
Waktu kembali berlalu, kehamilan Ifa juga semakin besar. Minggu depan Ifa dan keluarga akan mengadakan acara syukuran tujuh bulanan untuk baby twin. Sedangkan, Intan dan Setya sendiri juga masih belum mendapatkan kabar baik. Mungkin..
Pagi itu, seperti biasa Intan bangun lebih dulu dari tidurnya untuk menunaikan sholat shubuh. Dia melihat sang suami yang masih terlelap. Dengan lembut Intan menyentuh wajah suami tercinta untuk membangunkannya.
"Kak Setya ... Sayang ... Suamiku ... Ayo bangun. Kita sholat shubuh berjama'ah." Ucap Intan dengan sangat lembut.
"Hmm.. Uda pagi ya? Selamat pagi istriku sayang." Jawab Setya dengan masih setengah sadar.
"Iya. Yuk, bangun. Intan mandi dulu yaa. Habis itu kak Setya, setelah itu kita sholat shubuh berjama'ah seperti biasa." Ucap Intan lembut. Setya pun mengangguk sebagai jawaban.
Saat Intan akan bangkit menuju kemar mandi, Setya kembali menarik tangan Intan dan mencegahnya pergi.
"Ada apa?" Tanya Intan bingung.
"Cium.." Pinta Setya dengan manja. Intan hanya bisa tersenyum geli mendengar permintaan sang suami.
Cup!!
Intan mencium bibir suaminya sekilas. Tapi, Setya malah menunjuk pipi kirinya. Intan menuruti Setya dan mencium pipi kirinya. Lalu Setya menunjuk pipi kanannya. Dan begitu terus sampai seluruh wajahnya sudah dicium Intan, barulah Setya merasa puas.
"Udah yaa. Intan mau mandi. Keburu shubuhnya selesai nanti." Seru Intan pada Setya, karna terus menahannya dari tadi.
"Iya-iya. Aku cinta kamu. Muacchhh.." Jawab Setya sambil mencium lagi bibir Intan sekilas. Intan hanya bisa menggeleng dengan kelakuan suaminya itu.
Setelah itu, mereka secara bergantian untuk mandi, baru sholat shubuh berjama'ah. Setelah sholat, Intan akan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Setya. Saat semua sudah siap, barulah Intan akan berganti pakaian untuk berangkat kerja.
"Kak Setya, gak kerja kah? Kok malah tidur lagi?!" Seru Intan saat melihat sang suami malah kembali meringkuk di tempat tidur. Padahal biasanya, Setya akan membantunya membersihkan rumah saat dia memasak.
"Aku gak mau kerja ah. Hari ini kita bolos yuk sayang." Ucap Setya sambil menatap Intan penuh harap.
"Ih, apa'an sih kak. Kenapa kakak tiba-tiba gini sih?! Apa gak ada kerjaan di kantor?!" Tanya Intan heran.
"Ada sih. Tapi, aku maunya ngehabisin waktu berdua aja sama kamu." Rengek Setya sambil memeluk Intan dengan manja. Intan sampai dibuat terheran-heran dengan sikap Setya pagi ini. Dari tadi semenjak Setya bangun tidur, dia jadi manja sekali.
"Kak Setya, aku gak bisa bolos dan ninggalin kewajiban aku, ok. Jadi, kakak juga sebagai pimpinan kasih contoh yang baik dong. Lagian, kita selalu menghabiskan waktu bersama setelah pulang kerja dan akhir pekan." Ucap Intan mengingatkan.
"Gak mau. Sehari aja lah sayang. Sehari aja yaa. Pliss.." Pinta Setya dengan tatapan memohon yang sangat.
"Ok, kalau kakak mau bolos. Itu terserah kak Setya ..."
"Yess!!" Seru Setya senang.
"Jangan seneng dulu. Kak Setya boleh bolos tapi gak buat Intan.. Nih, lepasin dulu. Intan mau siap-siap." Seru Intan sambil melepaskan pelukan sang suami dari tubuhnya.
"Loh kok kamu tega gitu sih sama aku sayang?! Jadi, kerjaan kamu lebih penting nih dari suami kamu?!" Seru Setya dengan nada kesal sekaligus cemburu.
"Kak Setya, nih apa'an sih. Kenapa tiba-tiba banding-bandingin kayak gitu. Kak Setya dan pekerjaan Intan itu dua hal yang berbeda. Mana bisa kakak bandingin gitu?! Kak Setya, pagi ini aneh banget!" Seru Intan tak habis pikir dengan perkataan Setya barusan. Seakan sosok suaminya yang selama ini bijaksana, menghilang entah kemana pagi ini.
__ADS_1
"Sayang, jangan marah dong.." Bujuk Setya yang melihat Intan mengabaikannya.
"Tau ah. Aku berangkat kerja sendiri aja. Sarapannya uda Intan siapin. Intan berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Ucap Intan sambil berlalu pergi.
"Sayang!!" Panggil Setya berulang kali untuk menghentikan sang istri.
Tapi, Intan sama sekali tak memperdulikan Setya dan terus berjalan pergi. Tepat saat itu di depan kompleks ada taxi yang lewat. Bisa cepet deh, Intan sampai sekolahnya.
"Ihh.. Kak Setya kenapa sih hari ini?! Aneh banget!!" Gerutu Intan kesal di dalam taxi.
Setya sendiri setelah Intan berangkat, dia juga bersiap untuk berangkat dengan wajah cemberut. Dan itu bertahan sampai kantor. Sampai beberapa pegawai yang ingin menyapa Setya terlihat maju mundur untuk menyapa. Bahkan, banyak yang diataranya mengurungkan niat awal.
"Hei, kenapa wajahmu cemberut uda kayak orang punya utang segebok aja. Lagi tengkar nih sama Intan?" Tanya Bayu yang tak tahan untuk bertanya saat melihat wajah cemberut dan dongkol dari Sahabatnya itu.
"Intan gak cinta lagi sama aku deh Bay." Jawab Setya dengan suara lirih.
"Ih, kau ngomong apa sih?! Alay banget sumpah!" Seru Bayu yang tak habis pikir dengan ucapan Setya.
"Aku serius. Dia masih lebih milih kerjaannya daripada aku coba?! Dia tega banget. Padahal, aku hanya minta dia bolos sehari buat nemenin aku, tapi dia malah ninggalin aku. Haahhh.." Curhat Setya dengan emosional.
"Setya, bukan Intan yang aneh. Tapi kau yang aneh. Semenjak kapan sih, kau sangat manja dan semaunya sendiri seperti itu?! ... Kali ini aku dukung Intan. Kalaupun, aku jadi Intan aku juga bakalan mengabaikanmu!" Seru Bayu sambil berlalu meninggalkan Setya.
"Kenapa semua orang meninggalkan aku?! Apa salahku sih?!" Gerutu Setya kesal.
"Setya aneh banget. Lama-lama jadi mirip Ifa kalo lagi ngidam." Gumam Bayu sambil mengingat sikap dan perkataan Setya sebelumnya.
"Hallo?" Ucap Intan saat mengangkat telpon dari suaminya.
"Hallo, sayang.. Kamu uda istirahat kan? Keluarlah. Aku menunggu di gerbang.." Ucap Setya kemudian ia menutup panggilan telponnya, sebelum Intan mengomel.
"Kak Setya di depan? Ngapain?!" Gumam Intan yang terkejut mendengar suaminya sudah ada di depan. Dengan langkah cepat dia segera menuju ke depan.
"Kak Setya, kenapa disini? Ngapain?" Tanya Intan setelah memasuki mobil Setya.
"Aku mau makan siang denganmu ... Tapi, sepertinya kamu gak suka banget aku datang ya?" Ucap Setya dengan nada dan ekspresi sedih.
"Bukannya gitu kak Setya. Intan itu bukan pekerja kantoran yang bisa keluar masuk seenaknya saat jam istirahat. Intan gak bisa keluar sekolah lama-lama ..."
"Aku tahu. Mangkannya, aku uda beliin makan siangnya. Nih.." Ucap Setya sambil mengeluarkan dua kotak makan siang yang dibelinya tadi.
"Haahh.. Baiklah, kita makan disini yaa.. Maafin Intan kalau dari tadi Intan judes. Habisnya, kak Setya aneh banget hari ini." Ucap Intan menenangkan suaminya.
"Dari tadi kamu terus menyebutku aneh. Bahkan bukan kamu, Bayu juga begitu. Padahal, apa sih salahku? Aku kan hanya ingin bermanja dengan istriku." Gerutu Setya dengan kesal.
"Gak ada yang salah kok kak. Kak Setya boleh bermanja dengan Intan. Tapi, kak Setya tetep harus bisa liat situasi dong." Ucap Intan lembut.
"Hm, baiklah.."
__ADS_1
"Uda-uda. Sekarang kita makan dulu aja ya. Nanti keburu jam istirahat selesai." Ucap Intan mengalihkan topik.
"Aku maunya disuapin." Pinta Setya dengn tatapan memelas.
"Baiklah. Sini, bayi besarku. Aaaa.." Seru Intan sambil menyodorkan sendok berisi makanan ke arah Setya. Dia sudah tak bisa menolak permintaan sang suami lagi. Akhirnya, Intan terus menyuapi Setya, sampai makanan mereka habis.
"Kak Setya, hari ini kenapa sih?! Aneh banget!" Gumam Intan setelah aktivitas makan siang yang penuh drama itu selesai.
Berbeda dengan Intan yang terus memikirkan sikap Setya yang aneh. Setya sendiri kembali ke kantor dengan wajah sumringah. Bagaimana tidak keinginannya untuk disuapi sang istri terkabulkan.
"Uda gak tengkar lagi nih?" Seru Bayu yang kebetulan melihat ekpresi wajah Setya.
"Iya lah.. Istriku memang sangat baik dan sangat mencintaiku." Jawab Setya membanggakan Intan. Bayu hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban Setya itu. Dia merasa geli juga.
Manjanya Setya terus berlanjut saat pulang kerja. Dia dengan semangat menuju ke sekolah sang istri untuk menjemputnya. Tapi, saat dia sampai di depan sekolah Intan, dia malah melihat sang istri sedang dikelilingi siswa-siswa tampan Apalagi Intan terlihat tersenyum dan ketawa-ketawa dengan siswa-siswa itu. Setya tak tahan lagi, akhirnya dia turun dari mobil dan menghampiri Intan.
"Sayang, uda selesai?" Tanya Setya sambil merangkul pinggang Intan.
Intan yang sedang mengobrol dengan muridnya sampai terlonjak kaget melihat kedatangan Setya. Perilaku Setya juga cukup jadi perhatian murid-murid yang kebetulan belum pulang juga di sekolah.
"Kak Setya, ngapain disini?!" Bisik Intan sambil berusaha melepaskan rangkulan Setya.
"Maaf ya semua. Apakah saya sudah bisa membawa bu Intan pergi?" Tanya Setya pada beberapa siswa di depannya.
"Tentu saja. Tadi kami hanya mengobrol dengan bu Intan kok." Jawab salah satu siswa.
"Baiklah, kalau begitu. Saya bawa pergi istri saya dulu yaa. Sampi jumpa." Ucap Setya sambil menuntun Intan pergi.
"Tunggu pak. Kami belum bersalaman dengan bu Intan." Panggil siswa yang lain.
Mereka mendekati Intan lagi dan bergantian mencium punggunh tangan Intan, sebagai rasa hormat dan terima kasih pada guru yang sudah mengajarnya. Setya yang melihat tangan Intan yang dicium pria lain merasa tak suka. Setelah semua selesai bersalaman, Setya segera mengajak Intan pergi.
"Kak Setya nih kenapa lagi? Kenapa meluk-meluk Intan di depan murid-murid Intan?" Omel Intan sesudah mereka memasuki mobil.
"Emang gak boleh ya? Ada larangan meluk istri sendiri?" Tanya Setya tak mau disalahkan.
"Walaupun gak ada larangan tertulis. Tapi, itu sudah jadi etika guru kak. Kak Setya nih ... Tau ah!!" Seru Intan kesal, dia pun membuang muka ke arah jendela.
"Sayang, kamu marah?" Tanya Setya sambil sesekali melirik Intan yang ada disampingnya. Intan tak menjawab dan hanya diam menatap jalanan.
Kak Setya benar-benar aneh!
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..