
Jam pulang sekolah
"Hei, kita jadi kerja kelompok dimana nih?" Tanya Tania setelah membereskan barang-barangnya.
"Kalau aku terserah sih. Dimana aja gak masalah." Jawab Tasya dengan santai.
"Di rumahku aja bagaimana? Rumahku paling dekat dengan toko bahan yang akan kita tuju. Di rumahku juga ada beberapa alat yang dibutuhkan buat kerja kelompok." Ucap Rehan, mengusulkan setelah melihat lagi list alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kerja kelompok mereka.
"Baiklah, gak masalah. Jangan lupa kasih kita camilan yang banyak ya. Hehe." Seru Tania dengan mata berbinar. Tasya dan Dika hanya tersenyum menanggapi.
Kemudian, mereka segera pergi menuju toko bahan yang dimaksudkan. Setelah itu mereka segera menuju rumah Rehan untuk mengerjakan kerajinan yang menjadi tugas kelompok mereka hari itu.
"Oh, sepertinya ada kak Bayu di rumah." Ucap Rehan saat melihat sepeda motor Bayu terparkir di halaman rumah.
"Wah, pacar kakakmu itu ya. Lumayan, ada cogan buat cuci mata. Hehe." Seru Tania antusias.
"Hanya untuk cuci mata. Jangan berani menggodanya, kamu belum tahu gimana marahnya kakakku." Seru Rehan mengingatkan.
"Benar. Aku pernah merasakannya." Gumam Tasya dengan senyum kecut.
"Itu sudah masa lalu. Sekarang, kamu punya aku." Bisik Dika ditelinga Tasya.
"Yaya, aku tau!" Bisik Tasya sembari menyikut lengan Dika. Sampai sekarang, entah kenapa Tasya masih tetap merasa gugup, ketika Dika mendekatinya.
Akhirnya, mereka segera memasuki rumah. Awalnya, Rehan merasa aneh karna Ifa dan Bayu gak ada di ruang tamu, tapi samar-samar dia mendengar orang mengobrol dari arah meja makan. Mereka pun segera menuju kesana. Tepat, dimana Intan sedang menceritakan apa yang baru saja Setya lalukan padanya. Dika dan yang lain sampai terdiam ditempat mereka karna tak sengaja mendengar itu.
Rehan dan Tania mungkin lebih merasa tak enak hati, karna juga harus mendengar sesuatu yang gak seharusnya mereka dengar. Sedangkan Tasya terlihat sangat terkejut, karna dia juga baru tahu kalau kakaknya bisa melakukan hal seperti itu. Apalagi, Dika dia sudah mengepalkan tangannya dengan menahan kesal. Dia merasa kecewa pada Setya karna melakukan hal itu pada kakaknya.
"Bagaimanapun keadaannya, harusnya dia gak melakukan itu pada kak Intan!!" Seru Dika dengan nada tajam.
Bayu, Ifa dan Intan segera menoleh ke sumber suara. Mereka terkejut saat melihat Dika, Rehan, Tasya dan Tania ada disana. Tasya juga menatap Dika disebelahnya yang saat ini terlihat sangat marah.
"Dika..?" Gumam Intan pelan. Intan bisa melihat Dika yang penuh emosi saat itu. Dika segera berjalan mendekati Intan.
"Kakak gak apa-apa kan? Apa lagi yang dilakukanya pada kakak?!" Seru Dika sambil melihat keadaan Intan.
"Dika ... Kamu tenang dulu ya? Kak Setya, mungkin gak berniat begitu. Lihatlah, aku gak apa-apa kan?" Ucap Intan berusaha meyakinkan sang adik. Walaupun, dari nada bicaranya sendiri dia masih merasa ragu.
"Rehan, kalian ingin kerja kelompok ya? Hm, apa bisa ditunda sehari dulu?" Tanya Ifa mendekati sang adik.
"I-Iya, gak apa-apa sih. Masih ada waktu dari datelinenya."
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu bisa antarkan Tania pulang dulu?" Tanya Ifa sambil menatap Rehan seperti memberikan isyarat padanya.
"Baiklah ... Nia, aku akan mengantarmu. Besok kita bicarakan lagi kapan kerja kelompoknya."
"Tania, maaf ya. Kerja kelompok kalian harus terganggu. Tapi, sekarang kondisinya sedang sedikit kacau. Hm, kamu tau kan?" Ucap Ifa merasa bersalah, dia juga menatap Tania penuh makna.
"Iya gak apa-apa kok kak. Maaf juga kami gak sengaja denger masalah kak Intan. Aku janji, gak akan mengatakan ini pada siapapun." Jawab Tania yang mengerti maksud tatapan Ifa padanya.
"Terima kasih ya. Hati-hati dijalan." Ucap Ifa ramah. Setelah itu Rehan dan Tania pun pergi meninggalkan rumah. Kemudian, Ifa mendekati Tasya yang terlihat masih terkejut.
"Tasya, jangan terlalu dipikirkan dulu ya. Kejadian ini terlalu mendadak. Kita belum tahu apa yang sebenarnya menyebabkan kak Setya melakukan itu." Ucap Ifa lembut. Dia juga merangkul bahu Tasya dan mengusapnya pelan.
"Iya ... Tapi, Tasya masih tetap terkejut dan gak percaya kalau kak Setya bisa begitu. Tasya tahu kalau kak Setya bukan orang yang seperti itu." Ucap Tasya dengan nada sedih.
"Dika, kak Intan mohon jangan katakan ini pada ayah dan bunda dulu yaa.. Kak Intan akan mencoba menyelesaikan ini dulu. Kalau sampai ayah tahu ... Mungkin, kak Intan gak bakalan bisa bertemu dengannya lagi ..." Pinta Intan dengan tatapan penuh harap.
Walaupun Intan tahu pirmantaannya salah, gak seharusnya hal seperti ini ditutupi dari orang tuanya. Apalagi, Intan sendiri juga masih kecewa pada Setya. Tapi, dilain sisi Intan masih belum sanggup untuk membayangkan kalau hubungannya harus benar-benar berakhir dengan Setya. Dia ingin menjadi egois, sekali saja. Hanya sekali saja.
"Tapi, dia sudah menyakiti kakak seperti ini. Ayah harus tahu!" Seru Dika menolak permintaan Intan.
"Dika, kak Intan mohon ..."
"Kamu berkata seperti itu karna dia kakakmu! Tapi, lihat apa yang sudah kakakmu lakukan pada kakakku! Aku gak bisa memaafkan itu dengan mudah!" Bentak Dika dengan nada tinggi dan tatapan tajam pada Tasya. Tasya yang juga baru pertama kali melihat Dika semarah itu pun merasa sakit hati. Tanpa sadar, air matanya pun mengalir keluar.
"Dika! Tasya gak tau apa-apa disini. Jangan membentaknya seperti itu!" Seru Intan sambil memeluk Tasya yang menangis.
"Tenangka dirimu dulu. Kita belum tahu dengan jelas apa yang terjadi." Ucap Bayu sambil menepuk pelan bahu Dika.
"Intan!!"
Mendengar suara yang tak asing di telinga mereka itu. Intan dan yang lainnya pun menoleh. Mereka bisa melihat Setya datang dengan nafas yang masih naik turun dengan wajah panik. Dengan langkah cepat Setya mendekati Intan. Intan reflek bergerak mundur dengan wajah ketakutan. Ifa segera mendekati Intan dan merangkulnya.
Semua yang ada disana terkejut melihat respon Intan. Sepertinya, Intan benar-benar masih terkejut dengan kejadian tadi. Setya yang melihat itu juga menghentikan langkahnya. Hatinya sakit seperti teriris, melihat tatapan ketakutan dimata Intan saat itu. Tak pernah terbayangkan sekali pun bagi Setya bisa melihat Intan menatapnya seperti itu.
"Intan, sayang ... Dengarkan aku dulu. Aku minta maaf sudah menyakitimu. Ak-Aku juga gatau apa yang merasukiku hingga aku melakukan itu. Kamu boleh marah padaku! Memukulku atau hukuman apapun, aku akan menerimanya. Tapi tolong jangan tinggalkan aku. Ku mohon!" Pinta Setya sambil berlutut menatap Intan. Suaranya bergetar dan terdengar putus asa.
Intan hanya terdiam melihat apa yang dilakukan Setya. Sebenarnya, dia ingin mendekati Setya. Dia gak tega melihat Setya seperti itu. Tapi, tubuhnya masih menolak untuk melakukan itu.
"Ifa, bawa aku ke kamarmu." Pinta Intan dengan suara bergetar, dia mulai menangis lagi.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." Ucap Ifa sembari menuntun Intan ke kamarnya.
__ADS_1
"Intan! Intan! Jangan tinggalkan aku, ku mohon dengarkan aku dulu." Panggil Setya yang akan mengejar Intan, tapi langkahnya segera dihadang oleh Dika.
"Kakak gak lihat, kalau kak Intan gak mau melihat kakak?! Aku sangat kecewa pada kak Setya! Kenapa bisa kak Setya melakukan hal itu pada kak Intan?! Kakak tahu kan kalau kak Intan sangat mempercayai kakak?.. Dengan hal ini kakak bukan hanya membuat trauma kakak kembali, kakak juga membuatnya merasa lebih sakit daripada sebelumnya!" Seru Dika sambil mencengkram baju Setya dengan kuat. Sorot matanya terlihat dingin mencekam.
Sekarang, tinggi badan Dika dan Setya sudah tidak beda jauh lagi. Dika bukan lagi bocah ingusan seperti dulu. Sekarang dia bisa melindungi Intan, jika ada yang berani membuat kakaknya itu bersedih. Tak kecuali Setya.
"Ya! Aku tahu salah! Aku memang sudah melakukan hal brengsek pada Intan! Tapi, sungguh aku gak bermaksud menyakitinya. Kamu tahu kan, aku sangat mencintai kakakmu! Aku gak ingin kehilangannya! Tanpa aku sadari, kekhawatiran untuk kehilangannya, malah menyakitinya dan membuatnya menjauhiku ..." Jawab Setya dengan suara lemah.
"Sudah cukup! Mungkin saat ini Intan masih merasa sangat terkejut. Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri dan pikirannya ... Setya, kamu haru merenungkan kesalahanmu dan memberikan waktu untuk Intan. Kamu tenang saja, dia aman disini bersama Ifa. Lebih baik, sekarang kamu pulang dulu bersama Tasya. Biarkan, Intan tenang dulu." Ucap Bayu bijak, dia melepaskan tangan Dika yang mencengkram baju Setya.
"Tapi ..."
"Kak Setya, kita pulang dulu ok? Kak Intan juga masih belum mau bertemu kakak. Kalau kakak memaksa bertemu kak Intan sekarang, kak Intan hanya akan merasa tak nyaman." Ucap Tasya menenangkan Setya yang terlihat tak rela untuk meninggalkan Intan.
"Hm, baiklah." Jawab Setya pada akhirnya. Dia menatap tangga menuju lantai dua.
Intan maafkan aku ... Ku mohon, jangan tinggalkan aku karna ini ...
Kemudian, Tasya dan Setya mulai berjalan pergi dari rumah Ifa. Tasya sekilas melirik pada Dika. Tapi, tatapan Dika masih terlihat sangat dingin. Tasya hanya bisa menunduk sedih. Saat Tasya tak menatap Dika, Dika menatap Tasya.
Gak seharusnya aku membentak Tasya tadi. Dia gak bersalah disini ... Gumam Dika sedih sambil menatap kepergian Tasya.
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
'Mini Dialog'
Dika : "Kenapa aku dan Tasya jadi ikutan berantem?! Ini semua salah kak Setya!"😑
Setya : "Bukan salahku! Aku juga gak mau ngelakuin itu ke Intan. Aku sangat mencintai Intan! ... Ini semua salah author!"😡🤬
Author : 🙄😬
...----------------...
__ADS_1