
"Maaf ..." Ucap Setya menggantung dengan menunduk dihadapan Intan.
Intan menatap Setya dengan bingung. Ia mendekati Setya dan menggenggam tangannya dengan lembut.
"Kakak tau kalau aku sangat mempercayai kakak kan? Apapun yang kakak lakukan padaku pasti itu demi kebaikanku. Jadi, tolong katakan padaku ya?" Ucap Intan dengan lembut.
"Maaf aku sudah tidak berkata jujur padamu ... Awalnya, aku ingin menyelesaikan ini tanpa memberitahumu. Tapi, aku salah. Sebaiknya, kamu juga mengetahuinya karna aku tak selalu bisa berada disampingmu. Maaf, aku tak bisa melindungimu hanya dengan kemampuanku." Jawab Setya dengan menatap Intan dengan dalam. Dapat Intan lihat sorot mata bersalah dari tatapan Setya.
"Semua orang memiliki batas kemampuannya masing-masing. Kakak tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi sempurna dihadapanku. Aku akan jauh lebih bahagia, kalau kakak bisa mengatakannya padaku agar kita bisa bekerja sama untuk menjadi sempurna." Ucap Intan dengan senyum lembut diwajahnya. Mendengar ucapan Intan, akhirnya Setya merasa jauh lebih tenang.
"Terima kasih. Dari dulu sampai sekarang, kamu selalu menjadi kekuatanku ..." Ucap Setya dengan senyum diwajahnya.
"Sekarang kakak sudah bisa menceritakan yang sebenarnya padaku?" Tanya Intan penuh harap. Setya tersenyum dan mengangguk. Dia membimbing Intan untuk duduk terlebih dulu.
"Sebenarnya ... Irhas temanku yang duduk bersamamu, dia memiliki masalah. Dia terkenal memiliki pikiran yang kotor. Dia sering terpergok menonton video dewasa di kelas. Sering kali dia sengaja menyentuh atau memfoto diam-diam teman perempuan di kelasku untuk memenuhi hasrat pribadinya. Dia dengan mudah bisa membayangkan wanita dengan pikiran kotornya itu. Maka dari itu aku ..." Ucapan Setya terhenti saat melihat tubuh Intan sedikit gemetar.
"Intan? Ada apa?" Tanya Setya khawatir.
"Kak ... A-Aku tidak tahu. Tiba-tiba aku merasa ketakutan ... Apakah kakak melarangku untuk menguncir rambutku karna dia akan membayangkanku dengan pikiran kotornya itu? A-Aku takut. Berarti tadi di-dia ... ?!" Ucap Intan terbata-bata.
Intan ketakutan membayangkan bahwa ia duduk disamping orang mesum. Ia juga membayangkan bahwa dari tadi dirinya diperhatikan dengan kotor. Hal itu membuat tubuhnya gemetar. Kini ia tahu kenapa teman-teman Setya menatapnya tadi.
Setya merasa tersiksa melihat Intan ketakutan didepannya seperti itu. Hal itu secara tidak langsung menunjukkan betapa tidak berdayanya dia untuk melindungi Intan. Tanpa pikir panjang Setya langsung memeluk Intan untuk menenangkannya. Berusaha membuat Intan merasa aman.
"Maaf ... Maaf aku tak bisa melindungimu sepenuhnya. Maafkan aku ..." Ucap Setya sambil mempererat pelukannya. Hanya itu yang bisa ia katakan pada Intan.
"Kau tidak bersalah, hal ini memang diluar kemampuanmu. Aku pun juga seperti itu." Seru Bayu yang datang bersama Ifa. Bayu juga sudah menceritakan yang sebenarnya pada Ifa. Karna, tadi Irhas juga hampir mendekati Ifa.
__ADS_1
"Intan ..." Panggil Ifa. Ifa tahu yang dirasakan Intan. Karna, dia juga baru saja ditatap dengan menjijikkan oleh Irhas.
Intan mendongak menatap Ifa. Dapat Intan lihat dari sorot mata Ifa, ia juga terlihat ketakutan. Akhirnya, Intan berganti memeluk Ifa untuk saling menguatkan.
"Ada apa Bay? Kau terlihat marah." Tanya Setya melihat raut wajah Bayu yang terkihat kesal.
"Si brengsek itu, tadi berusaha mendekati Ifa juga. Sepertinya dia memang mencari gara-gara dengan kita. Kalau saja dia tadi benar-benar menyentuh Ifa, aku akan mematahkan tangannya!" Seru Bayu marah.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ifa bingung dengan keadaan saat ini.
"Ayah ... Aku akan mengatakan pada ayah. Ayah pasti bisa membantu mengatasi masalah ini. Setidaknya aku bisa menjamin aku tak perlu duduk disampingnya. Karna, ayah tidak akan membiarkan itu." Ucap Intan mengusulkan.
Walaupun berat hati, Setya mengakui bahwa itu adalah solusi terbaik untuk saat ini. Jujur, harga dirinya terluka sebagai seorang pria. Apalagi, sebelumnya ia sudah berjanji pada ayah Intan untuk melindungi putrinya. Namun, Setya harus menepis ego itu demi keselamatan Intan. Tentu saja Bayu juga merasakan seperti yang dirasakan Setya. Karna, dia juga sudah berjanji pada ayah Intan untuk menjaga Ifa.
"Baiklah, kita akan meminta bantuan pada ayahmu. Nanti, kita bicarakan bersama." Ucap Setya lembut.
...****************...
"Ayah ... Intan, boleh minta tolong pada ayah?" Tanya Intan pada sang ayah setelah selesai makan malam.
"Kenapa, Intan menanyakan sesuatu yang sudah pasti tahu jawabannya? ... Apa ada yang terjadi? Apakah ada yang menganggu Intan lagi di sekolah?" Tanya ayah yang mulai terlihat khawatir.
"Om, sebenarnya memang ada yang terjadi di sekolah ... Seperti yang om ketahui saat ini kami sedang menghadapi ujian tengah semester. Di sekolah kalau ujian seperti ini duduknya dengan kakak kelas ... Kebetulan kelas saya dan Intan bersama. Tapi, yang duduk dengan Intan adalah teman saya yang bermasalah di sekolah ... Dia memiliki kebiasaan buruk dengan pikiran kotornya terhadap wanita. Selama ini dia di kelas sudah dijauhi oleh teman-teman saya, karna perlikunya ..."
"Dan pria seperti dia duduk dengan putriku?! Apa dari sekolah tidak ada tindakan?!" Tanya ayah dengan nada tinggi memotong ucapan Setya.
"Dia sudah berulang kali masuk BK dengan kasus yang sama. Tapi, masih belum tahap untuk dikeluarkan dari sekolah ... Saya dan Bayu sudah memperingatkan dia untuk tidak macam-macam pada Intan dan Ifa. Tapi, hari ini dia sudah mulai beraksi ... Maaf om, saya dan Bayu telah gagal menepati janji kami untuk menjaga Intan dan Ifa. Saya tidak berdaya, maka dari itu kami memutuskan untuk meminta bantuan pada om. Setidaknya, dia tidak perlu duduk bersama Intan." Ucap Setya dengan menundukkan kepala merasa bersalah. Begitupun Bayu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Setya dan Bayu, membuat Intan dan Ifa mengetahui bahwa meminta bantuan pada ayah cukup berat bagi mereka berdua.
"Kak Setya, aku meminta bantuan pada ayah bukan karna kakak sudah gagal dan tidak menepati janji kakak ... Tapi, kondisi saat ini yang memang tidak memungkinkan. Kak Setya dan kak Bayu saat ini memang belum memiliki sumber daya untuk menyelesaikan masalah ini. Bukan karna tidak mau tapi tidak bisa ... Dan ayahlah yang bisa memenuhinya saat ini. Semua punya porsi masing-masing ..." Ucap Intan lembut.
"Benar kata Intan, kak Bayu dan kak Setya selama ini kalian sudah melindungi dan memberikan yang terbaik untuk kami. kalian tidak gagal sama sekali. Hanya saja masalah saat ini level penyelesaiannya hanya bisa dilakukan oleh orang tua. Orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi daripada seoarang pelajar seperti kita ..." Tambah Ifa.
Setya dan Bayu menatap Intan dan Ifa dengan tatapan haru. Benar, saat ini memang mereka terhalang status sebagai sesama pelajar. Tuntutan mereka belum bisa sekuat dari orang tua. Dan saat ini yang paling terpenting adalah melindungi Intan dan Ifa.
"Apa yang dikatan Intan dan Ifa benar. Aku sama sekali tidak merasa kalian sudah gagal melindungi mereka sejauh ini. Masalah ini memang hanya bisa diselesaikan oleh orang tua." Ucap ayah bijak. Setya dan Bayu cukup lega mendegar ucapan ayah Intan. Mereka sama sekali tidak di cap telah gagal melindungi Intan dan Ifa.
"Tante sangat salut pada kalian. Kalian bisa membedakan dengan bijak masalah yang bisa diselesaikan sendiri atau harus meminta bantuan pada orang tua. Setya-Bayu tante semakin percaya kalau kalian bisa melindungi Intan dan Ifa. Masalah hari ini menunjukkan kalian yang sudah sangat dewasa. Tante tau sangat sulit untuk mengatakan ini pada kami, karna kalian harus melawan ego kalian. Tapi, kalian mengesampingkan itu demi keselamatan Intan dan Ifa. Tante bangga pada kalian." Puji bunda tulus. Setya dan Bayu jauh merasa lebih lega setelah mendengar ucapan bunda Intan.
"Ayah sangat bahagia sayang. Ayah kira, posisi ayah akan tersingkir karna ada Setya dalam hidup kamu sekarang. Tapi, dengan Intan meminta bantuan ayah untuk masalah ini, ayah merasa kalu posisi ayah masih sama." Ucap ayah lembut pada Intan. Intan segera berdiri dan memeluk sang ayah.
"Posisi ayah gak bakal pernah terganti. Ayah tetaplah lelaki pertama yang paling Intan sayangi di dunia ini." Seru Intan sambil memeluk ayah dengan erat.
"Sudah baper-baperannya! Sekarang apa yang akan ayah lakukan untuk mengurus pria mesum itu. Membayangkannya saja membuatku ingin melempar bola basket ke wajahnya! Berani-beraninya dia ..." Seru Dika geram.
Dari tadi dia sudah menahan emosinya setelah mendengar penjelasan Setya. Dia tak terima ada yang melakukan sesuatu yang buruk pada kakaknya. Namun, saat melihat tatapan geli dari semua orang dia tidak melanjutkan perkataannya dan pura-pura memalingkan wajahnya. Terutama Intan, dia tersenyum melihat kemarahan sang adik karna mencemaskan dirinya.
"Ayah akan ke sekolah kalian besok!" Putus ayah tegas dengan sorot mata yang tajam.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..