Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Aku sudah tahu semuanya..


__ADS_3

Intan masih terkejut mengetahui kebenaran bahwa Setya sudah sangat lama menyukainya.


Selama itu kak Setya menyukaiku?


Hanya aku?


Tapi, kenapa? Dan Bagaimana?


Disekitar kak Setya pasti banyak sekali gadis cantik selama ini..


Bagaimana bisa dia hanya setia padaku dan menungguku selama ini?


Intan terus bergelut dengan perasaannya. Sampai tak terasa sudah waktunya untuk pulang.


"Setya, antar Intan dengan selamat. Hati-hati saat berkendara ya." Pesan mama sebelum Setya pergi mengantar Intan.


"Tentu saja ma. Setya, berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Pamit Setya.


"Intan pulang dulu ya tante, om. Terima kasih untuk hari ini, Intan akan sering mampir nanti. Assalamu'alaikum" Pamit Intan.


"Kak Intan, nanti kita saling berkirim pesan ya." Seru Tasya senang.


"Tentu saja." Jawab Intan ramah.


Setelah itu Setya segera melajukan sepeda motornya untuk mengantarkan Intan.


"Kak, bisakah kakak membawa ku ke hutan bambu waktu itu?" Tanya Intan sesaat sebelum mereka keluar dari kompleks rumah Setya.


"Sekarang?" Tanya Setya memastikan.


"Ya. Sekarang." Jawab Intan yakin.


Setya melirik jam tangannya sekilas. masih ada waktu sebelum jam malamnya Intan. Akhirnya, ia menuruti permintaan Intan.


Selama perjalanan Intan tak berbicara sepatah kata pun. Dia terus memeluk Setya dengan kencang, seakan meluapkan perasaannya. Air matanya juga tanpa terasa menetes, membayangkan betapa kesepian san sabarnya Setya menyukainya seorang diri selama ini. Ia masih sulit mempercayai fakta yang baru saja diketahuinya.


"Kita sudah sampai." Ucap Setya menyadarkan Intan yang masih memeluknya dan tak segera turun. Baru setelah Setya mengatakan itu Intan melepaskan pelukannya dan segera turun dari sepeda motor. Namun, dia masih belum melepaskan helmnya.


Setya tak menyadari bahwa Intan menangis. Ia kira, Intan sengaja tidak melepaskan helmnya agar dia bisa membantu Intan untuk melepaskan helm itu.


"Manja sekali sih, pacar aku hari ini." Ucap Setya dengan senyuman saat membantu Intan melepaskan helmnya. Namun, segera ia terkejut saat melihat mata sembab Intan.


"Intan? Ada apa? Kenapa? Apa ada yang sakit? Atau apakah mama atau Tasya mengatakan sesuatu yang buruk padamu? Kenapa menangis?" Tanya Setya beruntun dengan panik melihat Intan menangis.


"Ini gara-gara kakak." Ucap Intan lirih dengan terus menangis. Tangisnya makin kencang saat melihat wajah Setya.


"Aku? Tapi kenapa? Apa yang sudah ku lakukan? Katakan saja padaku, sikapku yang mana yang membuatmu menagis seperti ini." Seru Setya masih panik. Namun, ia menjadi emosi dengan dirinya sendiri karna sudah menjadi alasan Intan menangis.


"Sikap kakak yang seperti ini." Jawab Intan sembari berjalan meninggalkan Setya.


"Sikapku seperti ini? Maksudnya bagaimana?" Seru Setya mengikuti Intan yang terus berjalan.


Intan menuju menara bambu yang ia datangi bersama Setya sebelumnya. Diatas sana, dapat Intan lihat pemandangan indah dibawah sana.


"Intan ... Aku masih tidak paham apa yang membuatmu menangis. Sikapku yang seperti tadi? Sikap yang mana?" Tanya Setya merasa putus asa, karna masih belum menemukan jawaban.

__ADS_1


Intan menarik nafas panjang sebelum menghadap Setya dan menatap matanya dalam.


"Sikap kakak yang sangat mencintaiku, kasih sayang kakak, kehangatan kakak dan semua yang sudah kakak berikan padaku sampai sekarang." Ucap Intan lirih dengan mata kembali berkaca-kaca menatap Setya. Setya masih belum mengerti apa maksud Setya.


"Aku sudah tahu semuanya. Tante sudah memberitahuku tadi." Tambah Intan.


"Apa yang sudah mama beritahukan padamu?" Tanya Setya bingung.


"Kenapa? Kenapa kakak bisa mencintaiku selama itu? Apakah kakak baik-baik saja? Bagaimana mungkin kakak bisa hanya setia padaku selama ini, padahal disamping kakak pasti banyak gadis yang cantik ... Kenapa kakak menderita sendirian selama ini? Kenapa?!" Seru Intan sembari mencengkram baju Setya.


Setya sekarang tahu apa yang membuat Intan menangis. Dia tersenyum lembut dan menghapus pelan air mata Intan dengn ibu jarinya.


"Aku sama sekali tidak menderita. Aku menikmati setiap waktuku saat menyukaimu dalam diam. Melihatmu tersenyum dan bahagia merupakan kebahagiaan dan semangat untuk ku juga. Dengan senyum itu tak ada gadis lain yang bisa menggantikannya ... Karna, dimataku hanya kamu Intan." Ucap Setya lembut. Dan hal itu sukses membuat air mata Intan semakin deras.


Kak Setya ...


Aku merasa malu pada kakak, disaat kakak sangat yakin memilihku dan mencintaiku sedalam ini, tapi aku?


Aku malah terus merasa rendah diri dan melarikan diri ...


Maaf ...


"Sudah berhentilah menangis ok?" Pinta Setya yang tak tega melihat Intan terus menangis.


Intan menatap Setya dalam. Ia menatap dengan lekat wajah Setya. Orang yang selama ini selalu ada disampingnya dan menghujaninya dengan cinta yang tulus. Kesetiaan Setya membuat hatinya hangat.


Perlahan Intan berjinjit dan mengeratkan cengkraman tangannya pada baju Setya. Setya tak menyadari gerakan Intan, karna setelah itu Intan bergerak dengan cepat mendekatinya ... Setya terkejut karna tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut mengenai bibirnya. Intan menciumnya.


Setya menatap Intan tak percaya. Dia masih cukup terkejut melihat apa yang dilakukan Intan. Tak lama kemudian, Intan melepaskan ciumannya dan menatap Setya dalam.


Setya terpaku mendengar ucapan Intan. Ia cukup terharu mendengarnya. Lalu, ia menarik tubuh Intan lebih dekat ke arahnya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Intan. Intan merasa gugup dan akhirnya memejamkan matanya, sampai ia merasakan sesuatu yang hangat mengenai bibirnya. Setya tanpa ragu mencium Intan, menyalurkan perasaannya pada gadis pujaannya itu.


Mereka berdua menikmati waktu yang seakan berhenti ketika mereka berciuman. Tak ada yang bergerak diantara mereka, mereka hanya sama-sama menikmati momen disaat bibir mereka berdua bersatu.


Tak lama kemudian, Setya melepaskan bibirnya dari bibir Intan. Ia tersenyum lembut pada Intan.


"Terima kasih, karna sudah hadir dihidupku dan membalas cintaku." Ucap Setya lembut.


Intan membalas perkataan Setya dengan sebuah pelukan. Setya tersenyum dibuatnya dan segera membalas pelukan Intan dengan erat. Ia mengecup lembut puncak kepala Intan dengan sayang.


...****************...


Kemudian, mereka bersama-sama menatap pemandangan indah dari menara bambu itu. Setya memeluk Intan dari belakang.


"Kak, kapan pertemuan pertama kita? Aku yakin bukan saat kakak mengantarku ke UKS kan?" Tanya Intan penasaran.


"Saat kamu dikejar-kejar oleh orang yang menyukaimu. Kamu sangat ketakutan dan mencengkram kuat lenganku. Aku tidak habis pikir waktu itu, semudah itu kamu berlindung dibalik punggung orang yang gak kamu kenal. Untung orang itu aku, bagaimana kalau orang lain? Hmm.." Ucap Setya sambil mengusap rambut Intan gemas.


"Dikejar-kejar? Oh, Bara ... Apa? Selama itu? Semenjak itu kakak menyukaiku?" Tanya Intan terkejut.


"Waktu itu aku belum menyukai kamu. Namun, setelah pertemuan kita hari itu membuatku terus tanpa sengaja bertemu dengan mu di sekolah. Akhirnya, aku mulai mengamatimu dan mulailah aku menyukaimu." Jawab Setya mengenang saat mengamati Intan diam-diam. Sedangkan saat ini ia sedang memeluk Intan. Saat seperti ini adalah hal yang selalu ia bayangkan dulu dan tak menyangka saat ini sudah menjadi kenyataan.


"Aku juga masih merasa ini mimpi. Mimpi yang sangat indah. Aku sama sekali tak menyangka, bahwa selama ini kak Setya selalu ada disampingku. Terima kasih." Ucap Intan lembut sembari memutar tubuhnya menghadap Setya.


Setya menatap Intan dengan lembut, ia tersenyum senang.

__ADS_1


"Ini bukan mimpi, aku nyata didepanmu sekarang." Ucap Setya sembari mengarahkan kedua tangan Intan ke pipinya. Intan tersenyum senang.


"Oh, kita harus pulang sekarang!" Seru Setya saat tak sengaja melihat jam dipergelangan tangannya.


Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam jam malam Intan. Seharusnya Intan sudah harus dirumah. Apalagi perjalanan dari hutan bambu ke rumah Intan adalah 30 menit. Apa yang akan dilakukan ayahnya Intan nanti? Setya hanya bisa menghembuskan nafas panjang membayangkan hukuman dari ayah Intan.


Akhirnya, keduanya segera bergegas pulang ke rumah Intan. Pukul 9.30 malam saat mereka sampai rumah. Ayah Intan sudah menunggu di depan rumah seperti sebelumnya. Setya menelan salivanya dengan susah payah. Sedangkan diam-diam Intan tertawa melihat itu.


"Assalamu'alaikum, ayah." Ucap Intan diikuti oleh Setya.


"Maaf, saya terlambat mengantar Intan pulang om. Maafkan saya." Ucap Setya dengan kepala tertunduk memohon maaf. Ayah Intan tak menjawab dan tetap diam seribu bahasa.


"Sudah, kakak langsung pulang saja. Nanti aku yang akan bujuk ayah ... Kakak hati-hati ya." Ucap Intan lembut.


"Tapi.."


"Ayah, diluar dingin yuk masuk." Ajak Intan manja, ayah dengan wajah cemberut akhirnya mengikuti Intan. Setya yang masih merasa bersalah pun akhirnya mau tidak mau harus pulang.


"Baru pulang sayang? Kenapa lama sekali? Ayah daritadi gak bisa tenang nunggu kamu pulang." Seru bunda yang melihat putrinya baru datang menggandeng tangan suaminya yang terlihat cemberut.


"Maaf ayah-bunda, Intan uda ngelanggar jam malam. Sebenarnya, kami keluar dari rumah kak Setya sudah 1 jam yang lalu. Hanya saja, Intan mengajak kak Setya jalan-jalan dulu." Ucap Intan menjelaskan.


"Lain kali kabari dulu ya sayang, kalau bisa jangan sampai kemalaman lagi. Ok?" Ucap bunda lembut.


"Baik bunda." Jawab Intan dengan senyuman.


"Apakah keluarganya memerlakukan tuan putri ayah dengan baik?" Tanya ayah yang akhirnya mau membuka suara, walaupun masih terlihat sangat kesal.


"Keluarga kak Setya sangat baik. Mereka sangat menyambut Intan. Mama kak Setya jago masak seperti bunda. Dan adik perempuan kak Setya juga sangat manis. Aku serasa memiliki adik perempuan. Tapi ..." Ucap Intan menggantung dan mulai tertunduk. Ia mulai menangis lagi.


"Ada apa? Apa ada yang memperlakukan Intan dengn buruk? Apa ayahnya Setya? Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?" Tanya ayah panik saat tiba-tiba Intan menangis, padahal sebelumnya Intan menjelaskan dengan sangat antusias. Bunda juga terlihat cemas.


"Tidak. Om juga baik sama Intan. Hanya saja, kak Setya ..." Ucap Intan lirih.


"Setya kenapa? Kenapa dengan bocah itu? Dia ngapain kamu sayang?" Tanya ayah geram.


"Kak Setya gak ngapa-ngapain Intan. Hanya saja, hari ini Intan baru tahu dari mama kak Setya. Kalau kak Setya uda sangat lama menyukai Intan diam-diam. Dan selama ini kak Setya selalu menghibur Intan saat Intan sedih, tanpa Intan ketahui ... Intan hanya terkejut, bagaimana bisa kak Setya bertahan selama ini seorang diri? Pasti banyak kan gadis cantik lain yang deketin kak Setya, tapi kak Setya bisa-bisanya menungguku selama ini. Intan ... Intan apakah pantas mendapatkan cinta yang berlimpah seperti itu dari kak Setya?" Ucap Intan menjelaskan dengan air mata yang mengalir dengan deras.


"Sebenarnya, ayah juga sudah tahu hal ini. Teman Setya memberitahu ayah waktu ayah menguji Setya. Dan karna, itu ayah jadi yakin bahwa bocah ingusan itu cukup serius dengan Intan." Ucap ayah lembut sembari menghapus air mata Intan.


"Intan harus lebih percaya diri mulai sekarang. Setya, sudah menunggu dan memilih Intan. Sekarang, kalau Intan ingin merasa pantas untuk Setya, maka Intan harus lebih percaya diri, sehingga semua orang bisa melihat bahwa Intan memang pantas untuk Setya. Abaikan saja semua orang yang menilai kalian negatif, karna mereka merasa iri pada Intan. Jangan karna mereka, Intan membuat orang yang sayang dengan Intan juga merasa sedih. Bunda yakin Intan bisa. Setya juga bakal senang kalau Intan bisa lebih percaya diri. Sebagaimana Setya yang percaya dalam memilih dan menyukai Intan." Ucap bunda menjelaskan dengan yakin.


Mendengar ucapan kedua orang tuanya, seakan memberikan semangat untuk Intan. Apalagi ucapan sang bunda. Ia ingin menjadi pantas untuk Setya, karna Setya sudah memilih dan menyukainya selama ini. Ia ingin tampil percaya diri disisi Setya.


Kak Setya, aku akan membuaat kakak bahagia..


Aku akan menunjukkan bahwa aku memang pantas untuk kakak..


Tunggu aku kak..


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2