
PAGI-pagi sekali tiba-tiba Riga muncul di rumahnya.
“Adinda, kamu nggak pa-pa kan?” tanya Riga khawatir sambil memegang wajah Kekira yang kebingungan.
“Aku baik-baik aja, ada apa, Mas?”
Riga menatapnya cemas. “Aku denger kamu diserang. Benar begitu?”
Kekira mengangguk. “Tapi udah aman kok. Ada polisi yang jaga. Mas kok ada di sini? Katanya lagi tugas di Bangkok?”
Tiba-tiba Riga memeluk Kekira.
“Aku kepikiran terus sama kamu, makanya aku pulang. Mulai sekarang aku nggak akan kemana-mana. Aku akan terus jagain kamu.”
Kenapa sikap Mas Riga jadi berbalik begini? Batin Kekira bingung.
Riga melepas pelukannya dan menatapnya lembut.
“Kita jalan-jalan yuk? Kamu nggak ada kuliah kan hari ini?”
Mungkin ada kesempatan dirinya bertanya tentang Veni.
"Iya Mas."
***
“Mas, aku boleh tanya?”
Riga menoleh sekilas lalu konsen menyetir. “Tanya aja.”
“Mengenai yang aku bicarakan di telepon. Tentang Veni. Apa dia udah ngomong sama Mas?”
Riga tersenyum kecil. Tumben mood-nya lagi bagus. Biasanya kalau bahas Veni, Kekira langsung kena bentak.
“Tentang dia yang ngaku-ngaku hamil anakku?”
Kekira sudah mempersiapkan diri jika Riga marah.
Tapi Riga malah mengusap kepalanya lembut.
“Asal kamu tau aja, Adinda. Veni itu cewek freak, pengidap penyakit depressant, gangguan jiwa. Kami pacaran sebelum ketemu kamu. Tapi dia nggak mau aku putusin. Dia sering nekat dateng ke kantor dan ngamuk kayak orang gila.”
Kekira mengerutkan kening, bingung.
“Lalu kenapa Mas terus nemuin dia?”
“Aku nggak pernah nemuin dia. Dia yang terus maksa ketemu aku. Tapi aku nggak mau ada keributan makanya bertingkah seakan-akan masih jadi pacarnya. Karena dia selalu bikin onar. Percaya sama aku, dia cuma pengen ngerusak pernikahan kita. Dua hari lalu dia nemuin aku di kantor dan bikin keributan. Nih kamu liat luka di leher aku, dia marah jadi cakar aku abis-abisan.”
“Kok dia marah, Mas?”
“Dia ngotot katanya itu anakku. Tapi aku nggak percaya gitu aja. Kondisi kantor jadi heboh gara-gara dia ngamuk.”
Mas Riga jujur apa enggak ya? Apa aku cerita yang sebenarnya? Kalo Veni itu komplotan penculik? Batin Kekira.
“Kamu kenapa sih, Sayang? Lagi mikirin apa?”
Kekira menggeleng. “Kita mau ke mana?”
“Ke Puncak.”
“Puncak?”
“Iya. Aku mau ajak kamu jalan-jalan. Hitung-hitung, supaya kita lebih saling kenal sebelum kita nikah. Karena aku sadar, sikapku selama ini keterlaluan sama kamu. Aku nggak pernah bersikap baik. Tapi aku harap, kamu mau kasih aku kesempatan untuk perbaiki hubungan kita. Kamu mau kan?”
Kekira terharu Riga begitu tulus.
Ia mengangguk.
Ya.
__ADS_1
Setiap orang bisa berbuat salah, tapi memberi kesempatan kedua tidak ada salahnya.
Riga tersenyum tulus dan meraih tangan Kekira. “Aku akan jadi suami yang baik untuk kamu.”
Kekira balas tersenyum dan melihat ke depan..
“Masss…. Awasssss!!”
Riga kaget dan banting setir.
BRUUUUUKKK!!
Mobil menabrak pohon.
Kekira pingsan seketika setelah kepalanya terbentur dashboard.
***
Malam ini Akbi bersama Tara dan geng Tyrex sudah bersiap untuk misi mereka.
“Ra, lo yakin dengan keputusan lo? Lo mau nyerahin diri sama penculik itu?” Akbi memastikan.
“Yakin.”
Tara terlihat seperti anak kuliahan. Bawa buku segala.
“Kalo gue nggak masuk ke markas mereka, gimana kita bisa bebasin para korban?”
Akbi terdiam, perasaannya tidak tenang.
Suasana jalanan sepi dan gelap.
“Oke, Ra. Semua udah siap. Sekarang lo berdiri di pinggir jalan itu. Kita bakal ngawasin dari jauh biar nggak mencolok.” Gery beri pengarahan.
“Gue harap misi kita berhasil.”
Akbi kaget setengah mati, dan menghindar.
“Gue cuma kangen dicium sama lo.” Tara menyentuh tangannya.
“Nggak seharusnya lo ngelakuin itu, Ra!” seru Akbi tinggi.
Tara cemberut dan berlalu menuju lokasi yang ditentukan.
“Gila tu cewek nekat banget!” komentar Dedy.
“Lo ngapain masih di sini?” tanya Akbi. “Sana, ke posisi lo ngawasin Tara.”
Dedy nyengir. “Siap, kapten!”
Akbi mendengus keras, dan mencari posisi mengintai yang pas di belakang pohon, mengawasi Tara.
Tangannya tersangkut ranting pohon.
Ia menarik tangannya kesal, sampai gelang persahabatan pemberian Kekira waktu kecil lepas.
Tubuh Akbi menegang.
“Kekira?” ia mengambil gelangnya. “Kenapa perasaan gue nggak enak?”
“Bi, gue cari dari tadi.” Hendri sampai ngos-ngosan berlari.
“Ada apaan?”
“Gue lupa kasih tau lo. Tadi pagi Kekira misscalled gue.”
Akbi kaget. “Misscalled?”
“Tapi nggak kejawab sama gue. Karena pagi-pagi gue anter adik sepupu gue ke sekolah dan HP gue tinggal. Abis itu gue coba telepon sama chat tapi HP Kekira nggak aktif.”
__ADS_1
Mata Akbi menyipit. “Maksudnya apa? Kenapa dia telepon lo, bukan ke gue?”
“Mana gue tau.”
Makin gelisah aja Akbi. “Maksudnya Kekira apa?”
“Mending lo telepon Kekira. Tanya langsung. Gue rasa dia mau hubungi lo, tapi canggung gara-gara lo deket sama Tara."
Akbi kaget. "Gue sama Tara nggak ada apa-apa."
"Ya kali pandangan lo. Pandangan cewek jelas beda. Apalagi gue perhatiin lo sama Kekira saling suka. Wajar dia nggak nyaman ada cewek lain deket sama lo."
"Ahh sok tau lo."
"Beneran. Urusan perasaan cewek gue nggak pernah salah. Saran gue nih, kalo suka cepet jadiin. Sebelum lo nyesel."
Akbi mengibaskan tangan. "Udah lo pergi sono."
Hendri terkekeh. "Salting kan lo. Ya udah gue cabut dulu, tugas gue ngawasin di ujung jalan.”
Begitu Hendri pergi, Akbi bergegas mengeluarkan HP dan menelepon Kekira.
Tapi tidak aktif.
“Kekira, kamu ke mana sebenernya?” Akbi jadi tidak tenang.
HP-nya berbunyi.
Bundanya Kekira!.
“Halo, Bunda?”
“Akbi, apa Kekira menghubungi kamu, Nak?” suara Bunda terdengar panik.
“Enggak ada, Bunda. Emang dia ke mana?” Akbi balik tanya, tegang.
“Itu dia, tadi pagi dia pamit pergi sama Riga. Trus Bunda liat di berita mobilnya Riga kecelakaan. Tapi Kekira dan Riga nggak ada dalam mobil.”
“Apa?! Jadi Kekira menghilang?”
“Akbi tolongin Bunda ya, Ayah dan polisi sedang mengurus kasus ini. Tapi Bunda berharap Akbi mau bantu Bunda nyari Kekira.”
“Pasti, Bunda! Aku akan cari Kekira.”
Ia menutup telepon dan memegang kepalanya.
Kini hatinya terbelah antara mencari Kekira dan mengawasi Tara.
Ia menghubungi Hendri lagi.
“Halo, Hendri! Gimana Tara?”
“Barusan ada mobil lewat. Setelah itu Tara hilang, cuma ada tasnya yang jatoh. Dedy sempet foto mobilnya.”
“Oke. Sesuai rencana. Lo langsung lacak posisi dia. Ikutin dari jarak tertentu yang nggak mencolok. Keselamatan Tara gue percayakan sama kalian. Gue harus cari Kekira.”
“Lho emang Kekira hilang?”
“Barusan nyokapnya nelepon gue, ngabarin Kekira hilang.”
“Oke oke Bi, Tara biar jadi urusan kita.”
“Thanks..”
Akbi menutup telepon dan mengepalkan tangan, tidak tahu harus berbuat apa.
Ia melihat jam tangannya, dan mengerutkan alis, teringat sesuatu.
***
__ADS_1