lawanmu saat praktek basket." Ucap Setya mengingatkan.
"Teman kakak itu bagaimana? Aku jadi takut." Seru Intan sambil mendongakkan kepalanya menatap Intan.
"Kamu tenang saja, aku akan pastikan kamu tidak apa-apa walaupun aku tidak sekelas denganmu." Jawab Setya dengan senyuman diwajahnya.
Kenapa jawaban kak Setya seperti itu?
Itu belum menjawab pertanyaanku ... Intan
Bayu menatap Setya dalam. Ia paham apa yang dirasakan Setya saat ini. Sebenarnya Irhas teman Setya itu terkenal memiliki pikiran yang kotor di kelasnya. Ia sering terpergok melihat video dewasa di kelas. Sering juga berpura-pura tidak sengaja menyentuh teman wanita di kelasnya.
Dia juga terkenal mudah mengabstraksikan wanita yang dia lihat dengan pikiran kotornya. Dia sudah beberapa kali masuk BK untuk tindakannya. Namun karna kebijakan sekolah yang tidak bisa mengeluarkan muridnya begitu saja, akhirya Irhas masih bertahan di sekolah. Sejauh ini dia cukup dijauhi di kelasnya. Dan sekarang membayangkan Intan akan duduk denga Irhas membuat Setya sangat khawatir.
Aku akan pastikan dia tidak akan berani mengganggumu ... Setya
__ADS_1
...****************...
"Apa yang akan kau lakukan pada Irhas?! Aku bisa membantumu memantau dia saat sebelum dimulai ujian, tapi saat ujian berlangsung aku tidak bisa terus mengawasinya." Ucap Bayu pada Setya. Saat ini mereka tengah berjalan berdua menuju kelas setelah mengantar Intan dan Ifa ke kelasnya.
"Aku akan peringatkan dia nanti sepulang sekolah. Walau ada resiko dia malah ingin menggoda Intan setelah aku peringatkan ... Tidak! Aku akan peringatkan dia dengan tegas." Seru Setya tegas.
Jujur sebenarnya dia masih khawatir adanya kemungkinan Irhas malah ingin menggoda Intan setelah diperingatkan. Namun, Setya tetap mengambil keputusan itu, karna ia ingin menunjukkan pada Irhas kalau dia tidak boleh bebas pada Intan. Setya sekarang seperti sedang dihadapkan jalan buntu untuk melindungi Intan. Dia harus memilih diantara pilihan yang sama-sama susah.
Pulang sekolah ...
"Irhas jangan pulang dulu. Ada yang ingin ku sampaikan padamu!" Bisik Setya pada Irhas saat murid lain mulai berhamburan keluar kelas.
Setelah kelas sepenuhnya sepi, hanya ada Bayu yang tetap menemani Setya disana. irhas berjalan mendekati Setya
"Apa yang mau kau sampaikan padaku?" Tanya Irhas datar.
"Aku tidak akan basa-basi padamu. Kau tau bukan senin depan kita akan mulai ujian? ... Kebetulan sekali saat ujian nanti kau duduk dengan pacarku ..."
"Jadi kau ingin memperingatkanku untuk tidak macam-macam pada pacarmu itu?!" Tebak Irhas dengan santai, memotong ucapan Setya.
"Kau cukup Pintar. Ya! Aku sangat tahu kebiasaan burukmu itu. Jadi, aku ingin memperingatimu untuk tidak macam-macam pada pacarku!" Seru Setya tegas dengan berjalan mendekati Irhas dengan aura mengintimidasi.
"Waw! Aku sangat terkejut ... Tapi, tahukah kau semakin kau melarangku, semakin aku sangat tertarik untuk melakukan sesuatu pada pacarmu. Sepertinya dia sangat berharga ..."
"Berani kau menyentuh dia, aku jamin kau akan ku hajar habis-habisan dan akan ku jamin kau akan dikeluarkan dari sekolah!!" Seru Setya marah sambil mencengkram kerah seragam Irhas dan siap melayangkan tinjunya. Bayu yang melihat itu reflek mendekati Setya dan Irhas.
Irhas tak menjawab ia justru menyeringai dengan mengerikan. Melihat itu Setya semakin geram. Ia sudah hampir benar-benar menghajar Irhas, kalau saja Bayu tidak menghentikannya.
"Sudah selesai? Aku pergi dulu." Ucap Irhas santai dan mulai beranjak meninggalkan kelas.
"Apa aku melakukan kesalahan?! Dia terlihat semakin ingin melakukan sesuatu pada Intan. Huh! Ini membuatku gila!"
Brakk ...
Setya merasa tak berguna saat ini. Dia memukul meja dengan sangat keras. Ia sangat marah dengan situasi saat itu. Dia tak bisa melaporkan pada guru karna tak ada bukti. Dan saat ini keselamatan Intan sedang terancam. Setya merasa tak berguna saat ini.
"Tenanglah! Aku akan bantu mengawasinya sebisaku. Tapi, apakah tidak sebaiknya memberitahu Intan agar dia jadi lebih waspada?" Saran Bayu pada Setya.
"Tidak!! ... Dia baru saja perlahan berjalan keluar dari kegelapan dalam hidupnya. Kalau aku memberitahu masalah ini pada Intan. Dia akan menjadi takut lagi." Seru Setya terlihat frustasi.
Kring ... Kring ... Kring
"Hallo?" Sapa Bayu setelah mengangkat ponselnya.
"Kak Bayu dan Kak Setya dimana? Aku dan Intan sudah menunggu diparkiran." Tanya Ifa pada Bayu. Dia sudah menunggu cukup lama, apalagi Setya tak mengangkat ponselnya membuat Intan merasa cemas.
"Kami baru saja selesai piket. Sekarang kami akan segera kesana." Bohong Bayu yang masih melihat kemarahan pada wajah Setya.
"Baiklah. Kami akan menunggu." Jawab Ifa sebelum menutup panggilannya.
__ADS_1
"Mereka dimana?" Tanya Intan khawatir.
"Mereka baru selesai piket. Sebentar lagi akan sampai." Jawab Ifa santai. Intan pun bisa kembali lega.
"Jika, kamu tak ingin memberitahu Intan maka ubahlah ekspresimu itu. Kau terlihat kacau saat ini. Kita juga harus bergegas pergi. Intan dan Ifa sudah menunggu kita di parkiran." Ucap Bayu menasehati.
Setya menghembuskan nafas panjang. Dia berusaha meredam amarahnya, agar tidak membuat Intan khawatir. Setelah merasa cukup tenang, akhirnya dia dan Bayu segera menuju ke parkiran dimana Intan dan Ifa menunggu.
"Maaf ya, kamu menunggu lama?" Tanya Setya saat mendekati Intan yang asyik mengobrol dengan Ifa.
"Tidak apa ... Kak Setya kenapa?" Tanya Intan heran saat melihat ekspresi Setya. Walaupun Setya tersenyum, namun sangat jelas terlihat sorot matanya berbeda, bahkan alis Setya mengerut walaupun sedang tersenyum.
"Ah ... Sebenarnya ... Aku menahan sakit." Bohong Setya.
"Menahan sakit? Kak Setya sakit? Sebelah mana yang sakit?" Tanya Intan mendekati Setya dan mencari bagian tubuh Setya yang sakit. Ia melihat tangan Setya memar.
"Ini kenapa?" Tanya Intan khawatir, sambik meraih tangan Setya dan mengelusnya dengan lembut.
"Tadi tak sengaja terluka saat piket." Jawab Setya lagi-lagi berbohong.
"Hati-hati dong kak!" Seru Intan marah karna Setya tak berhati-hati dia mengelus lembut tangan Setya dan menciumnya.
"Aku harap ini bisa mengurangi rasa sakitnya." Ucap Intan sambik tersenyum menatap Setya.
Melihat senyum Intan, Setya segera menarik Intan ke dalam pelukannya. Dia memeluk Intan sangat erat.
Maaf ... Maafkan aku ...
Aku harus berbohong padamu. Aku hanya tak ingin kamu ketakutan ...
Aku akan melindungimu !!
Setya sebenarnya merasa bersalah pada Intan karna sudah berbohong. Tapi, dia juga ingin tidak membuat Intan khawatir. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi Intan tanpa membuatnya tahu.
Ada apa dengan kak Setya, hari ini ya?
Intan sendiri merasa bingung dengan sikap Setya yang tiba-tiba memeluknya erat seperti ini. Ia yakin, pasti ada hal yang mengganggu pikiran Setya dan saat ini dia belum bisa memeberitahunya. Maka dari itu dia akan menunggunya.
"Apa ada masalah dengan kak Setya?" Bisik Ifa pada Bayu yang juga heran melihat sikap Setya.
"Ada sedikit. Dan sekarang ku rasa dia perlu waktu untuk memikirkannya." Jawab Bayu sambil menatap Setya.
Dari tempat yang berbeda, Irhas mengamati mereka berempat. Dia ternyata belum pulang.
"Menarik ... Pacar Setya dan Bayu, lumayan juga. Hehe." Gumam Irhas dengan seringai diwajahnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..