Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
23. Ancaman Veni


__ADS_3

“GIMANA keadaan kamu, Ki?” tanya Cinay saat Kekira masuk kuliah lagi.


“Not too bad.” Kekira tercenung.


“Sorry ya aku nggak nengokin kamu. Soalnya Mama nggak ijinin aku bepergian kalo nggak ditemenin Mas Reno. Mas Reno sibuk praktikum, jadi nggak bisa nemenin ke rumah kamu.”


“Nggak pa-pa, Nay. Aku kan udah sehat.” Kekira membuka diktatnya. “Kamu harus bantuin aku belajar ya untuk ngejar materi beberapa hari ini.”


“Tenang aja. Aku udah copy semua bahan ujian buat kamu.” Cinay lihat kanan-kiri. “Eh Ki, kamu udah denger kalo Trixie sama Fifi keluar dari kampus?”


Kekira menoleh. “Keluar? Kenapa?”


“Trixie depresi akibat penculikan itu. Fifi juga. Mereka dibawa pindah ke luar kota sama keluarganya.”


Kekira tercenung dan menghela nafas lesu.


“Emang kalian diapain aja di sana?” Cinay penasaran. “Aku denger Fifi sampe histeris tiap sugesti liat bayangan orang lewat.”


Sungguh Kekira tidak mau mengingat lagi kejadian yang menyiksanya.


“Eh Ki, enggak usah cerita deh.”


Cinay melihat perubahan air muka Kekira.


“Aku juga nggak akan tahan dengernya. Untung aja kamu nggak depresi kayak mereka. Kalo kamu pergi juga, aku nggak ada temen lagi di sini.”


“Dari kecil aku udah terlatih untuk kuat menghadapi segala situasi dan nggak boleh menyerah serta selalu ingat Allah. Kalo nggak gitu, aku nggak akan bisa lolos dari sana dan membawa Fifi Trixie dengan selamat.”


“Hebat kamu, Ki.”


“Tapi penculik itu belum ketangkep, Nay. Kita harus tetep waspada.”


“Duuhh jadi nggak tenang gini hidup kita.”


HP Kekira bergetar.


Untung dosen belum datang.


Matanya menyipit membaca SMS.


***


“Dia siapa, Ki?” tanya Cinay melihat perempuan seksi berambut dicat pirang duduk di bangku taman.


Kekira terdiam. Bingung menjelaskan pada Cinay.


“Dia kan yang SMS kamu tadi ngajak ketemu di sini?” desak Cinay.

__ADS_1


“Nanti aku jelasin. Kamu duluan aja, nanti aku susul.”


Begitu Cinay pergi, Kekira menarik nafas.


“Ngapain Veni ke sini?” gumamnya.


Suasana taman cukup ramai siang itu.


Kekira berharap tidak ada yang memperhatikan mereka.


“Ada apa?”


Veni menoleh dan berdiri judes.


“Bener lo mau nikah sama Riga dalam waktu dekat?”


Kekira terdiam sejenak. “Iya.”


“Kenapa lo terima?”


“Bukannya kamu udah tau aku sama Mas Riga sudah tunangan?” Kekira balik tanya.


“Tapi gue nggak pernah setuju kalian nikah!”


Teriakan Veni tiba-tiba membuat Kekira lihat kanan-kiri, khawatir ada yang memperhatikan.


“Aku nggak punya pilihan, Veni. Nggak ada yang bisa aku lakuin selain menerima pernikahan ini.”


Veni menggeleng, matanya berkaca-kaca.


“Lo bener-bener tega sama gue. Gimana bisa lo nikah sama Riga tanpa peduliin perasaan gue!?”


“Bukan gitu maksudku.”


“LALU APA?!” bentak Veni sampai Kekira kaget. “ASAL LO TAU, SEKARANG GUE HAMIL!!”


Bleppp!


“Ssssstt… ” Kekira membekap mulut Veni sambil memegang bahunya.


“Jangan teriak-teriak. Kita bisa bicara baik-baik.”


Tampaknya bujukan Kekira berhasil.


Veni mau duduk, tapi mulai menangis.


“Bener kamu hamil?”

__ADS_1


“Kenapa? Lo nuduh gue bohong?”


“Bukan. Tapi kamu udah periksa ke dokter? Udah tau usia kandungan?”


Veni menatapnya tajam. “Lo enggak usah sok care sama gue! Gue tau, lo ragu kan ini anak Riga apa bukan.”


Kekira jadi bingung.


Dia memang sudah menduga hubungan Riga dan Veni terlalu jauh. Melihat gerak-gerik mereka yang begitu mesra, bahkan sampai menginap di vila entah keberapa kali.


“Apa Mas Riga udah tau tentang kehamilan kamu?” tanya Kekira akhirnya.


Veni terisak. “Dia ngehindar dari gue. Udah dua minggu ini gue nggak bisa hubungin dia. Gue juga nggak tau di mana rumahnya.”


“Mas Riga lagi di Kalimantan. Semalam dia baru temuin aku.”


“Apa?! Dia nemuin lo, tapi nggak hubungin gue?!”


“Veni, tenang. Jangan emosi gitu. Aku akan kabarin kamu kalo Mas Riga sudah pulang.”


“Enggak! Lo telepon dia sekarang! Gue mau bicara sama dia. Jangan-jangan dia ganti nomor untuk hindarin gue.”


Daripada manjang urusannya, Kekira mengeluarkan HP dan menghubungi Riga. Tapi nomornya tidak aktif.


“Veni, sebenernya aku sendiri jarang teleponan sama Mas Riga. Soalnya dia suka marah kalo aku sering telepon atau kirim whatsapp sekalipun, menurutnya itu cuma ganggu kerjaannya. Jadi aku cuma nunggu dia telepon. Aku nggak pernah tau kapan HP Mas Riga off.”


“Bohong! Lo alasan aja kan nggak mau gue bahagia!”


“Enggak, Veni. Aku nggak bohong. Nih kalo nggak percaya cek aja recent call sama contact name di HP aku. Nomor Mas Riga cuma satu. Dia jarang nelepon aku.”


Veni merebut HP Kekira dan memeriksa isinya. Ternyata benar!


“Ini emang nomornya Riga, tapi kenapa dia ngehindarin gue?!” Veni makin histeris.


Kekira menggeleng. “Gini aja, aku akan kabarin kamu kalo Mas Riga udah pulang. Syukur-syukur kalo Mas Riga mau tanggung jawab.”


“Tapi lo mau kan batal nikah sama Riga?!”


Kekira tidak menjawab.


Tiba-tiba Veni mencengkeram jilbab Kekira.


“Heh! Gue peringatin sama lo untuk batalin pernikahan kalian! Atau lo tau kan gue bisa ngelakuin apa aja buat dapetin yang gue mau! Termasuk kalo harus nyakitin lo, bakal gue lakuin!”


Kekira melepaskan diri. “Aku ada kelas. Nanti kalo Mas Riga pulang aku hubungin kamu.” ia bergegas pergi.


Veni menggeram kayak singa lapar.

__ADS_1


“Kalo dia nggak nurutin yang gue mau, gue bakal bikin dia menderita!”


***


__ADS_2