
Setelah sarapan, seperti yang sudah dijanjikan papa dan mama Bayu mengantarkan Ifa pulang ke rumah mamanya. Kebetulan hari itu akhir pekan, jadi mama Ifa juga libur kerja. Walaupun, Ifa melarangnya Bayu tetap mengikuti Ifa meski di mobil yang berbeda.
"Assalamu'alaikum ma.." Panggil Ifa sambil masuk ke dalam rumahnya mencari sang mama.
"Wa'alaikum salam. Kamu pulang kok gak ngabarin mama dulu? ... Dan kenapa bawa tas besar gini juga?" Tanya mama bingung saat melihat tas yang dibawa Ifa.
"Assalamu'alaikum.." Ucap mama Bayu menyadarkan mama Ifa kalau ada dia disana juga.
"Wa'alaikum salam. Lho ternyata semua ada disini toh. Ada apa ini?" Tanya mama Ifa semakin bingung.
"Maaf ma. Ini salah Bayu. Bayu buat Ifa marah sama Bayu jadi Ifa ingin pulang ke rumah mama." Jawab Bayu pada mertuanya.
"Kamu uda buat Ifa marah karna apa emangnya Bay?" Tanya mama bingung.
"Dini hari tadi Ifa minta beliin ice cream. Bayu khawatir kalo Ifa akan flu karna makan dingin malam-malam begitu. Bayu juga ngantuk banget tadi setelah lembur. Jadi, Bayu gak sadar uda cuekin Ifa. Akhirnya, setelah itu Ifa marah dan tidur di sofa. Paginya, Ifa mual-mual setiap deket Bayu dan akhirnya dia minta pulang ke rumah mama." Jelas Bayu pada sang mertua.
Jujur saat Ifa mendengar penjelasan Bayu, Ifa juga sedikit merasa bersalah. Bagaimanapun selama beberapa waktu ini dia terus menyusahkan sang suami dengan permintaan aneh-anehnya. Bayu juga pasti lelah, apalagi setelah kerja lembur. Bukannya Ifa melayani suaminya, Ifa malah terus menyusahkannya.
Hikss.. Hikss..
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Bayu khawatir saat melihat Ifa kembali menangis.
"Maaf. Hikss ... Ifa minta maaf, Ifa uda repotin kak Bayu dan gak ngertiin kak Bayu. Ifa istri yang buruk. Huaaaa.." Tangis Ifa semakin kencang dibuatnya
"Sayang, uda jangan nangis lagi. Aku juga yang kurang perhatian sama kamu. Kamu gak sepenuhnya salah." Ucap Bayu mencoba mendekati Ifa.
Hoeekkk.. Hoeekk..
"Kak Bayu jangan deket-deket Ifa dulu. Ifa masih mual kalo dideket kak Bayu." Seru Ifa mencegah Bayu yang ingin mendekatinya lagi.
"Hahh.. Kamu masih marah sama aku?" Tanya Bayu bingung.
"Enggak. Ifa uda gak marah. Tapi, baby twin keliatannya masih belum mau deket-deket papanya." Jawab Ifa polos.
"Duh, anak-anak papa yang baik. Kalian masih belum mau maafin papa? ... Maafin papa ya, papa janji akan nuruti kemauan mama kalian nanti. Tapi, jangan buat papa dan mama jauhan dong sayang." Ucap Bayu sambil membungkukkan badanya ke arah perut Ifa. Ifa sampai terenyuh mendengar ucapan Bayu, tapi saat dia mencoba mendekati Bayu, dia kembali merasa mual.
"Sepertinya, mereka masih belum mau maafin papanya." Ucap Ifa sambil memandang iba sang suami.
"Haahhh.." Bayu hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Ifa.
"Ya sudah, beberapa hari ini Ifa tinggal di rumah mama aja dulu ya. Kalau Bayu mau ikut tinggal disini gak apa-apa." Ucap mama Ifa lembut.
"Mama, Ifa mau tidur sama mama." Pinta Ifa manja.
"Tentu saja sayang." Jawab mama sambil mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Sukurin, kamu tidur sendiri beberapa hari ini." Ejek mama Bayu pada sang putra. Papa juga memberikan senyum mengejek pada anaknya.
"Dasar! Papa dan mama terlihat senang saat Bayu tersiksa." Seru Bayu kesal.
Akhirnya, sesuai keinginan Ifa selama satu minggu dia menginap di rumah mamanya. Bayu tetap menemaninya, walupun harus berbeda kamar. Dia sudah merasa sangat kesepian dibuatnya. Selama satu tahun terakhir, Bayu sudah terbiasa tidur memeluk Ifa. Tapi, sekarang dia harus tidur sendirian rasanya sangat kesepian.
"Sayang, kamu mau sampai kapan tidur sama mama terus. Kamu gak mau tidur sama aku? Aku kesepian lho sayang.." Rengek Bayu pada Ifa setelah selesai makan malam di rumah mamanya itu.
"Hm, ini hari terakhir kok aku nginap di rumah mama ..."
"Sungguh? Besok pulang dan tidur sama aku lagi ya?" Tanya Bayu antusias.
"Enggak juga. Aku masih mual kalo deket kak Bayu."
"Lah, terus kamu mau tidur sama siapa?" Tanya Bayu bingung.
__ADS_1
"Aku mau tidur sama Intan. Aku uda bilang Intan kok, kalau aku mau tidur sama dia. Dan dia ngebolehin." Jawab Ifa santai.
"Sayang.. Jangan gitu dong. Kasian, Intan sama Setya dong kalo kamu gangguin. Mereka kan jadi gak bisa buat baby juga." Bujuk Bayu agar Ifa merubah keputusannya.
"Aku uda tanya Intan, kak Bay. Dan Intan gak masalah. Lagian, aku kan gak tiap hari nginep di rumah Intan. Intan itu masih sahabat aku yang paling baik. Dia mau ngikutin kemauanku kok. Gak kayak ..."
"Iya-iya. Ok, besok aku anterin kamu ke rumah Intan." Potong Bayu cepat, sebelum sang istri kembali mengungkit masalahnya yang tak menuruti ngidamnya beberapa waktu lalu.
...----------------...
"Ayo masuk! Aku sudah masak banyak Fa. Kamu harus nyoba masakanku." Seru Intan saat Ifa dan Bayu sampai di rumahnya malam itu.
Intan sendiri sangat antusias saat Ifa mengatakan padanya ingin menginap dan tidur bersama dengannya. Rasanya mereka seperti kembali ke masa remaja. Intan dan Ifa memang sebelumnya sering tidur bersama. Dan setelah menikah mereka tak pernah melakukannya lagi.
"Wahh.. Ini kamu beneran yang masak semuanya Tan? Sekarang kamu sudah jago masak yaa." Puji Ifa saat melihat banyak sekali menu di meja makan.
"Iya dong. Aku terus berlatih. Sekarang, kamu cobain." Seru Intan sambil mengambilkan beberapa masakan untuk Ifa.
"Intan, tapi apakah kamu masaknya gak terlalu banyak? Kita cuman berempat lho." Tanya Bayu yang merasa tak enak hati.
"Enggak kok kak. Sekarang kan kita sedang berenam. Apa kak Bayu lupa kalo di perut Ifa ada baby twin. Intan tahu, nafsu makan Ifa pasti meningkat 3x lipat dari biasanya." Jawab Intan santai.
"Biarin aja kak Bayu, Tan. Dia emang masih sering lupa kalo aku hamil.."
"Apa sih sayang. Bukan gitu maksudku.."
"Jangan dekat-dekat kak. Nanti aku mual lagi. Aku mau coba masakan sahabat aku sekarang." Seru Ifa menahan Bayu yang ingin mendekatinya. Dan Bayu hanya bisa menarik nafas panjang dibuatnya. Kesabarannya memang sedang diuji dengan kehamilan Ifa saat ini.
"Enak Tan. Aku mau tambah!" Seru Ifa antusias.
"Tentu saja. Makan sepuasnya. Habiskan!" Jawab Intan santai.
"Fa, aku penasaran deh. Kamu tuh bener-bener ngidam atau ingin ngerjain kak Bayu aja sih?" Tanya Intan penasaran.
"Ya ngapain aku mau ngerjain kak Bayu sampai segitunya sih Tan. Aku juga gak tahu, rasanya kesel gitu kalo liat kak Bayu. Dan aku bener-bener ngerasa mual kalo kak Bayu deketin aku. Padahal, awal kehamilan gak kayak gini. Aku juga bingung. Emosiku benar-benar tak terkendali. Aku jadi sangat sensitif." Jawab Ifa menjelaskan.
"Hm, apa semua bumil begitu ya? Aku jadi penasaran." Ucap Intan menerawang.
"Kamu tenang saja. Aku yakin gak lama lagi kamu bakal nyusul." Ucap Ifa sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Iya. Baby twin, pasti akan segera nularin bunda yaa.." Ucap Intan sambil mengelus perut Ifa.
"Kami selalu mendo'akan yang terbaik untuk bunda." Jawab Ifa dengan menirukan suara anak kecil.
Di kamar sebelah, Setya dan Bayu juga sedang mengobrol.
"Ifa jadi sensitif sekali ya setelah hamil. Padahal, dulu dia gak seperti itu." Ucap Setya yang terlihat penasaran dengan kondisi bumil.
"Kau benar. Dia sangat berbeda dengan saat sebelum hamil. Ifa sudah seperti ujian kesabaran bagiku. Haahh.." Jawab Bayu dengan helaan nafas panjang.
"Tapi, bukankah itu menyenangkan? Mungkin saat ini kamu kesusahan. Tapi, saat kamu mengingatnya nanti, semua ini pasti akan jadi kenangan yang tak terlupa. Lagipula, ku rasa sebenarnya, tugas kita gak seberat wanita yang harus mengandung dan melahirkan." Ucap Setya pelan.
"Kau benar. Semarahnya aku, aku gak bisa sampai marah sekali pada Ifa. Melihatnya yang sudah susah payah hamil anak kami dan membayangkan perjuangannya nanti saat melahirkan, membuatku berpikir tak pantas untukku mengeluh ... Maaf juga karna Ifa aku sudah menyusahkanmu dan Intan." Ucap Bayu dengan senyuman.
"Kamu gak usah mempermasalahkan itu. Kalau Intan hamil nanti dan ternyata dia mau hal yang sama, kau dan Ifa bisa membayarnya saat itu." Jawab Setya santai.
"Tentu saja .."
Lima hari kemudian ..
"Bay, sampai kapan kau dan Ifa akan menginap di rumahku? Ini sudah lima hari. Lima hari aku tidur terpisah dari istriku Bay. Aku merindukan Intan!" Seru Setya pada Bayu malam itu.
__ADS_1
Yah, diluar dugaan Setya dan semuanya. Bahwa Ifa sangat betah untuk tidur bersama Intan. Sudah lima haru berlalu dan Ifa masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin pulang.
"Maaf-maaf. Aku juga gak bisa mengontrol apa keinginan Ifa. Kita tunggu saja sebentar lagi yaa.." Jawab Bayu yang juga merasa bersalah. Dia tahu rasanya tidur jauh dari istri. Karna, dia sudah merasakannya selama hampir dua minggu ini.
Bagaimana aku bisa buat baby, kalau aku saja tak bisa tidur dengan istriku .. Gerutu Setya dalam hati.
Akhirnya, setelah genap semingu penantian. Emosi Ifa sudah berubah. Dia sudah mau pulang dan bahkan sudah tak mual lagi di dekat Bayu. Bayu pun sangat senang dan langsung memeluk sang istri dengan perasaan rindu.
Kebahagiaan juga dirasakan Setya tentunya. Akhirnya, setelah seminggu tidur dengan Bayu, dia bisa kembali tidur dengan sang istri.
"Aku merindukanmu sayang." Ucap Setya sambil mencium pipi Intan sekilas.
"Kakak sangat berlebihan. Padahal hanya seminggu saja tak tidur bersama, kakak mengeluh seperti sudah setahun. Padahal, tiap hari kita juga ketemu." Seru Intan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Yah, kan aku uda kebiasaan tidur peluk kamu sayang. Seminggu gak peluk kamu rasanya gak enak tahu.." Ucap Setya dengan manja. Intah hanya berdecih melihat tingkah sang suami.
"Makasih ya Tan, kak Setya. Uda baik banget sama Ifa. Maaf sudah mengganggu kalian berdua." Ucap Ifa sebelum berpamitan pulang.
"Gak apa-apa kok Fa. Santai saja. Aku sangat senang malah. Aku seperti kembali ke masa remaja kita." Seru Intan dengan senyum lebar.
"Kalau kamu gak apa-apa. Tapi, suamimu gak seperti itu." Ucap Ifa sambil melihat ekspresi Setya.
"Hahaha. Abaikan saja." Ucap Intan dengan tawa lebar.
Setelah itu Ifa dan Bayu akhirnya pulang ke rumah orang tua Bayu. Meninggalkan Intan dan Setya sendiri.
"Sayang. Aku laper.." Bisik Setya pada Intan.
"Yauda, Intan siapkan makan malam dulu yaa.." Ucap Intan yang akan melangkah ke dapur.
"Aku gak mau makan itu! Aku mau makan kamu!" Seru Setya dan langsung menggendong Intan menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar, dengan perlahan Setya menurunkan Intan di ranjang dan mulai mecium mesra sang istri.
"Tunggu kak!" Seru Intan menghentikan aktivitas sang suami.
"Apa?!" Keluh Setya yang tak suka aktivitasnya diganggu.
"Sepertinya tamu Intan dateng." Ucap Intan merasa bersalah.
"Tamu siapa lagi. Ifa dan Bayu baru aja pulang. Mau ada tamu lagi?" Gerutu Setya kesal.
"Bukan tamu itu. Tapi, tamu bulanan Intan." Ucap Intan dengan senyum kikuk.
"Apa?! Berarti aku harus nunggu seminggu lagi dong?!" Seru Setya sambil menjatuhkan dirinya dipelukan Intan, seperti seorang bayi.
"Hehe. Maaf yaa.. Sabar tunggu seminggu lagi ya kak.."
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
Setya : Fix authornya suka nyiksa!!
Author : Dudududu😜✌️
...----------------...
__ADS_1