Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Terpejam


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Intan sampai di tempat tujuannya. Setelah memakirkan mobilnya, Intan keluar dengan membawa buket bunganya. Dia terdiam dan menatap bangunan besar berlantai empat dengan cat putih di depannya saat ini.


"Hufftt.."


Intan menghembuskan nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Walaupun, tempat ini sudah menjadi tempat rutin yang dia kunjungi selama satu tahun belakangan ini. Tapi, Intan masih saja merasa gugup tiap kali datang. Setelah cukup tenang, Intan menghiasi wajahnya dengan senyum kecil.


Perlahan Intan berjalan memasuki bangunan itu. Banyak sekali orang berlalu lalang. Dari anak-anak sampai orang tua. Indra penciuman Intan langsung menangkap aroma khas yang hanya ada di tempat itu. Aroma yang membuatnya merasa tak nyaman.


"Siang mbak Intan." Sapa seorang wanita paruh baya dengan seragam bewarna putih.


"Siang juga." Jawab Intan dengan ramah.


Disepanjang perjalanan Intan banyak disapa oleh orang-orang yang mengenalnya. Tentu saja itu bukan hal yang aneh. Mengingat tak ada satu haripun dalam setahun ini, dia tak menginjakkan kaki disana. Baik Intan atau orang-orang itu tentu saja sudah sangat terbiasa saling bertemu dan bertegur sapa seperti saat itu.


Dengan langkah perlahan, Intan menaiki tangga menuju ke lantai 3. Setiap anak tangga yang dia naiki, jantungnya terus saja berdegup kencang. Rasa takut, selalu menyelimutinya. Ia mencengkram kuat buket bunga di tangannya. Berusaha menenangkan dirinya lagi.


'Kamar 302'


Intan berdiri mematung dan sekali lagi menghembuskan nafas panjang sebelum memasuki ruangan di hadapannya itu. Setiap kali akan memasuki ruangan itu, jantungnya selalu berdebar kencang. Semua itu karna dia tak tahu apa yang akan menunggunya di balik ruangan itu. Setelah yakin, dia pun membuka pintu dan melangkahkan kaki memasuki ruangan itu.


"Sudah datang?" Tanya seorang wanita paruh baya yang wajahnya terlihat sangat letih. Wajah yang sebelumnya selalu terlihat berseri dengan senyum hangat, kini seperti tak berjiwa.


"Iya tante. Maaf, Intan terlambat. Tante sudah makan siang?" Tanya Intan lembut.


"Belum. Tante gak bisa meninggalkannya sendiri. Tante gak bisa tenang. Seakan-akan jika tante tinggal walaupun sebentar, dia akan meninggalkan tante untuk selamanya." Jawab wanita paruh baya itu, yang tak lain adalah mama Setya.


"Dia gak akan pergi meninggalkan kita tante. Dia gak mungkin meninggalkan orang-orang yang dia sayang seperti itu. Lagian, dia masih punya janji pada Intan." Jawab Intan sambil menatap sosok pria yang terbaring dengan mata terpejam. Tubuhnya terhubung dengan berbagai alat eletronik. Seakan-akan alat-alat itu adalah penghubung kehidupannya saat itu.


"Tante bisa pulang dan beristirahat di rumah sekarang. Biar Intan yang berjaga disini. Tante bisa kesini bersama om nanti seperti biasa." Ucap Intan kembali mengalihkan perhatiannya pada mama.


"Baiklah kalau begitu. Tante tinggal dulu ya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung kabari tante, ya?"


"Tentu saja tante. Tante juga jangan lupa makan ya." Ucap Intan dengan lembut.


"Iya. Makasih ya sayang." Ucap mama, sembari memeluk Intan dengan sayang


"Sama-sama tante." Jawab Intan membalas pelukan mama.


Intan tahu, mama Setya saat ini membutuhkan sandaran atas kesedihan dalam hatinya. Bukan hanya mama, dirinya sendiripun juga membutuhkan itu.

__ADS_1


"Mama pulang dulu ya sayang. Kamu disini bersama Intan dulu." Pamit mama sembari mengusap lembut rambut Setya. Tapi, tak ada jawaban. Hanya keheningan disana. Mama pun hanya bisa menunduk sedih. Intan juga menatap itu dengan tatapan sendu.


Setelah mama pergi, tinggallah Intan seorang diri. Intan menatap Setya yang terbaring lemah dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kak Setya, aku sudah datang. Bagaimana keadaan kakak hari ini?" Tanya Intan mendekati Setya yang masih terpejam. Tentu saja tak ada jawaban darinya.


"Lihat hari ini aku juga membawakan bunga untuk kakak. Coba kakak cium aromanya deh, wangi sekali bukan? ... Hm, aku selalu berharap do'a dari bunga ini bisa terwujud." Ucap Intan dengan penuh harap.


"Ah, aku akan meletakkannya di vas dulu ya kak." Seru Intan sembari mengganti bunga yang dia bawa kemarin dengan yang baru.


Sesekali Intan berceloteh dan mengajak mengobrol Setya, seakan Setya sedang mendengarkannya. Intan berharap sebuah keajaiban akan datang, ketika dia berbicara Setya akan menimpalinya. Tapi, dalam satu tahun terakhir ini, keajaiban itu belum juga datang.


"Kak, kakak tahu hari ini ada lagi serangga yang mendekati aku lho. Dia bilang suka padaku dan mau mendekatiku, karna kakak gak ada disampingku. Aku uda injak kakinya kuat-kuat. Jadi, dia gak akan datang lagi ... Oh ya, tadi Ifa juga membelikanku makan siang. Porsinya sangatt banyak, sampai rasanya perutku akan meledak. Kak Setya, sudah lama gak makan bukan? Kakak juga lebih kurus ... Kakak kapan bangun? Aku sangat merindukan kakak.." Ucap Intan lirih. Tanpa sadar air matanya kembali keluar.


Padahal Intan sudah berjanji kalau dia tak akan menangis, apalagi di depan Setya. Tapi, terkadang air mata tak lagi bisa ia kontrol. Rasa rindu dan takut kehilangan masih terus menghantuinya. Walaupun, Setya ada dihadapannya, tapi kondisinya bisa tiba-tiba drop. Beberapa kali hal itu terjadi. Sampai membuat jantung Intan seakan berhenti. Dia tak sanggup melihat Setya kesakitan dan berjuang untuk hidupnya.


Flashback on


Malam yang begitu gelap dan dingin, mulai menjadi terang. Sinar fajar diufuk timur mulai mengintip menyingkirkan kegelapan. Tapi, sayangnya sinar itu tak bisa menghilangkan kesedihan Intan dan seluruh keluarga. Semalaman mereka masih berada di tempat kecelakaan, menanti kabar akan Setya yang menghilang entah kemana.


Rasa putus asa memenuhi Intan dan seluruh keluarga. Tak ada tanda-tanda akan keberadaan Setya. Intan tak lagi menangis, bukan karna dia tak lagi bersedih, tapi sekarang dia merasa hampa. Ketika matahari mulai merangkak naik hingga, benar-benar menyibak gelapnya malam, sebuah kabar yang dinantikan oleh semua orang pun datang.


"Pak-Bu, semuanya. Kami sudah berhasil menemukan keberadaan korban. Sekarang ambulance sedang membawanya ke rumah sakit terdekat." Ucap salah seorang polisi memberi kabar. Intan dan semua keluarga langsung bangkit dari duduknya. Terkejut dan juga gembira mendengar kabar itu.


"Kami menemukannya di tepi sungai. Sepertinya dia terseret arus. Tubuhnya penuh luka dan cukup parah. Tapi, dia masih bernafas, walau sangat lemah. Sekarang, rumah sakit yang akan menanganinya." Jawab polisi itu dengan senyum ramah.


Mendengar itu, beberapa helaan nafas lega terdengar. Walaupun, mereka masih tak tahu bagaimana keadaan Setya saat ini, tapi mendengar Setya masih bernafas saja sudah sebuah keajaiban. Dan mereka masih percaya kalau keajaiban lain juga masih akan datang.


"Om-tante, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit." Seru Intan mengusulkan. Dia sudah tak tahan lagi ingin melihat kondisi Setya.


Akhirnya, mereka segera bergegas menuju rumah sakit terdekat, dimana Setya dibawa. Mereka berlari memasuki rumah sakit. Setelah bertanya pada resepsionis, mereka akhirnya segera menuju ke depan ruang ICU dimana, Setya sedang diberikan pertolongan pertama.


Mereka mengintip dari jendela bulat, di pintu ICU. Samar-samar mereka melihat Setya yang terbaring lemah dengan baju yang penuh darah. Dokter terlihat sedang berusaha menyelamatkan Setya. Intan tak sanggup lagi melihat itu. Dia pun kembali menangis dipelukan sang ayah.


Tak berselang lama, dokter keluar dan mengatakan kalau Setya kehilangan banyak darah. Luka ditubuhnya juga cukup parah. Tindakan operasi segera dibutuhkan, untuk menjahit dan membersihkan beberap luka dari tubuh Setya.


"Lakukan apapun dok! Lakukan apapun untuk menyelamatkan putra saya!" Seru papa dengan nada penuh harap. Pertama kali ini Intan melihat ketenangan yang biasa papa Setya perlihatkan menghilang.


"Baik pak. Kami akan mengusahakan yang terbaik." Jawab dokter itu dengan senyum ramah.

__ADS_1


Akhirnya, operasi pun dilakukan. Semua menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Do'a dan harapan terus terpanjat di bibir mereka. Mengharapkan kesembuhan dan keselamatan untuk Setya yang tengah berjuang untuk hidupnya.


Krieett... Pintu operasi terbuka dan keluarlah dokter dari sana. Intan dan semuanya pun berdiri dan mendekati dokter dengan tatapan penuh tanya dan juga penuh harap.


"Bagaiamana keadaan putra saya dok?" Tanya mama mewakili pertanyaan mereka semua.


"Operasi berjalan lancar. Tapi, karna luka yang dialami pasien cukup parah. Jadi, keadaannya sekarang masih koma. Dan ... Kita juga tak bisa memprediksi kapan pasien akan bangun kembali ... Berat saya sampaikan, beberapa kasus serupa ada juga pasien yang tak pernah bangun lagi." Ucap dokter dengan berat hati.


Seketika semua yang ada disana merasa seperti di sambar petir. Adakah harapan? Masih adakah harapan?


Flashback Off


Kembali ke masa sekarang.


"Kak Setya, kapan kakak akan bangun? ... Apakah kakak tidak merindukanku? Apa kakak gak ingin melihatku. Kata kak Bayu, aku terlihat sangat rapuh, menyedihkan! Haah, apa kak Setya gak mau bangun dan memarahi aku?"


Tak ada jawaban, hanya keheningan dan suara detak jantung dari monitor yang terdengar.


"Kak Bayu, bulan depan mau wisuda. Seharusnya, bulan depan kak Setya juga wisuda. Tapi, gak apa-apa deh. Kalau kakak bangun nanti, kita bisa jadi teman seangkatan. Seperti yang kakak harapkan dulu. Jadi, kak Setya harus segera bangun ya, kalo enggak kak Setya akan jadi juniornya Intan lho.."


Intan menatap wajah Setya yang terlihat lebih kurus daripada sebelumnya. Bekas luka fisik ditubuhnya dulu sudah sepenuhnya sembuh. Hanya saja, Setya tak juga membuka matanya. Entah apa yang membuatnya tertahan dengan kondisinya saat ini.


Intan menyentuh lembut jari manis Setya yang juga mengenakan cincin pertunangan mereka. Intan lah yang memasangkan pada Setya. Walaupun, Setya tak sadarkan diri, dia ingin tetap terikat dengan Setya. 'Always with you' , seperti do'a dan harapan yang Setya sematkan di cincin mereka saat itu.


"Aku merindukanmu, my heroo.." Ucap Intan lirih, sembari mencium tangan Setya dalam genggamannya.


.


.


.


Bersambung..


...----------------...


Maaf ya semua, kalau beberapa chapter ke depan akan mengaduk-aduk perasaan dan buat mood baca menurun ...Tapi, author janji endingnya gak bakal mengecewakan ...


Jadi, bersabar sedikit lagi yaa🙏

__ADS_1


...'Ingtalah selalu ada pelangi setelah badai dan akan ada cahaya setelah gelap'...


...----------------...


__ADS_2