Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Wanita yang aku cintai hanyalah Intan..


__ADS_3

Kantin, jam istirahat..


"Putri hari ini gak ikut kita makan siang?" Tanya Bayu yang tak melihat Putri. Biasanya gadis itu akan datang dan nimbrung bersama mereka.


"Kenapa kak Bayu cari-cari gadis itu?! Apakah kak Bayu merindukannya?!" Seru Ifa sambil menatap Bayu dengan tajam.


"Tidak! Tentu saja tidak! Aku hanya heran saja, ini tidak seperti biasanya. Tadi, temen kamu Toni itu juga tidak ikut sekarang Putri juga, seperti ada yang aneh, aku hanya memikirkan itu sayang." Ucap Bayu lembut agar Ifa tak salah paham.


"Huh, dia tidak akan punya muka untuk makan bersama kita setelah kejadian tadi ... Jadi, Awas saja kalu kakak berani-berani menduakanku karna gadis itu. Aku tak akan pernah memaafkan kakak!" Seru Ifa tajam sambil memalingkan wajahnya.


"Aku tidak akan melakukan itu. Kan aku cintanya cuma sama kamu." Ucap Bayu sambil mencubit pelan hidung Ifa.


"Memangnya apa yang tadi terjadi saat jam olah raga?" Tanya Setya penasaran. Ia juga masih penasaran dengan peringatan yang Toni sampaikan padanya tadi.


"Dia berusaha menjebak Intan lagi. Dia menuduh Intan sengaja membuatnya terjatuh. Dia juga pura-pura terkilir, untung Toni berhasil membongkar kebohongannya. Pasti dia sangat mali sekarang." Jawab Ifa puas.


Mendengar itu Intan kembali teringat perkataan Toni, supaya dirinya tak menganggap remeh Putri, juga aku harus menguatkan hatinya. Sebenarnya, ia sudah lelah harus melawan Putri terus-menerus. Tapi, Putri tetap saja tak menyerah.


Apa lagi yang akan Putri rencanakan kali ini?


Kenapa Toni sampai memperingatiku seperti itu ya? Apakah dia tahu sesuatu?


Apa yang harus aku lakukan agar ini segera berakhir ...


Setya menatap Intan disebelahnya yang terlihat murung dan mengaduk-aduk makanannya. Dia tahu Intan sedang mencemaskan sesuatu. Setya sendiri juga kembali memikirkan peringatan Toni sebelumnya. Dia juga merasa khawatir, akan keselamatan Intan.


Sepertinya, aku sudah harus turun tangan dan menegaskan semuanya pada Putri.


Kalau, wanita yang aku cintai hanyalah Intan..


Malam harinya saat Intan belajar, dia mendapatkan pesan dari Putri untuk menemuinya seorang diri di taman belakang saat jam pulang sekolah. Karna, Intan memang ingin segera menyelesaikan ini, maka dia menyetujui permintaan Putri.


Apa yang ia rencanakan kali ini?


Ku rasa aku harus hati-hati..


Aku akan mengakhirinya besok!


...****************...


Keesokan harinya, Putri juga lagi-lagi tak menampakkan dirinya di depan Setya atau Intan. Saat ini, Intan sedang bersama Setya di taman belakang untuk menghabiskan waktu bersama saat jam istirahat. Sedangkan, Bayu memilih bermain basket dan tentu saja ditemani Ifa.


"Kak Setya kenapa tidak bermain basket bersama kak Bayu?" Tanya Intan penasaran.


"Yah, aku tidak ada alasan khusus. Hanya ingin menghabiskan waktuku saja bersama pacarku yang cantik ini. Karna, sebentar lagi aku akan disibukkan dengan persiapan ujian." Jawab Setya dengan helaan nafas panjang diakhir.

__ADS_1


"Oh iya ya. Kak Setya sekarang sudah kelas 3. Bagaimana ini, sebentar lagi aku bakal ditinggal kak Setya sendirian di sekolah ini dong." Ucap Intan dengan bibir mengerucut.


"Apakah aku harus tinggal kelas saja, supaya aku bisa bersamamu?" Goda Setya dengan senyum lebar diwajahnya.


"Ih, gak boleh gitu dong! Kakak mau bunda nyuruh kita putus karna kakak tidak memperdulikan sekolah kakak?" Tanya Intan mengingatkan.


"Benar juga. Tapi, aku pasti akan sangat merindukanmu." Ucap Setya sembari menyandarkan kepalanya di bahu Intan.


Intan tersenyum geli saat melihat tingkah Setya yang terlihat seperti anak kecil sekarang ini. Ia menepuk-nepuk punggung Setya dengan lembut. Intan tidak merasa terganggu melihat tingkah manja Setya, justru ia merasa senang karna itu tandanya Setya nyaman bersamanya hingga menunjukkan sisi lain dirinya didepan Intan.


Senyum Intan menghilang, saat ia mengingat kalau pulang sekolah nanti ia harus bertemu Putri. Intan bingung harus beralasan apa pada Setya untuk pulang lebih dulu. Karna, ia merasa pertemuannya dengan Putri nanti tidak akan berjalan dengan mudah.


"Ehm, kak Setya. Nanti, kak Setya pulang sendiri saja ya. Aku perlu mengantarkan sesuatu ke kantor ayah." Bohong Intan. Setya segera menegakkan duduknya lagi di depan Intan.


"Aku akan mengantarmu." Ucap Setya santai.


"Tapi, mungkin akan lama. Jadi, aku pergi sendiri saja ya." Bujuk Intan agar Setya mau mendengarkannya.


"Tidak masalah, aku bisa menunggumu." Jawab Setya lembut.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri kok. Jadi, biarkan aku pergi sendiri ya, ok?" Pinta Intan dengan mata penuh harap. Akhirnya, Setya menyetujui itu walau berat hati.


Saat pulang sekolah, Intan keluar kelas paling akhir. Dia juga dengan susah payah membujuk Ifa agar pulang lebih dulu dan tidak menunggunya. Ia beralasan akan ke kamar mandi terlebih dahulu. Baru setelah semua sudah pergi, Intan segera menuju ke taman belakang. Disana Putri, sudah menunggunya.


"Akhirnya kakak datang. Ku kira kakak tidak akan datang karna tidak berani menghadapiku." Ucap Putri sambil berdiri dari duduknya melihat kedatangan Intan.


"Huh! Kamu masih bisa begitu sombong ya sekarang. Tapi, tidakkah kakak bercermin dulu sebelum mengatakan itu? Mungkin kakak tidak bersalah, tapi sungguh kakak tidak tahu malu!" Seru Putri tajam.


"Bukankah kamu yang tidak tahu malu? Kamu berusaha merebut pacar orang?! Bukankah itu tindakan yang memalukan?" Sindir Intan dengan tatapan tajam.


"Kak Setya itu dari awal memang milikku! Dia pangeranku! Kak Setya sudah berjanji padaku. Hanya saja kita sempat berpisah, dan kakak mengambil kesempatan itu untuk menggodanya!" Seru Putri marah.


"Apakah kamu menganggap serius janji seorang anak usia 7 tahun? Kak Setya belum dewasa waktu itu, dia tidak tahu apa arti janji yang dia ucapkan. Dia hanya ingin menghiburmu. Jadi, Putri sadarlah dan menyerahlah. Apa kamu tidak lelah terus seperti ini? Selain kak Setya, masih banyak kok pria baik lagi di luar sana." Bujuk Intan yang tak habis pikir dengan pemikiran Putri.


"Kalau begitu, kenapa tidak kakak saja yang menyerah dan meninggalkan kak Setya, lalu mencari pria lain. Ada kok pria lain yang mencintai kakak ... Lagipula, aku sama sekali tidak lelah jika kak Setya sendiri tidak ingin mengusirku. Jadi, tinggalkan kak Setya untukku." Seru Putri masih tak mau mengalah.


"Maaf Putri, aku tidak bisa melakukanya. Aku dan kak Setya saling mencintai. Bukan hanya aku yang akan terluka saat kami berpisah, tapi kak Setya sendiri juga akan terluka. Kamu tidak bisa memaksakan perasaanmu pada orang lain. Jadi, kumohon berhentilah sampai disini saja." Ucap Intan menasehati.


"Kak Setya akan hanya terluka sebentar saja. Dia sekarang hanya dibutakan cinta sesaat. Dia pasti akan segera sadar kalau kakak sama sekali tak berharga. Apakah kakak yakin kalau kak Setya memang mencintai kakak? Apa itu bukan rasa iba? Bayangkan saja siapa yang mau bersama dengan gadis yang sudah disentuh pria lain, bahkan kakak hampir saja ternodai kan?!"


Plakk!!


"Jaga ucapanmu! Kau sudah keterlaluan!" Seru Ifa yang tiba-tiba datang dan menampar Putri dengan keras. Bayu dibelakangnya segera menahan Ifa agar tidak menyerang Putri lagi.


Setya dan Toni juga datang di sana. Setya segera mendekati Intan yang tertunduk. Setya begitu khawatir apakah perkataan Putri akan membangkitkan trauma Intan lagi.

__ADS_1


"Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh. Tapi, kau benar-benar tidak mendengarnya ya?!" Teriak Toni marah sembari berjalan mendekati Putri yang terlihat terkejut melihat semua datang ke sana, apalagi Setya.


"Ak-Aku hanya mengatakan yang sebenarnya ... Kak Setya, Putri hanya mengatakan kebenaran. Kak Setya mungkin tidak benar-benar mencintai kak Intan, tapi kakak hanya kasihan saja. Kak Setya ..." Ucap Putri mencoba meyakinkan Setya. Dia mengguncang lengan Setya pelan.


"Lepaskan tanganmu dariku atau aku akan melupakan hubunganku denganmu sebelumnya?!" Seru Setya dingin sembari menghempaskan tangan Putri yang memegang lengannya. Putri sangat terkejut melihat tatapan Setya yang terlihat sangat menyeramkan saat itu.


"Ka-Kak Setya ... Ak-Aku ..."


"Aku selama ini sudah menahan diri, karna Intan bilang ingin mencoba menyelesaikannya. Dia juga tahu aku masih memikirkan hubungan pertemanan kita dulu. Kamu pikir aku tidak tahu semua tindakanmu selama ini?! Kamu salah besar jika mengira begitu. Aku tahu semuanya. Dan kali ini aku sudah tidak bisa tinggal diam lagi." Seru Setya dengan sorot mata tajam sarat akan kebencian.


Selama ini Setya masih bisa mentolerir semua yang dilakukan Putri sejauh ini karna Intan selalu menenangkannya. Tapi, dia tak bisa menahan lagi saat melihat Putri menggunakan trauma Intan untuk menyakitinya. Karna, Setya tahu betapa sulitnya bagi Intan untuk keluar dari traumanya itu.


Setya menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia masih menahan diri untuk tidak memukul, karna Putri adalah seorang wanita. Tiba-tiba ia merasa bahwa tangannya digenggam lembut oleh seseorang. Dia menoleh dan melihat Intan mengenggem tangannya dan tersenyum ke arahnya. Intan menatap Setya seakan berkata 'Aku akan menyelesaikannya' . Melihat itu, Setya pun merasa lega. Ia menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Apakah menggunakan kelemahan untuk menjatuhkan lawan adalah gayamu?! Apakah kamu senang melakukan ini?!" Tanya Intan berjalan mendekati Putri. Putri yang melihat sorot mata Intan yang begitu dingin membuatnya ketakutan dan reflek berjalan mundur.


"Ak-Aku ... Aku hanya ..."


"Caramu itu sangat buruk. Kamu seperti pengecut. Kamu melakukan ini karna dalam hatimu sendiri sebenarnya ketakutan bukan? Kamu tahu perasaanmu tidak berbalas dan tidak ada yang mempercayaimu, sehingga kamu berusaha menjatuhkan kepercayaan lawanmu. Bukankah begitu?" Tanya Intan yang terus mendekati Putri.


Putri sama sekali tidak menjawab. Dia mulai merasa tersudut. Apalagi, dia menatap semua yang ada disana menatapnya dengan kebencian dan kemarahan. Ia semakin ketakutan.


"Kamu lihat, disini tidak ada yang mendukungmu. Tidak ada yang mempercayaimu. Sebaliknya, mereka sangat marah padamu, bahkan mungkin membencimu."


Putri mulai menangis mendengar ucapan Intan yang memang benar. Dia hanya sendiri, tidak ada yang mendukung atau mempercayainya.


"Sekarang kamu tahu kan, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Kepercayaan tidak bisa dibangun dari kebohongan ... Kamu memang benar mungkin aku tak sebersih kamu, karna masa laluku itu. Tapi, aku juga tahu bahwa orang-orang disekitarku memang benar menyanyangiku. Kak Setya juga memang benar mencintaiku. Aku mempercayainya, begitu juga dia yang mempercayaiku." Ucap Intan dengan tegas.


Putri menatap Setya yang sama sekali tidak bergeming melihatnya menangis. Sekarang dia benar-benar sudah sadar kalau Setya memang mencintai Intan. Dan dia rela melakukan segalanya untuk Intan. Putri juga menatap teman-teman Intan, mereka terlihat memang sangat mempercayai Intan dan menyanyanginya. Sekarang ia sadar, dia memang sendiri saja.


"Sudah cukup sampai disini saja. Jangan diteruskan lagi. Kamu akan lebih hancur dari ini nanti. Jadi, berhentilah yaa. Aku tahu Putri adalah gadis yang baik." Ucap Intan dengan lembut.


Putri merasa tersentuh dengan ketulusa dan kebaikan Intan. Ia semakin merasa bersalah, karna sudah melakukan banyak hal untuk menyakiti Intan sebelumnya.


"Maaf ... Maafkan Putri, kak ... Hikss.. Maaf .." Ucap Putri sambil menunduk dan terisak. Ia akhirnya mengerti, memang benar perasaan tak bisa dipaksakan. Dia merasa bersalah.


Dengan lembut Intan memeluk Putri untuk menenangkannya. Putri semakin terisak dipelukan Intan. Setya menatap itu dengan senyuman, begitu juga Toni. Mereka berdua terlihat bangga pada Intan. Ifa sendiri sebenarnya masih kesal dengan Putri, tapi dia juga senang karna semuanya sudah berakhir sekarang, begitupun juga dengan Bayu dia merangkul bahu Ifa dan tersenyum bersamanya.


Kamu memang Intanku ...


Kamu tak berubah sama sekali, aku semakin mencintaimu ... Setya


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2