Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Haruskah melangkah?


__ADS_3

Ujian Tengah Semester, akhirnya selesai. Sudah dua minggu semua murid SMA Bangsa tak terkecuali Tasya dan yang lain berjuang untuk mengerjakan ujian itu. Hari yang ditunggu untuk bermain basket pun datang. Minggu pagi, Setya datang ke rumah Intan untuk memenuhi janji bermain basket dengan Dika.


Hari itu, Tasya meminta Setya untuk ikut. Walaupun awalnya Setya jelas menolak permintaan Tasya, tapi Tasya terus memaksa. Dia mengatakan kalau ada perlu dengan Intan dan ingin berbicara dengannya. Tasya terus merengek sampai membuat Setya gak ada pilihan lain, selain membiarkan Tasya ikut.


"Kenapa kau ikut?" Tanya Dika saat melihat Tasya datang bersama Setya.


"Aku mau mengobrol sama kak Intan. Kenapa, masalah?!" Seru Tasya tajam.


"Kak Setya, apakah kakak sungguh melihat Dika menyukai Tasya?" Bisik Intan pada Setya yang melihat perdebatan antara Dika dan Tasya.


"Entahlah, aku jadi gak yakin saat melihatnya sekarang. Apa aku salah lihat ya kemarin?" Gumam Setya yang sama bingungnya dengan Intan.


"Hei, kalian sangat bersemangat ya pagi-pagi begini." Seru Rehan yang baru saja datang.


"Rehan, kamu sudah datang?" Tanya Tasya yang menoleh pada Rehan dengan senyum diwajahnya.


"Cih.." Decak Dika tak suka.


"Oh, Tasya kamu juga ikut. Ada apa, mau mendukungku?" Tanya Rehan dengan senyuman.


"Aku ada perlu dengan kak Intan. Lagian, kalian kan cuman mau bermain biasa. Kenapa, pakai pendukung segala?" Tanya Tasya bingung.


"Huh! Kalau uda main, kurang seru lah kalau gak ada pertandingan." Seru Dika menambahi.


"Jadi Tasya kamu akan mendukungku atau Dika?" Tanya Rehan penasaran.


"Ah, hehe.. Kok tiba-tiba begini, kenapa aku harus memilih salah satu dari kalian?" Tanya Tasya bingung.


"Tasya gak bisa memilih salah satu dari kalian. Karna kalian akan dikubu yang sama. Aku akan bermain dengan Setya." Seru Bayu yang baru saja tiba bersama Ifa.


Sebelumnya, Setya sudah menceritakan semua pada Bayu, kalau dia gak akan membiarkan Dika dan Rehan dengan mudah. Walaupun, Rehan adalah adik Ifa tapi Bayu mengerti apa yang diminta oleh Setya. Dia juga gak akan mendukung Rehan hanya karna dia adik Ifa. Jika, Rehan memang layak maka dia harus menunjukkannya. Ifa pun juga melakukan hal yang sama.


"Kak Setya dan kak Bayu jadi satu tim? Bukankah itu gak adil?" Tanya Intan bingung, dia tahu kemampuam bermain Setya dan Bayu.


Mereka bahkan selalu diandalkan dulu semasa sekolah, lalu sekarang mereka bekerja sama melawan Dika dan Rehan. Kemungkinan mereka menang pasti sangat rendah.


"Kenapa gak adil? Aku yakin mereka gak akan lari ketakutan karna harus melawanku dan Bayu kan?" Jawab Setya dengan penuh penekanan dan senyum mengejek pada Dika dan Rehan.

__ADS_1


"Tentu saja tidak! Kenapa aku harus lari ketakutan?" Seru Dika penuh tekad dan diangguki oleh Rehan.


"Bagus. Buktikan ucapan kalian padaku." Ucap Setya dengan seringainya. Intan, Ifa dan Tasya saling menatap bingung dengan keadaan saat itu.


Setelah itu mereka segera menuju ke lapangan basket tak jauh dari rumah Intan. Sebelum mulai permainan para pria melakukan pemanasan terlebih dulu. Sedangkan, para gadis menunggu di bangku tak jauh dari lapangan itu.


"Mereka sangat bersemangat.." Ucap Intan menatap lapangan basket.


"Iya.. Aku merasa bernostalgia masa sekolah. Aku sangat merindukan itu. Menatap kak Bayu bermain basket. Ah, betapa tampannya dia!" Seru Ifa menatap Bayu dengan mata berbinar.


Intan juga menyetujui apa yang dikatakan Ifa. Dia juga merindukan masa itu. Bahkan, dia juga teringat dulu ketika dia belum tertarik sama sekali dengan permainan Setya, tapi lama-kelamaan Setya mulai masuk dalam hatinya. Dan sekarang dia sudah menjadi satu-satunya orang yang sangat ia cintai.


"Yah.. Aku juga merindukannya." Gumam Intan dengan senyum diwajahnya.


Permainan pun dimulai. Walaupun sudah lama gak bermain basket, tampak Setya dan Bayu masih begitu lincah seperti sebelumnya. Kerja sama mereka juga terlihat sangat kompak. Berbeda dengan Dika dan Rehan.


Walaupun mereka satu tim, tapi mereka seperti lawan. Bukannya saling bekerja sama memasukkan bola ke ring, mereka justru saling merebut bola dan saling mendorong. Setya dan Bayu jelas memanfaatkan keadaan itu yang membuat mereka berkali-kali bisa memasukkan bola ke dalam ring.


"Huhh!! Ternyata permainan kalian begitu payah!" Ejek Setya dengan seringainya.


"Kalian itu satu tim, tapi gak ada kerja samanya sama sekali. Apa kalian benar-benar ingin kalah?" Seru Bayu mengingatkan. Dika dan Rehan saling menatap dan melemparkan tatapan tajam, seakan saling menyalahkan.


"Hahaha. Jangan kaget Sya, Dika memang begitu. Dia sulit mengakui kekalahan. Dia juga cukup keras kepala." Ucap Intan menjelaskan.


"Kalau Dika aku sih gak terkejut. Aku juga tau sifatnya. Tapi, kenapa Rehan juga begitu ya? Padahal, selama ini dia adalah anak yang tenang." Seru Ifa yang cukup kaget dengan sikap Rehan hari itu.


"Sepertinya aku tahu karna apa.." Jawab Intan sembari menatap Tasya disampingnya.


Ifa juga mengikuti pandangan Intan untuk menatap Tasya. Tasya yang duduk diantara Intan dan Ifa pun menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Sya, diantara Rehan dan Dika kamu pilih siapa?" Tanya Ifa langsung.


"Eh? Ke-Kenapa aku harus memilih? Kenapa aku akhir-akhir ini selalu diberikan pertanyaan seperti ini.." Jawab Tasya bingung.


"Kalau tidak memilih, berarti kamu mau dua-duanya?!" Seru Ifa terkejut.


"Gak-gak! Mana mungkin begitu!" Seru Tasya sambil menggelengkan kepala dengan cepat.

__ADS_1


"Kalau Tasya sering mendengar pertanyaan itu akhir-akhir ini, berarti mereka juga sadar kalau Dika dan Rehan terlihat memiliki perasaan pada Tasya. Jadi, wajar kalau kamu diberikan pertanyaan itu ... Tapi, kamu gak usah bingung, kamu tinggal jujur saja dengan perasaanmu. Aku yakin diantara mereka sudah ada yang berhasil menyusup ke dalam hatimu.." Ucap Intan lembut.


"Ak-Aku ..."


"Siapapun itu, kamu gak usah gak enak pada kami, hanya karna kami kakak mereka. Karna kami tau, perasaan itu gak bisa dipaksakan." Ucap Ifa pelan, dia bisa melihat Tasya yang tampak ragu. Dia pasti merasa cukup canggung dengannya dan Intan.


"Kak Intan benar. Memang sudah ada yang aku suka dari mereka ..." Ucap Tasya sambil menatap Dika dikejauhan.


"Dia Dika kan?" Tebak Ifa yang melihat arah pandang Tasya. Tasya pun mengangguk sebagai jawaban. Dia takut menatap Ifa, seakan merasa bersalah.


"Kamu gak usah merasa bersalah seperti itu padaku. Itu perasaanmu, siapapun orang yang kamu suka itu hak kamu. Yah, mungkin memang menyakitkan untuk Rehan. Tapi, itu akan berlalu dengan seiringnya waktu. Hidupnya masih panjang, dia bisa menemukan cinta yang lain." Ucap Ifa menenangkan Tasya. Tasya tersenyum kecil menanggapi perkataan Ifa.


"Huh! Dasar bocah itu, dia memang gak peka. Padahal, aku juga melihatnya menyukai Tasya. Tapi, entah kenapa dia malah mencari-cari alasan saja dan gak mau mengakui perasaannya." Ucap Intan dengan helaan nafas panjang.


"Benarkah kak? Tapi, Dika terlihat gak pernah melihatku sebagai wanita. Dia juga seperti membangun dinding diantara kita ... Tania, mengatakan kalau ingin menghilangkan pembatas itu, harus ada diantara kita yang melangkah maju. Karna, Dika gak mungkin melakukan itu, Tania mengatakan harus aku. Tapi, aku gak berani ..." Ucap Tasya sedih.


Kalau untuk perasaan Rehan, Tasya sebenarnya sudah mengetahuinya walaupun Rehan belum mengatakannya. Itu terlihat jelas dari sikap Rehan. Bahkan, beberapa kali Rehan seperti memberikan kode padanya. Hanya saja Tasya lebih memilih berpura-pura gak tahu. Dia takut, harus bersikap seperti apa nanti. Dia juga takut menolak dengan tegas.


"Aku setuju dengan saran Tania. Gak ada salahnya, jika kita wanita dulu yang mengatakan. Hm, sebenarnya aku pernah melakukan itu dulu.." Ucap Intan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Benarkah? Lalu? ... Ah, tapi kan kak Intan bersama kak Setya sekarang. Berarti pernyataannya gak lancar dong ... Bagaimana, jika Tasya berakhir sama?" Tanya Tasya sedih.


"Memang hasilnya gak bagus. Aku ditolak dan akhirnya kami jadi gak saling berhubungan sampai sekarang. Jujur, rasanya memang menyakitkan sampai sulit rasanya untuk melupakan dia dulu ... Tapi, Tasya itu wajar dalam cinta. Walaupun awalnya, aku memang terpuruk, akhirnya aku bisa bangkit dan bisa bertemu dengan kak Setya. Andai saja aku gak mengatakan perasaanku dulu, mungkin sampai sekarang aku akan terjebak didalam hubungan yang gak jelas. Cinta sepihak yang menyakitkan." Ucap Intan menjelaskan.


"Benar apa yang dikatakan Intan. Walaupun seumpama kamu ditolak nanti, setidaknya setelah itu kamu bisa mengambil sikap. Memilih untuk terus bertahan atau mencari cinta lain lagi ... Itu akan baik untukmu, juga untuk Rehan. Kalau misal kamu jadi bersama Dika, Rehan akan tahu untuk mundur dan mencari cinta lain. Kalau gak ada ketegasan seperti ini, semua justru akan saling terluka." Ucap Ifa menambahkan.


"Tapi, aku takut ini semua akan merusak pertemanan kami. Seperti yang dikatakan kak Intan. Kak Intan dan orang yang pernah dicintai kak Intan itu jadi gak berhubungan lagi sampai sekarang. Aku juga takut itu terjadi." Ucap Tasya sedih.


"Hubungan kamu dengan Dika dan Rehan itu berbeda denganku Tasya. Kalian adalah teman. Sebelum ada cinta diantara kalianpun, kalian adalah teman. Sedangkan, aku hanya orang asing yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya. Jadi wajar kalau kami berpisah. Aku yakin, itu gak bakal terjadi pada kalian." Jawab Intan pengertian. Tasya diam dan seakan mengolah apa yang dikatakan Intan dan Ifa. Dia menatap Dika dari kejauhan.


Apakah aku sungguh harus melangkah maju mendekatimu dulu? ...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2