Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Dia ... Dia ... Dia


__ADS_3

Setelah ujian selesai, sekolah Intan sudah tidak ada pelajaran seperti biasa. Selama satu minggu pasca ujian akan diadakan classmeet untuk melepas stress pasca ujian. Dan di ujung minggu itu akan diadakan kegiatan tengah semester di luar sekolah.


Selama classmeet banyak sekali kegiatan di sekolah. Ada banyak lomba, juga berbagai stan yang dibuat oleh para murid. Semua menikmati acara itu dengan bahagia, melepaskan rasa lelah setelah bertempur dengan soal ujian selama 2 minggu terakhir.


Classmeet kali ini Intan tak berpartisipasi pada lomba, dia bertugas sebagai penjaga stan kelasnya. Sedangkan Ifa masih berpartisipasi pada salah satu lomba, apalagi kalau bukan bernyanyi. Setya dan Bayu tentu berpartisipasi pada lomba basket.


"Nanti kau akan menyanyikan lagu apa?" Tanya Intan pada Ifa. Sebelum lomba dimulai, Ifa membantu sedikit untuk menjaga stan kelasnya.


"Hm.. Aku akan menyanyikan lagunya Afgan-Dia." Jawab Ifa dengan senyuman.


"Oh 'Dia'. Tapi, apakah 'Dia' akan menontonmu saat bernyanyi nanti?" Goda Intan pada Ifa.


"Tentu saja lah. Kak Bayu sudah mengatakan padaku akan datang untuk menonton ku." Jawab Ifa percaya diri.


"Iya, aku pasti akan datang." Seru Bayu yang tiba-tiba sudah dibelakangnya.


"Semenjak kapan kakak ada disana?" Tanya Ifa sedikit malu.


"Dari semenjak kamu mengatakan akan menyanyikan lagu 'Dia' dengan senyum lebar." Ucap Bayu menggoda. Seketika, Ifa pun tersipu malu.


"Lagi sibuk ya? Bisakah nanti kamu datang dan melihat lomba basket?" Tanya Setya pada Intan yang beberapa kali melayani pembeli.


"Tentu saja, aku akan datang. Masih ada yang bisa menggantikanku kok." Ucap Intan dengan senyuman.


"Baguslah. Aku pasti akan jauh lebih bersemangat jika kamu datang." Ucap Setya senang.


"Itu curang, seharusnya Intan dan Ifa mendukung kelasnya. Kenapa harus mendukung kelas kalian?" Seru Toni yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka.


"Kalau iri bilang broo.." Seru Bayu sambil tertawa. Toni terlihat kesal, namun ia tahan.


"Apakah aku harus membuat peraturan di kelas agar anggota kelas hanya boleh mendukung kelasnya saja?" Tambah Dharma yang baru saja datang bersama Linda.


"Itu melanggar HAM dong." Seru Ifa tak terima. Setya dan Intan tak menghiraukan itu, mereka asyik dengan dunia mereka sendiri.


"Heh, kalian dengerin kita dong! Malah asyik berduaan." Sindir Toni pada Setya dan Intan.


"Oh, sudah selesai?" Tanya Intan polos. Hal itu langsung memicu tawa dari semuanya.


"Kak, ayo sekarang waktunya lomba menyanyi." Ajak Ifa setelah mendengar pengumuman bahwa lomba menyanyi akan segera dimulai. Ia segera mengajak Bayu untuk pergi meninggalkan perdebatan non faedah itu.


"Semangat!!" Seru Intan sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara, yang lain juga memberikan semangat yang sama untuk Ifa.


"Kamu tidak mau bernyanyi juga?" Tanya Setya pada Intan.


"Tidak. Aku tidak terlalu percaya diri untuk bernyanyi di depan umum." Tolak Intan sembari menggelengkan kepalanya.


"Kalau di depanku?" Tanya Setya dengan pandangan penuh harap.


"Hm ... Mungkin suatu hari nanti. Hehe." Jawab Intan sembari mengamati ekspresi kecewa Setya. Dan itu terlihat lucu bagi Intan.


Di sudut lain, tak jauh dari mereka Irhas terus mengamati Intan dan Ifa dengan tatapan penuh nafsu. Ia menggerutu kesal karna tak menemukan kesempatan untuk mendekati Intan ataupun Ifa. Karna mereka, selalu bersama pacar masing-masing.

__ADS_1


"Bagaimana caraku memisahkan mereka?!" Gumam Irhas kesal.


...****************...


Ifa sedang menunggu gilirannya untuk tampil. Ia terlihat sangat tenang dan tak terlihat gugup. Menyanyi memang sudah hobinya dan dia sangat menikmati itu. Sehingga, dia sangat santai seperti sekarang.


Saat gilirannya tiba, ia segera menuju ke atas panggung. Bayu dengan setia berdiri dibaris paling depan dari penonton. Bayu melambaikan tangan dan tersenyum pada Ifa.


"Semangat sayang!!" Teriak Bayu pada Ifa. Teriakannya yanh terdengar romantis itu seketika menjadi sorotan. Ifa tersipu mendengar teriakan Bayu yang memanggilnya sayang.


Musik mulai diputar. Ifa tersenyum menatap Bayu. Kemudian, ia pun mulai bernyanyi.


...🎶Akhirnya, akhirnya aku temukan...


...Wajah yang mengalihkan duniaku...


...Membuat diriku sungguh-sungguh...


...Tak berhenti mengejar pesonanya...


...Kan ku berikan yang terbaik...


...Tuk membuktikan cinta kepadanya...


...Dia Dia Dia, cinta yang ku tunggu tunggu...


...Dia Dia Dia, lengkapi hidupku...


...Menemaniku mewarnai hidupku...


...Dia Dia Dia...🎶...


Ifa bernyanyi dengan menatap Bayu seakan berbicara padanya. Membuat orang yang mendengarkan pun ikut tersenyum membayangkan keromantisan hubungan Bayu dan Ifa. Nyanyian Ifa diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah dari para penonton. Ifa dan Bayu masih saling tatap dengan senyuman.


Setalah itu mereka kembali ke stan kelas Intan dimana yang lain masih menunggu.


"Kamu hebat Fa. Kelas kita pasti menang!" Puji Dharma dengan senyum lebar.


"Iya bener. Feelnya dapet banget." Tambah Linda antusias. Ifa hanya bisa tersenyum malu disebelah Bayu.


Tak lama kemudian lomba basket akan segera dimulai.


"Aku dan Bayu harus pergi sekarang. Kami harus bersiap-siap." Ucap Setya memberitahu Intan. Intan pun mengangguk mengiyakan.


"Apakah kau masih lama?" Tanya Ifa setelah Setya dan Bayu berlalu pergi.


"Hm. Masih ada beberapa yang belum selesai. Dan penggantiku masih ikut lomba sekarang. Kau duluan saja, setelah disini selesai aku akan menyusulmu." Ucap Intan masih sibuk dengan aktivitasnya menyiapkan kembali barang-barang yang sudah habis terjual di stannya.


"Sungguh tak apa aku duluan?" Tanya Ifa memastikan. Intan mengangguk sekilas sebagai jawaban.


Akhirnya, Ifa meninggalkan Intan untuk menuju ke lapangan basket terlebih dahulu. Sesampainya di lapangan basket, ia melihat Setya dan Bayu sedang melakukan pemanasan. Saat Bayu melihat kedatangan Ifa, ia segera menghampiri Ifa diikuti oleh Setya.

__ADS_1


"Dimana Intan? Kenapa kamu datang sendiri?" Tanya Setya melihat sekeliling Ifa.


"Dia masih belum selesai. Nanti setelah selesai semua, dia akan menyusul kesini." Jawab Ifa menjelaskan.


Setya mengangguk mengerti. Namun, entah kenapa firasatanya sedikit tak enak dengan hal itu. Belum sempat Setya memikirkan apa yag harus dia lakukan pada Intan, suara peluit menganggetkannya, sebagai tanda perlombaan akan segera dimulai.


"Kau tidak melihat pacarmu?" Tanya Toni pada Intan yang masih sibuk menata barang-barang.


"Sebentar lagi selsaai. Hm, kita butuh isolasi lagi, ini sudah habis." Ucap Intan menunjukkan isolasi yang habis pada Toni.


"Aku akan membelinya ke koperasi. Sekalian aku ingin membelikan minum untuk kak Setya." Seru Intan antusias.


"Terserahmu." Ucap Toni acuh.


Setelah itu Intan dengan segera melangkah pergi menuju koperasi dengan senyum diwajahnya. Tanpa ia tahu ia diikuti oleh Irhas.


"Dewi fortuna sepertinya berpihak padaku kali ini. Haha." Seru Irhas senang saat melihat peluang untuk mendekati Intan. Walau, sebenarnya ia ingin keduanya. Namun, ini lebih baik daripada tidak sama sekali.


Itan sama sekali tidak menyadari bahwa ia diikuti oleh Irhas. Ia dengan santia membeli isolasi dan minum sesuai kebutuhannya. Saat ia akan menuju ke lapangan utama lagi, tiba-tiba mulutnya dibekap dari belakang ...


Hmm ... Hmm ...


Intan berusaha berontak, namun ia dipegangi dengan cukukp kuat sampai barang yang dibelinya terjatuh. Tak ada yang melihatnya karna koridor dari kantin sanga sepi. semua murid dan guru sedang menikmati acara di lapangan utama.


Intan ditarik masuk ke dalam gedung olah raga yang sepi. Ia dibawa ke gudang disudut gedung olah raga itu. Sesampainya di dalam gedung itu Intan di dorong hingga tersungkur ke lantai.


"Aww!!" Pekik Intan kesakitan. Ia segera menoleh dan menatap orang yang sudah membawanya dengan paksa seperti itu. Matanya langsung membulat saat ia melihat sosok pria itu.


"Ka-Kak Irhas?" Seru Intan tak percaya. Seketika ketakutan segera menjalar ke tubuhnya.


"Hai cantik. Akhirnya, kita bisa bertemu dan bersama sedekat ini ya.. Ah, aku sangat bahagia." Ucap Irhas sambil berjalan mendekat ke ara Intan.


"Apa mau mu?! Kenapa kau membawa aku kesini?!" Teriak Intan dengan terus memundurkan tubuhnya menjauhi Irhas yang terus mendekat padanya.


"Tentu saja untuk bersenang-senang cantik. Gara-gara kamu melaporkanku pada guru, kita tak bisa bersenang-senang selama 2 minggu kemarin. Sekarang kita puaskan saja, ok?" Ucap Irhas dengan seringai diwajahnya. Ia mendekat ke arah Intan dan mengambil sedikit rambut panjangnya dan menciumnya pelan.


Tubuh Intan semakin gemetar. Ia merasakan takut yang luar biasa. Lebih takut saat dia sendiri dalam gelap. Tubuhnya serasa terkunci tak dapat digerakkan. Bahkan suaranya mendadak menghilang. Ia mengalami ketakutan luar biasa.


Kak Setya!!!


Tolong!!!


Teriak Intan dalam hati sambil menatap Irhas didepannya yang terus mentapnya dengan seringai yang mengerikan.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2